Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Satu Rahasia


__ADS_3

“Kenapa Anda harus menyangkutpautkan keluarga besar saya? Itu terlalu berlebihan. Saya yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas apapun yang terjadi. Orang tua saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusan yang sudah saya ambil,” tegas Arsenio. Tak ada raut gentar atau takut sama sekali dari iris mata coklat terang pria tersebut.


“Oh, jadi kau ingin agar orang tuamu tak dilibatkan dalam masalah ini? Baik. Kalau begitu tetaplah melanjutkan pertunangan bersama Wini hingga ke jenjang pernikahan,” ujar Biantara.


“Astaga.” Arsenio terkekeh sambil menggeleng pelan. “Apakah ini ada hubungannya dengan status saya sebagai brand ambassador dari Rainier Airlines dan Citra Buana Residence and Apartment yang akan dijual per unit mulai bulan depan? Kalau iya, saya bisa mencarikan jalan keluarnya untuk itu. Cukup dengan mencari sosok lain yang sesuai. Seperti Chand, misalnya?” sarannya diakhiri dengan senyuman lebar.


“Tidak semudah itu, Arsenio. Kenapa kamu selalu berbuat semaumu?” Yohana ikut angkat bicara.


“Tante Yohana, Wini sendiri yang mengumumkan pada semua orang melalui akun media sosialnya bahwa pertunangan dibatalkan. Apa jadinya jika Anda melakukan yang sebaliknya? Putri Anda akan menjadi bahan tertawaan,” jawab Arsenio.


“Dia melakukan itu karena kamu menyakitinya, Sen. Dia marah dan emosi sehingga tidak bisa berpikir panjang!” sanggah Yohana.


“Oh, jadi begitu. Saya memang menyakitinya. Tak hanya sekali, tapi sudah tidak terhitung lagi. Salah satunya adalah dengan Indah. Saya sempat berselingkuh dengannya dalam waktu yang cukup lama. Apakah Wini pernah menceritakan tentang hal itu?” Arsenio menyunggingkan senyum sinis pada ibunda Winona tersebut.


“Apa?” Biantara benar-benar terperanjat atas pernyataan Arsenio. Dia lalu menoleh pada sang istri yang juga sama terkejutnya. “Kamu juga tidak tahu tentang ini, Han?” desis Biantara.


“Tidak.” Yohana menggeleng lemah, lalu beralih pada putrinya yang tiba-tiba menundukkan kepala.


“Tanyakan pada Winona kenapa dia menyembunyikan semua tentang Indah? Atas dasar ingin menyembunyikan kejelekan saya saja atau ada alasan lain? Seperti … melindungi seorang perencana pembunuhan?” Arsenio mengangkat satu alisnya.


“Apa maksudmu?” mendengar hal itu, Winona langsung mengangkat wajah dan memandang Arsenio dengan tatapan tak suka.


“Kamu sedang berpura-pura atau benar-benar tak tahu, Wini?” sindir Arsenio sebelum mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Biantara. “Ada satu hal yang harus Anda ketahui, om Biantara. Saya sudah menemukan bukti kuat jika Indah adalah perencana di balik kejadian kecelakaan yang saya alami,” tegasnya.

__ADS_1


“Itu tidak mungkin! Indah adalah anak yang baik!” sanggah Yohana.


“Oh, ya? Anak baik tidak akan berselingkuh dengan pasangan dari sahabatnya sendiri, Tante.” Arsenio tertawa mengejek. “Awalnya saya juga menduga bahwa kejadian beberapa waktu lalu hanyalah perampokan biasa. Namun, setelah ingatan saya kembali, semua reka adegan terlihat dengan jelas. Saya dapat merekam kejadian sebenarnya. Indah yang telah memerintahkan Burhan untuk mencelakai saya. Lagi pula ….” Arsenio sempat menggaruk ujung hidung yang mancung sebelum melanjutkan penuturannya.


“Lagi pula, jika memang Indah tidak bersalah, kenapa dia harus melarikan diri dan menghilang? Saya bisa saja menuntut Anda dan keluarga karena telah mempekerjakan seorang pembunuh bahkan melindunginya,” ancam Arsenio, membuat Biantara tak bisa berkutik. Pria itu sepenuhnya mengetahui jika Indah menghilang selama beberapa hari. Akan tetapi, dia seperti tak mengambil pusing karena hal tersebut. Pastinya itu akan memberatkan dirinya, karena dia jadi tidak memiliki alibi untuk membantah.


“Kamu tidak bisa menuntutku karena aku tidak tahu-menahu tentang hal itu!” bantah Biantara yang tak mau disudutkan.


“Ya, Anda benar. Mungkin Wini juga tidak mengetahui sampai sejauh itu jika Indah lah yang berusaha mencelakai saya selama ini, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa Wini yang memerintahkan Indah untuk membunuh saya,” sahut Arsenio, datar dan dingin.


“Jangan asal bicara kamu, Sen!” sentak Winona seraya mengarahkan telunjuknya kepada Arsenio. Dia sudah tak kuat lagi menahan amarah yang telah demikian bertumpuk di dalam dada.


Namun, Arsenio memilih tak menanggapi hal tersebut. “Anda harus memahami satu hal, om dan tante. Tidak hanya Anda yang bisa memberikan ancaman terhadap keluarga Rainier. Saya pun bisa berbuat demikian,” pungkasnya. Tanpa menunggu lama, Arsenio segera berbalik meninggalkan Biantara beserta anak istrinya yang masih tak bisa berkata-kata.


“Katakan pada Biantara Sasmita agar menghadapiku secara langsung, tidak perlu menyuruh orang lain untuk menghajarku. Itu akan membuatnya terlihat seperti pengecut,” ledek Arsenio sambil menyingkirkan tubuh besar para sekuriti itu ke samping. Dengan santai, Arsenio masuk ke dalam kendaraan dan melajukannya kencang. Arsenio berpikir bahwa satu masalah sudah teratasi.


Namun, pada kenyataannya Arsenio tak mengetahui jika selepas dia keluar dari ruang kerja Biantara, pria paruh baya itu segera menghubungi para pemegang saham. Memang perusahaan properti bernama Groenland Property yang sudah menggurita itu, awalnya didirikan oleh dia dan juga Lievin. Semakin berkembang dan membesarnya bisnis yang mereka berdua rintis, Biantara dan Lievin sepakat untuk menjadikannya perusahaan terbuka, sehingga untuk memecat Arsenio dari jabatan CEO, dia membutuhkan persetujuan dari para pemegang saham mayoritas.


Biantara akan melakukan apa saja untuk menggulingkan pria rupawan itu.


***


Di dalam sebuah kamar loteng, duduklah seorang wanita yang duduk meringkuk di dekat jendela. Wanita itu menghisap rokok dalam-dalam, lalu mengepulkannya perlahan. Asap putih keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Dia juga memainkan gumpalan asap itu menggunakan lidah, sehingga membentuk lingkaran. Wajah cantiknya seakan tak bisa menutupi rasa takut dan gelisah yang mendera. Terlebih saat dia mendengar ponsel yang berdering.

__ADS_1


Lagi-lagi, nomor tak dikenal itu menghubunginya. Dia pun tak berniat untuk menjawab panggilan itu. Akan tetapi, ekor matanya menangkap sesosok pria tegap dan jangkung bermasker hitam yang berdiri gagah di depan halaman rumah berlantai dua yang dia tempati.


Pria itu tampak menempelkan ponsel di telinga sembari melambaikan tangan pada si wanita. Tak berapa lama, ponselnya berdering kembali. Merasa amat ketakutan, wanita itu mau tak mau menerima panggilan tadi. “Ha-halo,” jawabnya terbata.


“Indah. Katanya mau melarikan diri, tapi kenapa aku masih bisa menemukanmu?” pria itu tertawa mengejek.


“Ka-kamu mau apa? Aku sudah menuruti perintahmu untuk lari!” seru wanita yang tidak lain adalah Indah dengan panik.


“Kamu ini memang bodoh, ya!” cela pria misterius itu. “Kalau hanya pulang kampung, itu bukan lari namanya. Dasar bodoh!” makinya lagi. “Ah, aku jadi menyesal karena mengizinkanmu turut dalam misi ini. Cepat atau lambat, kamu akan membuat identitasku terkuak. Apa perlu aku membunuhmu?” ancam pria itu dengan nada dingin dan tanpa beban.


“Ti-tidak! Jangan gila kamu, ya! Aku tidak mau mati!” pekik Indah ketakutan. Dia berdiri menjauh dari jendela, kemudian mengunci kamar lotengnya.


“Kalau tidak mau mati, harusnya kamu pintarlah sedikit!” hardik pria itu lagi.


“Bu-bukan salahku kalau ingatan Arsen sudah pulih!” kilah Indah.


“Memang bukan salahmu, bodoh! Namun, seharusnya kau melaporkan padaku saat Arsenio mengatakan bahwa dia akan menyelidiki semua orang terdekatnya. Itu pertanda bahwa saat itu dia sudah dapat mengingat masa lalunya!” bentak pria misterius yang masih terus berdiri di depan halaman rumah Indah.


“La-lalu, aku harus bagaimana sekarang?” tanyanya putus asa.


“Pergilah ke luar negeri! Menyingkirlah dari negara ini. Secepatnya! Kalau tidak, aku terpaksa harus menghilangkan jejakmu,” jawab pria tersebut.


“Menghilangkan jejak? Apa maksudmu?” tanya wanita cantik itu terdengar ragu.

__ADS_1


“Kau pikir saja sendiri apa yang biasa dilakukan seorang pelaku pembunuhan, terhadap seorang saksi yang mengetahui kejahatannya.” Pria itu terkekeh pelan, sebelum mematikan teleponnya dan berlalu begitu saja.


__ADS_2