Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Jalan Yang Terang


__ADS_3

Akhir pekan yang indah bagi Arsenio. Namun, tentu saja bukan sesuatu yang menyenangkan bagi Binar, karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan Agatha. Wanita itu selalu saja melayangkan tatapan penuh harap dan kekaguman kepada sang suami yang memang memesona. Bukan salah Arsenio jika kebanyakan wanita bersikap demikian padanya. Akam tetapi, hal itu justru membuat Binar terkadang sampai stres dalam memikirkannya. Begitulah risiko memiliki suami dengan tingkat ketampanan di atas rata-rata.


“Ini adalah pengambilan gambar untuk yang pertama sekaligus terakhir. Syuting iklan akan dilangsungkan selama satu hari penuh. Kuharap staminamu kuat,” jelas Agatha dalam bahasa Jerman, saat menyambut kedatangan Arsenio di dalam salah satu ruangan studio yang akan menjadi lokasi syuting


“Kalau masalah stamina, kau bisa tanyakan pada istriku.” Pria tampan itu menoleh kepada Binar sambil mengerling nakal.


"Ah, Arsen. Aku tak perlu bertanya pada wanita manapun tentang hal itu. Aku mengetahuinya dengan jelas," balas Agatha dengan bahasa tubuh yang cukup menggoda.


Agatha Kirsch. Dia adalah wanita yang sangat menarik dengan rambut panjang lurus berwarna cokelat. Garis wajahnya tegas, menggambarkan ciri khas orang Jerman tulen. Perawakan Agatha pun jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Binar. Selain itu, tentu saja Agatha memiliki sepasang aset kembar yang menantang, meski tertutup kemeja dan juga blazer mahal bermerk ternama.


"Ayolah. Tolong jangan ungkit hal itu," sahut Arsenio menanggapi dengan malas tapi terkesan hati-hati. Sedangkan Agatha sendiri hanya tertawa renyah saat melihat wajah resah Arsenio.


Binar yang tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan sang suami, hanya mengernyit kebingungan. Dia ingin bertanya, tapi merasa gengsi karena di sana masih berdiri sang mantan kekasih suaminya. Binar pun menoleh kepada Agatha.


Dengan segera, wanita cantik itu membuang muka ke samping. Namun, tak lama kemudian mantan kekasih Arsenio tersebut kembali menoleh kepada Binar. “Di sini ada ruang khusus untuk beristirahat. Barangkali nyonya Binar kelelahan karena harus menjaga suaminya terus menerus. Ada ranjang berukuran besar, minibar, dan juga televisi berlangganan,” jelas Agatha sambil mengarahkan telunjuknya ke lantai atas.


Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris supaya Binar paham.


"Oh terima kasih banyak. Akan tetapi, aku tak akan pernah lelah untuk menjaga suamiku," sahut Binar seraya menatap Arsenio penuh arti.

__ADS_1


"Itu sudah seharusnya, Sayang," balas pria berdarah Belanda itu sembari memiringkan kepala ke arah Binar.


"Kau seperti seorang ayah yang diikuti anak gadisnya, Arsen," ledek Agatha yang kembali berbicara dalam bahasa Jerman.


"Terserah kau. Satu yang pasti bahwa aku tak mungkin bercinta dengan putriku sendiri. Kau ini ada-ada saja." Arsenio berdecak pelan. Dia asyik memperhatikan para kru yang tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Sebagian dari mereka, ada yang sedang memasang segala macam property untuk keperluan syuting kali ini.


Sementara itu, Lievin hari ini akan kembali ke Indonesia. Dengan diantar oleh Fabien, dia telah tiba di bandara. Ayah dan anak tersebut kemudian duduk berdampingan, sambil menunggu jadwal keberangkatan.


"Kupikir Papa akan tinggal lebih lama di sini," ucap Fabien mengalihkan sejenak perhatiannya dari layar ponsel. Dia melihat raut wajah sang ayah yang masih tampak masam. "Sudah kukatakan sebaiknya Papa menghubungi Arsenio. Dia sangat cerdik dan banyak akal. Otaknya masih segar, meskipun ... meskipun beban hidupnya tak jauh lebih ringan dari kita berdua ... ah maksudku ... Papa." Fabien mengempaskan napas panjang.


"Apa maksudmu? Apa selama ini kau masih menjalin komunikasi dengan kakakmu?" tanya Lievin penuh selidik.


Sementara Fabien tak segera menjawab. Namun, tak ada salahnya untuk bersikap jujur kepada sang ayah, meski dia tak tahu akan seperti apa tanggapan dari pria paruh baya tersebut. "Pa," ucap Fabien halus menyebut pria itu. Dia menutup layar ponselnya, kemudian duduk dengan posisi bersandar.


"Arsenio telah dewasa, bahkan dia sudah terbilang matang untuk menjalani hidupnya secara mandiri. Menurutku dengan adanya kejadian ini, Arsenio telah mengambil tindakan yang benar. Karena pada kenyataannya Winona dan juga om Biantara tidaklah sebaik yang Papa kira. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi andai Arsen menikahi Wini. Bisa saja jalinan kerja sama antar dua perusahaan raksasa akan semakin kuat dan dapat menguasai perekonomian Namun, tak menutup kemungkinan bahwa mereka akan mengambil alih semuanya. Karena sekarang saja om Biantara telah tega menuduh Papa dengan segala fitnah yang macam-macam."


"Bayangkan seandainya Papa berbesan dengan orang seperti itu. Setiap hari, setiap saat, Papa akan merasa akan terbebani karena takut melakukan kesalahan. Menurutku, om Biantara tipe orang yang tidak menyukai jika apa yang menjadi kehendaknya dilanggar orang lain. Sifat itu menurun langsung kepada Winona. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya."


"Jika Papa bersedia menerima saran dariku, maka bicaralah dengan Arsen. Lagi pula, semua ini karena ulahnya yang tiba-tiba saja jatuh cinta pada gadis lain. Biarkan dia mempertanggungjawabkan segalanya. Mungkin dengan begitu hubungan kalian bisa jauh lebih baik." Fabien mengempaskan napas pelan. Tak disangka bahwa dirinya bisa melontarkan kata-kata yang terdengar bijaksana seperti tadi.

__ADS_1


"Dia sudah pergi entah ke mana," sahut Lievin pelan.


"Seandainya Arsen bersedia untuk menemui Papa, apakah Papa akan menerimanya? Bukan hanya dia, tapi juga Binar. Dia sekarang telah menjadi menantu Papa dan mama." Fabien menatap lekat sang ayah. Harap-harap cemas dirinya menantikan jawaban dari pria itu. "Aku jadi takut," ucap adik Arsenio tersebut kemudian.


"Takut apa?" tanya Lievin membalas tatapan sang anak.


"Seandainya nanti aku mencintai seorang gadis, tapi Papa tidak menghendakinya ... apa aku juga akan dibuang seperti Arsenio?" Sebuah pertanyaan yang begitu menohok dari seseorang yang selama ini terlihat tak acuh dengan kehidupan, bahkan terkesan hidup berantakan. Akan tetapi, apa yang Fabien ucapakan pada saat itu memang benar adanya.


Sementara Lievin tak sempat menanggapi. Terlebih karena pesawat yang akan ditumpanginya telah siap di landasan. Lagi pula, pria paruh baya tersebut memang belum memiliki jawaban yang akan diberikan kepada putra bungsunya. Ini menjadi kesempatan bagi dia untuk melarikan diri. Lievin segera beranjak dari duduknya. Dia lalu memeluk Fabien dengan erat.


Fabien sendiri dapat merasakan bahwa sang ayah saat itu tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Namun, dia tak ingin mendesak dan membuatnya semakin stres. "Sampaikan salamku untuk mama. Katakan padanya bahwa bunga sakura di depan apartemenku sudah bermekaran," pesan pemuda itu dengan senyuman kelu.


"Mamamu pasti langsung ingin datang kemari jika mendengar hal itu," ujar Lievin menanggapi.


"Memang itulah tujuannya." Fabien tergelak. Namun, dengan segera dia menghentikan tawa dan menatap sang ayah. "Jangan sampaikan itu. Aku tidak ingin jika mama membiarkan Papa sendirian dalam situasi seperti ini," ucap Fabien lagi, sebelum benar-benar membiarkan sang ayah berlalu dari hadapannya.


................


Beberapa bulan telah berlalu dari semenjak kedatangan Lievin ke Jerman. Arsenio pun kembali dengan kesibukannya. Dia bahkan telah berhasil menyelesaikan proyek Opera House dan beralih pada proyek baru dengan jabatan baru pula. Sebuah prestasi yang terbilang sangat cepat. Di satu sisi, dia merasa sangat beruntung karena Tuhan telah memperkenalkannya kepada Rudolph. Pria itu menjadi perantara dia untuk bertemu sosok luar biasa seperti Normand.

__ADS_1


Karier Arsenio pun kian cemerlang. Perlahan, kehidupan finansialnya bersama Binar mulai stabil. Dia juga telah melunasi pembelian satu unit apartemen pada Normand, meskipun cita-cita untuk membuka usaha sendiri belum dapat dia wujudkan. Namun, Arsenio paham betul seperti apa suka-duka dalam membangun suatu usaha. Baginya dan Binar, bersyukur adalah jalan yang paling tepat untuk menjadi penenang hati dalam penantian itu.


Akan tetapi, hati Arsenio menjadi tak tenang lagi, ketika dia mendapat telepon dari Fabien. "Arsen. Papa masuk rumah sakit."


__ADS_2