
Arsenio dan Binar sudah selesai merapikan penampilan. Mereka lalu keluar dari kamar, untuk melihat keadaan Lievin yang masih mengurung diri sejak pemakaman Anggraini.
Arsenio mengetuk pintu kamar sang ayah dengan perlahan. Cukup lama dia menunggu sampai Lievin membukanya. Pria paruh baya itu tampak begitu menyedihkan. Wajahnya kuyu dengan bagian bawah mata membengkak.
“Selamat pagi, Pa," sapa Binar. "Apa Papa sudah sarapan?” tanya menantu pertama di Keluarga Rainier tersebut.
Lievin menggeleng pelan. Dia mengulurkan tangan sebagai isyarat untuk mempersilakan anak dan menantunya agar masuk. “Biasanya aku selalu sarapan bersama Anggraini, tapi kali ini ….” Pria malang itu tak melanjutkan kata-katanya.
“Usahakan lah untuk makan, Pa,” bujuk Arsenio lembut.
“Biar kubawakan sarapan ke kamar ya, Pa,” tawar Binar.
“Sudahlah. Aku sedang tidak ingin makan apapun,” tolak Lievin sambil berjalan ke arah jendela kamar. Di sana, dia menyandarkan tubuh sambil menerawang ke luar.
“Pa, tolonglah. Papa harus menjaga kesehatan. Jangan sampai jatuh sakit,” bujuk Arsenio lagi tak putus asa.
“Untuk apa, Sen? Anggraini sudah pergi. Untuk apa aku hidup lagi?” Lievin menggumam pelan. Angannya kembali melayang pada kejadian menyakitkan di pagi itu, di mana dia melihat Anggraini bersimbah darah dan meninggal dalam pelukannya. Sebuah kejadian paling buruk yang ingin Lievin hapuskan dari ingatannya. Namun, bayangan menakutkan tersebut terus saja hadir di benaknya. “Istriku ….” Lievin terisak pilu.
“Pa.” Tanpa sungkan, Binar segera memeluk erat Lievin dari samping. “Tolong jangan bicara begitu. Kami semua masih membutuhkan Papa. Terutama Rain dan Fabien. Kami sudah terpuruk kehilangan mama. Kami tidak ingin kehilangan lagi,” ujar Binar lirih.
Akan tetapi, Lievin tak menanggapi. Dia tetap menangis sambil sesekali menyeka air matanya.
Arsenio yang masih terpaku di tempatnya, segera tersadar dan ikut mendekat. “Apa yang Binar katakan memang benar. Jangan mengabaikan kami. Kami sangat menyayangi Papa.” Tangan kekar Arsenio ikut memeluk Lievin dari belakang. Arsenio ikut menangis di pundak sang ayah. “Entah sampai kapan kepedihan ini akan berakhir. Aku ingin kita menghadapinya bersama-sama, Pa,” pintanya lirih.
Lievin seketika tersadar. Dia yang awalnya menunduk, segera menegakkan wajah. Satu tangannya menepuk-nepuk tangan Arsenio yang melingkar di dada. Sedangkan tangan yang lain, mengusap kepala Binar yang bersandar di pundaknya. “Anggraini pasti tidak suka melihat kita bersedih. Sudahlah.” Pria asal Belanda itu bergerak pelan, membuat Binar dan Arsenio mengurai pelukannya.
Lievin kemudian berbalik ke arah putra sulung dan menantunya sambil memaksakan senyum. “Ada menu apa di meja makan?” tanyanya.
“Kami juga belum tahu, Pa. Ayo, kita lihat bersama-sama,” ajak Arsenio.
“Baiklah.” Lievin setuju untuk keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke ruang makan. “Di mana Fabien?” tanyanya setelah tiba dan duduk dengan nyaman di kursi.
“Astaga. Aku sampai lupa kalau dia ada di rumah ini. Sebentar. Akan kupanggilkan.” Arsenio berdiri. Dia bermaksud untuk menyusul Fabien.
__ADS_1
Akan tetapi, baru beberapa langkah adik satu-satunya itu sudah muncul di ruang makan. Fabien datang bersama seorang pria berjaket kulit, yaitu seorang detektif polisi yang menangani kasus Anggraini.
“Iptu Darmawan hendak menyampaikan temuannya terkait kasus penembakan terhadap mama,” terang Fabien sebelum kakak dan ayahnya sempat bertanya.
“Oh, begitu. SIlakan duduk, Pak." Arsenio mempersilakan polisi tersebut. Dia juga menggeser salah satu kursi untuk Iptu Darmawan.
“Terima kasih, Pak,” balas sang polisi sambil tersenyum ramah. “Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat," ujarnya.
“Oh, tentu tidak. Sekalian saja Anda ikut sarapan bersama kami,” sahut Fabien sambil menyodorkan peralatan makan dan gelas berisi air pada polisi bernama Darmawan.
“Tidak usah repot-repot. Terima kasih, tapi saya sudah sarapan,” tolak Iptu Darmawan halus.
“Baru sarapan pertama, ‘kan? Belum yang kedua,” balas Fabien.
“Tidak baik menolak rezeki, Pak. Silakan.” Lievin mengulurkan tangan ke arah kursi di hadapannya. Mau tak mau, polisi itu pun memilih untuk duduk.
“Ada kabar apa, Pak?” tanya Arsenio setelah Iptu Darmawan duduk dengan nyaman dan mulai menyendok suapan pertamnya.
“Ini tentang proyektil peluru yang berhasil diangkat dari … uhm ....” Darmawan tampak serba salah, kemudian meraih gelas air dan meneguknya perlahan. “Benda itu termasuk ke dalam jenis peluru tajam berkaliber empat lima. Peluru ini biasa digunakan pada pistol colt semi otomatis,” terang sang polisi tanpa melanjutkan kalimat sebelumnya.
“Pistol colt tidak lazim digunakan di sini. Peredarannya bahkan termasuk sulit, karena bukan termasuk senjata yang diperbolehkan beredar di kalangan masyarakat sipil,” jelas Iptu Darmawan.
“Lalu?” sahut Fabien.
“Jika ada jenis senjata seperti itu, maka bisa dipastikan kalau mereka mendapatkannya di pasar gelap.” Polisi tersebut mengembuskan napas perlahan sambil menatap wajah-wajah di sekelilingnya, satu per satu.
“Bagaimana dengan kendaraan yang dipakai oleh pembunuh itu, Pak?” tanya Arsenio.
“Itu juga masih dalam penyelidikan. Plat nomor yang dipakai oleh pembunuh misterius itu ternyata palsu. Kami tidak dapat menemukannya di pusat data kepolisian,” jawab Iptu Darmawan dengan nada penuh sesal.
“Astaga,” ucap Lievin lirih.
“Namun, Anda tidak perlu khawatir. Kami akan terus berusaha memecahkan kasus ini, Pak. Kami berjanji untuk tidak akan berhenti sampai semuanya terungkap,” tegas polisi yang berusia masih terbilang muda tersebut.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, Pak. Kami sangat menghargainya,” balas Arsenio. Setelah itu, hanya obrolan-obrolan ringan yang mengiringi sarapan tersebut hingga selesai. Sang polisi kemudian berpamitan untuk kembali ke kantor.
Lievin sendiri memutuskan untuk kembali ke kamar. Demikian pula dengan Fabien. Hanya Binar yang masih bertahan di tempat duduknya. Dia merasa begitu lega karena Arsenio sudah memperbolehkan dirinya keluar kamar.
“Apa aku boleh ke taman, Rain?” tanya Binar ketika Arsenio hendak mengajaknya naik ke lantai dua.
“Sebelum bertanya, seharusnya kamu sudah mengetahui jawabannya, Sayang,” jawab Arsenio.
“Aku ingin melihat bunga-bunga peninggalan mama,” ucap Binar.
“Tidak. Kamu tidak boleh selangkah pun keluar dari rumah ini. Aku sudah memberimu keringanan seperti ini,” tegas pria bermata coklat terang itu.
“Ya, ampun.” Binar berdecak pelan. Akan tetapi, dia sama sekali tak berniat untuk membantah. Dengan langkah gontai, Binar mengikuti sang suami yang terus menuntun tangannya hingga tiba di depan kamar.
Akan tetapi, saat Arsenio hendak membuka pintu, terdengar suara seseorang yang memanggil. Pria rupawan itu langsung berbalik dan melihat sosok Dwiki yang meniti anak tangga dengan terburu-buru. “Apa kabar, Bu Bos?” sapanya pada Binar dengan hangat.
“Seperti yang kamu lihat. Membosankan,” balas Binar dengan nada setengah menyindir.
“Tidak apa-apa, yang penting sehat dan aman, Bu Bos,” sahut Dwiki sok bijak.
“Terserahlah.” Binar tak ingin menunggu Arsenio yang masih tetap di tempatnya. Dia masuk lebih dulu, kemudian menutup pintu.
“Ada apa, Ki? Bagaimana perkembangannya?” Setelah beberapa saat ekor matanya mengikuti gerak tubuh sang istri sampai menghilang di balik pintu, Arsenio kini mengalihkan perhatian sepenuhnya pada anak buah kepercayaan.
“Saya menemukan sebuah nama, yaitu Syamsir Lagawi. Sama seperti yang saya beritahukan kemarin, Bos,” jelas Dwiki.
“Lantas?” tanya Arsenio yang mulai tak sabar.
“Saya berniat untuk menyelidikinya dengan mengajak Ajisaka,” terang Dwiki.
“Oh, tentu. Ajak saja dia. Kulihat tadi Ajisaka masih berada di dalam kamarnya,” ujar Arsenio. “Memangnya, kamu akan mengajak dia ke mana?”
“Saya berencana mendatangi kantor Wi … eh, maksud saya, Nona Winona.” Dwiki saat itu tampak serba salah.
__ADS_1
Arsenio dapat melihat ekspresi wajah Dwiki yang berubah. Akan tetapi, dia tak terlalu memedulikan hal tersebut. “Apakah Syamsir Lagawi ada hubungannya dengan Om Bian?”
“Saya menduga nama yang sempat dilontarkan oleh Bayu tersebut masih ada hubungannya dengan Haris. Oleh karena itu, saya hendak menggeledah kantor Haris, bersama dengan Ajisaka tentunya,” jawab Dwiki yang terlihat meyakinkan.