Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Perjuangan Dimulai


__ADS_3

"Apa maksudmu, Arsen? Jangan bercanda denganku!" sergah Winona. Sepasang mata wanita cantik itu menatap tajam kepada pria yang beberapa jam lalu telah resmi bertunangan dengan dirinya.


"Kamu selalu terlihat serius, Winona. Mana berani aku mengajakmu bercanda," sahut Arsenio tenang. Tak terlihat raut penyesalan dalam dirinya, karena telah mengemukakan niat yang dirasa tak pantas tadi.


"Kamu gila, Arsen! Kita baru resmi bertunangan beberapa saat yang lalu! Bagaimana mungkin tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?" protes Winona lagi dengan nada dan raut wajah tak suka. Hilang sudah semua kebahagiaan yang dia rasakan tadi, saat mengira bahwa dirinya telah berhasil mengikat seorang Arsenio. Namun, rasa kecewa itu kembali hadir ketika menyadari bahwa Arsenio kembali menjadi pria dengan karakter yang semaunya sendiri.


"Aku berubah pikiran. Hal yang wajar bukan jika seseorang meralat kata-katanya," sahut Arsenio tenang.


"Ini pertunangan kita, bukan hanya sebuah kata-kata!" protes Winona tegas. Telunjuknya terarah lurus hingga menyentuh dada Arsenio.


"Bagiku itu hanya sebuah kata. Kata di mana aku menyebutkan kalimat 'aku setuju untuk bertunangan denganmu' padahal sesungguhnya tak sesuai dengan kata hati nurani. Jadi, bukan sesuatu yang harus dianggap aneh jika pada akhirnya aku berubah pikiran," jelas Arsenio lagi masih menunjukkan raut tenang. Dia tak terpengaruh sama sekali saat melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Winona. "Ayolah, Winona. Kamu cantik, pintar, kaya, punya segalanya. Tak akan sulit bagimu untuk memikat pria manapun," ujar Arsenio lagi.


"Buktinya aku kesulitan untuk bisa memikatmu," balas Winona setengah menyindir. Raut wajah cantiknya tertutupi oleh ekspresi yang tampak semakin ketus.


"Oh, karena aku adalah pengecualian," balas Arsenio lagi. Sebuah senyuman culas tersungging di sudut bibirnya.


"Kamu benar-benar tidak waras, Arsen!" umpat Winona. "Sikapmu yang seperti ini membuatku berpikir sesuatu," ucap wanita cantik tersebut.


"Tentang apa?" tanya Arsenio yang masih berdiri dalam posisi saling berhadapan dengan Winona.


Winona yang tadinya memasang wajah penuh amarah, tiba-tiba berubah. Ketegangan pada paras cantiknya perlahan memudar, kemudian berganti dengan sebuah senyuman sinis. "Aku merasa sedang berhadapan dengan Arsenio yang dulu. Entah ini hanya perasaan atau memang ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dariku. Terkadang, aku berpikir bahwa amnesia yang kamu alami juga hanya sebuah sandiwara. Katakan, Arsen. Apa yang kamu tutupi?" tantang wanita cantik itu.


Arsenio tak segera menjawab. Tajam tatap matanya dia layangkan kepada si cantik yang tak mau mengalah tersebut. Arsenio paham jika Winona mungkin tak ingin lagi hanya pasrah dan menerima atas sikap semena-mena yang selalu dirinya lakukan. Namun, bukan Arsenio namanya jika dapat digertak dengan mudah, terlebih oleh seorang wanita seperti Winona. "Apa kamu sedang menantangku?" tanyanya.


"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus menantangmu? Tak ada alasan bagiku melakukan hal itu. Aku hanya menerka," jawab Winona enteng.


"Asal kamu tahu, Winona yang cantik. Apapun yang kulakukan, itu bukanlah urusanmu. Satu hal yang menjadi masalah kita saat ini adalah ... aku ingin membatalkan pertunangan antara kamu dan aku. Kamu tahu bahwa selama ini hidup kita hanyalah settingan semata. Segala hal yang menyangkut kita berdua telah diatur, termasuk dengan pertunangan ini. Aku ingin sekali saja merasakan kebebasan tanpa sebuah kekangan atas nama tanggung jawab atau tanda tangan kontrak. Jujurlah pada dirimu. Apakah kamu tidak merasa lelah atau bosan, dengan kehidupan yang terlihat sempurna padahal sangat memuakkan?" ujar Arsenio panjang lebar.


"Aku menyingkirkan semua rasa tidak nyaman itu sejak dulu. Kamu tahu kenapa, Sen? Karena aku sangat mencintaimu!" tegas Winona dengan mata berkaca-kaca. "Bisakah sekali saja kamu bersikap tidak egois? Apa kamu tidak mengingat wajah-wajah bahagia kedua orang tua kita di dalam sana? Ada banyak ucapan selamat dari kolega dan sahabat dekatku yang hadir di pesta malam ini," nada suara Winona melemah, menahan kesedihan yang memenuhi perasaannya.

__ADS_1


"Cukuplah menyiksa dirimu, Wini. Kamu sudah tahu bahwa sampai kapanpun aku tidak bisa membalas perasaanmu." Intonasi Arsenio pun menjadi jauh lebih lembut, saat melihat wanita di hadapannya menitikkan air mata.


"Aku tidak hanya peduli pada diriku sendiri. Oleh karena itulah aku bertahan. Ada harga diri, nama baik, dan masa depan perusahaan yang harus dipertaruhkan dalam hubungan kita," tegas Winona, membuat Arsenio diam dan terpaku. Pria tampan itu tercenung untuk sesaat sebelum mengempaskan napasnya kuat-kuat. Tiba-tiba, rasa lelah menyerang fisik dan mentalnya. Arsenio merasa tak kuat lagi berada di tempat itu.


Beberapa saat lamanya dia menatap Winona dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca. "Masuklah. Kemabali ke dalam dan katakan pada semua orang bahwa aku tak enak badan," suruhnya seraya bergerak mundur. Setelah itu, dia memutuskan untuk meninggalkan Winona dan juga aula pesta menuju jalan raya.


Tak dipedulikan mobil mewah miliknya yang masih berada di area parkir. Arsenio malah menghentikan taksi dan meminta sang sopir untuk menuju ke alamat yang sudah dia sebutkan saat masuk dan duduk. Butuh waktu hingga satu jam untuk bisa sampai di tempat yang Arsenio maksud, akibat kemacetan yang tak biasa di jalanan ibukota.


Arsenio membuka pintu taksi lebar-lebar setelah memberikan ongkos untuk sang sopir. Dia turun dari kendaraan, lalu berjalan mendekati gerbang besar sebuh rumah mewah tiga lantai yang tertutup rapat. Arsenio terdiam dan berdiri di sana sampai seorang satpam menghampirinya. “Eh, Pak Arsenio. Selamat malam. Apa kabar, Pak? Lama tidak kemari?” sapanya mencoba beramah-tamah.


“Di mana bosmu?” tanya Arsenio tanpa basa-basi.


“Pak Chand baru saja datang, Pak. Saya rasa sepertinya beliau juga belum tidur,” jawab satpam itu seraya membuka gerbang dengan remote otomatis. “Silakan masuk, Pak,” ucapnya sopan. "Anda tidak membawa kendaraan sendiri?" tanyanya lagi.


"Tidak," jawab Arsenio singkat. Dia mengangguk pada pria paruh baya itu, lalu melangkah gagah saat melintasi jalan setapak yang membelah halaman rumah Chand. Suasana di sana pun terlihat begitu asri. Arsenio terus berjalan sampai memasuki teras dan memencet bel yang berada tepat di dekat pintu.


“Apa kamu pembantu baru di sini?” Arsenio malah balik bertanya. “Kalau pembantu lama pasti sudah hapal kalau aku adalah sahabat kental Chand,” ujarnya dengan wajah tanpa senyum sama sekali.


“I-iya, Pak. Baru minggu kemarin saya .…” kalimat wanita itu terhenti ketika Arsenio menerobos masuk dan tak sengaja menyenggol bahunya. “E-eh, Pak. Jangan, nanti pak Chand ….”


“Chand!” seruan Arsenio menggema di ruang tamu luas itu, memotong kata-kata pembantu tadi begitu saja.


“Pak, tolong. Nanti pak Chand marah,” pintanya memelas.


“Chand!” Arsenio kembali berseru tanpa memedulikan omongan wanita di sebelahnya. Tak lama kemudian, terlihat pergerakan di lantai atas. Salah satu pintunya terbuka. Sosok Chand keluar dari sana, lalu berdiri di ujung tangga.


“Mau apa kamu, Sen? Kenapa bikin ribut malam-malam begini di rumah orang? Bukankah seharusnya kamu masih berada di tempat pesta? Bagaimana kalau nanti om dan tante mencarimu?” tegur Chand pelan.


“Aku ingin bertemu Binar!” sahut Arsenio cepat.

__ADS_1


Chand terkekeh sembari menuruni anak tangga pelan-pelan. “Binar tidak ada di sini. Dia tidak tinggal di rumah ini,” jawabnya santai.


“Aku meminta baik-baik, Chand. Aku hanya ingin bicara dengannya,” desak Arsenio dengan wajah yang tampak amat kacau.


“Sudah kukatakan, dia tidak tinggal di sini,” ulang Chand lagi.


“Aku tidak akan merebutnya darimu, jika itu yang kamu takutkan. Aku hanya ingin bicara,” lemah nada bicara Arsenio, membuat Chand sedikit luluh.


“Dia bukan pacarku. Tak seperti yang kukatakan kemarin. Aku hanya mengajaknya untuk membuat Ghea cemburu,” ujar Chand setelah menuruni anak tangga. Kini dirinya sudah berdiri di hadapan Arsenio.


“Oh ya? Akan tetapi, kalian sempat ….” Arsenio mengarahkan telunjuknya ke dada bidang sahabatnya itu.


“Itu hanya tindakan spontan. Aku melihatnya menangis dan ingin menghibur,” kilah Chand. “Tampangmu berantakan. Ayo.” Pria rupawan itu mengarahkan Arsenio ke dapur dan mengajaknya duduk di kursi bar yang mengelilingi meja dapur berukuran tinggi. Dia mengeluarkan beberapa camilan dari dalam kabinet serta minuman dingin dari dalam kulkas, lalu menyajikannya pada Arsenio. “Makanlah,” suruh Chand.


“Alasan macam itu?” sungut Arsenio tanpa menanggapi kalimat Chand sebelumnya. “Kamu juga tidak memberitahukan bahwa ternyata selama ini Binar berada di dekatmu,” protes Arsenio lagi.


“Jujur saja, aku tidak tahu jika namanya Binar. Aku bertemu dengan dia saat mengatur acara pernikahan Prajna di Jogja. Dia bekerja paruh waktu di toko bunga milik temanku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Nirmala, dan aku mendengar jelas temanku memanggilnya demikian,” jelas Chand. “Kamu sendiri juga tidak tahu nama lengkap Binar, ‘kan?” imbuhnya.


Arsenio tercenung sejenak. Memang masuk akal alasan yang dikemukakan oleh sahabatnya itu. Diketukkannya jemari ke atas permukaan meja. Rautnya terlihat serius. “Aku ingin membawa Binar. Tolong beritahukan padaku di mana tempat tinggalnya. Aku akan menjemput dia sekarang juga,” ujar Arsenio beberapa saat kemudian.


.


.


.


Hai, sambil nungguin Arsen yg lagi labil, mampir yuk di karya keren temen otor yg satu ini 😍


__ADS_1


__ADS_2