
Selagi Binar bersenang-senang di spa bersama Anika, Arsenio masih betah mengobrol tentang segala hal dengan Bayu. Dia membahas segala hal, bahkan hingga topik-topik tak penting pun dirinya bicarakan. Hal itu Arsenio lakukan hanya untuk mengulur waktu, sampai dia mendapat kabar dari orang-orang suruhannya yang sudah berjaga di sekitar klinik tempat praktik dokter kandungan langganan Binar .
Akhirnya, saat yang Arsenio tunggu pun telah tiba. Sebuah nomor tak dikenal, masuk bersamaan dengan Dwiki menelepon. Dia terpaksa menolak panggilan dari nomor tak dikenal tersebut untuk lebih dulu menghubungi anak buah kepercayaannya itu.
“Ya, Ki. Ada apa?” tanya Arsenio setelah panggilan menerima panggilan tersebut.
“Bos, Pak Biantara sudah membuat laporan pada pihak kepolisian. Beberapa orang polisi juga telah datang dan memeriksa rumah Haris Maulana. Mereka juga melakukan penggeledahan dan mendapatkan banyak barang bukti di sana. Salah satunya adalah plat nomor palsu yang pernah digunakan oleh pembunuh Bu Anggraini. Plat nomor itu tersimpan di lemari pakaian Haris Maulana yang dipastikan tewas karena tindak pembunuhan,” jelas Dwiki panjang lebar. "Itu semua didapat dari identifikasi awal pihak kepolisian, setelah melihat kondisi jasad korban," lanjutnya.
“Hm.” Arsenio mengangguk pelan sambil memperhatikan perubahan mimik wajah Bayu. Asisten pribadi sang ayah tersebut dapat mendengar dengan jelas percakapan itu, karena Arsenio dengan sengaja mengubah setelan panggilan dengan menyentuh ikon loud speaker. "Baiklah, Ki. Terima kasih atas pemberitahuannya. Aku senang jika polisi sudah menemukan barang bukti di sana. Setidaknya, aku bisa sedikit bernapas lega." Arsenio tersenyum kalem, kemudian menutup sambungan teleponnya.
“Apakah Haris Maulana sudah ditemukan, Pak?” tanya Bayu hati-hati, sesaat setelah Arsenio mengakhiri panggilan.“Ya. Dia ditemukan dalam keadaan membusuk,” sahut pria tampan berambut coklat itu. “Sudah jelas, ada yang membunuhnya dengan sengaja. Mungkin penjahat sebenarnya adalah dia yang sudah memanfaatkan Haris sebagai tameng,” lanjut Arsenio seraya menatap tajam pada Bayu. "Pria bodoh. Mau saja diperalat," cibir Arsenio seraya tersenyum sinis.
Tak berselang lama, perhatian Arsenio beralih pada panggilan masuk dari nomor tak dikenal yang tadi sempat menghubunginya. Arsenio segera menerima panggilan tersebut, karena dirinya yakin bahwa itu merupakan orang-orang yang dia suruh untuk mengawasi klinik dokter kandungan.
“Ya, halo,” sapa Arsenio. Kali ini dia tidak menggunakan tombol loud speaker. “Oh. Jadi, ada orang-orang misterius yang berusaha menculik istriku?” Arsenio sengaja berbicara dengan suara yang terdengar nyaring. “Tangkap mereka semua dan seret ke kantor polisi!” titah Arsenio dengan tegas, kemudian menutup telepon.
Saat itulah, raut gelisah dan was-was tergambar jelas di wajah Bayu. Gerak tubuhnya semakin tak karuan. Bayu bangkit dari duduknya, kemudian duduk lagi.
“Kamu kenapa?” tanya Arsenio, masih dengan gayanya yang santai.
“Anu ... saya menunggu pembantu saya. Kenapa dia belum juga kembali dari pasar?” sahut Bayu resah.
“Oh, itu karena aku sudah mengamankannya,” sahut Arsenio dengan enteng.
“Maksud Anda?” Bayu kian terlihat tegang. Dua alisnya yang tebal saling bertaut.
__ADS_1
“Aku sudah membawa pembantumu ke kantor polisi,” jelas Arsenio dengan datar dan dingin.
“Memangnya dia berbuat apa, Pak? Kenapa sampai harus dibawa ke kantor polisi?” Bayu menggeleng tak mengerti.
“Bukan dia yang berbuat salah. Melainkan kamu!” Arsenio mengarahkan telunjuknya tepat ke arah Bayu.
“Saya?” Bayu menunjuk dirinya sendiri.
“Beberapa hari yang lalu, orang kepercayaanku memata-mataimu. Sayang sekali dia gagal mendapatkan bukti-bukti kuat tentang keterlibatanmu dalam pembunuhan mamaku. Namun, sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi. Bayu Prasetyo, kamu sudah masuk ke dalam jebakanku.” Arsenio tertawa pelan. Dia begitu menikmati raut asisten pribadi sang ayah yang semakin memucat.
“Saya sama sekali tidak mengerti, Pak. Permisi.” Bayu berniat meninggalkan Arsenio. Dia bermaksud untuk keluar dari rumahnya sendiri.
Akan tetapi, sebelum hal tersebut terjadi, Arsenio segera mencekal tangan Bayu kuat-kuat.
“Mau ke mana kamu, Bayu?” desis Arsenio.
“Kamu tidak perlu ke kantor, karena aku sudah memecatmu mulai detik ini!” tegas Arsenio.
“Dipecat? Atas kesalahan apa, Pak?” Bayu tertawa meremehkan. “Anda sama sekali tidak berhak memecat saya. Pak Lievin lah yang lebih berwenang melakukannya."
“Oh, jangan khawatir. Aku sudah mengantongi izin dari papa untuk memecatmu,” balas Arsenio.
“Atas dasar apa, Pak? Anda tidak bisa memecat karyawan begitu saja tanpa alasan yang jelas,” elak Bayu.
“Kamu ingin alasan yang tepat? Baiklah, kuberikan alasan yang bisa kamu pahami." Arsenio tampak hendak menelepon seseorang. Tak membutuhkan waktu lama, hingga orang yang dia hubungi menerima panggilannya.
__ADS_1
“Iya, Pak?” sapa orang itu.
“Jelaskan padaku, ada berapa orang yang berusaha menyergap istriku di sana?” pinta Arsenio sambil memencet tombol loud speaker.
“Ada enam orang, Pak. Semuanya sudah diamankan,” jawab orang tersebut.
“Sambungkan aku dengan salah seorang dari mereka,” pinta Arsenio lagi. Dia menunggu sambil tersenyum sinis pada Bayu. Lama-kelamaan, terdengar suara gemerisik pada telepon genggamnya. Setelah itu terdengar suara lain.
“Bayu Prasetyo yang menyuruh saya. Anda bisa mengecek di riwayat panggilan serta percakapan,” ujar suara asing itu.
“Oh, jadi begitu. Baiklah. Selanjutnya biar polisi yang menindaklanjuti kasus ini,” tegas Arsenio sebelum mengakhiri panggilan. “Kamu dengar sendiri, ‘kan? Bayu Prasetyo yang menyuruh enam orang tukang pukul bayaran untuk menyergap dan menculik istriku.” Mata elang Arsenio beralih pada Bayu.
“Aku sengaja membuat Binar pergi sendiri dengan tujuan klinik dokter kandungan. Padahal sebenarnya aku sudah membawa dia ke tempat lain,” ujar Arsenio tersenyum puas. Dia begitu bangga karena telah berada selangkah lebih maju dari Bayu.
“Aku sengaja memberitahumu di mana tempat Binar akan memeriksakan diri, padahal tujuan dia sebenarnya bukanlah ke sana. Aku berhasil memancingmu.” Arsenio tertawa puas. “Ternyata dugaanku benar. Kamu membayar orang untuk menyergap dan menculik istriku.”
Bayu yang sedari tadi hanya terdiam dan membeku, kini berhasil menguasai diri sedikit demi sedikit. “Jadi, Anda bergerak diam-diam? Hebat sekali. Padahal saya terkenal sebagai seseorang yang selalu teliti dan waspada,” ujarnya dengan sorot mata yang tak dapat diartikan.
“Aku tidak peduli kau orang yang seperti apa, karena yang pasti aku membutuhkan kesadaranmu untuk ikut bersamaku ke kantor polisi,” sahut Arsenio penuh penekanan.
“Bagaimana jika saya menolak?” Bayu mundur beberapa langkah.
“Tolong jangan membuatku emosi. Aku sudah menahan diri untuk tidak menghajarmu sampai mati di sini,” geram Arsenio. “Jika bisa, aku akan melubangi kepala dan dadamu, jauh lebih banyak dari peluru yang kau sarangkan di dada mamaku.”
Setetes air mata jatuh di pipi Arsenio. Kembali teringat olehnya bayangan cantik sang ibu yang selalu memandangnya penuh kasih.
__ADS_1
“Ah, memangnya Anda membawa pistol?” Tersungging senyuman culas dari bibir Bayu. Senyum itu lalu memudar secepat gerak tangannya meraih pistol yang sejak tadi tersembunyi di balik kemeja. Bayu menodongkan pistol tersebut ke arah Arsenio.
“Sepertinya, peluru ini juga membutuhkan sarang yang baru,” kelakar Bayu sambil tergelak puas. Tanpa banyak berkata-kata, telunjuknya menarik pelatuk. Dalam waktu sepersekian detik, sebutir peluru melesat keluar dari moncong pistol yang lurus terarah pada tubuh tegap Arsenio yang tak sempat menghindar.