Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Cinta Dan Kecewa


__ADS_3

“Keguguran?” ulang Arsenio setengah tak percaya. "Apakah itu artinya istriku sedang hamil?” Pria tampan tersebut menyugar rambutnya kasar.


“Benar sekali, Tuan. Istri anda hamil, tapi telah keguguran,” jelas sang dokter membuat Arsenio tertegun. Dia seakan kehilangan energi dan bahkan tak kuat berdiri dengan tegak. Arsenio kemudian mengempaskan tubuhnya begitu saja ke atas kursi tunggu.


“Maafkan kami, Tuan. Akan tetapi, kami meminta persetujuan dari Anda selaku suami dan penanggung jawab, untuk melakukan tindakan kuretase agar tidak terjadi infeksi pada rahim istri Anda,” pinta dokter itu sesaat kemudian.


“Lakukan apapun asalkan istriku tidak lagi kesakitan,” sahut Arsenio pelan. Wajahnya terlihat sayu dan lelah. Dia tak dapat berpikir dengan jernih saat itu.


“Baiklah, Tuan." Dokter tadi mengangguk pelan, kemudian berbalik dan meninggalkan Arsenio. Hingga beberapa saat lamanya, pria blasteran Belanda itu terus sabar menunggu sampai pintu ruang tindakan kembali terbuka.


“Apakah Anda ingin melihat kondisi istri Anda, Tuan?” tawar seorang perawat yang tadi membuka pintu.


“Bagaimana keadaan istriku?” Arsenio buru-buru bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah sang perawat.


“Istri Anda dalam keadaan stabil. Namun, saat ini dia masih tertidur akibat efek obat bius yang kami suntikkan,” jawab perawat itu seraya mengarahkan Arsenio untuk masuk ke dalam ruangan.


Pria tampan itu tampak begitu terenyuh saat melihat Binar yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Segera saja dia meraih kursi di dekatnya, lalu memindahkan kursi tersebut ke sisi ranjang. Arsenio duduk di sana sembari memegang telapak tangan Binar yang terasa dingin. Dia terus menunggu tanpa lelah sampai istrinya terbangun.


Sebisa mungkin, Arsenio menyembunyikan kesedihannya dari Binar. “Hei, Sayangku. Apa kabarmu? Kamu tertidur hampir seharian,” ucapnya sambil tersenyum.


“Rain? Apa yang terjadi?” tanya Binar lemah.


Arsenio menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia mengendalikan segala emosi yang berkecamuk dalam dada, sebelum menjawab pertanyaan sang istri. “Sayang." Lembut jemari Arsenio mengusap pucuk kepala Binar. “Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?” tanyanya.


“Tidak sesakit tadi. Akan tetapi, tetap saja masih terasa tak nyaman,” jawab Binar apa adanya. “Memangnya ada apa, Rain? Apa aku masih berada di rumah sakit?” Wanita muda itu terus berusaha untuk sepenuhnya tersadar. Setelah itu, dia segera mengamati keadaan sekitarnya, lalu melihat jarum infus yang tertancap di punggung tangan. Binar juga meraba ranjang tempatnya berbaring saat itu. “Sudah berapa lama aku tertidur?” tanyanya kemudian.


“Cukup lama,” jawab Arsenio singkat dengan sorot penuh arti.


Sedangkan Binar juga memperhatikan raut sang suami yang tak biasa. “Rain … jangan katakan kalau … kalau aku keguguran,” ujarnya terbata dengan mata yang berkaca-kaca.


Sontak Arsenio terkejut mendengar penuturan Binar. “Dari mana kamu tahu bahwa kamu sudah keguguran?” tanyanya dengan suara bergetar. Rasa dalam dadanya kian tak karuan.

__ADS_1


“Jawab dulu pertanyaanku,” desak Binar dengan nada yang terdengar pilu.


“Ya, Binar. Kamu keguguran. Sekarang jawab aku. Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal ini?” Arsenio mulai tak sabar.


“Ya, ampun. Bagaimana ini, Rain? Anak kita ….” Bukannya menjawab, Binar malah menangis tersedu-sedu. “Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku yang salah. Aku telah membunuh bayi kita,” racaunya.


“Binar, hentikan!” tegas Arsenio. “Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!” pinta Arsenio dengan penuh penekanan.


“Aku hamil, Rain. Aku berkali-kali ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak berani. Aku takut kamu marah dan pergi,” ungkap Binar sembari terisak.


“Astaga!” Arsenio menyugar rambutnya dengan kasar. Rasa terkejut, gusar, dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam dadanya saat itu. “Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu padaku, Binar? Bisa-bisanya kamu berpikir kalau aku akan marah mengetahui kehamilanmu, apalagi pergi meninggalkanmu. Sebrengsek itukah aku di matamu?”


“Rain, kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu ingin menunda untuk memiliki momongan,” sahut Binar. Tangisnya semakin kencang sampai-sampai seorang perawat datang dan menanyakan keadaannya.


Arsenio terpaksa menanggapi perawat itu dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Dia menunggu sampai petugas medis tadi pergi. Barulah Arsenio kembali berbicara kepada sang istri. “Aku memang berkeinginan untuk menunda kehamilanmu. Namun, itu bukan berarti bahwa aku akan menolak jika tiba-tiba Tuhan memberikan kita seorang bayi, Binar,” sanggah Arsenio. Sorot kecewa begitu jelas terlihat dari bola mata coklat terangnya yang indah. “Aku tidak sejahat itu!” imbuhnya sambil menggelengkan kepala.


“Rain.” Binar berusaha menyentuh telapak tangan sang suami yang berada di tepian ranjang. Akan tetapi, Arsenio lebih dulu menariknya. “Rain, maafkan aku,” pinta Binar lirih.


“Waktu itu aku sudah hamil dan merasakan keanehan di perutku,” jawab Binar lirih.


“Lalu, waktu kamu pingsan di restoran itu ….” Lagi-lagi Arsenio sengaja menjeda kalimatnya.


“Waktu itu adalah pertama kalinya aku mengetahui jika aku sedang hamil. Dokter memberikan resep penguat kandungan padaku." Air mata Binar terus mengalir, membasahi bantal rumah sakit.


“Jadi, yang ada di dalam resep itu bukan vitamin seperti yang kamu katakan?” Arsenio menarik napas panjang demi menahan emosi yang mulai bergolak.


Binar menggeleng lemah, membuat Arsenio memejamkan matanya rapat-rapat. “Kamu membohongiku, Binar. Untuk apa?” gumamnya lirih.


“Aku takut ….”


“Kamu terlalu takut kalau aku akan pergi berdua dengan Agatha, lalu berselingkuh dengannya. Sampai-sampai kamu mengorbankan kesehatanmu sendiri dan calon anak kita. Itulah yang terjadi sebenarnya!” potong Arsenio. “Kamu ketakutan pada hal yang tidak akan terjadi!" sambungnya.

__ADS_1


“Rain, maafkan aku." Binar kembali berusaha meraih tangan sang suami yang lebih dulu menghindar dengan memundurkan kursinya. Arsenio kemudian pindah ke dekat jendela, lalu berdiri di sana. Tubuh tegapnya membelakangi Binar. Tatap matanya menerawang, memperhatikan kendaraan yang cukup ramai berlalu lalang di depan rumah sakit.


“Kapan kamu bisa memercayaiku sepenuhnya, Binar? Dengan apa aku harus membuktikan bahwa aku sudah berubah? Aku tidak ingin lagi menjadi bajingan, Binar,” ujar Arsenio sendu.


“Rain.” Binar kembali menangis sesenggukan. Sejuta sesal menyeruak dari dalam dada. Hal yang paling menyakitkan yang dia alami saat itu adalah wajah sedih dan kecewa suaminya.


“Seberapa brengseknya aku, maka aku tidak akan pernah membohongimu,” tegas Arsenio. Dia lalu memejamkan mata rapat-rapat dan berusaha berbaring di sofa kecil yang berdempetan dengan dinding. Rasanya begitu lelah, sehingga Arsenio memilih untuk membiarkan sang istri, setidaknya sampai rasa sakit dalam hati berkurang.


Arsenio yang teramat lelah, akhirnya tidur meringkuk di atas sofa. Begitu pula dengan Binar. Terlalu lama menangis membuat matanya bengkak dan sakit kepala, hingga pada akhirnya dia tertidur tanpa sadar.


Pasangan suami istri tersebut seharusnya bisa langsung pulang malam itu. Namun, kondisi Binar yang masih lemah, ditambah pertengkaran yang menguras energi dan emosi, memaksa mereka untuk menginap semalam di rumah sakit.


Tak terasa, pagi menjelang. Dokter yang menangani Binar datang dan melakukan pemeriksaan. Setelah melihat kondisi tubuh Binar telah stabil, dokter itu pun memperbolehkannya pulang sambil memberikan beberapa resep obat.


Arsenio menerima resep itu tanpa banyak bicara. Dia berubah menjadi pendiam sejak kejadian semalam. Arsenio bahkan tak mengucap sepatah kata pun saat perawat mendorong tubuh istrinya di atas kursi roda sampai tiba di area parkir.


Arsenio membopong tubuh ramping yang masih tampak lemah tadi, kemudian mendudukkannya di dalam mobil. Setelah itu, dia melajukan kendaraan menuju apartemen Fabien. Pria itu masih mogok bicara ketika menggendong Binar mulai dari basement hingga tiba di kamar yang mereka tempati.


“Beristirahatlah. Aku akan membuatkanmu sarapan,” ucap Arsenio seraya membaringkan tubuh istrinya hati-hati ke atas ranjang. Nada bicaranya juga terdengar datar dan dingin. Dia bergegas meninggalkan kamar menuju dapur tanpa berkata apa-apa lagi.


Arsenio melintasi ruang televisi. Sekilas dia melihat jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Tiba-tiba, terbersit dalam kepalanya untuk menghubungi Anggraini.


.


.


.


Kira2 Arsenio mau bilang apa, yaa.. Melipir dulu deh di karya keren yang satu ini 😍👇


__ADS_1


__ADS_2