
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ketika Arsenio baru membuka mata. Namun, dia tak langsung beranjak dari tempat tidur. Arsenio terdiam untuk beberapa saat, sambil menatap langit-langit kamar apartemennya. Setelah kurang lebih lima menit dia habiskan dengan termenung, Arsenio pun bangkit lalu duduk bersandar. Pria tampan tersebut kemudian meraih ponsel yang diletakkan di atas meja tempat lampu berada.
Begitu Arsenio menyalakan alat komunikasi canggih tadi, sederet pesan dan panggilan tak terjawab masuk bagaikan serbuan para serdadu yang merangsak ke dalam benteng pertahanan musuh. Luar biasa, semuanya berasal dari satu nama yaitu Winona.
Sebuah keluhan pendek pun meluncur dari bibir Arsenio. Putra sulung dari pasangan Lievin dan Anggraini tersebut kemudian menyugar rambutnya ke belakang. Tak ada satu pun pesan dari Winona yang dia balas. Pria itu lebih memilih turun dari tempat tidur, lalu beranjak ke kamar mandi.
Tak banyak waktu yang Arsenio habiskan untuk membersihkan diri. Selang beberapa saat kemudian, dia sudah tampil rapi dengan sebuah t-shirt putih polos yang dilapisi jaket kulit hitam. Penampilannya terlihat sangat kasual dilengkapi sebuah celana jeans biru belel yang sobek di bagian lutut. Tak lupa, kaca mata hitam model aviator keluaran brand tersohor Italia pun membuat penampilannya semakin trendy.
Setelah meraih kunci mobil kesayangan, Arsenio beranjak menuju lift. Kebetulan, apartemen miliknya memang dilengkapi dengan fasilitas private lift. Tak butuh waktu yang lama bagi Arsenio untuk menuju area parkir, karena tak berselang lama dia sudah membelah jalanan ibukota menggunakan Range Rovers putihnya. Tujuan utama pria berparas rupawan itu tiada lain adalah apartemen milik Prajna, yang kini ditempati oleh Binar.
Keberuntungan pun seakan tengah menaungi Arsenio siang itu. Dia bisa tiba di tempat tujuan dalam waktu cukup singkat. Namun, selagi dirinya menuju ruangan yang dimaksud, sebuah panggilan masuk yang berasal dari Anggraini harus menghentikan langkah tegapnya untuk beberapa saat.
"Ma," sapa Arsenio pelan.
"Ya, Tuhan. Mama pikir kamu lupa dengan wanita tua ini," sindir Anggraini, mengingat ulah putra sulungnya semalam.
"Ayolah, Ma. Akan kita bahas nanti. Saat ini aku masih ada sedikit urusan. Aku janji akan mampir," ucap Arsenio dengan nada meyakinkan. Tegas tapi masih terdengar lembut.
"Hari ini mama harus ke yayasan. Jadi, kalau bisa jangan terlalu siang," pesan sang ibu tanpa banyak basa-basi seperti biasanya. Arsenio pun paham, Anggraini pasti sama kesal dengan ayahnya.
"Aku usahakan, Ma. Bye," tutup Arsenio. Dia menggenggam ponsel mahalnya sembari melanjutkan langkah. Setibanya di depan ruangan bernomor 1184, Arsenio segera mengetuk pintu. Sebelumnya, dia melepas kaca mata hitam yang dikenakan, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jaket bagian dalam.
Tak perlu menunggu terlalu lama, hingga pintu itu terbuka. "Kak Ch ... and." Paras cantik Binar nan polos muncul dari baliknya. Senyuman gadis itu terlihat sangat tulus saat mengira bahwa yang datang ke sana adalah Chand. "Kamu?" Raut ceria tadi seketika berubah masam. Dia juga bermaksud untuk menutup kembali pintu yang baru dibuka.
__ADS_1
Namun, dengan segera Arsenio menahannya. "Kenapa, Binar?" Sorot mata aneh terlihat jelas dari pria dua puluh tujuh tahun tersebut. Dengan tanpa ada beban sedikit pun, Arsenio memaksa membuka pintu lalu merangsak masuk.
Binar segera mundur saat Arsenio menutup kembali pintu tadi rapat-rapat. "Mau apa kamu kemari?" tanyanya ketus.
"Tentu saja untuk menemuimu," jawab Arsenio enteng. Sikapnya terlihat sangat jauh berbeda, dengan apa yang ditunjukkan saat Binar mengenal pria tadi sebagai Rain. Arsenio tampak lebih agresif dan juga nakal. Itu terbukti dari caranya memandang Binar. Tatapan Arsenio terasa lebih berani dan seakan menantang siapa saja yang ada di hadapannya. "Aku ingin bicara," ucap pria tampan berambut cokelat itu lagi.
"Aku tidak mau, karena tak ada lagi yang perlu kita bicarakan," tolak Binar seraya membalikkan badan jadi membelakangi Arsenio.
"Kamu salah. Menurutku justru sebaliknya. Ada banyak sekali hal yang harus kita berdua bahas dengan serius," sanggah pria bermata cokelat terang tadi. Dia berjalan mendekat ke arah Binar, sehinga gadis itu bisa mencium wangi aroma citrus yang menyegarkan. "Bagaimana, Binar?" tanya Arsenio lagi. Pria itu memiringkan kepala agar dapat melihat wajah cantik gadis yang membelakanginya.
Binar menoleh ke samping dengan ragu. Sekilas, dirinya dapat bersitatap dengan si pemilik paras memikat yang masih terlihat tenang itu. Namun, dengan segera Binar kembali memalingkan wajahnya ke depan. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun dalam dada ada gemuruh teramat besar. Begitu juga dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. "Aku tidak mau," tolak Binar. "Aku tidak ingin mencari masalah," ucapnya lagi berlagak ketus.
Akan tetapi, Arsenio malah tertawa renyah. "Kamu takut bermasalah dengan siapa? Chand atau ...."
"Tunanganmu, keluargamu, semuanya. Aku datang kemari dengan niat untuk mencari pekerjaan, bukan yang lain," ucap Binar. Dia terus berusaha menyingkirkan rasa gugup dalam hatinya.
"Beberapa hari setelah kepergianku dari rumah ibu tirimu yang jahat, aku memutuskan untuk kembali. Aku mencari kamu, Binar. Namun, Praya mengatakan bahwa kamu sudah tidak ada di sana. Dia juga sempat memberiku nomor ponselmu, tapi anehnya tidak bisa kuhubungi sama sekali," tutur Arsenio yang masih beridiri di belakang Binar.
"Aku memang pergi setelah kamu keluar dari rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu. Saat itu aku mencarimu ke mana-mana. Aku bahkan menunggu di pinggir jalan, tapi ...." Suara Binar terdengar semakin pelan. Dia juga menundukkan wajahnya. "Semua orang pergi, ya selalu seperti itulah," ucap gadis cantik tersebut kemudian.
"Tentu saja tidak begitu," bantah Arsenio. "Widya mengusirku saat itu juga. Tadinya aku ingin menemuimu terlebih dahulu. Namun, kupikir karena aku akan kembali untuk menjemput dan membawamu pergi, maka aku mengurungkan niat tersebut. Siapa sangka bahwa ternyata kamu juga pergi dari sana," tutur pria tampan itu lagi menjelaskan.
Namun, Binar tak menanggapi. Ragu menyelimuti hatinya untuk menceritakan tentang hal buruk yang telah dia alami, atas perlakuan tak sopan dari Surya. Dia lebih memilih untuk menutup mulut.
__ADS_1
"Satu lagi yang harus kamu ketahui. Waktu aku ke sana, aku memberikan ponsel baru untuk kedua adikmu. Kami sempat berkomunikasi selama beberapa kali. Praya memberitahuku bahwa seseorang bernama meme Ida telah mengambil alih kepemilikan rumah yang selama ini kalian tinggali, karena Widya telah ketahuan mencuri di tempatnya," terang Arsenio yang seketika membuat Binar terkejut serta refleks membalikkan badan. Gadis itu memandang Arsenio dengan ekspresi tak percaya.
"Aku tidak tahu seberapa banyak yang telah ibu tirimu curi, sehingga harus menjadikan rumah sebagai jaminan," pikir Arsenio menaikkan sebelah alisnya.
"Kami tidak memiliki apapun lagi selain rumah itu. Jadi, mungkin ibu pun bingung harus menyerahkan apa untuk jaminan. Namun, jika mereka sudah pindah dari sana ... bagaimana denganku?" Raut wajah Binar kembali terlihat gusar.
"Praya sempat menghubungiku lagi. Dia memberikan alamat yang baru. Semoga saja mereka tidak pindah lagi dari sana, karena setelah itu aku kehilangan komunikasi dengan Praya ataupun Wisnu. Dalam perkiraanku, sepertinya mereka menjual kembali ponsel yang telah kuberikan dulu." Arsenio mengempaskan napas pelan.
"Ya, Tuhan," desah Binar pelan. Gadis itu mengggigit ujung jari telunjuknya, menandakan bahwa dia dalam keadaan yang bingung dan khawatir. Sedangkan Arsenio hanya memperhatikan. Pria itu ingin mengobati segala rasa rindu, dengan menatap paras cantik yang selama ini ada dalam pikirannya.
Tanpa banyak bicara, Arsenio semakin mendekat ke hadapan Binar. "Apa kamu tidak bisa merasakannya, Binar?" tanya pria tampan itu pelan. Dia menatap lekat kepada gadis cantik itu dengan lekat. "Aku belum pernah merindukan seorang gadis seperti saat diriku merindukanmu," rayunya. Akan tetapi, Binar yang pemalu tak segera menanggapi. Dia hanya menatap Arsenio dengan sorot mata ragu.
"Aku marah saat melihat Chand menciummu kemarin malam," ucap Arsenio lagi masih dengan suara yang pelan dan begitu dalam.
"Kenapa kamu harus marah? Di sampingmu sudah ada wanita yang sangat cantik dan juga terlihat dari kalangan yang setara dengan ...."
"Namanya Winona. Kami memang sudah dekat sejak lama karena pertalian kontrak kerja sama. Namun, jujur aku tidak pernah mencintainya," tegas Arsenio seraya mendekatkan wajah kepada Binar.
.
.
.
__ADS_1
Rumitnya hubungan mereka ya, gengs. Uraikan dulu yuk, dengan cerita keren yg satu ini ❤️