
Dwiki memarkirkan Honda CB Gelatik kesayangannya di area parkir khusus untuk sepeda motor. Setelah Ajisaka turun, Dwiki pun ikut turun sambil melepas helm yang dia kenakan. Mereka lalu menitipkan helm tersebut pada petugas yang berjaga di sana. Kedua pria berperawakan tegap tadi, melangkah gagah memasuki gedung perkantoran megah milik Biantara Sasmita. Kehadiran dua pria dengan kulit sawo matang tersebut, menjadi pusat perhatian beberapa karyawati. Termasuk petugas resepsionis yang sudah pernah bertemu dengan Dwiki beberapa waktu yang lalu. Wanita berpenampilan rapi dengan rambut disanggul khas para pramugari. Dia tersipu malu, ketika Dwiki mendekat sambil melepas kacamata hitam yang dikenakannya. Seperti biasa, Dwiki selalu tampil dengan senyuman ramah dan hangat kepada siapa pun, terlebih pada wanita cantik.
“Selamat pagi menuju siang, Mbak. Saya sudah membuat janji untuk bertemu dengan Bu Winona. Apakah beliau ….”
“Pak Dwiki.” Belum sempat Dwiki melanjutkan kata-katanya, suara lembut Winona terdengar memanggil dengan tidak terlalu nyaring. Dwiki dan Ajisaka pun serempak menoleh. Tampaklah sosok cantik bertubuh sintal. Winona terlihat begitu elegan dalam balutan rok span di bawah lutut yang dipadukan dengan kemeja lengan tiga per empat berwarna putih. “Mari,” ajak Winona yang tampaknya baru tiba di sana. Dia melangkah anggun di depan Dwiki dan Ajisaka menuju lift khusus.
“Jangan lihat!” tegur Dwiki sambil menepuk lengan sepupunya yang memperhatikan langkah Winona dari belakang. Ajisaka menoleh, tapi dia tak menanggapi. Terlebih, karena saat itu mereka telah memasuki lift.
Winona berdiri paling depan. Sedangkan Dwiki dan Ajisaka di belakangnya. Namun, Dwiki sepertinya tak tahan untuk tidak menggoda sang kekasih yang dalam beberapa hari terakhir tidak dia temui. “Bagaimana kabarmu hari ini, Nona Winona?” tanyanya setengah berbisik. Dwiki sedikit mencondongkan tubuhnya, agar dapat mendekat ke wajah mantan tunangan Arsenio tersebut. Wangi parfum yang dipakai Winona pun tercium dengan jelas oleh pria itu. Entah apa yang akan terjadi, andai tak ada Ajisaka di sana.
“Baik, tapi tolong jaga sikap Anda,” sahut Winona seraya menoleh sejenak ke arah Ajisaka.
“Anggap saja aku tidak di sini,” celetuk Ajisaka sambil memalingkan wajah.
“Kamu dengar itu, Win?” bisik Dwiki lagi yang masih berdiri di belakang Winona.
“Tidak,” jawab Winona tanpa menoleh. “Bersikap profesional lah, Pak Dwiki,” ucap wanita berambut panjang itu lagi seraya mengulum senyumannya. Dia pun melangkah keluar setelah pintu lift terbuka. “Kita ke ruanganku dulu,” ajak Winona. Langkah gemulainya kembali menjadi perhatian dua pria yang mengekor dari belakang. Winona sesekali mengangguk saat berpapasan dengan karyawan yang menyapanya dengan sopan.
Langkah anggun Winona berakhir di depan sebuah pintu dengan papan bertuliskan namanya. Dia mempersilakan kedua tamu istimewa itu untuk masuk. Winona juga mengarahkan dua sepupu tersebut agar duduk. Tak lupa, dirinya menawarkan minuman, sebelum duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari Dwiki dan Ajisaka. “Seharusnya papaku ikut dalam pembicaraan ini. Namun, sayangnya dia harus kembali ke Singapura untuk mengantar mama check up kesehatan,” ucap Winona membuka perbincangan. Wanita cantik itu menyilangkan kaki jenjangnya yang berbalut stiletto hitam.
“Bagaimana kondisi Bu Yohana sekarang?” tanya Dwiki menanggapi.
“Dia sangat sedih saat mendengar kabar kematian Tante Anggraini. Namun, kondisi mamaku juga masih belum stabil. Apalagi setelah dia dirawat beberapa waktu yang lalu,” terang Winona.
__ADS_1
“Semuanya akan segera membaik,” balas Dwiki dengan tatapan penuh cinta kepada putri dari Biantara Sasmita tersebut.
Winona tersenyum. Dia lalu melirik Ajisaka yang sejak tadi hanya menyimak. “Semenjak kasus kematian Tante Anggraini, Haris sudah tidak datang lagi ke kantor. Aku sempat menghubungi ponselnya beberapa kali, tapi selalu saja berada di luar jangkauan. Jika memang dia merupakan dalang dari rencana pembunuhan terhadap Tante Anggraini, lalu kenapa dia pergi dengan sangat terburu-buru. Maksudku ….” Winona terdiam sejenak, ketika seorang office girl datang dan membawakan tiga cangkir kopi untuk mereka. Setelah office girl tadi keluar, Winona mempersilakan kedua tamunya untuk mencicipi kopi yang telah disuguhkan di atas meja.
“Apa maksudmu dengan pergi terburu-buru?” tanya Ajisaka setelah meneguk kopinya.
“Kemarin-kemarin, aku sempat masuk ke ruang kerja Haris. Di sana masih terlihat normal. Barang-barang milik pria itu tak ada yang berpindah dari tempatnya. Aku juga sempat datang ke rumahnya. Seorang tetangga mengatakan bahwa terakhir kali Haris terlihat adalah pada malam sebelum Tante Anggraini dihabisi. Setelah itu, Haris tak tampak keluar lagi dari rumahnya,” tutur Winona menerangkan.
“Kuharap kamu tidak terlalu menampakkan diri. Kita tidak tahu siapa yang sedang dihadapi saat ini,” saran Dwiki. Ada kecemasan yang tersirat dalam ucapannya.
“Aku membawa nama pekerjaan,” sahut Winona. “Sebenarnya, aku dan papa merasa khawatir atas kejadian ini.”
“Kalau begitu, izinkan kami untuk menggeledah isi ruang kantor Haris,” pinta Ajisaka yang seakan sudah tak sabar beraksi.
Winona mengangguk pelan. Dia beranjak dari duduknya ke dekat meja kerja. Winona menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk menghadap. “Berhubung hari ini aku masih ada pekerjaan, jadi aku tidak bisa menemani kalian ke ruangan Haris,” ucap Winona setelah menutup teleponnya tadi. Dia lalu mengarahkan perhatian ke pintu, ketika terdengar ketukan pelan di sana. “Masuk.”
“Anika akan mengantar kalian berdua. Dia yang sudah mengatur semuanya. Kalian tinggal masuk. Namun, tolong jangan sampai terlihat mencurigakan.” Winona menatap Dwiki dan Ajisaka secara bergantian.
“Tenang saja. Kami sudah ahli dalam hal seperti ini,” sahut Dwiki sambil berdiri dari duduknya. Ajisaka pun segera mengikuti.
“Mari, Tuan-tuan,” ajak Anika. Dia mengarahkan tangan pada kedua pria itu agar mengikutinya.
Tanpa harus diminta dua kali, Ajisaka langsung saja mengikuti sekretaris pribadi Biantara tersebut keluar ruangan. Sementar Dwiki masih berdiri memandang nakal kepada Winona yang tak hendak menanggapi godaan pria itu. Namun, kenyataannya Winona tak dapat menghindar. Satu ciuman mesra pun mendarat di bibirnya. Rasanya teramat manis, meski tak berlangsung lama.
__ADS_1
“Aku akan meminta sisanya nanti,” ucap Dwiki dengan setengah berbisik, setelah mengakhiri pertautannya tadi. Dia mengecup kening sang kekasih. Pria itu pun melenggang keluar dengan tenang. Dwiki tersenyum sambil mengusap bibirnya, ketika Ajisaka menatap dengan sorot kesal karena harus menunggu di luar.
“Apa kita bisa pergi sekarang?” tanya Anika.
“Tentu,” jawab Ajisaka antusias. Dia segera mengikuti langkah Anika menuju ruangan milik Haris. Sedangkan Dwiki mengikuti paling belakang.
Setibanya di depan ruangan yang dituju, Anika segera membukakan pintu. “Waktu kalian hanya empat puluh lima menit. Jadi, apapun yang ingin kalian cari, maka temukan dengan segera,” pesan Anika. Tatapannya tertuju kepada Ajisaka yang berdiri paling dekat dengannya.
“Kamu tidak akan menunggui kami di sini?” tanya Ajisaka dengan gaya bicara yang terdengar berbeda dari biasanya.
“Tentu saja tidak. Aku masih punya pekerjaan lain. Intinya, kalian hanya memiliki waktu empat puluh lima menit. Jika bisa lebih cepat maka itu akan jauh lebih baik.” Anika kembali menegaskan.
“Baiklah,” sahut Ajisaka. Dia menoleh kepada Dwiki yang berdiri tenang sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Ayo, Ki,” ajaknya. Sebelum masuk, Ajisaka dan Anika sempat saling bertatapan untuk sesaat, yang berakhir pada senyuman manis dari sekretaris Biantara tersebut. Itu merupakan sebuah penyemangat bagi Ajisaka, setelah beberapa saat yang lalu merasa terabaikan di antara Dwiki dan Winona.
Setelah Anika pergi dari sana, kedua sepupu itu pun bergegas masuk. Dwiki menutup pintu rapat-rapat, bahkan menguncinya dari dalam. Sebelum menyentuh barang-barang di dalam ruangan tersebut, mereka terlebih dulu memakai sarung tangan. Sementara Ajisaka langsung menyibukkan diri dengan komputer milik Haris. Dia mengutak-atiknya, selagi Dwiki sibuk membuka apapun yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang pria itu.
Setelah hampir dua puluh menit mencari, Dwiki akhirnya menemukan beberapa buah flashdisk di dalam laci meja kerja yang awalnya terkunci. Dia harus mengakali terlebih dulu agar dapat membuka kunci tadi. Dengan dibantu oleh Ajisaka, akhirnya laci itu pun terbuka. Dari dalam sana, mereka juga menemukan sebuah kartu identitas atas nama Syamsir Lagawi dalam bentuk hasil foto copy.
Dwiki dan Ajisaka sempat mengamati foto yang tertera di sana. Mereka harus menajamkan indera penglihatan, untuk memastikan foto yang ada di kartu identitas tersebut. “Apa kamu bisa mengenalinya?” tanya Dwiki seraya menaikkan alis, setelah mengamati wajah dalam foto kartu identitas yang masih dirinya pegang.
“Kita bawa saja apapun yang didapat dari sini. Waktu kita tidak banyak,” ujar Ajisaka.
“Baiklah.” Dwiki mengangguk setuju. Dia menyatukan kartu identitas tadi dengan beberapa flasdisk yang mereka temukan dalam satu plastik.
__ADS_1
Keduanya pun bergegas menyudahi apa yang mereka lakukan di ruang kerja Haris, karena waktu yang diberikan akan segera habis. Namun, sebelum keluar dari sana, tiba-tiba Dwiki merasa ingin buang air kecil. Dia pun masuk ke toilet dengan pintu di sudut ruangan. Tanpa berlama-lama, Dwiki menyelesaikan ritual pribadinya. Akan tetapi, ketika dia akan berlalu dari dalam toilet, ekor mata pria itu menangkap sesuatu yang tak lazim.
Selembar kertas terjatuh dari atas daun pintu yang baru saja dia buka. Dwiki mengambil benda yang ternyata adalah sebuah foto berukuran postcard. Tangannya terkepal erat ketika mengamati sosok yang diabadikan dalam potret itu. “Kurang ajar,” geram Dwiki. Iris mata gelapnya memindai foto yang bergambar lekuk indah tubuh polos Winona yang sepertinya baru keluar dari kamar mandi.