
Arsenio menghentikan kendaraan di area parkir khusus gedung apartemen mewahnya. Akan tetapi, dia tak segera turun dari sana. Mata Arsenio menerawang menembus jendela kaca depan. Entah apa yang dia pikirkan saat itu.
“Rain?” panggil Binar lembut.
Pria rupawan itu segera menoleh ke arah Binar, lalu tersenyum. “Kita turun, yuk,” ajaknya.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Binar tanpa memedulikan ajakan Arsenio.
“Tidak ada.” Arsenio tersenyum lebar. Dia meraih tangan Binar, lalu mengecupnya.
“Jangan bohong, Rain. Aku tidak suka!” sungut Binar seraya menarik tangannya dari genggaman sang kekasih.
“Astaga, nona Binar galak ya ternyata,” gurau Arsenio. Dia tergelak sambil mendekatkan dirinya pada gadis cantik itu, “tapi aku suka.” Arsenio menyentuh bibir Binar dan melu•matnya sedikit kasar. Satu tangannya bergerak ke belakang leher. Sedangkan tangan yang lain menelusup ke balik pinggul dan mere•masnya pelan.
“Rain, kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucap Binar lagi setelah berhasil melepaskan bibirnya, lalu memegang tangan Arsenio yang berdiam di pinggul dan menatapnya sayu.
Arsenio balas menatap dengan tatapan tak kalah sendu. “Binar,” ucapnya lirih. “Bagaimana ini?”
“Bagaimana apanya?” Gadis itu menggeleng tak mengerti.
“Padahal aku sudah berjanji akan memberimu gaji yang sangat besar,” jawab Arsenio lesu, “tapi, bahkan sekarang aku tidak memiliki apa-apa."
“Ya, ampun,” ucap Binar merasa sangat terharu. Dia memeluk kekasihnya erat-erat. “Aku tidak butuh gaji, karena aku bukan pegawai ataupun salah satu pekerjamu. Lagi pula, kita bisa memulai segala sesuatunya dari awal. Aku terbiasa bekerja keras, Rain. Apa kamu lupa? Sama sekali tak masalah bagiku, walaupun kita tidur di emperan sekalipun,” tutur Binar menghibur sang kekasih.
Arsenio balas memeluk Binar semakin erat. Kata-kata gadisnya seakan membakar semangat yang tadi sempat menurun. “Aku mempunyai sedikit tabungan di rekening pribadiku,” ujarnya. “Sekarang aku menyesal, kenapa dulu aku tidak suka menabung dan berhemat.” Arsenio terkekeh pelan, lalu menguraikan pelukannya. Dia lalu memandang wajah cantik yang juga tengah menatapnya itu.
“Aku pintar menabung. Aku akan melakukannya untukmu,” ucap Binar dengan polosnya. Lagi-lagi, Arsenio terbahak sambil menggelengkan kepala.
“Aku punya sesuatu untukmu," ucap pria tampan itu beberapa saat kemudian.
“Apa?” tanya Binar penasaran.
Arsenio tak menjawab. Dia malah melepas gelang paracord hitamnya. Gelang itu dia pindahkan ke pergelangan tangan Binar. “Dengan gelang ini aku mengikatmu. Anggap saja aku melamar tapi tanpa sebuah cincin,” jelasnya.
__ADS_1
“Rain,” desah Binar. Mata indahnya berkaca-kaca. Perasaan haru bercampur bahagia, begitu membuncah di dalam hatinya.
“Setelah aku membereskan semua kekacauan ini, kita akan mencari cincin yang sesuai untukmu. Lalu ….” Kalimat Arsenio menggantung.
“Lalu apa?” Binar mengernyitkan kening, membuat pria itu tertawa gemas. Buru-buru dikecupnya pucuk hidung sang kekasih sebelum gadis itu sempat menghindar.
“Lalu, kita menikah,” jawab Arsenio enteng, “tapi maafkan aku, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa mengadakan pesta pernikahan yang mewah,” sesalnya.
Binar tak peduli akan kata-kata Arsenio. Kata terakhir yang dia dengar adalah ‘menikah’. Setelah itu, dia segera menghambur ke dalam pelukan sang kekasih. Binar menangkup wajah tampan Arsenio, kemudian mengecupnya berkali-kali. “Yang penting sah! Aku tidak peduli meskipun tanpa resepsi,” tegasnya.
“Agresif juga kamu, ya.” Arsenio tergelak dan kembali mencium Binar untuk beberapa saat lamanya, sampai terdengar ponsel yang berdering. “Mengganggu saja,” gerutunya seraya melepaskan ciuman. Arsenio melirik ponsel yang terpasang di tempat khusus di depan dashboard. Nama Dwiki muncul di sana.
“Ah, aku harus mengangkat ini.” Arsenio sedikit menjauhkan diri dari Binar, kemudian meraih ponsel dan menerima panggilannya.
“Bos, ada kabar terbaru dari Indah,” lapor Dwiki dari seberang sana.
“Bagaimana, Ki? Apa dia sudah ditemukan?” seketika raut Arsenio menegang.
“Saya mendapatkan informasi terpercaya, bahwa di dalam sebuah penerbangan menuju Belanda, ada daftar manifes atas nama Indah Hesti Prameswari, Bos,” terang Dwiki.
“Iya, Bos. Bagaimana? Apa saya perlu mengejarnya ke sana?” tanya Dwiki.
Arsenio tercenung untuk sesaat. Maksud hati, ingin dia memerintahkan anak buah kepercayaannya itu untuk mengikuti Indah. Akan tetapi, apa daya saat ini kemampuan finansialnya terbatas. Jumlah uang di rekening pribadi rahasianya hanya cukup untuk membayar gaji Dwiki dan membayar pajak kendaraan bermotor serta biaya lift pribadinya untuk bulan ini.
Arsenio tak menceritakan kepada Binar bahwa sesaat setelah meninggalkan kediaman Rainier, ayahnya mengirimkan pesan untuk membekukan seluruh rekening dan deposito atas namanya yang selama ini berhubungan langsung dengan perusahaan.
“Bos?” panggilan Dwiki mmbuyarkan lamunan Arsenio.
“Ah, iya. Terima kasih atas informasimu, tapi kurasa penyidikan ini kita hentikan saja sampai di sini,” ujar Arsenio pada akhirnya.
“Apa? Apa saya tidak salah dengar?” tanya Dwiki untuk memastikan.
“Ya, aku serius. Kita tutup kasus ini, Ki,” jawab Arsenio dengan yakin.
__ADS_1
“Tapi, bos. Sedikit lagi kita ….”
“Tidak apa-apa. Kita berhenti saja. Oh, ya, sekaligus aku akan menransfer gajimu nanti malam,” potong Arsenio, membuat Dwiki curiga.
“Apa ada masalah, bos?” tanyanya hati-hati.
“Aku akan pergi bersama Binar, Ki. Jangan tanya ke mana. Yang jelas aku tidak bisa memperpanjang kontrak kerja denganmu. Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini,” ucap Arsenio tulus, seraya menggenggam jemari Binar erat-erat. Gadis itu sendiri juga tengah mendengarkan secara saksama percakapan Arsenio sejak awal.
“Tak biasanya anda bersikap aneh seperti ini, bos. Anda bisa mengatakannya pada saya, siapa tahu saya bisa membantu,” ujar Dwiki tanpa ragu.
“Tidak ada, Dwiki. See you when I see you. Akan kuhubungi kamu lagi suatu saat nanti kalau aku butuh.” Arsenio mengakhiri panggilannya begitu saja, lalu kembali fokus pada wajah cantik Binar. “Sampai di mana tadi kita?” tanyanya.
“Sampai di sini.” Giliran Binar yang mencium bibir Arsenio dengan lembut, lalu tertawa pelan.
“Kamu sudah mulai pintar.” Arsenio membelai pipi mulus Binar. Matanya kembali menerawang, seperti tengah menanggung beban.
“Rain, jangan dipikirkan. Kita jalani saja. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkan kamu?” hibur Binar.
“Iya. Kamu benar, Sayang. Namun, sepertinya, sesaat lagi kita akan sibuk,” ujar Arsenio.
“Sibuk apa?” Binar menautkan alisnya.
“Ayo, ikut aku." Arsenio keluar lebih dulu dari kendaraan, kemudian membukakan pintu untuk Binar sekaligus membantunya turun. Pria bermata coklat terang itu menuntun kekasihnya masuk ke dalam lift khusus yang langsung menuju ke apartemen berjenis griya tawang miliknya yang terletak di lantai paling atas.
Ketika pintu lift terbuka, Arsenio buru-buru mengajak Binar ke dalam kamar. Binar langsung berpikiran negatif saat itu. Namun, ternyata apa yang dia bayangkan tak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya. Arsenio membawa Binar masuk ke dalam walk in closet. Dia menunjukkan seluruh koleksinya pada gadis itu. Jam-jam tangan mahal, setelan bermerek serta koleksi sepatunya yang berjumlah puluhan pasang.
“Lihatlah ini, Binar.” Arsenio mengarahkan telunjuknya pada lemari kaca yang terdiri dari beberapa rak dan kolom.
“Astaga, banyak sekali, Rain.” Binar begitu takjub seraya menyapu pandangannya ke setiap sudut ruangan.
“Aku ingin kamu membantuku untuk menyortir barang-barang ini. Sisakan tiga sampai empat setel saja. Pilihkan juga satu jam tangan yang akan kupakai,” jelas Arsenio.
“Lalu, sisanya?” tanya Binar penasaran.
__ADS_1
“Sisanya akan kujual,” jawab Arsenio dengan yakin.