Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Ancaman Baru


__ADS_3

Ajisaka memasuki kediaman Rainier tepat pada pukul dua belas malam. Setelah memarkirkan motor di garasi, dia bergegas menuju ke dapur. Terlalu banyak menyanyi bersama Anika, membuatnya kelaparan. Dengan langkah pelan, Ajisaka melintasi halaman samping. Pria itu bermaksud untuk memasuki dapur, melalui pintu yang menjadi penghubung antara taman dengan ruangan itu.


Ajisaka sudah berusaha memelankan geraknya agar tak menimbulkan suara. Akan tetapi, penampakan sesosok bayangan hitam tepat di depan kulkas, sukses membuat pria itu memekik kaget. Tak disangka, bayangan hitam tadi juga sama terkejutnya dan berteriak.


Secara spontan, Ajisaka menghambur ke arah bayangan misterius itu dan berusaha memukulnya. Akan tetapi, sosok tersebut lebih dulu menghindar dan hendak melayangkan tinju ke wajah sepupu Dwiki tersebut. Namun, beruntung karena dua pria tadi sama-sama tersadar. Mereka mampu mengendalikan diri dalam waktu cepat.


“Bos?”


“Ji?” Ucap mereka berdua secara bersamaan.


“Bos, sedang apa malam-malam begini di depan kulkas?” tanya Ajisaka sambil terengah.


“Kamu sendiri sedang apa di sini?” Bayangan hitam yang tak lain adalah Arsenio, balik bertanya.


“Saya lapar, Bos,” jawab Ajisaka dengan santainya sambil membuka pintu kulkas lebar-lebar. Dia hendak mencari apapun yang bisa dimakan di sana. “Bos mencari apa?”


“Makanan. Aku juga kelaparan,” sahut Arsenio. Dia kini sibuk mengeluarkan beberapa bahan makanan yang bisa dihangatkan dengan microwave.


“Kita sama, Bos. Saya juga kelaparan,” ujar Ajisaka. Dia terus memperhatikan majikannya yang sibuk memencet tombol microwave.


“Memangnya apa yang telah kamu lakukan? Kenapa bisa sampai kelaparan? Olahraga malam?” cecar Arsenio tanpa henti.


“Karaoke, Bos,” jawaban Ajisaka membuat Arsenio langsung menoleh sambil tersenyum lebar.


“Oh, kencan?” celetuk pria berambut coklat itu.


“Bisa dibilang begitu, Bos,” balas Ajisaka sambil tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


“Siapa wanita itu? Apakah aku kenal?” tanya Arsenio saat itu yang tengah menyandarkan tubuhnya pada meja dapur. Dia mengambil buah apel dari dalam keranjang, lalu menyantap sambil menunggu makanannya hangat.


“Anika, Bos,” jawab Ajisaka sambil meringis lucu. “Ternyata dia pandai menyanyi. Suaranya merdu sekali. Anika juga mengatakan bahwa dulu dia sering pergi ke karaoke bersama Anda.”


“Ya begitulah.” Arsenio tak begitu nyaman, ketika Ajisaka telah membuat dirinya kembali teringat akan masa lalu yang nakal.

__ADS_1


“Apa itu artinya Anda juga pintar menyanyi?” tanya Ajisaka.


“Tidak juga. Aku ke sana hanya untuk mencari hiburan. Tidak ada yang kulakukan selain ....” Arsenio berdecak pelan. Nada bicaranya pun terdengar malas-malasan. “Andai saja aku bertemu dengan Binar sedari dulu, mungkin aku tak perlu melakukan hal-hal tak berfaedah seperti itu,” desahnya. Raut penuh sesal tampak jelas di wajah tampan pria yang tak lama lagi akan menjadi seorang ayah.


“Tidak masalah, Bos. Namanya juga masa muda. Wajar jika kita menjadi sedikit liar,” tutur Ajisaka sembari tersenyum penuh arti. "Pencarian jati diri. Semua akan berubah seiring bertambahnya usia. Jika sampai tua kelakuan kita masih tak karuan, maka itu baru kelewatan."


“Liarku dulu di atas rata-rata.” Arsenio tergelak, bersamaan dengan bunyi berdenting pada microwave yang menandakan makanannya sudah siap disantap. “Kamu lapar, ‘kan? Ayo, kita memakan ini sama-sama," ajaknya.


Setelah mengenakan pelindung tangan, dia mengeluarkan nampan berisi dua bungkusan berlapis aluminium foil, kemudian meletakkannya di atas meja dapur. Perlahan, Arsenio membuka bungkus berwarna silver itu kemudian mengeluarkan beberapa potong ayam panggang. “Nasi?” tawarnya pada Ajisaka.


“Iya. Biar saya mengambil sendiri, Bos." Ajisaka segera mengambil dua buah piring dari dalam kabinet. Dia memberikan salah satunya pada Arsenio. Ajisaka lalu mengambil beberapa sendok nasi dari dalam rice cooker dan menyantapnya bersama ayam panggang tadi dengan begitu lahap.


Arsenio sendiri hanya terkekeh melihat sikap anak buah kepercayaannya itu. “Ternyata ada yang jauh lebih kelaparan dari aku,” celetuknya sambil menyendok nasi dengan santai.


“Belum lengkap tanpa nasi, Bos. Anda juga kenapa baru makan tengah malam begini?” Ajisaka memandang heran ke arah pria beriris mata coklat terang itu.


“Sebenarnya tadi aku sudah makan, tapi entah kenapa sekarang aku merasa lapar lagi. Ini aneh sekali, Ji. Aku seperti tidak bisa merasakan kenyang,” keluh Arsenio.


“Aku sendiri juga bingung. Beberapa hari terakhir, istriku mual dan terus muntah. Sementara aku seakan tak merasa kenyang” jelas Arsenio sambil mengunyah.


“Oh ya?” Ajisaka membelalakkan mata lebar-lebar. “Mungkin Anda sedang ngidam, Bos!”


Arsenio menanggapi perkataan Ajisaka dengan tergelak. “Ada-ada saja kamu, Ji. Di mana-mana yang ngidam itu perempuan hamil,” sahutnya.


“Anda salah, Bos. Banyak kasus yang menyebutkan bahwa laki-laki kadang mengalami ngidam. Ini namanya sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Artinya, perasaan Anda terikat dengan terlalu kuat pada bu Bos, sehingga Anda dapat merasakan apa yang dia rasakan. Atau bisa juga karena rasa cemburu, gugup dalam menghadapi kenyataan bahwa Anda akan menjadi ayah. Atau mungkin karena Anda merasa bersalah dengan perubahan yang terjadi pada istri Anda,” jelas Ajisaka panjang lebar.


“Apa-apaan itu?” Arsenio mendengus kesal. Dia setengah tak percaya dengan penuturan Ajisaka.


“Meskipun saya tidak pernah menghamili perempuan, tapi saya paham benar akan hal itu, Bos,” ujar pria berkulit sawo matang itu. Dia seolah mengerti bahwa Arsenio meragukan kata-katanya.


“Ah terserah kamu sajalah.” Arsenio menggeleng pelan, kemudian melanjutkan makan. Namun, pria tampan itu lalu berhenti kembali. Dia menatap ke arah Ajisaka yang duduk di hadapannya dengan sorot penuh arti.


“Kenapa lagi, Bos?” Ajisaka mengernyitkan kening.

__ADS_1


“Aku baru ingat bahwa Dwiki sudah menemukan bukti yang benar-benar mengejutkan,” jawab Arsenio pelan. Dia pun menceritakan tentang Dwiki yang memergoki bahwa Haris dan Bayu ternyata saling mengenal dan akrab. Arsenio juga menceritakan posisi Bayu yang bekerja sebagai asisten kepercayaan sang ayah.


“Jika Anda mau, saya bisa menyelidiki tentang Bayu,” ujar Ajisaka.


“Itu ide yang bagus, Ji. Setiap hari dia berada di kantor pusat maskapai Rainier,” balas Arsenio.


“Baik, Bos. Saya akan bergerak besok pagi,” ucap pria berambut cepak itu.


“Oke. Habiskan dulu makanmu. Setelah itu beristirahatlah. Aku akan ikut denganmu besok.” Selesai berbicara demikian, Arsenio meneguk segelas air hingga habis. Dia lalu bangkit dan meletakkan piring kotor bekasnya tadi. “Simpan saja peralatan makanmu di sini,” ujar Arsenio sambil menepuk pelan pundak Ajisaka, sebelum bergegas kembali ke kamar.


Seperti Ajisaka, Arsenio juga melangkah pelan menuju tempat peraduan. Dia tidak ingin menimbulkan suara yang dapat mengganggu istirahat sang istri. Arsenio sudah berniat untuk merebahkan tubuh, ketika ekor matanya menangkap layar ponsel yang menyala di atas nakas. Dia pun segera meraih benda itu dan mengernyit, tatkala melihat deretan nomor tak dikenal mengiriminya pesan.


Arsenio membuka pesan misterius tersebut dan membaca rangkaian kata yang tertera di sana.


Hentikan kegilaan ini, atau keluarga anda yang menjadi taruhannya.


Begitu isi pesan tersebut. Merasa penasaran, Arsenio segera membalasnya.


Siapa ini?


Beberapa saat kemudian, nomor tak dikenal tadi membalasnya.


Segera kembalikan data-data saya yang sudah anda curi dan hendak dijadikan bukti, maka saya pastikan bahwa keluarga besar anda akan baik-baik saja.


Emosi Arsenio seketika memuncak saat menyadari bahwa nomor yang dia yakini adalah milik Haris tersebut telah mengancamnya. Tak ingin membuang waktu terlalu banyak, dia segera menekan tombol panggil dan menghubunginya secara langsung.


“Apa kamu sedang mengancamku, Haris?” geram Arsenio seraya berjalan menuju balkon.


“Saya tidak mengancam, Pak. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Anda tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.” Suara Haris saat itu terdengar penuh penekanan.


“Kalau begitu, katakan padaku. Dengan siapa aku berurusan?” balas putra sulung keluarga Rainier tersebut.


“Jangan banyak bicara, Pak. Cukup serahkan bukti-bukti itu kembali pada saya. Jika tidak, maka saya pastikan nyawa istri anda akan menjadi taruhannya!”

__ADS_1


__ADS_2