
“Ka-kak Chand?” Binar sedikit gugup ketika menyadari bahwa bukan Arsenio lah yang tengah berdiri di hadapannya saat itu. Namun, dengan segera dia menyembunyikan perasaan tersebut.
“Hai. Boleh aku masuk?” tanya Chand sambil memamerkan senyuman manisnya.
Akan tetapi, sorot mata serta sikap pria itu tampak begitu aneh bagi Binar. Gadis cantik tersebut tak segera menjawab. Dia masih mematung di hadapan duda rupawan tadi. Binar berada dalam dilema.
Rasanya tak nyaman jika dia harus mempersilakan seorang pria untuk masuk ke dalam apartemen, mengingat statusnya yang kini yang telah menikah. Namun, tak mungkin juga jika Binar melarang Chand, sebab apartemen yang dia tinggali adalah kepunyaan pria itu secara tidak langsung.
Setelah mengalami pergolakan batin beberapa saat lamanya, Binar pun memilih untuk mengajak Chand masuk ke dalam. “Silakan,” ucapnya sedikit ragu.
“Terima kasih,” sahut Chand seraya mengangguk. Dia lalu berjalan melewati Binar dengan langkah yang sedikit gontai, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang tampak jauh lebih rapi dibandingkan saat ditempati oleh adiknya dulu. “Oh ya, Arsen di mana?” tanyanya kemudian.
“Dia keluar … um ... ke kantor,” jawab Binar.
“Kantor yang mana?” tanya Chand lagi sambil mengernyitkan kening.
“Kantor yang ….” Binar menggaruk-garuk pipi, karena tak tahu harus menjawab apa. Entah kantor yang mana yang Arsenio maksud tadi pagi. Diakui atau tidak, banyak yang Binar belum ketahui dari kehidupan suaminya. “Aku tidak tahu, Kak. Kantor yang mana. Memangnya kantornya ada banyak, ya?” Binar balik bertanya dengan nada dan raut polos.
Sikap Binar yang seperti itu membuat Chand harus mengulum bibir untuk menahan tawa. “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya mampir sebentar,” ucapnya sembari berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
Binar kian salah tingkah. Situasi yang dia hadapi, membuat gadis itu merasa canggung. “Biar aku buatkan minum, Kak. Mau teh atau kopi?” tawarnya.
“Tidak usah repot-repot, Mal. Ikut duduk di sini saja,” sahut Chand seraya menepuk-nepukkan tangan di atas permukaan sofa.
“Tidak usah, Kak. Aku duduk di sini saja,” tolak Binar. Dia menarik satu sofa kecil berbentuk bulat, lalu duduk dengan gerakan tubuh yang kaku di depan Chand.
__ADS_1
Tak satu pun dari sikap dan tingkah laku Binar yang luput dari perhatian pria berdarah India tersebut. Chand kembali mengulum senyum saat memandang wajah tersipu gadis yang telah sanggup mencuri hatinya itu. “Apa kabarmu, Mal? Rasanya lama sekali kita tidak bertemu,” sapa Chand dengan sikap dan nada bicaranya yang selalu terlihat kalem.
“Baik, Kak,” jawab Binar sambil memaksakan senyum.
“Kudengar kalian habis berlibur ke Bali, ya?” Chand merentangkan satu tangan ke atas sandaran sofa setinggi bahunya. Sedangkan tangan yang lain merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel mahalnya, lalu mengusap layar dengan ibu jari. “Lihat ini.” Chand mengarahkan bagian depan ponsel kepada Binar.
Tampaklah sebuah potret saat dirinya tengah memakai gaun berwarna putih dan didekap mesra oleh Arsenio. Mereka berdua tampak tertawa begitu bahagia dengan latar belakang meja makan bundar. Ada pula foto Wisnu, Praya, dan Hans beserta sang istri yang tertangkap kamera. Binar mengingat momen makan bersama itu, beberapa saat setelah dirinya selesai mengucapkan ikrar sumpah sehidup semati bersama Arsenio. “Ada apa dengan foto ini, Kak?” tanya Binar tak mengerti.
“Arsen yang mengirimkannya padaku,” sahut Chand. “Apa benar kalian sudah menikah?” tanya pria tampan itu memandang Binar dengan sorot yang menyiratkan kepedihan.
“I-iya, benar. Kami menikah di Bali,” jawab Binar tergagap. Entah mengapa, perasaannya menjadi begitu resah dan serba salah.
“Oh.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Chand sebelum dirinya terdiam dan terus menatap lekat ke arah Binar.
“Hm.” Chand mengangguk, lalu terdiam. Mata elangnya sama sekali tak lepas dari sosok Binar yang terlihat makin cantik dan semakin memesona. “Aku mencintaimu, Nirmala,” ucapnya tiba-tiba.
Binar terhenyak. Dia tak menyangka jika Chand tetap menyimpan perasaan itu, walaupun dirinya tahu bahwa dirinya sudah tak lagi lajang.
“Aku tak peduli, mau kamu jadi istri siapa pun. Aku akan tetap mencintaimu,” tegasnya. Chand lalu berdiri. Dia berniat mendekat kepada Binar. Namun, gadis itu lebih dulu beranjak dari duduknya lalu berjalan menjauh. Spontan, Binar berlari menuju pintu dan bersiap untuk membukanya.
Chand bergerak lebih gesit. Dia buru-buru menutup kembali pintu yang sedikit terbuka dan mengungkung Binar dengan kedua tangannya. “Ma’af, izinkan aku untuk tetap seperti ini. Sebentar saja. Aku rindu sekali padamu, Mal,” pria itu mende•sah pelan. Hembusan napasnya menyapu kulit wajah Binar yang ketakutan. Gadis itu dapat mencium aroma tak sedap yang ditimbulkan dari alkohol. Bau tak nyaman tadi menguar tajam dari mulut Chand.
“Minggir, Kak. Tolong jangan begini. Aku adalah istri Rain, milik Rain,” tolak Binar berusaha menyadarkan Chand yang seakan gelap mata.
“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Chand nekat mendekatkan wajahnya pada Binar. Dia berusaha mencium gadis itu secara paksa. Akan tetapi, Binar tak tinggal diam. Ada kehormatan dan juga harga diri suami yang harus dia jaga dan pertahankan.
__ADS_1
Wanita muda itu mengumpulkan semua keberanian dan kekuatan dari dalam diri, lalu menendang pangkal paha Chand menggunakan lututnya.
“Aduh!” Chand meringis kesakitan seraya membungkuk, membuka kesempatan bagi Binar untuk lolos dari pria itu. Dengan sekuat tenaga, Binar mendorong tubuh Chand ke belakang, hingga pria itu terhuyung menabrak meja ruang tamu. Meja tersebut sampai miring dan bergeser.
Ponsel yang awalnya tergeletak di atas meja, akhirnya jatuh dan tergeletak di lantai. Bersamaan dengan itu, sebuah panggilan masuk datang di ponsel milik Chand. Layar yang awalnya gelap, berubah menyala terang, menampakkan sebuah nama yang tertera di sana.
“Kak Chand!” pekik Binar. Dia menjadi merasa bersalah dan spontan membantu pria itu untuk berdiri. Posisinya yang berada di dekat ponsel, membuatnya dapat melihat nama penelepon itu dengan jelas. “Indah?” gumamnya pelan. Dia tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat itu.
Begitu pula dengan Chand. Pria yang masih dalam posisi terduduk di lantai, sama sekali tak mengira bahwa Indah menghubunginya. Kebingungan antara membiarkan atau mengangkat telepon, Chand memutuskan untuk tidak menghiraukan sampai panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
“Ka-kakak akrab dengan Indah?” Binar yang awalnya membungkuk hendak membantu Chand berdiri, kembali mundur dan menjaga jarak. Dulu, Arsenio sempat memberitahukan pada Binar tentang siapa saja yang berkomplot untuk mencelakai dirinya. Salah satunya adalah Indah.
“Hanya sekadar kenal,” kilah Chand sambil meringis kecil. Rasa ngilu akibat tendangan Binar masih terasa hingga detik itu. “Kamu kuat sekali, Mal,” imbuhnya.
Chand kembali berusaha bangkit sambil berusaha meraih ponsel yang masih tergeletak. Sayang, keseimbangannya masih belum stabil, sehingga ponsel itu terselip dan terjatuh lagi ke dekat kaki Binar.
Tepat pada saat itu, sebuah pesan masuk dengan notifikasi yang terlihat memenuhi layar, sehingga lagi-lagi Binar dapat mencuri baca tulisan yang ada di sana.
Wanita muda tadi seketika terbelalak saat berhasil membaca sederet kata yang berhasil ditangkap oleh mata indahnya.
'Aku sudah membungkam Burhan melalui Damar, seperti yang kamu suruh.' Begitu bunyi pesan tersebut.
Binar menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Tubuhnya serasa membeku dengan kaki yang seolah menancap di lantai. Ingin rasanya dia segera pergi dari sana, tapi tubuhnya seakan tak dapat digerakkan. “Ka-kak Chand.” Binar terbata. Jantungnya berdegup kencang. Sama sekali tak pernah terbersit dalam pikirannya jika Chand ternyata berhubungan dengan kecelakaan yang terjadi pada Arsenio beberapa waktu lalu.
Sedangkan Chand hanya menatap aneh kepada Binar.
__ADS_1