Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Secercah Cahaya


__ADS_3

Semenjak dekat dan menikah dengan Binar, Arsenio sudah sangat jarang merokok. Bahkan bisa dihitung menggunakan jari, berapa kali dia menghisap gulungan tembakau tersebut dalam rentang waktu satu minggu. Namun, malam ini adalah pengecualian. Seakan tak mengenal hawa dingin, Arsenio bertelanjang dada. Dia membungkuk dengan siku yang bertumpu pada pagar balkon kamar. Dua jari pada tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang mengepulkan asap tipis.


Sejenak, dia menoleh ke dalam kamar. Dilihatnya Binar yang sudah lelap tertidur di bawah selimut. Arsenio tersenyum sebelum kembali menghadapkan tubuh ke arah datangnya angin. Semilir dari hembusan benda tak kasat mata itu teramat menenangkan jiwa pria yang tengah dilanda rasa gundah tersebut.


Teringat olehnya percakapan bersama Anggraini dan Lievin tadi pagi. Segala keluh kesah sang ayah mengalir lancar tak terbendung. Dengan dihiasi deraian butiran bening yang meleleh di sudut mata, Lievin memulai ceritanya.


“Biantara melakukan segala cara untuk merebut perusahaanku. Dia bersikap seolah dirinyalah yang paling berjasa dalam membesarkan maskapai milik Rainier. Padahal, akulah yang membangunnya dari nol. Itu perusahaan milikku!” Lievin mengulang-ulang kalimatnya, seakan ingin menekankan bahwasanya dia memang tak menyukai apa yang telah Biantara lakukan.


“Dulu, Biantara yang membujukku untuk menambah rute hingga ke Asia Tenggara. Dia yang membantu mengurus perizinan. Atas bantuannya, aku berhasil memperbesar maskapaiku. Namun, lihatlah kini. Dengan seenaknya, dia hendak mengklaim apa yang sebenarnya adalah milikku,” jelas Lievin lagi  berapi-api.


“Aku sudah menganggapnya sebagai seorang teman dan sahabat. Akan tetapi, dia mengkhianatiku dengan sangat menyakitkan. Aku tak akan pernah kembali lagi ke Indonesia,” putus pria paruh baya itu. Dia merajuk seperti seorang anak kecil yang merasa kecewa.


“Belum lagi perusahaan investasimu yang berhasil disabotase oleh Winona. Ayah dan anak sama saja. Aku bersyukur kamu tak jadi menikah dengannya, Sen. Aku tak bisa membayangkan seandainya istrimu adalah wanita ular itu. Dia pasti akan memanfaatkan dan memanipulasimu habis-habisan,” geram Lievin yang akhirnya menyadari segala kekeliruan selama ini.


“Tidak ada yang bisa memanipulasiku, Pa. Papa pasti sudah mengerti akan hal itu,” tegas Arsenio menutup pembicaraan pagi tadi di kamar perawatan VIP.


“Hhh.” Arsenio mengempaskan napas pelan. Rokok yang telah dia isap sudah hampir habis. Dia pun memilih untuk mematikan puntungnya pada asbak yang sudah tersedia tak jauh dari tempat dia berada. Pria jangkung itu memutuskan untuk berbaring di sisi Binar.


Memandang wajah damai sang istri merupakan salah satu obat penenang untuknya. “Binar,” bisik Arsenio lirih seraya mengusap lembut pipi mulus itu. “Apa yang harus kulakukan?” Sebuah pertanyaan yang tak akan didengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.


Jauh di dalam hatinya, Arsenio merasa sangat bersalah. Apa yang dialami oleh Lievin adalah akibat dirinya yang sudah berani membuat masalah dengan keluarga Biantara Sasmita. Biantara dan putrinya begitu mendendam atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Winona.


Akan tetapi, menghancurkan perusahaan Lievin yang tak ada sangkut pautnya dengan keputusan yang telah dia buat, sungguh suatu tindakan yang keterlaluan. Di tengah kegalauannya itu, Arsenio teringat pada Normand yang sudah menaruh  kepercayaan begitu besar padanya. Sedikit lagi, dia akan kembali memegang jabatan sebagai seorang CEO di salah satu anak perusahaan milik Normand.


Namun, siapa sangka jika permasalahan pelik sang ayah harus membuatnya merasa bimbang, antara tetap menerima tawaran Normand ataukah membantu Lievin untuk merebut kembali apa yang telah menjadi miliknya.


Arsenio kemudian teringat akan sekotak rokoknya yang tertinggal di meja balkon. Dia berniat untuk bangkit dari pembaringan dan mengambil sebatang lagi, ketika bayangan wajah sedih sang ayah menari-nari di dalam benaknya. Saat itulah dia menyadari, pilihan mana yang akan dirinya ambil.


“Rain, kenapa belum tidur?” Tiba-tiba Binar terbangun. Suaranya yang parau kembali menggugah hasrat di dalam diri pria tampan itu.


“Aku tidak bisa tidur, Sayang.” Arsenio mengurungkan niatnya tadi. Dengan lembut dan penuh perasaan, satu tangannya menangkup pipi Binar.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Binar lagi.

__ADS_1


Arsenio tak segera menjawab. Dia malah tersenyum lembut sambil membelai rambut sang istri. “Tidurlah, besok kita harus menjenguk papa sekali lagi sebelum kembali ke Berlin,” ujarnya.


“Kenapa buru-buru, Rain? Bukankah kamu masih ada waktu cuti sehari lagi?” protes Binar.


“Ada hal yang harus kuselesaikan sebelum kita kembali ke Indonesia, Sayang.”


Ucapan Arsenio tersebut sontak membuat Binar kehilangan rasa kantuknya. “Apa aku tidak salah dengar?” tanyanya seraya menautkan alis.


“Tidak, Sayang. Segera setelah aku menyelesaikan urusan di Berlin, kita akan pulang ke Indonesia,” jawab Arsenio dengan yakin.


“Untuk berapa lama? Lalu, bagaimana dengan apartemen kita? Padahal baru saja lunas." Binar merengut seraya meletakkan kepalanya di dada sang suami.


Arsenio terkekeh pelan sembari mengusap punggung sang istri. “Suatu saat nanti, kita akan kembali ke sana, Sayang. Aku tidak akan menjual apartemen itu,” ucapnya.


“Apakah ini ada hubungannya dengan papa Lievin?” tanya Binar hati-hati.


“Tidurlah.” Sebuah jawaban singkat yang menandakan bahwa Arsenio tak ingin menanggapi pertanyaan istrinya lagi.


Dengan terpaksa, Binar memejamkan mata, meskipun sejuta tanya masih menggelayuti benaknya.


Meskipun berat, Anggraini tetap melepaskan sang putra. Dia sadar bahwa Arsenio memiliki tanggung jawab yang tak bisa ditinggal.


Enam jam perjalanan menggunakan kereta, telah dilalui sepasang suami istri itu hingga tiba di stasiun pusat Berlin. Dari sana, mereka langsung menuju ke apartemen dan beristirahat.


Menjelang malam, Binar dikejutkan oleh suaminya yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan berpakaian rapi ketika dirinya sibuk memasak.


“Mau ke mana, Rain? Makan malam sudah hampir siap,” ujar Binar penuh tanda tanya.


“Astaga. Aku lupa memberitahukannya padamu, Sayang.” Arsenio menepuk kening, lalu buru-buru menghampiri sang istri. “Aku sudah membuat janji makan malam dengan tuan Normand tiga puluh menit lagi. Aku juga berniat untuk membawakanmu makanan dari luar,” jelas Arsenio.


“Lalu, bagaimana dengan masakanku?” Binar cemberut sambil menautkan alis sebagai bentuk protes terhadap suaminya.


“Setelah matang dan dingin, kamu bisa menyimpan bagianku ke dalam kulkas untuk sarapan besok pagi,” jawab Arsenio asal. Dia segera mencium bibir istrinya agar tak mengomel lagi.

__ADS_1


“Makanlah dulu, jangan tunggu aku.” Arsenio kemudian melambaikan tangan dan bergegas keluar dari apartemen, meninggalkan Binar yang masih kesal.


Sesampainya di restoran, Arsenio yang telah membuat reservasi segera diarahkan ke salah satu meja oleh salah seorang pelayan. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk menunggu kehadiran Normand di sana. Cukup lima belas menit sampai bos yang dia segani tiba dan duduk dengan penuh wibawa di hadapannya.


“Ada apa ini, Arsen? Kelihatannya serius sekali,” tanya Normand seraya tersenyum lebar.


“Maafkan jika amat mendadak, Herr.” Arsenio menjabat tangan Normand sebelum mempersilakannya duduk. Mereka sempat mengobrol ringan sambil memilih menu.


Hingga tiba waktunya ketika Arsenio mencoba untuk mengungkapkan maksudnya. “Aku sungguh meminta maaf dan berterima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang telah Anda berikan,” tutur pria berdarah Belanda itu hati-hati.


“Kurasa ini benar-benar serius,” pikir Normand, lalu terkekeh.


“Herr, aku akan kembali ke Indonesia,” ujar Arsenio dengan raut muka yang tampak begitu serius.


“Apa?” Normand sempat tertegun sejenak, sebelum kembali menguasai diri. “Kenapa mendadak sekali? Lalu, bagaimana dengan tawaran yang telah kuberikan padamu?” Tampak jelas nada keberatan dari kalimat Normand saat itu.


“Jujur, sangat berat bagiku karena terpaksa menolak kesempatan sebesar dan sebagus ini, Herr. Namun, ini semua demi ayahku.” Detail dan runut, Arsenio menceritakan semua tentang permasalahan hidupnya, sejak dia diusir oleh sang ayah sampai masalah pelik yang dihadapi Lievin sehingga membuat sang ayah terbaring tak berdaya di rumah sakit.


“Aku merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa papaku, Herr. Gara-gara keputusanku, semua ini terjadi,” ucap Arsenio pelan.


Sementara Normand hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Arsenio. Sesekali, dia mengusap dagu sambil berpikir dalam-dalam. “Jadi, kau berusaha untuk merebut kembali perusahaan ayahmu. Begitu?” tanyanya beberapa saat kemudian.


“Ya, Herr,” jawab Arsenio dengan yakin. “Karena itulah aku harus kembali ke Indonesia.”


“Aku jadi berpikiran untuk mengembangkan perusahaan propertiku di sana,” ujar Normand.


Tatapan menerawang Arsenio segera berubah menjadi sorot antusias setelah bosnya itu berucap demikian.


“Seperti yang telah kuceritakan kepadamu, Arsenio. Aku memiliki anak perusahaan yang tengah berkembang, yaitu satu perusahaan properti dan pengembang yang rencananya akan kuserahkan padamu untuk kau pimpin. Akan tetapi, mungkin rencanaku akan kuubah,” ujar Normand.


Sorot mata Arsenio kembali lesu mendengarnya. “Mungkin lebih baik begitu, Herr. Aku tidak bisa mengemban amanatmu di Berlin,” sahut Arsenio.


“Ya, kemungkinan besar, aku akan menunjuk Wolfgang atau Armie,” sahut Normand. “Lalu, untukmu ….” Pria itu sengaja menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


Arsenio sendiri sudah pasrah. Dia tak hendak berharap bahwa Normand akan menunggunya kembali ke Jerman. Akan selalu ada risiko dalam setiap pilihan dan dia sudah memilih untuk meninggalkan karier cemerlangnya demi sang ayah.


“Aku berpikiran untuk mengembangkan perusahaan properti dan pengembangku di Indonesia, dan aku ingin mempercayakannya padamu,” ujar Normand kemudian, membuat Arsenio terbelalak lebar.


__ADS_2