Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Mencari Binar


__ADS_3

Arsenio terdiam saat mendengar penuturan dari Praya. Ada penyesalan yang teramat besar dalam dirinya. Andai kata waktu itu dia tak pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Binar, mungkin saat ini dia tak akan kehilangan jejak gadis tersebut.


Kembali dialihkan perhatiannya kepada Widya, yang masih berdiri dengan raut wajah tak bersahabat. Arsenio lalu menghampiri wanita itu. Tanpa banyak bicara, dia mengulurkan tangan kepada Anggraini. Sang ibu pun seakan sudah memahami maksud dari putra kesayangannya. Anggraini merogoh ke dalam tas yang menggantung di lengan kanan. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah amplop dengan isi yang terlihat tebal dan menggelembung. Setelah itu, disodorkannya amplop tadi kepada Arsenio, dan segera diterima oleh pria tampan tersebut.


Arsenio pun kembali mengalihkan perhatiannya kepada Widya. Dia lalu meraih tangan ibu tiri Binar, lalu meletakkan amplop tadi di atas telapak tangan wanita itu. "Seberapa pun buruknya sikap Anda, tapi aku yakin bahwa diriku adalah seseorang yang jauh lebih memilki tata krama. Karena itu, pantang bagiku untuk melakukan hal yang kasar dan tidak terpuji terhadap wanita yang sama usianya dengan ibuku," tegas Arsenio.


"Ini adalah sebagai pengganti selama aku menjadi beban di rumahmu, meskipun seharusnya Binar lah yang jauh lebih layak menerima. Bukan Anda," ucap pria itu lagi.


Seusai berkata demikian, Arsenio kemudian menghampiri Praya. Dia lalu memberikan dua buah paper bag berukuran sedang. "Satu untukmu, satu lagi untuk kakakmu. Gunakan ini dengan sebaik mungkin. Kapan-kapan, aku pasti akan menjenguk kamu dan Wisnu di sini. Jadi, jangan takut jika ibu kalian akan berbuat yang macam-macam," pesannya sambil mengusap-usap pucuk kepala Praya yang masih terlihat murung.


Anak itu menggangguk pelan. "Terima kasih, Mister. Mbok pasti senang saat melihat Mister sudah menemukan keluarga sendiri," ucap Praya tulus, dan segera berbalas sebuah pelukan dari Arsenio. Sesuatu yang terlihat begitu janggal bagi Anggraini, berhubung selama ini putra sulungnya tersebut bukanlah seseorang yang akan nyaman berada di dekat anak-anak.


Praya tampak sangat bahagia ketika melihat isi dalam paper bag tadi. Adalah sebuah ponsel, sesuatu yang sangat dia dan Wisnu inginkan selama ini.


"Apa kamu tahu nomor telepon mbok Binar?" tanya Arsenio penuh harap.


Praya terdiam sejenak. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Anak itu menyodorkan secarik kertas berisi deretan angka yang merupakan sebuah nomor telepon seluler. "Ini, Mister. Ini yang kemarin mbok Binar berikan padaku dan juga bli," ucap anak itu.


Arsenio segera meraih kertas yang diberikan oleh Praya. Dia lalu meminjam ponsel milik Anggraini untuk menghubungi nomor yang tertera. Satu kali panggilan, ternyata gagal tersambung. Bukanlah Binar yang menjawab, melainkan suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu berada di luar jangkauan.


Tak patah arang, Arsenio kembali mencoba menghubungi nomor itu lagi. Namun, hingga berkali-kali diulangi nyatanya tetap sama. Dia tak juga bisa menghubungi Binar.

__ADS_1


Kecewa dan putus asa, begitulah yang Arsenio rasakan saat itu. Dia mengembalikan ponsel milik sang ibu. "Kenapa tidak tersambung?" gumamnya pelan. Rasa khawatir pun kian menyeruak dalam hati. Entah bagaimana keadaan gadis yang telah sangat berjasa bagi hidupnya tersebut. "Binar," gumam Arsenio lagi. Dia yang awalnya berdiri gagah, makin lama semakin gontai.


"Arsen, Sayang." Anggraini segera memegangi lengan putranya dengan erat. Dia tak tahu seberapa berharganya seorang Binar, bagi anak yang baru dirinya temukan tersebut. "Sekarang bagaimana?" tanyanya memastikan.


"Binar tidak ada, Ma. Entah di mana dan bagaimana keadaannya saat ini," jawab Arsenio lesu. Dia lalu menengadah, menatap langit biru siang itu. "Binar!" serunya dengan sekuat tenaga, membuat orang-orang yang tadinya berada di dalam rumah mereka bergegas keluar. Mereka ingin memastikan apa yang terjadi.


"Arsen, Nak. Sudahlah," ucap Anggraini mencoba menenangkan putranya. "Sebaiknya kita pergi saja. Jangan membuat kegaduhan di sini," saran wanita itu lagi.


Arsenio bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Dia juga tak ingin menjadi bahan tontonan para tetangga sekitar rumah Binar. Dia menyetujui saran dari Anggraini. Namun, sebelum benar-benar pergi dari sana, dirinya sempat berpesan kepada Praya. "Di dalam ponsel itu sudah kumasukan nomor yang bisa kamu hubungi, andai Binar kembali atau kamu berhasil menghubunginya. Katakan bahwa aku datang kemari untuk menjemput dia," ucap Arsenio dengan perasaan yang kian berkecamuk dalam dada.


Setelah berpamitan dengan Praya, Arsenio dan Anggraini pun pergi dari sana. Mereka menyusuri gang lagi untuk kembali ke pinggir jalan di mana kendaraan milik keduanya terparkir. Namun, ternyata Arsenio tak memasuki mobil SUV yang sudah dibukakan pintunya oleh sang sopir. Pria tampan itu justru meneruskan langkah menyusuri trotoar.


"Arsen, mau kemana?" panggil Anggraini. Dia segera berlari mengejar sang putra yang berjalan dengan langkah cepat dan gagah. Entah akan ke mana dia saat itu. Namun, Anggraini terus mengikutinya dari belakang, meski agak kesusahan karena hak sepatu yang dikenakannya cukup runcing. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut harus ekstra hati-hati dalam berjalan cepat. "Arsen! Tunggu Mama, Nak!" panggil Anggraini lagi yang kesulitan menyusul putranya.


"Tidak mau. Mama takut kehilangan kamu lagi," tolak wanita dengan tampilan elegant tersebut. Kesempatan baginya untuk menyejajari Arsenio, karena pria itu berhenti melangkah dan seakan menunggunya. "Ayo, kamu mau ke mana lagi? Mama akan terus menemanimu." Dia menggandeng lengan putranya seraya melanjutkan langkah. Mereka berdua kembali berjalan, hingga tibalah di depan sebuah toko suvenir besar yang merupakan tempat Binar bekerja.


Tanpa banyak membuang waktu, Arsenio dan Anggraini segera masuk ke sana. "Untuk apa kita kemari, Sayang?" tanya Anggraini penasaran.


"Binar bekerja di sini, Ma," jawab Arsenio. Dia tersenyum kepada salah seorang karyawan wanita yang datang menghampiri mereka. Melihat seragam yang dikenakan wanita muda itu, tentu saja mengingatkan dirinya akan sosok Binar. "Aku ingin bertemu dengan manager toko ini," ucap Arsenio. Dia mencoba mengesampingkan perasaan tak karuan yang sedang dirasakannya.


"Ada keperluan apa ya, Pak?" tanya wanita muda itu dengan sopan.

__ADS_1


"Urusan bisnis," jawab Arsenio tampak meyakinkan.


"Dengan bapak siapa, ya?" tanyanya lagi.


"Arsenio," jawab pria bermata cokelat terang itu yakin.


"Oh, baiklah. Mohon tunggu sebentar," karyawan tadi menyuruh Arsenio dan Anggraini untuk tetap berada di tempat mereka saat itu, sementara dirinya melapor pada sang manager di ruangannya. Setelah mendapat persetujan dari sang manager, karyawan tadi kembali dan mengantarkan kedua tamu itu menuju ruangan Muchtar.


"Selamat siang. Apa kabar?" sapa Arsenio penuh wibawa. Sementara Anggraini hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Arsenio? Tunggu sebentar. Kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan?" tanya Muchtar memastikan.


"Belum. Ini adalah pertama kalinya saya datang kemari. Alasan utama saya menemui Anda adalah, saya ingin menanyakan tentang karyawan toko ini yang bernama Binar." Arsenio langsung saja menyampaikan maksud kedatangannya ke sana.


"Binar? Anda berdua siapanya kalau boleh saya tahu?" Muchtar terlihat berhati-hati. Dia tak boleh sembarangan memberikan informasi tentang Binar, terlebih karena gadis itu mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan sangat mendadak dan tanpa alasan yang begitu jelas. "Ada apa dengan Binar?" tanya Muchtar lagi.


"Kami ingin bertanya sesuatu tentangnya," jawab Arsenio lagi.


"Maaf, tapi Binar sudah mengundurkan diri dari sini kemarin pagi. Saya juga sangat terkejut dengan keputusan yang diambilnya, karena menurut saya hal itu begitu mendadak. Padahal, Binar merupakan salah satu karyawan teladan di toko ini. Namun, dia lebih memilih untuk resign dengan alasan hendak mencari peruntungan lain di luar kota," jelas Muchtar secara berhati-hati.


"Apa Anda tahu ke mana dia pergi? Kota tujuannya?" tanya Arsenio lagi.

__ADS_1


"Oh, maaf. Untuk urusan itu dia tidak mengatakan apapun. Saya hanya menerima surat pengunduran diri dengan alasan tadi. Itu saja," tutup Muchtar.


__ADS_2