Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Karaoke Ria


__ADS_3

Arsenio sedang asyik menyantap semangkuk soto ayam di meja makan, saat ponsel miliknya tak berhenti berdering. Binar yang duduk di hadapan pria itu pun terlihat malas, saat menatap ke arah sang suami. Wanita yang tengah hamil muda tersebut juga memasang wajah cemberut. “Apa kamu tidak dengar teleponmu berbunyi terus dari tadi?” gerutunya.


“Sebentar, Sayang. Sotonya tinggal sedikit lagi,” sahut Arsenio dengan mata tetap fokus pada mangkok porselen putih yang hampir kosong.


“Kamu makan terus dari tadi, Rain! Apa tidak takut gemuk? Nanti kotak-kotak di perutmu hilang, lho!” Binar masih memperlihatkan wajah bersungut-sungut. Bagaimana tidak? Di saat dirinya mengalami morning sickness yang cukup parah selama beberapa hari terakhir, Arsenio malah menunjukkan nafsu makan yang meningkat. Suaminya itu seakan tak bisa berhenti mengunyah, dari semenjak bangun hingga menjelang tidur kembali.


“Tidak apa-apa, Binar. Lagi pula, sekarang cuma kamu yang bisa melihat kotak-kotak di perutku, dan pembantu rumah tangga di rumah ini,” jawab Arsenio dengan enteng.


“Kamu membuatku iri, Rain,” ucap Binar. Dengan tiba-tiba, dia menggebrak meja makan meskipun tidak terlalu kencang.


Akan tetapi, hal itu cukup membuat Arsenio terkejut. “Kok bisa?” tanyanya sambil menyeruput sisa kuah soto hingga tetes terakhir.


“Aku muntah-muntah setiap hari. Sementara kamu malah makan terus,” jawab Binar ketus.


“Iya juga ya,” pikir Arsenio seraya meletakkan mangkuk yang telah kosong. Alisnya pun bertaut, seolah menunjukkan bahwa dirinya tengah berpikir keras. “Entahlah, Sayang. Aku juga bingung. Akhir-akhir ini aku selalu merasa lapar. Makan sebanyak apapun rasanya aku tetap ….” Pria rupawan berambut coklat itu membelalakkan mata. Satu telunjuknya terarah pada Binar yang makin terheran-heran.


“Apa, sih?” Binas berdecak kesal melihat kelakuan sang suami, yang menurutnya tak berempati sama sekali. Di saat dia tengah berjuang demi masuknya sesuap makanan, Arsenio malah dengan santai melahap segala jenis santapan, baik ringan maupun berat dengan tanpa henti.


“Ini semua gara-gara kamu, Binar. Aku tertular kebiasaanmu yang suka makan segala macam dan terkadang sembarangan,” tuding Arsenio.


“Apa kamu tidak melihat aku kesulitan makan beberapa hari ini? Kenapa kamu seakan tidak peduli jika aku sedang tersiksa?” gerutu Binar yang terus mengomeli sang suami, demi mengutarakan uneg-uneg dalam hatinya.


“Kamu pasti lupa meminum obat anti mual dan vitamin dari dokter,” terka Arsenio lagi.


“Kamu menyebalkan, Rain! Dasar tidak peka!” Binar langsung berdiri dari duduknya, kemudian menghentakkan kaki. Dia juga melempar selembar serbet yang tergeletak di atas meja, tepat ke wajah sang suami. Sekilas, mata indah Binar melirik layar ponsel Arsenio yang kembali menyala.


“Angkat dulu telepon itu! Berisik!” suruh Binar masih dengan nada yang terdengar kesal. Sambil terus menggerutu, wanita muda itu meninggalkan Arsenio sendirian di ruang makan. Binar memilih kembali ke kamar untuk beristirahat, meskipun waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam.


Arsenio menggeleng pelan setelah meletakkan serbet yang berada di atas kepalanya. “Binar, Binar. Pengaruh hormonmu memang luar biasa,” celetuknya tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia lalu beralih pada ponsel yang lama-kelamaan memang dirasa begitu menganggu. Arsenio langsung menjawab panggilan masuk tadi, saat membaca nama Dwiki yang tertera di layar. “Halo, Ki? Bagaimana?”


“Bos," sapa Dwiki, "tadi saya melihat ada sosok lain yang datang setelah Winona pergi dari rumah Haris,” jelas Dwiki tanpa berbasa-basi lebih dulu. “Sebentar lagi akan saya kirimkan foto-foto terbaru dari hasil penyelidikan hari ini,” lanjutnya.

__ADS_1


“Oke, bagus, Ki. Kutunggu,” sahut Arsenio seraya tersenyum lebar. Dia mengakhiri panggilan tadi. Tak berselang lama, layar telepon genggamnya kembali menyala. Dwiki mengirimkan puluhan foto yang dia dapatkan tadi sore melalui aplikasi pesan.


Arsenio menempelkan ujung jemarinya ke layar untuk memperbesar foto-foto yang Dwiki kirimkan. Dia pun seketika membelalakkan mata, saat melihat beberapa foto terakhir. Di sana, tampak Haris tengah berpelukan dengan seorang pria. Dwiki mengambil angle gambar itu dari berbagai sisi, sampai terlihat separuh wajah dari pria misterius tersebut.


“Bukankah ini Bayu?” gumam Arsenio.


Tak ingin mengendapkan rasa penasaran terlalu lama, Arsenio bergegas menuju kamar dan membuka laptop pribadinya. Dia sempat melirik ke arah ranjang di mana Binar sudah tertidur lelap.


Arsenio kembali mengalihkan perhatiannya ke layar laptop. Dia lalu menghubungi sang ibu yang tengah berada di Belanda melalui panggilan video. Tak berselang lama, panggilannya pun terhubung. Tampaklah wajah cantik Anggraini memenuhi layar. “Ada apa, Nak?” tanyanya lembut. “Apa kehamilan istrimu baik-baik saja?”


“Ya, Ma. Binar baik-baik saja. Dia sudah tidur sekarang. Kasihan istriku, setiap pagi dia selalu muntah-muntah,” ujar Arsenio. Untuk sesaat, dia seakan lupa akan rasa penasarannya terhadap sosok Bayu tadi.


“Oh memang begitu kalau hamil muda, Sen. Itu namanya ngidam. Mama dulu juga begitu waktu sedang mengandung kamu. Sampai tiga bulan, mama kesulitan makan,” jelas Anggraini. “Kamu bisa berikan dia buah-buahan atau makanan kaya serat, supaya kebutuhan vitamin istrimu tetap terpenuhi,” sarannya.


“Baik, Ma. Akan kucatat,” sahut Arsenio sambil tersenyum lebar. Akan tetapi, senyumnya tiba-tiba memudar, saat dia kembali teringat pada tujuan utama menelepon sang ibu. “Oh ya, Ma. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”


“Silakan, Sen. Bertanyalah, mumpung papamu juga sudah tidur. Apakah ada masalah?” Anggraini terlihat mengernyitkan kening.


“Bayu? Memangnya kenapa dia?” tanya Anggraini penasaran.


“Apa mama tahu dari mana papa mengenal Bayu, sampai berani mengangkat dia menjadi asisten pribadi?” tanya Arsenio serius.


“Oh, kalau masalah itu mama juga tidak begitu paham. Besok saja mama tanyakan pada papamu. Namun, yang jelas saat itu papamu memperkenalkan Bayu sebagai mantan pegawai salah satu koleganya,” terang Anggraini.


“Kolega? Siapa, Ma? Apa papa menyebutkan namanya?” Arsenio terus mencecar sang ibu dengan pertanyaan demi pertanyaan.


“Entah kolega yang mana. Mama juga tidak terlalu paham. Nanti saja mama tanyakan pada papamu kalau dia sudah bangun,” sahut Anggraini.


“Baiklah, kalau begitu. Besok saja aku telepon lagi ya, Ma,” ucap Arsenio sebelum mengakhiri panggilannya.


Pria tampan berdarah Belanda itu terdiam sejenak sambil menghadap ke layar laptop. Sesaat kemudian, suami Binar tersebut memutuskan untuk berbaring di samping sang istri.

__ADS_1


“Ya ampun. Aku lapar lagi,” gumam Arsenio pelan, ketika perutnya tiba-tiba berbunyi.


Sementara itu di lantai bawah, Ajisaka tampak sedang bersiap-siap. Dia memakai jaket jeans kesayangannya. Pria itu melangkah ke luar menuju pos satpam. “Pak Darto. Saya pinjam motornya lagi, ya,” ujarnya pada seorang pria paruh baya berkumis tebal.


“Oh pakai saja, Mas.” Pria bernama Darto tadi langsung menyerahkan kunci motor kepada Ajisaka.


“Terima kasih, Pak.” Ajisaka menerimanya dengan ceria. Dia langsung berlari menuju garasi, lalu mengeluarkan kendaraan roda dua itu. Tak membutuhkan waktu lama baginya, untuk mengendarai motor matic tersebut ke kawasan perumahan tempat tinggal Dwiki.


Namun, tujuannya saat itu bukanlah rumah sang sepupu, melainkan rumah lain yang terletak satu blok dari sana. Ajisaka menghentikan motor di depan bangunan bercat putih. Dia lalu merogoh telepon genggam dan menghubungi seseorang.


Tak berselang lama, seorang wanita cantik dan terlihat begitu segar, keluar dari sana sambil tersenyum ceria. “Kita berangkat sekarang?”


“Ayo.” Ajisaka membalas senyuman si wanita sambil menyodorkan sebuah helm.


“Dulu Arsen sering mengajakku ke tempat karaoke milik artis yang terkenal itu,” celoteh wanita yang tak lain adalah Anika.


“Oh boleh. Kita ke sana saja, ya,” balas Ajisaka seraya menoleh pada Anika, yang sudah duduk dengan nyaman di jok belakang.


“Ayo!” sahut wanita cantik itu penuh semangat.


Sesaat kemudian, motor yang Ajisaka kendarai pun melaju pelan membelah jalanan ibukota yang sangat padat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, ketika Ajisaka memarkirkan motornya di depan sebuah gedung karaoke terkenal.


Setelah masuk dan mendaftar, seorang pegawai mengarahkan mereka berdua ke dalam satu ruangan bernomor enam belas. Ajisaka manggut-manggut saat memasuki ruangan karaoke yang cukup luas itu. “Siapa yang menyanyi duluan?” tanyanya.


“Aku! Sudah lama aku tidak pemanasan.” Anika bergegas mendekat ke monitor dan memilih lagu.


Dia lalu memencet tombol angka sembilan untuk memutar sebuah lagu barat yang cukup terkenal.


Dia meraih mikrofon dan mengarahkan tubuhnya hingga menghadap pada Ajisaka.


Anika langsung menunjukkan kehebatannya dalam bernyanyi. Suara wanita muda itu terdengar begitu merdu bak penyanyi profesional. Belum lagi gerak tubuhnya yang luwes mengikuti irama, membuat Ajisaka begitu terpana. “Aku telah jatuh cinta,” pikir pria itu.

__ADS_1


__ADS_2