Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Jealous Not Jealous


__ADS_3

Tadi malam ... itu ... aku ...." Binar tergagap. Dia kebingungan mencari alasan. Padahal Binar sudah bertekad untuk menceritakan perihal kehamilannya pada Arsenio. Namun, ternyata wanita muda itu belum juga merasa siap.


Beruntung sebelum Arsenio sempat mendesaknya, pintu kamar mereka sudah lebih dulu diketuk. "Itu pasti teman-temanku." Pria tampan itu bergegas menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.


Benarlah dugaannya, teman-teman kantor sudah menyeringai lebar di depan kamar. "Kau terlihat segar sekali hari ini, Teman. Apakah tadi malam kalian sempat mengisi baterai?" seloroh Armie yang segera disambut dengan gelak tawa rekan lainnya.


Arsenio sendiri hanya tertawa menanggapi. "Tunggu sebentar. Aku akan berpamitan dulu pada Binar," ucapnya seraya berbalik.


"Tidak hidup melajang adalah anugerah," celetuk Wolfgang yang lagi-lagi membuat semua orang terbahak.


Arsenio sendiri tak begitu memedulikan hal tersebut. Dia malah memeluk dan mencium Binar sepuasnya. "Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang? Begitu semua pekerjaanku selesai, aku akan segera pulang," ucapnya.


"Tenang saja, Rain. Pemandangan di sekitar hotel ini bagus sekali. Aku akan menghabiskan waktu untuk menunggumu dengan berjalan-jalan sampai kamu kembali," ucap Binar menenangkan.


"Jangan terlalu jauh. Nanti tersesat," pesan Arsenio seraya mengecup bibir Binar sekali lagi, sebelum kembali pada rekan-rekannya.


Binar mengangguk sambil melambaikan tangan sampai Arsenio menutup pintu kamar hotel. Setelah itu dia buru-buru membersihkan diri.


Sesuai dengan ucapan Arsenio, bahwa pihak hotel sudah menyiapkan sarapan pagi gratis untuk dimakan di restoran. Binar sedikit ragu sebab dia sama sekali belum menguasai bahasa Jerman. Akan tetapi, perutnya sudah sangat lapar dan tak bisa diajak berkompromi.


Pada akhirnya Binar memutuskan untuk turun ke restoran yang terletak di lantai bawah. Beruntung, semua papan petunjuk juga ditambahkan tulisan bahasa Inggris di bawahnya, sehingga Binar tak kesusahan mencari.


Selesai sarapan, Binar memilih untuk berjalan-jalan di sekitar kolam renang. Namun, baru beberapa menit wanita muda itu berkeliling, dia sudah merasakan lelah dan rasa tak nyaman di perutnya. Merasa tak kuat, Binar kembali ke kamar dan berbaring di atas ranjang.


Bukannya mereda, rasa tak nyaman tadi kian bertambah. Bahkan kini perut bagian bawah Binar terasa nyeri. Dia pun mencoba untuk memejamkan mata kembali, meskipun hari masih pagi. Rencananya, Binar hendak tidur sejenak demi menghilangkan rasa nyeri. Nyatanya, istri Arsenio itu malah terlelap sampai sore menjelang. Dia bahkan tak menyadari sang suami telah berusaha menghubunginya sedari siang.


Binar baru terbangun ketika mendengar suara pintu kamar hotel terbuka. Bersamaan dengan yang Arsenio melangkah masuk dan tampak buru-buru. "Binar, kenapa tidak mengangkat teleponku?" tanyanya dengan raut khawatir.


"Aku ketiduran, Rain," jawab Binar penuh sesal.


"Astaga." Wajah panik Arsenio berubah menjadi tawa geli. "Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Perutku sedikit sakit. Selebihnya, aku baik-baik saja." Mata bulat Binar terus memperhatikan Arsenio yang berjalan mendekat, lalu duduk di tepian ranjang menghadap ke arah Binar.


"Sakit? Sejak kapan?" Arsenio menatap lekat-lekat wajah cantik dan imut sang istri.


"Sejak sarapan tadi." Binar memainkan ujung selimut yang menutupi kaki ke bawah. Dia sedikit bimbang ketika ekspresi sang suami seperti tengah menyiratkan sesuatu. "Kenapa, Rain?"


Arsenio tak segera menjawab. Dia menatap sayu ke arah Binar. Diusapnya pipi halus sang istri, lalu tersenyum samar. "Bagaimana, ya," gumamnya pelan.


"Bagaimana apanya?" Binar mengernyitkan dahi.


"Ternyata begini kalau ikut bekerja pada orang lain. Aku tidak bisa bebas pergi ke manapun atau memutuskan apapun semauku," keluh Arsenio.


"Memangnya apa yang kamu inginkan, Rain?" tanya Binar seraya mendekatkan wajahnya pada Arsenio. Kehamilan ini membuat wanita muda itu merasa ingin terus berada di dekat sang suami.


"Aku ingin ...." Arsenio tak melanjutkan kata-katanya. Dia malah terpaku pada wajah Binar yang semakin terlihat cantik. Diciumnya kening, pucuk hidung, kemudian bibir Binar. "Aku ingin membawamu ke studio, tapi ternyata kamu sakit. Di satu sisi, aku ingin sekali menemanimu di sini. Namun, Agatha sudah membayar komisiku sebanyak lima puluh persen. Sisanya akan dibayar saat proyek ini selesai," jelasnya panjang lebar.


"Agatha?" Dada Binar berdesir mendengarkan nama itu. "Maksudnya, dia yang mengajakmu ke studio?" tanyanya pelan.


"Kalau begitu, aku ikut!" ujar Binar dengan wajah cemberut.


"Bukankah kamu sedang sakit?" Arsenio tampak bimbang.


"Sakit itu bisa ditahan, Rain. Namun, aku tidak bisa tahan membayangkan kamu berduaan dengan Agatha. Aku takut kamu ...."


"Main mata dengannya?" tebak Arsenio yang memotong kalimat Binar begitu saja.


Sedangkan Binar tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu.


“Astaga, Sayang. Ini sangat menyakitkan. Kenapa kamu masih juga belum bisa percaya sepenuhnya padaku?” sesal Arsenio.


Lagi-lagi, Binar mengangkat bahu. “Mungkin karena terlalu cinta dan takut kehilangan,” ujarnya sedikit merajuk.

__ADS_1


"Ya, sudah. Ayo, ikut." Arsenio pun mengalah. Dia mengulurkan tangan dan langsung disambut hangat oleh Binar. Wajah cemberut tadi berubah seketika.


Setelah berganti pakaian dan merapikan diri, Arsenio menggandeng Binar keluar dari kamar, lalu turun ke lobi. Bersamaan dengan mereka keluar dari hotel, saat itu pula berhenti sebuah mobil mewah bercat putih tepat di depan pasangan suami istri tersebut.


“Hei.” Kaca jendela depan turun perlahan, menampakkan wajah cantik Agatha. “Oh,” wajah ceria tadi mendadak terkejut, ketika mata hijau indahnya menangkap sosok Binar yang tengah digandeng oleh Arsenio. “Kau … mengajak istrimu?” tanyanya ragu dalam bahasa Inggris.


Sontak, Binar kembali cemberut mendengarnya. “Apa maksudnya itu, Rain? Apa dia berniat mengajakmu saja?” gerutu wanita muda itu.


Tangan kiri Arsenio mengusap punggung tangan Binar untuk menenangkannya. Dia lalu menoleh pada Agatha sambil menautkan kedua alis. “Tentu saja aku mengajak istriku. Aku tak akan tega meninggalkannya sendirian,” tegas Arsenio.


“Ah, maaf, bukan maksudku demikian.” Agatha buru-buru turun dari mobil, lalu memutari kendaraannya demi mendekat ke arah pasangan suami istri tadi. “Seperti yang kau tahu, aku membawa mobil sport dan berniat untuk menjemputmu. Namun, hanya ada dua tempat duduk di tempat ini. Kursi pengemudi dan satu kursi penumpang saja, jadi ….”


“Cukup katakan padaku di mana alamatnya. Aku akan ke studio dengan menaiki taksi,” potong Arsenio.


“Ya ampun.” Agatha menggeleng pelan seraya terkekeh. “Baiklah, kalau begitu. Aku akan menunggu sampai kalian mendapatkan taksi. Setelah itu, biarlah sopir taksinya mengikuti arah mobilku. Bagaimana?” cetusnya.


“Terserah kau saja. Kau bosnya,” jawab Arsenio singkat dengan wajah yang begitu datar. Sungguh dia tak mengira bahwa Agatha akan menjemputnya menggunakan mobil sport. Entah wanita itu melakukannya dengan sengaja ataukah tidak.


Arsenio semakin gusar, ketika Binar menjadi lebih pendiam saat berada dalam perjalanan menuju studio dengan menggunakan taksi. Sampai setengah jam kemudian, mereka tiba di lokasi. Binar masih juga terdiam. Wajahnya tampak begitu sendu, ketika sang suami membantunya turun dari kendaraan kemudian mengikuti Agatha masuk ke dalam ruangan studio yang besar dan luas.


“Binar, please. Aku sama sekali tak mengira Agatha akan bersikap seperti tadi,” bisik Arsenio lirih sambil terus menggandeng tangan istrinya.


“Untung saja tadi aku memaksa ikut,” sahut Binar ketus.


.


.


.


Panas dingin rasa hati. Hangatkan dulu dengan karya keren yang satu ini 😍👇

__ADS_1



__ADS_2