Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Pertengkaran Mesra


__ADS_3

Pertemuan siang itu berjalan lancar. Arsenio dan rekan-rekan satu timnya, mulai mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh Agatha sebagai bahan untuk mengembangkan rancangan mereka. Namun, ada satu hal yang membuat Arsenio merasa risih, yaitu ketika Agatha terus-menerus mencuri pandang ke arahnya.


Sikap Agatha tersebut, terus berlangsung, bahkan hingga acara pertemuan serta makan siang selesai. Lalu, ketika mereka hendak berpamitan, Agatha malah mencekal tangan Arsenio. "Nanti sore kujemput ke kantormu. Kita pulang bersama," ajaknya setengah memaksa.


"Aku tidak bisa. Dari kantor, aku akan langsung menuju ke tempat kerja istriku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya," tolak Arsenio sembari berusaha melepaskan cekalan tangan wanita itu. Arsenio bahkan mempercepat langkah, karena dia ingin segera menyusul rekan-rekannya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kau pikir aku percaya bahwa dirimu sudah menikah, Arsen? Aku tahu benar seperti apa seorang Arsenio dulu!" Agatha yang masih menahan gerak pria rupawan itu, menyatakan keraguannya atas pengakuan sang mantan cassanova.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku tidak perlu membuktikan apapun. Lagi pula, masa lalu tidak bisa dijadikan patokan atas diri kita sekarang. Aku hanya ingin menatap masa depan bersama istriku tercinta. Manusia itu berubah, Nona Kirsch. Selamat siang," pungkas Arsenio. Kali ini, dia benar-benar melepaskan jemari Agatha yang kembali melingkar di lengan kekarnya. Setelah itu, pria tampan tersebut lalu mengangguk sopan.


"Setidaknya kenalkan istrimu padaku! Barulah aku akan percaya!" Seruan Agatha terdengar jelas, ketika Arsenio sudah melangkah sedikit menjauh darinya. Namun, dia memilih untuk tidak menggubris wanita itu sama sekali. Jangankan Agatha yang hanya merupakan percikan kecil dari masa lalu dia, Arsenio bahkan rela melepas Winona dan segala jabatan serta fasilitas mewah yang selama ini memanjakan hidupnya demi cinta seorang Binar.


"Kau pikir siapa dirimu?" cibir Arsenio tak acuh. "Astaga, kukira hari pertama akan berjalan lancar," keluhnya pelan ketika hendak memasuki kendaraan Janson.


"Arsenio mengalahkan kita dalam segala hal. Dia berada jauh di atas kita," kelakar Richard, setelah pria itu duduk nyaman di sebelahnya. Sedangkan yang lain ikut menanggapi dengan segala opini mereka, yang lagi-lagi tak Arsenio hiraukan. Pria tempan berambut cokelat itu hanya tersenyum simpul. Akan tetapi, ternyata candaan dari teman-temannya tadi tak berhenti sampai jam pulang kantor telah tiba.


"Sampai jumpa besok, mantan kekasih nona Kirsch," celetuk salah satu dari mereka.


"Sekali-sekali terimalah ajakan nona Kirsch untuk makan siang. Kau bisa membawa kami serta," sahut yang lain.


"Jangan sampai istriku mendengar celotehan kalian. Aku belum siap menjadi duda." Arsenio membalas godaan rekan-rekannya dengan sebuah candaan.


Namun, rekan-rekan Arsenio terus saja mengiringi langkah kakinya keluar gedung dengan gurauan. Mau tak mau Arsenio berbalik dan membalas perkataan mereka. "Bagi kalian yang belum mempunyai pasangan, aku bisa mencarikan. Akan tetapi, imbalannya harus sepadan," ujarnya seraya tergelak. Dia kembali membalikkan badan dan berjalan cepat menuju restoran tempat Binar magang, yang letaknya cukup jauh dari perusahaan itu.


Arsenio membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan kaki, hingga tiba di depan restoran mewah yang baru akan dibuka bulan depan. Dengan wajah berseri-seri, dia menunggu sang istri keluar dari dalam bangunan itu. Arsenio juga berniat untuk menceritakan pengalaman hari pertamanya, termasuk bertemu dengan mantan kekasih yang bahkan sudah dia lupakan sosoknya.

__ADS_1


Namun, niat itu seketika menguap, ketika melihat pintu restoran yang terbuka. Tampaklah Binar melangkah keluar dari sana dengan senyum ceria. Sayangnya, senyum itu tidak diperuntukkan bagi Arsenio, melainkan bagi sesosok pria yang sangat tampan yang berjalan gagah di sampingnya. Dia mengingat pria tersebut sebagai orang yang memandang Binar dengan tatapan nakal di kabin bar pesawat.


"Binar!" seru Arsenio dengan paras tampan yang tampak bersungut-sungut.


"Rain!" Binar menoleh dan terlihat begitu bahagia, saat melihat sosok suami tercinta sudah berdiri menunggunya. Wanita muda itu pun segera menghambur ke arah sang suami dan memeluknya erat-erat.


Menyadari bahwa pria tampan tadi terus memperhatikan Binar yang tengah memeluknya, Arsenio segera membalas pelukan sang istri dengan lebih mesra dan hangat. Tak hanya itu, dia meraih wajah Binar, menangkupnya dengan kedua tangan, kemudian melu•mat bibirnya begitu mesra.


Tentu saja hal itu Arsenio lakukan dengan sengaja, untuk menunjukkan kepada si pria tentang posisinya. Melihat hal itu, pria yang tak lain adalah Lucas Wilder, segera membuang muka.


"Rain," protes Binar yang merasa tak nyaman. "Kita berada di depan umum!" tegurnya.


"Ini bukan di Indonesia, Sayang," seringai Arsenio sambil mengecup bibir istrinya singkat. "Berpamitanlah pada temanmu itu," bisiknya.


"Tidak masalah, Binar. Sampai bertemu besok pagi." Lucas balas melambaikan tangan pada istri Arsenio tersebut.


"Astaga." Arsenio menepuk kening. "Apa-apaan ini?" Dia tak bisa menyembunyikan rasa keberatannya.


"Ternyata dia merupakan chef executive di restoran, Rain! Dia berasal dari Perancis dan dipercaya untuk memimpin para koki restoran," celoteh Binar dengan riang sambil berjalan di sisi Arsenio.


"Ya, ampun! Aku benar-benar tidak menyangka. Bagaimana bisa kalian bertemu lagi?" Arsenio menyepak satu kerikil kecil di atas trotoar. Kerikil itu melayang dan mengenai tiang lampu jalan.


"Aku juga tidak menyangka, Rain. Dunia ini benar-benar sempit, ya," sahut Binar polos.


Arsenio segera menghentikan langkah, kemudian menghadap Binar sepenuhnya. "Aku tidak suka ini!" ucap Arsenio penuh penekanan.

__ADS_1


"Tidak suka apa?" Binar mengernyit tak mengerti.


"Aku tidak suka dia berada di dekatmu," tegas Arsenio.


"Ya, ampun." Binar malah tertawa lebar saat menanggapi ucapan sang suami. "Kamu cemburu ya, Rain?" godanya dengan ujung telunjuk yang menyentuh pucuk hidung mancung Arsenio.


"Tentu saja aku cemburu!" gerutu Arsenio. Dia kembali menghadap ke depan sambil melangkah cepat meninggalkan Binar yang termangu.


"Rain, kalau kamu berani meninggalkanku di sini, aku tidak akan memasakkan makan malam istimewa untukmu!" ancam Binar.


"Terserah. Lagi pula hari ini aku sudah teramat kenyang. Tadi aku juga mendapat traktiran makan siang istimewa," sahut Arsenio yang beberapa detik kemudian dia sesali.


"Traktiran? Siapa yang menraktir?" tanya Binar.


"Tidak ada," jawab Arsenio segera.


"Rain, jangan bohong! Aku tidak tuli! Baru saja aku mendengar kamu ditraktir makan siang oleh seseorang." Binar terus mendesak sambil mengejar Arsenio, sampai dirinya dapat mendahului pria itu. Dia menghadang langkah sang suami sehingga tak bisa bergerak ke manapun. Saat Arsenio berjalan ke arah kiri, Binar mengikutinya ke kiri. Begitu pula ketika Arsenio bergerak ke kanan.


"Aku tadi bertemu klien. Kami makan siang berenam," jawab Arsenio. Dia juga berusaha tampak biasa saja.


"Kalau memang begitu kenyataannya, kenapa kamu tadi sempat tidak mengaku? Memangnya klien kalian laki-laki atau perempuan?" desak Binar.


"Perempuan, Sayangku. Akan tetapi, dia tak secantik dan semenarik dirimu, meskipun dia mantan pacarku." Arsenio segera menutup mulutnya rapat-rapat. Namun, sudah terlambat. Lagi-lagi, dirinya terlanjur keceplosan.


"Oh, jadi begitu?" Mata indah Binar berubah sendu. "Kamu menyebalkan!" Dia memukul lengan Arsenio dengan kencang, walaupun Arsenio tak merasakan apapun.

__ADS_1


__ADS_2