Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tempat Singgah


__ADS_3

“Gawat!” seru Fabien seraya membuka pintu kamar yang ditempati oleh Arsenio dan Binar lebar-lebar. Beruntung, dua sejoli itu hanya sekadar berpelukan, bukan adegan tak senonoh yang Fabien lihat di dapur beberapa saat yang lalu.


“Ada apa lagi?” sahut Arsenio sambil merengut. Dia merasa bahwa sang adik tengah mengganggu kemesraannya bersama Binar, yang baru saja berbaikan dengannya.


“Papa akan datang ke sini!” jawab Fabien dengan mata melotot.


“Papa siapa?” Arsenio malah menautkan kedua alisnya.


“Ya, papa kita lah! Papa siapa lagi!” ucap Fabien dengan nada tinggi.


“Kenapa dia tiba-tiba ke sini?” Binar yang sedari tadi lebih banyak diam, pada akhirnya ikut bertanya.


“Aku sendiri juga bingung. Padahal papa paling malas kalau harus mengunjungi apartemenku.” Fabien menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“Kapan dia akan datang?” tanya Arsenio lagi mulai memasang wajah yang teramat serius.


“Besok lusa,” jawab Fabien dengan segera. “Dengar, ya. Menurutku, kalian harus cepat-cepat pergi dari sini. Aku tidak mau terjadi keributan di tempat ini, jika papa memergoki kalian menumpang di apartemenku,” lanjut adik kandung Arsenio itu tanpa basa-basi. "Aku memiliki segudang masalah dalam hidup, jadi tolong jangan seret aku ke dalam problematika kehidupan rumah tangga kalian." Fabien seakan tanpa beban saat berucap demikian.


Sementara Arsenio sendiri tak segera menanggapi. Dia hanya saling pandang dengan Binar untuk beberapa saat, sebelum kembali memusatkan perhatian pada sang adik. “Aku juga sepertinya belum siap bertemu dengan papa. Bukannya aku takut, tapi aku tidak bisa mendengar dia berkata ataupun bersikap kasar pada Binar. Kau tahu sendiri, aku akan melawan siapa pun yang berani melukai Binar. Akan tetapi, aku belum siap untuk berbuat kurang ajar kepada papa. Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang paling kuhormati,” ujar Arsenio panjang lebar.


“Ya, kamu benar. Lebih baik menghindar saja untuk sementara,” sambung Fabien. “Jadi, kuharap kalian segera menemukan tempat tinggal. Atau kalau tidak, aku bisa membantumu mencarikan apartemen untuk sementara. Setelah itu kalian boleh jika ingin kembali kemari. Kurasa papa juga tak akan lama berada di sini," sarannya.


“Sebenarnya bosku sudah menawarkan sebuah apartemen di tengah kota,” sahut Arsenio seraya menoleh kepada Binar untuk sesaat, seakan meminta pendapat darinya.


“Apa kamu ingin melihat-lihat ke sana, Rain?” tanya Binar seolah mengerti apa yang diinginkan sang suami.


“Apa kamu tidak lelah, Binar? Kemarin kamu baru saja menjalani … um, kamu tahu, ‘kan?” Arsenio terbata kala mengingat pengalaman buruk tersebut.

__ADS_1


“Menjalani apa?” sela Fabien kebingungan.


“Sudahlah, kamu anak kecil. Tidak perlu ikut campur,” sergah Arsenio. “Berikan padaku kunci mobilmu. Aku akan mengajak Binar melihat-lihat apartemen,” ucap pria tampan itu seenaknya.


“Kamu benar-benar kurang ajar, Broer (kak)! Sudah mengacak-acak apartemen, berbuat mesum semaunya, sekarang menyuruhku seenak hati!” Fabien mengomel tanpa henti. Namun, dia tetap mengambilkan kunci mobil untuk sang kakak dan melemparnya begitu saja ke arah Arsenio.


Pria berambut coklat itu sigap menangkap kunci mobil sambil tergelak. “Ayo, kita jalan-jalan, Sayang. Sekalian kuajak bertemu dengan tuan Normand. Semoga dia belum tidur,” ajak Arsenio seraya mengerling nakal kepada Binar. “Aku akan membantumu berganti baju dan merapikan diri,” godanya lagi. Sedangkan Binar masih menyembunyikan wajahnya dari Fabien yang memandang mereka dengan kesal.


“Jika sudah begini, aku akan lebih memilih dan sangat bersyukur pada Tuhan, kalau kamu pindah dari sini secepatnya!” Fabien menggerutu seraya membanting pintu kamar Arsenio dengan kencang. "Kuralat kata-kataku yang mengatakan bahwa kalian boleh kembali!" seru Fabien dari luar.


“Astaga.” Binar mengempaskan napas pelan sambil menggeleng. Dia pun tak bisa membayangkan andai Arsenio tetap tinggal satu atap bersama Fabien, dalam waktu yang lama. Binar pasti akan sering terkena sakit kepala karenanya.


Selesai merapikan diri, Arsenio dan Binar menuruni lift dan bergegas menuju area parkir di basement. Dari sana, mereka melajukan kendaraan menuju sebuah perumahan mewah yang terletak di pusat kota. Sebelum bertamu, Arsenio lebih dulu memarkirkan mobil Fabien di sisi trotoar seberang rumah Normand. Dia lalu menghubungi bosnya untuk meminta izin apakah dirinya boleh bertamu saat itu.


Beruntung, Normand tengah bersantai saat itu bersama keluarganya. Dia juga sama sekali tak keberatan dengan kehadiran pasangan suami istri tersebut. “Ayo, Sayang,” Arsenio menggandeng tangan Binar dan mengajaknya menyeberang ke arah rumah megah berlantai tiga. Dia lalu memencet tombol bel di sisi pintu depan.


Gadis itu tak segera menjawab. Dia sempat tertegun sejenak. Tatap matanya tak berkedip memperhatikan Arsenio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia seakan terpana mengamati paras tampan pria di hadapannya.


Melihat hal itu, Binar kembali didera rasa cemburu. Dengan segera, dia menginjak kaki Arsenio agar tak diam saja, saat perempuan tadi memperhatikan dirinya dengan pandangan memuja.


“Aw!” pekik Arsenio tertahan, membuat gadis di hadapannya tersadar.


“Ah eh, iya. Apakah kau teman ayahku?” tanya si gadis dalam bahasa Jerman.


“Ya, Nona. Tolong sampaikan pada tuan Normand bahwa aku dan istriku telah datang untuk berkunjung.” Arsenio lalu merengkuh tubuh ramping Binar dan merangkul istrinya erat-erat.


“Oh.” Gadis itu tampak tergagap dan serba salah. “Maafkan aku. Akan segera kupanggilkan ayah. Masuklah,” ajaknya seraya mengarahkan suami istri itu agar duduk di sofa ruang tamu yang terlihat mewah.

__ADS_1


“Danke (terima kasih),” sahut Arsenio berusaha bersikap sopan. Namun, lain halnya dengan Binar yang cemberut menanggapi sikap suaminya. “Tolong jangan mulai lagi, Sayang. Ini di rumah orang,” bisik pria tampan itu gemas.


Tak berselang lama, Normand datang menghampiri mereka dengan raut wajah yang terlihat amat ramah. “Hei, Arsenio. Bagaimana keadaan istrimu?” sapanya seraya mengulurkan tangan.


“Baik, Herr. Maafkan aku yang harus mengambil cuti untuk menemani istriku dalam masa pemulihan,” sesal Arsenio sembari membalas uluran tangan bosnya.


“Tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan. Wolfgang dan teman-temannya sementara yang akan melanjutkan pekerjaanmu. Lalu, bagaimana perkembangan Binar?” Mata hazel pria itu beralih kepada istri dari Arsenio.


“Begitulah, Herr. Dia keguguran. Kandungannya belum terlalu kuat,” ucap Arsenio sambil sesekali melirik pada Binar.


“Sayang sekali, padahal dia baru saja diberhentikan dari restoran. Marilyn menceritakan semuanya kemarin,” balas Normand.


“Tidak masalah bagiku, Herr. Binar tidak harus bekerja. Kurasa aku sudah sanggup mencukupinya tanpa dia harus bersusah payah mencari uang,” ujar Arsenio dengan yakin.


“Wow.” Normand berdecak kagum atas sikap anak buahnya tersebut. Dia lalu beralih pada Binar yang lebih banyak diam karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


“Apakah istrimu masih belum kursus bahasa Jerman?” tanyanya.


“Belum, Herr. Dia masih belum sempat. Apalagi setelah kejadian dia kemarin. Kupikir, aku bisa mengajarinya pelan-pelan,” jawab Arsenio sambil meraih tangan Binar, kemudian mere•masnya erat.


“Kalau kau sempat,” sahut Normand seraya tergelak. “Sebentar lagi kau akan sangat sibuk. Setelah menyelesaikan proyek nona Kirsch, kurasa aku akan menunjukmu sebagai project manager untuk proyekku selanjutnya,” terang pria itu dengan sorot mata yang berubah serius.


“A-apa?” Arsenio terbelalak tak percaya, “ta-tapi … belum satu bulan aku bekerja di perusahaanmu, Herr,” ujarnya keheranan.


“Tak perlu lama untuk menentukan bahwa seseorang itu berpotensi atau tidak. Lagi pula, kau sudah sangat berpengalaman dalam memimpin suatu perusahaan. Itu menjadi nilai plus bagimu,” jelas Normand. “Oleh karena itu alangkah baiknya jika kau bisa pindah tempat tinggal di dekat kantor, sehingga lebih memudahkan kau bergerak dalam urusan pekerjaan.”


“Itulah tujuanku kemari. Aku dan istriku hendak melihat-lihat kompleks apartemen yang Anda tawarkan waktu itu,” ucap Arsenio.

__ADS_1


“Tentu saja. Aku akan mengirimkan alamatnya ke ponselmu. Aku berharap kalian menyukainya,” ujar Normand.


__ADS_2