
Sudah dua hari Arsenio dan Binar menempati apartemen barunya. Selama itu pula, Fabien ikut menginap di sana. Pemusik muda tersebut beralasan bahwa dirinya sudah terbiasa mendengar ocehan suara sang kakak. Binar pun tak mempermasalahkan hal tersebut, karena selama ini Fabien bersikap cukup baik dan juga sopan.
Seperti pagi itu ketika Binar tengah menyiapkan sarapan, sementara Arsenio masih membersihkan diri di kamar mandi. Fabien keluar dari kamar sambil bertelanjang dada. Lagi-lagi, dia hanya memakai celana pendek. Kali ini celana yang Fabien pakai bermotif kepiting dengan warna biru.
“Astaga!” Binar sedikit terkejut ketika sang adik ipar tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Fabien terus saja memperhatikan apa yang Binar lakukan.
“Apa ada yang bisa kubantu?” tawar Fabien.
“Tidak ada. Aku sudah hampir selesai,” jawab Binar menoleh ke arah pemuda tampan itu sambil tersenyum manis.
“Hm.” Baru kali ini Fabien memperhatikan senyuman Binar dari dekat. Dia tertegun sejenak sebelum akhirnya memilih untuk duduk di kursi bar, yang terletak berjejer di depan meja dapur dan sekaligus berfungsi sebagai meja makan.
“Sekarang aku tahu kenapa Arsenio sampai tergila-gila padamu,” celetuk Fabien begitu saja, membuat Binar menghentikan kegiatannya. Dia lalu menoleh sesaat pada adik kandung sang suami.
“Kenapa memangnya?” Binar mengernyit ke arah Fabien.
“Rahasia.” Fabien menyeringai, lalu menopang dagu dengan kedua siku tangan bertumpu pada meja. Hal itu dia lakukan hingga beberapa saat lamanya, sampai Arsenio keluar dari kamar.
Pria itu tampak sangat menawan dengan pakaian rapi, dalam balutan kemeja biru muda dan celana bahan berwarna hitam. Tak lupa blazer yang berwarna senada dengan celananya pun turut melengkapi kesempurnaan penampilan Arsenio pagi itu.
“Ya ampun, Rain. Sudah kubilang jangan terlalu tampan,” protes Binar. Satu tangannya memegang spatula, sedangkan tangan yang lain berkacak pinggang.
“Astaga. Kamu ingin aku memakai baju apa, Binar? Apa celana pendek seperti yang dipakai anak aneh ini?” telunjuk Arsenio mengarah pada Fabien.
“Hei, jaga mulutmu! Aku tidak aneh!” protes Fabien keras Dia juga balas mengarahkan telunjuk ke wajah sang kakak.
“Kalau begitu pakailah masker,” sahut Binar sambil cemberut, “atau acak-acaklah sedikit rambutmu,” ujarnya lagi.
__ADS_1
“Binar, percayalah. Semakin Arsen mengacak-acak rambutnya, semakin dia terlihat seksi,” sela Fabien seraya memutar-mutar kursi bar dengan menggunakan badannya seperti anak kecil.
“Aku pergi ke kantor, Sayang. Kantor adalah wilayah formal. Mana mungkin aku tidak berpakaian rapi sampai harus mengacak-acak rambutku, kecuali kalau aku hendak pergi mengamen bersama Fabien,” ujar Arsenio. Dia memberikan pengertian dengan hati-hati dan jangan sampai Binar salah menanggapi.
“Jangan pernah menghina profesi pengamen, sebab penghasilan pengamen sepertiku jauh lebih besar dari penghasilanmu saat ini,” protes Fabien sembari mengangkat satu jarinya.
Perdebatan itu pun berhenti manakala masakan Binar sudah siap terhidang di atas meja. “Aku memasak nasi goreng khas Indonesia dan sarapan khas Jerman, yaitu roti lapis,” ucap Binar sambil menata perlengkapan makan untuk suami dan adik iparnya. “Kalian makanlah dulu, supaya memiliki energi yang cukup untuk bertengkar lagi,” imbuhnya.
“Ide yang bagus, Sayangku.” Arsenio maju beberapa langkah untuk mendekati Binar. Dia lalu merengkuh tubuh ramping sang istri, lalu menciuminya hingga puas. Arsenio sengaja melakukan itu di hadapan Fabien.
Akan tetapi, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu tak akan mengalah kali ini. Berpura-pura tak melihat, dia mengambil beberapa roti lapis yang sudah terisi dengan daging asap, telur, dan tomat. Dia melahapnya tanpa memedulikan Arsenio.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Fabien untuk menghabiskan makanan tadi, padahal Arsenio belum juga memulai sarapannya. “Kenyang sekali,” ucap Fabien sambil mengusap-usap perut yang sedikit membuncit. Namun tiba-tiba saja, Fabien menghentikan gerakannya. Dia menoleh seraya menajamkan pendengaran. “Sepertinya ponselku berbunyi,” ujarnya lalu berdiri menuju kamar.
Tak berapa lama, dia datang sambil mengusap layar telepon genggam. “Gawat! Papa menelepon!” Fabien bergegas membalikkan badan kembali ke kamar. Dia buru-buru memakai baju dan berlari keluar apartemen. “Akan kuhubungi kalian lagi nanti! Bye!”
Adik kandung Arsenio itu melambaikan tangannya lalu terburu-buru memasuki lift. Tak dihiraukannya tatapan heran dan tegang dari pasangan suami istri tersebut. Terlebih Binar yang tampak memucat.
“Ya, berapa kode pintumu? Apa kamu baru saja menggantinya?” tanya Lievin terdengar tak sabar.
“Oh iya, Papa.” Fabien kemudian menyebutkan deretan nomor kode yang baru pada sang ayah, lalu buru-buru menjalankan mobilnya menuju apartemen.
Sesampainya di lantai tempat tinggalnya, Fabien tergesa-gesa membuka pintu dan mendapati sang ayah tengah bersantai di atas sofa. “Pa, tumben,” sapanya sembari merentangkan tangan dan menghambur ke arah Lievin.
“Nak.” Lievin berdiri menyambut putra bungsunya, kemudian memeluk Fabien erat-erat. “Padahal baru berapa bulan kita tidak bertemu,” ucapnya pelan.
“Di mana mama?” Fabien mengedarkan pandangan ke sekeliling, sesaat setelah melepaskan pelukan.
__ADS_1
“Mamamu tidak ikut. Aku berangkat sendiri. Dia sedang sibuk mengurusi yayasan,” jawab Lievin. Dia terlihat gugup ketika itu. Pria paruh baya tersebut memijit tengkuknya sambil melirik ke arah Fabien. Sorot matanya seakan penuh dengan beban.
“Kenapa, Pa? Apakah ada masalah di Indonesia?” Fabien menangkap gelagat aneh dari bahasa tubuh sang ayah, sehingga perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.
“Sedikit,” jawab Lievin seraya mengempaskan tubuhnya kembali ke atas sofa. Dia juga meraih remote televisi dan memencet-mencetnya tak beraturan.
“Papa bertengkar dengan mama?” terka Fabien.
“Tidak, Nak. Tentu saja tidak,” bantah Lievin.
“Lalu?” Fabien menghadapkan diri seluruhnya pada Lievin, sambil melipat tangan di dada. “Papa terlihat gelisah dan was-was.”
“Oh ya?” Lievin mengernyitkan kening, kemudian tertawa. Bagi Fabien, tawa itu seolah dipaksakan. Bukan tawa lepas yang biasanya dipamerkan oleh sang ayah. “Memangnya terlihat jelas kalau Papa sedang galau?” Lievin terkekeh sebelum kembali memencet-mencet tombol remote.
“Seperti anak muda saja,” balas Fabien tertawa nyaring, lalu berhenti ketika memerhatikan raut wajah sang ayah yang semakin murung. “Pa? Papa tidak sedang selingkuh, ‘kan?” desisnya.
“Bicara apa kamu ini!” Lievin yang gusar, segera melemparkan bantal sofa, tepat mengenai wajah putranya.
“Lalu apa?” Fabien menjauhkan bantal tersebut dari dirinya. Dia lalu serius menatap sang ayah yang tampak ragu-ragu hendak mengucapkan sesuatu.
“Fabien, Papa ingin sekali menumpahkan segala keluh kesah padamu,” ungkap Lievin pada akhirnya.
“Tumpahkan saja, Pa.” Fabien meraih satu toples, lalu menyodorkannya pada pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu.
Lievin menerima toplesnya dengan terheran-heran. Dia lebih heran lagi saat membuka tutupnya dan menyadari bahwa toples itu dalam keadaan kosong.
“Kamu salah mengambil. Tidak ada isinya.” Lievin menunjukkan bagian dalam toples pada Fabien.
__ADS_1
“Astaga, ini pasti ulah ….” Fabien segera menutup mulutnya rapat-rapat. Hampir saja dia kelepasan menyebut nama Arsenio.
“Ulah siapa? Pacarmu? Kamu sudah punya pacar, Fabien? Ayo, kenalkan pada Papa!” desak Lievin yang seolah terlupa dengan segala gundahnya.