
Dengan malas-malasan, Fabien mengendarai mobil SUV mewah pabrikan Jerman kesayangannya, menuju ke sebuah kawasan apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Arsenio dan Binar yang baru. “Bagus juga,” sanjung Fabien ketika dia membelokkan kemudi ke area parkir. “Kalian bisa bebas melakukan apapun tanpa takut terpergok oleh orang lain. Seperti yang kualami kemarin,” celotehnya. Adik ipar Binar tersebut kembali teringat pada adegan panas yang sedang dilakukan oleh sepasang suami istri tersebut di dapur kesayangannya.
“Apa kamu sudah mempunyai pacar, Fabien?” tanya Binar untuk mengalihkan perhatian pemuda itu.
“Aku tidak tertarik berpacaran atau menjalin hubungan apapun. Aku ingin fokus pada karier bermusikku,” jawab Fabien diplomatis.
“Lalu, bagaimana caramu memuaskan diri?" tanya Arsenio iseng, membuat Fabien melotot tajam ke arah kakak kandung yang duduk tepat di sampingnya itu.
“Jangan katakan kalau kau suka menyewa perempuan malam,” lanjut Arsenio lagi.
“Aku tidak sepertimu, Arsen! Aku bukanlah maniak!” jawab Fabien ketus, sambil mematikan mesin mobil, lalu memencet tombol untuk membuka pintu garasi.
“Kamu pria normal, ‘kan?” cecar Arsenio.
“Tentu saja!” Fabien setengah membentak sang kakak “Astaga, cepatlah bawa suamimu ini pergi, Binar. Aku sudah tidak tahan lagi,” gerutunya. Dia lalu menoleh ke arah Binar sambil memasang raut memelas.
Sementara Binar malah terkikik geli menyaksikan pertengkaran adik dan kakak tadi. Hal itu mengingatkannya pada Wisnu dan juga Praya. Entah apa yang dilakukan oleh kedua adiknya saat ini. Binar begitu rindu. Terakhir kali dia menghubungi adik dan ibu tirinya adalah sesaat sebelum berangkat ke Frankfurt.
“Bawa sendiri barang-barangmu!” Fabien masih terlihat kesal. Dia menurunkan barang-barang Arsenio lalu meletakkannya ke atas lantai parkir begitu saja.
“Kau benar-benar tak mempunyai hati, Fabien. Bagaimana bisa kau menyuruh Binar untuk mengangkat barang-barang sebanyak dan seberat ini. Laki-laki macam apa kau ini." Arsenio menepuk kepala sang adik, seolah Fabien adalah bocah ingusan yang belum mengerti apa-apa.
“Astaga, kau ... aku tidak menyuruh istrimu, Bodoh! Aku menyuruhmu!” sentak Fabien kesal.
“Mana mungkin aku membawa barang seberat ini sampai ke lantai lima, yang benar saja. Sebagai adik kau seharusnya menurut padaku, atau kuadukan pada papa bahwa kau sudah menampung dan membelaku diam-diam selama ini.” Lagi-lagi, Arsenio melontarkan ancamannya.
“Ya, ampun,” gumam Binar pelan. Jika dirinya harus menunggu sampai dua orang itu selesai berdebat, dapat dipastikan bahwa sampai besok pagi mereka tetap akan berada di tempat parkir.
__ADS_1
Diam-diam, Binar membuka tas selempang Arsenio, di mana suaminya menyimpan kunci apartemen yang baru. Wanita muda itu mengambilnya, kemudian bergegas ke lobi. Di sana dia bertemu dengan Helen yang masih berada di kantor, lalu meminta tolong pada wanita itu untuk mencarikan penjaga gedung dan lift.
Tak berselang lama, Binar kembali ke tempat parkir sambil membawa beberapa orang pria berseragam. Dia memberi arahan kepada mereka dengan menggunakan bahasa Inggris yang sesekali dia campur dengan bahasa isyarat.
Beruntungnya, para penjaga keamanan gedung tadi mengerti dan mulai membantu membawakan barang-barang Binar satu per satu sampai ke lantai lima. Sedangkan Arsenio dan Fabien hanya terbengong-bengong. Begitu mereka sadar, mereka langsung mengikuti Binar ke lantai lima.
Baik Arsenio maupun Binar, sama-sama terpana ketika mereka telah tiba di depan pintu apartemen yang dituju. “Bukalah,” suruh Fabien.
Binar menurut. Dia membuka pintu lebar-lebar dengan menggunakan kunci manual. Tampaklah ruangan yang cukup luas bergaya minimalis dengan perabot yang lengkap.
“Ini barang-barang Anda, Nyonya,” ucap salah satu penjaga gedung dalam bahasa Jerman.
Arsenio menanggapinya dalam bahasa Jerman pula.
“Danke,” balas Arsenio sembari memasukkan beberapa ransel besar ke dalam. “Akhirnya kita memiliki rumah sendiri,” ujarnya pada sang istri. Binar mengangguk penuh haru. Sedikit demi sedikit, kehidupan mereka mulai membaik.
“Sofanya juga besar dan empuk.” Dengan seenaknya, Fabien mengempaskan diri ke atas sofa, kemudian meraih remote televisi yang terletak di meja. Dia memencet tombol-tombol remote, tetapi televisi berlayar datar di depannya itu tak juga menyala.
“Sepertinya itu remote untuk tirai dan penghangat serta pendingin ruangan,” tunjuk Arsenio ke arah tirai-tirai jendela apartemen yang membuka dan menutup dengan sendirinya. Begitu pula dengan tutup mesin penghangat yang berada di atas perapian, serta AC yang tertempel di dinding bagian atas.
“Astaga, kau benar, Broer. Aku salah mengambil remote.” Fabien meletakkan benda pipih berwarna hitam tadi, kemudian mengambil satu remote lainnya yang tergeletak tak terlalu jauh dari tempat duduknya.
“Wah, saluran televisi ini sudah dilengkapi dengan channel-channel nasional.” Mata coklat Fabien membulat sempurna, persis seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
“Ya, suka-suka kau sajalah.” Arsenio berdecak pelan. Dia memilih untuk menata barang-barang bersama Binar daripada terus menanggapi adiknya.
Di dalam kamar, Binar kembali berdecak kagum dan terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak, seluruh perabot di dalam tempat itu sudah lengkap sepenuhnya. Suami istri itu hanya perlu menata pakaian dan barang-barang kecil lainnya.
__ADS_1
“Jadi, ini rumah baru kita, Rain,” desis Binar dengan suara bergetar.
“Belum sepenuhnya rumah kita sampai cicilannya lunas,” gurau Arsenio yang segera disambut oleh tawa renyah sang istri.
“Semoga kariermu semakin menanjak, Sayang,” ucap Binar sembari mendekat pada sang suami, lalu memeluknya erat.
“Aku ingin mendirikan perusahaanku sendiri, Sayang. Sepenuhnya dengan modal dan usaha dari diriku sendiri,” sahut Arsenio. Matanya menerawang ke luar jendela kamar berukuran besar yang terbuat dari kaca tebal.
“Aku akan selalu mendukungmu, Rain.” Binar berjinjit, kemudian mengecup lembut bibir suaminya.
“Terima kasih, Sayang. Kuharap kau mengerti jika aku akan sering pulang terlambat, atau aku akan pergi mendadak ke luar kota. Selalu tanamkan dalam hatimu, bahwa semua yang kulakukan ini adalah demi dirimu,” tegas Arsenio.
Binar mengangguk yakin. Namun, tak lama kemudian, sorot matanya menyiratkan sesuatu.
“Kenapa lagi?” Arsenio tertawa geli. Dia sudah dapat menebak jika istrinya pasti tengah memikirkan sesuatu.
“Kalau bisa, setiap keluar rumah jangan terlalu rapi. Kalau perlu, tutupilah wajahmu dengan menggunakan masker,” saran Binar yang membuat tawa Arsenio seketika meledak.
“Kenapa begitu, Sayang?” Arsenio mengulum senyumnya.
“Supaya tidak ada yang melirik, apalagi jatuh cinta padamu,” jawab Binar sembari merengut manja.
“Astaga, Binarku.” Arsenio menangkup paras cantik istrinya, lalu menciumi bibir ranum itu tanpa jeda sampai bibir Binar terasa kebas.
“Aku tidak bisa melarang siapa pun untuk tidak melihat ke arahku. Akan tetapi, aku bisa menjamin seratus persen, bahwa aku tidak akan melihat apalagi memperhatikan siapa pun selain istri lucuku ini,” ujar Arsenio sesaat setelah melepaskan ciumannya. Dia juga mencolek pucuk hidung Binar dengan gemas.
“Jadi … mulai malam ini, kita akan tidur di sini?” tanya Binar ragu-ragu. Dia seakan masih tak percaya jika dirinya dan Arsenio sudah mempunyai tempat tinggal sendiri.
__ADS_1
“Ya, Sayang. Kita akan tinggal di sini sampai aku bisa membelikanmu penthouse atau rumah mewah,” jawab Arsenio seraya menatap sayu kepada istrinya.