
“Ti, aku pulang duluan, ya,” bisik Binar pada Nastiti yang masih sibuk merangkai bunga untuk dipajang di rak terdepan. Hari ini, Binar mengambil jadwal siang. Sedangkan Nastiti baru memulai kerjanya di sore hari karena harus masuk kuliah terlebih dahulu.
“Mbak jadi ketemu pak Chand?” tanya Nastiti setengah berbisik.
“Harus! Aku harus mengembalikan celananya,” jawab Binar yang segera disambut dengan tawa geli oleh Nastiti.
“Ya, sudah. Mbak masih hafal ‘kan jalannya? Lurus saja ikuti jalan besar,” tutur Nastiti sambil menggerakkan tangannya untuk memperjelas.
“Iya, kamu tenang saja. Aku masih ingat. Terima kasih.” Binar melambaikan tangan seraya berjalan ke luar toko. Dia lalu menghampiri Rena yang masih sibuk memberi arahan pada pegawainya di teras toko tersebut. “Saya pulang dulu, Mbak,” pamitnya sopan.
"Mau pulang, ya? Terima kasih, Mal," balas Rena ramah.
Binar tersenyum ramah seraya mengangguk. Dia bermaksud untuk meninggalkan toko, tapi gadis itu kembali tertegun karena Rena kembali bicara padanya.
"Oh, ya. Kalau kamu bersedia, besok bisa tidak masuk dua shift? Soalnya, kita dapat job di acara mall. Kita harus mendekor seluruh lantai bagian bawah," jelas Rena.
"Oh tentu, Mbak. Saya bisa. Saya malah senang sekali jika bisa ikut mendekor seperti kemarin. Menambah pengalaman untuk saya," jawab Binar penuh semangat.
"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu jam delapan pas, ya. Nanti kita berangkat sama-sama ke mall. Ingat jangan sampai terlambat," pesan Rena.
"Siap, Mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Binar lagi.
__ADS_1
"Oke. Hati-hati ya, Mal," balas Rena seraya melambaikan tangan sejenak sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara Binar berjalan sesuai arah yang sudah ditunjukkan oleh Nastiti tadi.
Tak sampai setengah jam, dia sudah tiba di gedung yang dimaksudkan oleh Chand kemarin. Tampak suasana masih ramai di dalam bangunan megah itu. Semua orang terlihat sibuk dan berlalu lalang ke sana kemari. Mereka semua tengah mempersiapkan pesta resepsi besar-besaran.
Binar ragu antara ingin masuk untuk mencari Chand atau menunggu di bagian teras gedung, karena yang bisa masuk hanyalah orang-orang yang berkepentingan. Sambil menenteng kantong kresek berisi celana milik Chand, Binar berjalan mondar-mandir di teras gedung. Sesekali, dia mengintip dari kejauhan melalui jendela besar yang terbuka di bagian depan. Matanya awas mencari sosok Chand. Namun, Binar tak dapat menemukan pria itu di dalam sana.
Setengah putus asa, Binar memilih duduk di bangku taman yang terletak di halaman depan. Perutnya sudah berbunyi berkali-kali, karena dia telah melewatkan makan siang. Tadi, Binar terlalu semangat bekerja sampai lupa menyantap bekal makanannya. "Aduh," keluh gadis itu saat perutnya kembali berbunyi nyaring. Binar lalu meraih tas kain berisi kotak makan siang yang dia bawa. Niatnya adalah hendak menyantap makanan itu.
Namun, gadis cantik tersebut harus mengurungkan niatnya, ketika dia mendengar suara seorang pria yang menyapa. "Sudah lama menunggu?" tanya pria itu dari arah belakang Binar, membuat dia sontak berjingkat saking terkejutnya. Entah sejak kapan Chand berdiri di sana. Binar juga merasa takut jika pria tampan tersebut mendengarkan suara-suara aneh yang berasal dari perutnya yang kosong.
"Pa-pak," sapanya tergagap. Saking gugupnya sampai-sampai Binar bingung harus berkata apa. Segera saja dia menyodorkan kantong kresek yang dipegangnya sedari tadi kepada Chand. "Aku kemari untuk mengembalikan celana Anda. Terima kasih banyak ya, Pak," ucap Binar pelan dan sopan.
Chand tak segera menjawab. Dia tampak berpikir untuk sesaat. Pria tampan itu seperti tengah mengamati gadis muda berwajah polos yang berdiri di hadapannya. Chand kembali mengingat kejadian kemarin. Dia dapat memastikan bahwa saat itu, gadis muda tersebut tidak memakai pakaian dalam. "Apa kamu sudah mencuci celanaku?" tanyanya kemudian.
"Ya ampun," gumam Chand seraya menggeleng pelan. Dia lalu membuka kantong kresek itu, kemudian menghirup aromanya.
"Wangi, Pak. Kemarin aku taburi deterjen yang banyak," terang Binar dengan segera. Namun, tak lama gadis itu kemudian tertunduk malu.
Chand sedikit terkejut mendengar hal tersebut, lalu mengulum senyumnya. "Baiklah, tidak apa-apa. Terima kasih," ucapnya sambil menahan tawa. Baru kali ini dirinya mendapatkan pengalaman yang sangat konyol seperti itu.
"Aku yang harusnya berterima kasih, Pak. Aku sudah merepotkan," ucap Binar. Gadis itu lalu terdiam. Sesekali dia menunduk, saat menyadari bahwa Chand sedang memperhatikannya. Namun, Chand pun tak banyak bicara. Pada akhirnya mereka berdua saling terdiam untuk beberapa saat, sampai terdengar kembali suara-suara aneh yang membuat Binar harus menahan malu untuk kedua kali. "Ya ampun," gumamnya pelan seraya memegangi perut. Tak terkira betapa malunya gadis itu. Rasanya Binar ingin segera pergi, menghindar, dan bersembunyi. Dia juga tak berharap dapat bertemu lagi dengan pria tampan tersebut.
__ADS_1
Chand tampak menyembunyikan senyum sambil menunduk. Bagaimanapun juga, dia harus menjaga perasaan gadis di hadapannya. Namun, ternyata dia tak mampu menahan tawa. Berkali-kali pria dengan perawakan tegap tadi menutupi mulut dengan punggung jemarinya.
"Maaf," ucap Binar pelan. Dia tak kuasa mengangkat wajah karena terlampau malu. "Aku belum sempat makan siang," ucap gadis itu beralasan.
"Kebetulan aku juga belum sempat makan siang," balas Chand. "Tak jauh dari sini ada rumah makan yang enak. Bagaimana jika kita makan siang bersama?" tawar pria tampan tersebut.
"Ah, tidak usah. Aku sudah bawa bekal makan sendiri," tolak Binar dengan halus.
"Sayang sekali, padahal aku ingin menraktirmu makan," balas Chand dengan nada sedikit kecewa. Sedangkan Binar hanya tersenyum kecil seraya mengangguk pelan.
"Aku biasa bawa bekal makan siang dari rumah." Binar memberanikan diri menatap pria di hadapannya. Dia lalu melirik tas kain yang tadi hampir saja dibuka isinya.
"Baiklah, mungkin lain kali. Aku jarang sekali datang ke Jogja. Jadi, sekalinya kemari pasti memuaskan diri dengan kuliner khas di sini," ujar Chand dengan tenang.
"Oh. Aku juga baru beberapa hari di sini," balas Binar.
"Maksudnya?" tanya Chand. "Apa kamu perantau?"
Binar mengangguk pelan seraya tersenyum lembut. Gadis itu kembali terdiam dengan bahasa tubuhnya yang tampak sedikit kikuk. Sementara perutnya lagi-lagi berbunyi. Binar pun kembali memegangi dan mengusapnya perlahan.
"Sudahlah. Ayo," ajak Chand berjalan melewati Binar.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Binar polos seraya membalikkan badan, karena Chand sudah berjalan mendahuluinya.
Chand kemudian menoleh. Pria tampan itu tersenyum kalem. "Kita makan siang," jawabnya enteng. Sambil terus menjinjing kresek berisi celana pengembalian dari Binar, Chand melangkah gagah. Namun, tak lama dia tertegun dan kembali menoleh. Ditatapnya Binar yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Chand lalu menggaruk keningnya perlahan. Sementara Binar terlihat kebingungan. "Kenapa masih berdiri di situ? Ayo, ikuti aku. Sudah kukatakan bahwa aku akan menraktirmu makan siang. Aku harap kamu tidak menolaknya, Nirmala," ucap pria tampan tersebut, membuat Binar terkejut karena Chand ternyata mengetahui namanya.