
Arsenio seketika mengulum bibirnya. Dia melepaskan rangkulan dari Binar yang tampak mendelik tajam. Wanita muda itu langsung memasang wajah cemberut. Sedangkan si tampan bermata cokelat terang tadi hanya dapat menggaruk kening.
Binar sebenarnya sudah tahu, dan tak harus mempermasalahkan lagi kenakalan sang suami di masa lalu. Namun, jika mendengar secara langsung begitu tetap saja hatinya merasa kesal dan juga cemburu.
“Itu dulu. Jauh sebelum kita bertemu,” ucap Arsenio menyesali kebodohan yang telah dia lakukan.
“Terserah!” balas Binar seraya menyingkirkan tubuh tegap sang suami dari hadapannya. Dia pun membuka pintu toilet. Seketika, wanita muda itu terkejut, saat melihat seorang wanita paruh baya sudah berdiri di depan toilet tersebut.
Binar menoleh kepada Arsenio yang berdiri di belakangnya. Pria itu masih terlihat tenang. Dia tersenyum seraya mengangguk sopan. “Ayo, Sayang,” ajaknya sambil meraih tangan Binar. Dia menuntun sang istri keluar dari sana. Dengan tenang, Arsenio melenggang begitu saja, melewati wanita paruh baya tadi.
“Apa kamu tidak merasa risih?” protes Binar.
“Kenapa harus merasa risih? Di dalam pesawat, jabatan sebagai ketua RT tidak akan berpengaruh sama sekali. Tidak ada yang menggerebek kalau kita jika ketahuan berbuat mesum,” sahut Arsenio dengan tak acuh.
“Ya. Itu berlaku untukmu yang sudah terbiasa berbuat mesum di sembarang tempat dan bahkan bersama wanita asing yang baru ditemui,” dengus Binar sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Bukannya merasa takut saat menghadapi kekesalan Binar, Arsenio justru malah memperlihatkan sikap manisnya. Pria itu mengempaskan napas pelan sambil memejamkan mata, dengan kepala bersandar pada kursi. Sementara tangannya menggenggam erat jemari lentik Binar.
Perlahan, jari telunjuknya bergerak-gerak pada telapak tangan sang istri.
Binar yang kesal dan masih memalingkan muka, seketika menoleh. Dia menatap pria tampan yang tengah memejamkan matanya.
Binar pun mengeluh pelan. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Arsenio. Akan tetapi, makin dia berusaha, genggaman pria berambut cokelat itu semakin kuat. Pada akhirnya, Binar memilih pasrah. Dia membiarkan Arsenio menggenggam tangannya.
“Inilah contoh suami yang menyebalkan,” bisiknya.
__ADS_1
Seketika, Arsenio membuka mata kemudian menoleh. “Maaf?” tanya pria itu semakin mendekatkan telinganya kepada Binar.
“Aku sedang merajuk dan kamu malah memilih tidur. Menyebalkan!” gerutu Binar sambil berbisik. Dia tak ingin jika ada penumpang lain yang mendengar ucapannya tadi.
“Jika kamu ingin marah, maka silakan lampiaskan. Namun, jangan paksa aku untuk merayumu lewat lagu, karena aku bukan penyanyi. Aku juga tak akan membacakan puisi, sebab diriku bukanlah seorang penyair. Kuharap kamu tidak berpikir untuk melihatku menari. Aku bukan aktor Bollywood,” celoteh Arsenio dengan enteng.
“Lalu kamu siapa?” tanya Binar ketus.
Arsenio mengalihkan pandangan kepada Binar. Sorot mata yang teduh dan penuh cinta, tampak jelas di sana. Raut wajahnya pun jauh lebih berseri jika dibandingkan dengan saat pertama pesawat itu mengudara. Arsenio tersenyum kalem. Dia masih melayangkan tatapan lekat penuh godaan kepada Binar yang mulai salah tingkah.
“Kamu bertanya siapa aku?” bisiknya. “Aku adalah Arsenio, pria yang tersesat dalam cinta seorang Binar. Hingga saat ini dan sampai kapanpun, sepertinya aku tak akan menemukan jalan keluar. Alasannya karena diriku merasa nyaman di sana. Ini adalah pertama kalinya, ketika aku tak merasa keberatan sama sekali jika harus kehilangan banyak hal. Kamu tahu kenapa?”
Sementara Binar hanya menggeleng pelan. Seakan terkena hipnotis, dia menurut saja dan mendengarkan semua yang pria itu ucapkan.
“Jawabannya, karena denganmu aku bisa meraih segala hal yang bahkan tak mungkin untuk kugapai. Kamu adalah semangat, kekuatan, dan juga nyawa kedua bagiku.” Selesai berkata demikian, Arsenio mendekatkan wajahnya pada Binar.
“Bisa-bisanya aku terbuai dengan kata-kata perayu ulung sepertimu!” gerutu wanita muda itu seraya menarik tangannya cepat-cepat dari genggaman Arsenio yang mulai longgar.
“Aku bicara apa adanya, Sayang. Itu bukan hanya sekadar merayu,” dalih Arsenio sambil menahan rasa gemas. Ingin rasanya dia menyeret Binar kembali ke bilik toilet dan melanjutkan kegiatan yang gagal akibat ulahnya sendiri. Namun, sayangnya semua sudah terlambat. Binar memejamkan mata dan mulai tertidur. Melihat hal itu, tak ada yang bisa dilakukan oleh Arsenio selain ini ikut merebahkan kepala di sandaran kursi pesawat kelas ekonomi.
Tak berapa lama, Binar memicingkan mata kemudian melirik sang suami yang sudah terlelap. Gadis itu tersenyum penuh arti, lalu berdiri meninggalkan kursinya. Binar hendak membuktikan kata-kata Arsenio bahwa penumpang pesawat dapat berjalan-jalan di dalam kabin. Wanita muda itu lalu berjalan lurus ke depan, membuka tirai demi tirai berwarna biru, hingga dia tak sadar bahwa dirinya telah berada di bagian kabin yang berbeda.
Tak ada kursi penumpang sama sekali di ruangan yang dia masuki saat itu. Di sana hanya ada dua buah meja persegi yang cukup besar. Benda itu terletak berjajar di sisi kanan dan kiri dinding kabin, dengan berbagai macam hidangan yang menggugah selera di atasnya. Di sudut ruangan juga terdapat mini bar dengan rak-rak kaca yang dipenuhi oleh botol minuman mahal. Di sebelah mini bar tersebut terdapat lemari kaca yang berisi kudapan ringan dan soft drink.
Binar merasa khawatir, karena sepertinya dia sudah berjalan terlalu jauh. Istri Arsenio tersebut berniat untuk berbalik dan kembali ke tempat duduknya, ketika tiba-tiba di belakangnya sudah berdiri seorang pria bule yang menatap keheranan. “Tu cherches aussi une collation (apa kau sedang mencari camilan juga)?” tanya pria itu dalam bahasa yang sama sekali tidak dia mengerti.
__ADS_1
“I’m sorry, i don’t understand,” sahut Binar buru-buru menggeleng, lalu hendak melewati pria itu. Akan tetapi, sebelum dia melangkah lebih jauh, si pria asing lebih dulu memegang lengannya.
“Where are you sitting? Why didn't i see you earlier (Kau duduk di sebelah mana? Kenapa aku tidak melihatmu tadi)?” Pria itu mengubah bicaranya dalam bahasa Inggris.
“I … i ….” Binar tergagap, tak tahu harus menjawab apa. “I sit in economy class,” jawab wanita muda berambut panjang itu pada akhirnya.
“Oh, economy class? Ini adalah kabin khusus untuk penumpang kelas eksekutif,” balas pria itu masih dalam bahasa Inggris.
“Ma-maaf, aku tidak tahu. Aku hanya berjalan-jalan,” ujar Binar semakin gugup.
“Hm, tak apa-apa. Aku bisa menraktirmu kalau kau mau,” tawar pria asing tadi seraya memamerkan senyumannya. Binar akui bahwa pria di hadapannya itu memiliki tingkat ketampanan yang sama dengan sang suami. Dia mempunyai mata biru bercahaya serta rambut pirang kecoklatan, pria asing tersebut terlihat amat memesona.
“Tidak, terima kasih. Nanti suamiku khawatir jika aku pergi terlalu lama,” tolak Binar seraya membalikkan badan dan membuka tirai berwarna biru. Tepat pada saat yang sama, Arsenio berdiri di balik tirai dan terkejut melihat sang istri yang sama terkejutnya dengan dia.
“Astaga. Menghilang ke mana kamu, Binar? Aku sampai kebingungan mencarimu,” tegur Arsenio dengan raut khawatir.
“Aku ….” Belum selesai Binar menjawab pertanyaan sang suami, tirai di belakang Binar bergerak terbuka, menampakkan sesosok pria tampan yang tersenyum kepada Arsenio. “Hai," sapanya.
Sementara Arsenio berdiri terpaku, dengan tatapan tertuju kepada mereka secara bergantian.
.
.
.
__ADS_1
Aih, panas, panas, dah. Panasin lagi sama karya keren yang satu ini