Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Bad Girl


__ADS_3

Binar yang sedang kesal, langsung saja membalikkan badan. Dia bermaksud untuk meninggalkan Arsenio di dalam kamar mandi. Namun, nyatanya pria itu jauh lebih sigap. Arsenio dengan cepat meraih pergelangan tangan wanita muda tadi, dan menariknya sehingga kembali mendekat.


"Kamu mau ke mana?" Arsenio merengkuh tubuh Binar dengan erat, seperti seorang pria nakal yang sedang mengganggu gadis polos tak berdaya.


"Lepaskan aku, Rain!" Binar sekuat tenaga berusaha membebaskan diri dari dekapan tubuh tegap Arsenio. Akan tetapi, terlalu sulit bagi gadis bertubuh mungil seperti dia, untuk melawan tenaga pria berdarah Belanda tersebut. Apalagi postur Arsenio jauh lebih tinggi dan juga kekar.


Arsenio tertawa sambil memeluk Binar. "Jangan berpikir bahwa aku akan membiarkan orang secantik ini dengan begitu saja," goda Arsenio. Sementara Binar masih memasang wajah cemberut. Arsenio pun kembali tertawa. Dia lalu membalikkan tubuh Binar hingga menghadap ke cermin tanpa melepas pelukannya.


Untuk beberapa saat, mereka saling pandang lewat pantulan cermin tadi. Tak sedetik pun Arsenio mengalihkan perhatian, dari paras cantik sang istri yang masih terlihat asli dan alami. Arsenio pun sedikit merunduk, agar dapat meletakkan dagu di atas pundak Binar yang masih membalas tatapannya.


"Kamu tidak memerlukan operasi plastik atau apapun itu untuk dapat menarik perhatian seorang Arsenio. Tanpa polesan make up pun kamu sudah membuatku begitu tergila-gila. Kenapa aku ingin agar kita menunda untuk memiliki anak, karena aku ingin seperti ini dulu. Setidaknya, aku masih bisa memeluk dan menciummu kapanpun aku mau tanpa harus merasa tersisihkan," ujar pria bermata cokelat terang tersebut.


"Kamu takut merasa tersaingi oleh seorang anak kecil?" Binar menautkan sepasang alisnya.


"Tentu saja. Aku yakin jika setelah punya anak nanti, perhatianmu akan tercurah jauh lebih banyak pada anak kita. Seorang anak yang lucu dan menggemaskan, tentunya  akan jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan pria mata keranjang sepertiku," celoteh Arsenio dengan ekspresi yang terlihat sedikit konyol.

__ADS_1


Mau tak mau, Binar pun akhirnya tersenyum meski segera dia sembunyikan dan kembali memasang wajah merajuk. "Ya, kamu benar. Namun, anak kecil yang lucu itu tidak akan pernah ada di dunia ini, andai kamu tidak ada di dekatku," ujar Binar. "Kamu yang berjasa menghadirkan dia, karena aku ... aku hanya ...." Binar tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia merasakan sesuatu yang mengganjal di belakang tubuhnya. Wanita muda itu pun memalingkan wajah karena merasa malu.


Sementara Arsenio hanya tersenyum kalem saat melihat sikap sang istri. "Menurut Dwiki, ruangan ini sudah dilengkapi dengan peredam. Aku jadi ingin membuktikannya," goda pria itu dengan tangan yang mulai bergerak nakal, menelusup masuk ke dalam blouse yang Binar kenakan. Perlahan dan dengan gerakan yang sangat lembut, Arsenio mere•mas sesuatu di dalam sana yang membuat Binar semakin merapatkan punggungnya dengan dada pria itu.


"Rain ...." desah Binar tertahan, ketika suaminya yang tampan mulai menjalarkan ciuman pada telinga dan leher. "Aku belum mandi ...." Ucapan Binar kembali tertahan, ketika satu tangan Arsenio telah berada di balik rok plisket warna ungu yang dia kenakan. Hingga beberapa saat, adegan itu terus berlangsung.


Setelah merasa puas, Arsenio kemudian membalikkan tubuh Binar sehingga jadi menghadap padanya. Dia lalu mengangkat dan mendudukkan sang istri di sebelah wastafel. Dengan segera, Arsenio mencium mesra bibir tanpa polesan lipstik itu. Rasanya begitu segar, terlebih karena mereka baru selesai menggosok gigi. Pertautan yang awalnya terasa begitu manis, makin lama berubah menjadi semakin panas. Dua sejoli itu pun terbakar karenanya.


Merasa kepanasan, Arsenio pun melepaskan ciuman di antara mereka untuk sejenak. Tanpa diminta, Binar segera membantunya membuka kancing kemeja satu per satu, kemudian melepaskan pakaian warna biru langit itu.


Ini bukan kali pertama Binar melihat tubuh tegap, dengan lekukan-lekukan tegas nan kuat dari diri pria yang telah menjadi suaminya. Namun, kekaguman itu akan selalu hadir setiap kali dia menyentuh setiap inci dari tubuh atletis tersebut. Sementara Arsenio sendiri sibuk menurunkan resleting belakang, dari blouse yang Binar kenakan.


"Mari kita bermain air," bisik Arsenio. Suara beratnya terdengar seperti sebuah godaan dari setan terhadap manusia dengan iman yang lemah. Binar pun tak mampu menolak. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher pria tampan itu, ketika si pria mulai mengangkat serta menggendong ke dalam shower box kaca. Setelah berada di dalam, barulah tubuh ramping tadi diturunkan.


Binar berdiri dengan wajah yang penuh harap, ketika Arsenio mulai menurnkan rok yang masih dia kenakan. Setelah wanita muda itu benar-benar polos, barulah pria tadi melepas celana panjangnya.

__ADS_1


Guyuran air dari dalam shower, kini telah membasahi sepasang suami istri itu. Segarnya air yang keluar dan tercurah bagai hujan, ternyata tak mampu mendinginkan hawa panas yang terus bergejolak dalam diri mereka. Bukannya merasa semakin tenang, mereka justru kini terlihat kian liar. Adegan panas itu pun terjadi, sehingga menghadirkan de•sahan-de•sahan yang berbaur dengan suara gemericik air.


Untuk beberapa saat, shower box kaca tadi menjadi saksi bisu seberapa hebat seorang Arsenio dalam menaklukan lawan jenisnya. Walaupun kini dia telah mengalami pergeseran karakter, tapi caranya dalam memperlakukan wanita tetap sama. Arsenio akan selalu menjadi pria yang hangat dan penuh hasrat, meski kini hanya dia lampiaskan terhadap satu wanita, yaitu Binar sang istri tercinta.


Beberapa saat telah berlalu. Keduanya sudah keluar dari dalam kamar mandi. Binar berdiri di depan cermin bulat yang menempel pada dinding. Tubuh wanita muda itu masih terlihat lembap, dengan butiran-butiran air yang belum diseka benar menggunakan handuk. Sedangkan rambut panjangnya pun terlihat basah.


Binar menatap wajahnya lewat pantulan cermin tadi. Dia lalu tersenyum, ketika Arsenio muncul dan memeluknya dari belakang. Pria itu pun sama saja. Tubuhnya hanya ditutupi dengan handuk putih yang melilit di pinggang.


"Kenapa lagi? Apa masih kurang?" bisik Arsenio kembali menggoda sang istri. Dia kembali menciumi pundak serta leher wanita muda tersebut. Sementara kedua tangannya melingkar di perut Binar.


"Aku berusaha untuk memahami segala alasan yang telah kamu kemukakan tadi. Sepertinya, apa yang kamu katakan memang benar. Aku juga tak ingin jika anak kita harus ikut merasakan perjuangan berat ini," ucap Binar seraya tersenyum manis. "Jangan khawatir. Aku tak akan pernah mengabaikan pria setampan dan sehebat ini." Binar mencubit pipi Arsenio dengan gemas, membuat pria itu menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan dengan ekspresi tak percaya.


"Astaga, aku suka Binar yang sekarang. Kamu sudah tak malu-malu lagi. Aku tak keberatan, dan justru merasa senang. Namun, ingat satu hal! Kamu hanya boleh bersikap nakal padaku saja," pesan Arsenio dengan wajah yang dibuat seserius mungkin. Akan tetapi, rupanya dia gagal membuat Binar merasa takut, karena wanita muda itu jusru malah tertawa geli.


"Beritahu aku tentang sesuatu," pinta Binar manja.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Arsenio.


"Apakah pria Jerman itu tampan-tampan?" tanya Binar.


__ADS_2