
Binar tergagap. Dia tak segera menjawab pertanyaan Arsenio. Batinnya berperang antara mengatakan yang sebenarnya ataukah tidak. Dia sadar bahwa cepat atau lambat sang suami pasti akan mengetahui tentang kehamilannya. Terlebih jika perutnya sudah semakin membesar. “Itu … itu hanya vitamin untuk tubuh,” jawab Binar pelan. "Dokter mengatakan bahwa aku membutuhkan suplemen sebagai penunjang daya tahan tubuh," jelasnya lagi.
“Kalau begitu, kenapa tidak segera ditebus?” tanya Arsenio lagi keheranan. “Apakah uang harian yang kuberikan tidak cukup untuk membeli obat? Kenapa tidak meminta lagi jika memang jumlahnya kurang?”
“A-aku … tidak bukan begitu. Maksudku ... aku lupa.” Binar makin tergagap. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.
“Sayang." Arsenio mengempaskan napas pelan, lalu merengkuh tubuh ramping Binar. “Jangan pernah ragu untuk meminta apapun padaku. Segalanya akan kulakukan untuk memenuhi semua keinginanmu, karena ini memang tugas dan kewajiban sebagai suami. Walaupun hidupku tak karuan, tapi aku selalu ingat dengan semua nasihat dari mama dan papaku," tuturnya lembut.
“Rain.” Rasanya semakin menumpuk rasa bersalah Binar, sehingga wanita muda itu memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya jika mereka tiba di Frankfurt nanti. “Nanti kita membeli obatnya di apotik di Frankfurt saja, bagaimana?" tawar Binar, meski ada keraguan yang sangat besar dalam hatinya.
"Baiklah. Lagi pula, sekarang kita harus segera berangkat. Teman-temanku sudah menunggu di stasiun,” ujar Arsenio seraya membelai lembut pipi Binar kemudian mengecup bibirnya untuk beberapa saat. Andai masih ada waktu, dia mungkin akan meminta jatah terlebih dahulu kepada sang istri. Namun, karena saat itu mereka sedang terburu-buru, Arsenio pun harus rela menahan 'sang adik' agar tak berontak dan melarikan diri.
Selang beberapa saat, sepasang suami istri itu sudah tiba di stasiun yang menjadi tempat berkumpulnya tim kerja Arsenio. Mereka diperkenalkan kepada Binar satu per satu. Mereka pun melancarkan berbagai candaan pada suami istri tersebut yang membuat Arsenio merasa ketar-ketir. Dia takut jika ada dari mereka yang menyinggung tentang Agatha. Namun, untungnya selama perjalanan tiga jam dari Berlin menuju Frankfurt, dapat Arsenio lalui dengan lancar.
Setibanya di kota tujuan, tim arsitek itu telah disediakan mobil jemputan khusus yang akan membawa semuanya menuju ke hotel tempat mereka menginap. Berhubung Arsenio membawa Binar, maka dia mendapat kamar terpisah dengan rekan-rekannya. Hal itu kembali menjadi bahan candaan dari teman-teman satu tim Arsenio. Namun, pria tampan tersebut memilih untuk segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Besok kami akan menyurvei lokasi. Namun, berhubung ini urusan pekerjaan, jadi sepertinya aku tidak bisa mengajakmu. Kamu tidak masalah bukan jika kutinggal di sini?" Arsenio melirik Binar yang berdiri di sampingnya. Saat itu mereka tengah sama-sama menggosok gigi.
"Tidak apa-apa. Kuharap kamu tidak pergi terlalu lama," sahut Binar. Dia balas menoleh kepada sang suami, seraya tersenyum manis. "Itu berarti, malam ini kita akan tidur lebih awal, ya?" Pertanyaan Binar menyiratkan sesuatu yang perlu dicerna terlebih dahulu oleh Arsenio.
__ADS_1
Sesaat kemudian, pria tampan tersebut tampak berpikir. Namun, tanpa diduga dia segera membopong tubuh Binar dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi. "Kata siapa kita akan tidur lebih awal?" ujar Arsenio yang telah menurunkan Binar di atas kasur dalam posisi telentang. Sementara dia sendiri berada di atas tubuh sang istri.
"Memangnya kamu tidak takut bangun kesiangan besok?" Binar memasang wajah manja yang terlihat sangat lucu, sehingga membuat Arsenio begitu gemas padanya.
"Aku rasa dua ronde tak akan membuatku bangun kesiangan," sahut pria itu seraya menyeringai. Tanpa ampun, dia langsung saja mencumbui tubuh Binar yang saat itu tak melakukan penolakan sama sekali. Seperti yang Arsenio katakan sebelumnya, dia benar-benar meminta jatah sebanyak dua kali pada malam itu. Setelah permainan panas tersebut, mereka pun tertidur dengan pulas.
Keesokan paginya, seperti biasa Arsenio bangun lebih awal dari Binar. Pria itu bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi kemudian bersiap-siap. Sementara Binar masih terlelap dan tentu saja tidak berpakaian sama sekali. Selimut yang menutupi tubuh polosnya pun bahkan tersingkap, dan membuat Arsenio berdecak pelan. Dia yang telah berpakaian rapi dengan kemeja putihnya, tak bisa berbuat apa-apa meskipun melihat 'hidangan' menggugah selera di depan mata.
"Sayang, bangunlah." Arsenio duduk di tepian tempat tidur. Dia lalu membelai lembut rambut sang istri yang masih saja tertidur lelap. Arsenio pun kemudian mengecup pipi Binar dengan mesra. "Hei, ayo bangun," bisiknya tepat di dekat telinga sang istri. Iseng, pria itu mencium daun telinga Binar juga menjilatinya, sehingga wanita muda itu pun akhirnya menggeliat pelan.
"Kamu mengganggu sekali, Rain," ucap Binar parau. Sementara matanya masih terpejam.
"Astaga, Rain!" Binar yang merasa terganggu, akhirnya memaksakan diri untuk segera bangun. Hingga beberapa saat, dia hanya termenung sambil menguap dan mengucek matanya. Rambut panjang Binar pun tampak begitu acak-acakan. Setelah kesadarannya terkumpul dengan sempurna, wanita muda itu baru menyadari bahwa dia masih dalam keadaan telanjang bulat. "Ya, Tuhan!" pekiknya pelan.
"Karena itulah aku tak akan pergi sebelum kamu berpakaian. jika masih mengantuk, kamu bisa lanjutkan lagi tidur sampai siang," ucap Arsenio sembari merapikan kembali kemejanya, kemudian memakai parfume.
Binar yang memperhatikan perawakan serta penampilan sang suami meski dari belakang, tetap saja merasa terpana dengan sosok tampan tersebut. Dia pun segera turun dari tempat tidur, kemudian mendekap Arsenio dengan erat. Binar membenamkan wajahnya yang hanya sebatas pundak pria berpostur tinggi dan tegap tersebut.
"Aku suka jika melihatmu sepanjang hari seperti ini. Namun, sayangnya sekarang kita bukan sedang berbulan madu," ujar Arsenio seraya tertawa pelan. "Bagaimana jika kita lanjutkan nanti malam?" tawarnya dengan sebuah senyuman nakal yang tampak dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Aku ingin bercinta lagi denganmu nanti malam, dan kamu tidak boleh beralasan apapun," tegas Arsenio seraya membalikkan tubuhnya. Dia lalu merengkuh pinggang Binar, kemudian mengecup kening serta bibir sang istri. Arsenio juga sempat mencium bagian-bagian lain yang menjadi kesukaannya.
"Astaga kamu ini, Rain!" protes Binar yang merasa risih.
Namun, Arsenio malah terkekeh geli. Dia lalu mencubit pangkal hidung Binar. "Ayo cepatlah berpakaian, jika tak ingin membuatku terlambat ke lokasi proyek," suruhnya. Mau tak mau Binar pun menurut. Dia mengenakan pakaian satu per satu, hingga tubuh polosnya sudah tertutup dengan sempurna.
"Nah, itu jauh lebih baik," ucap Arsenio yang kembali mengecup kening sang istri dengan mesra. "Sepertinya hari ini kami hanya akan meninjau lokasi. Namun, aku juga belum bisa memastikan akan pulang jam berapa. Masalahnya, aku juga tidak tahu jarak tempuh dari hotel ke sana memakan waktu berapa lama," tutur Arsenio menjelaskan.
"Tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja," sahut Binar mencoba menghilangkan sedikit dari rasa was-was Arsenio, karena meninggalkannya sendirian di kamar hotel.
"Baiklah. Nanti setelah aku pulang, kita akan ke apotik untuk menebus resep. Oh ya, apa semalam kamu tidak minum pil penunda kehamilan?" tanya Arsenio heran.
.
.
.
Sambil menunggu jawaban mbak Binar, mampir dulu yuk di karya keren yang satu ini 👇
__ADS_1