
Dwiki berdiri dengan spontan. Tanpa memedulikan apapun, dia bergegas mengejar Winona yang sudah menuruni tangga, dan hampir memasuki mobilnya. Dengan segera, pria berambut agak gondrong itu meraih pergelangan tangan Winona, untuk mencegahnya agar tidak segera pergi. "Tunggu, Win."
Winona tertegun. Dia lalu menoleh. Wanita muda itu menatap tajam penuh kemarahan pada Dwiki. Pria yang selama ini telah membuat dia banyak tersenyum dan merasa terhibur, kenyataannya hanyalah seorang penipu. Dengan segera, Winona berusaha untuk melepaskan genggaman tangan pria itu dari pergelangan tangannya. "Lepaskan!" sentak putri Biantara Sasmita tersebut.
"Tidak akan sebelum kamu dengarkan dulu penjelasanku," tolak Dwiki.
"Penipu! Kamu sama saja dengan kedua pria yang ada di dalam sana! Aku tidak sudi lagi melihat wajahmu. Mulai besok, kamu tidak perlu kembali ke rumahku!" Winona berkata dengan penuh amarah. Rasa kecewa yang teramat besar terhadap Dwiki, membuat wanita cantik berambut panjang itu kehilangan kendali. Winona menarik tangannya dengan paksa dari dalam genggaman Dwiki.
"Tolonglah dengarkan dulu penjelasanku," pinta Dwiki yang bermaksud hendak kembali meraih tangan Winona. Namun, wanita muda itu bergerak dengan refleks menampik tangan Dwiki. Gerakannya pun terlalu kencang dan kuat, sehingga punggung tangan mantan tunangan Arsenio tersebut berakhir di pipi sebelah kanan Dwiki.
Winona pun tersentak karena hal itu. Dia segera menarik kembali tangannya. Tanpa banyak bicara lagi, wanita berpostur semampai tersebut bergegas masuk ke dalam kendaraan.
"Win! Wini!" Dwiki tak peduli dengan tamparan tadi. Dia menggedor kaca jendela mobil yang sudah tertutup rapat. Dia tak putus asa untuk membujuk sang nona, yang kini begitu murka terhadap dirinya.
Akan tetapi, Winona tak menggubris sama sekali. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun, hingga kendaraan mewah yang ditumpanginya mulai bergerak meninggalkan halaman depan rumah Dwiki. Sementara Dwiki sendiri hanya dapat berdiri terpaku, menatap kepergian Winona yang makin lama semakin menjauh dan akhirnya tak terlihat sama sekali.
Tanpa Dwiki ketahui, seluruh adegan tadi disaksikan oleh Arsenio dan juga Ajisaka. Kedua pria itu berdiri di dekat pintu masuk. Sesaat kemudian, Ajisaka beranjak turun ke halaman dan menghampiri sang sepupu yang tampak kacau. Dia lalu menyentuh pundak Dwiki. Namun, dengan segera pria itu menggerakkan bahunya sebagai tanda penolakan.
__ADS_1
"Sudahlah, kenapa harus terlalu dipikirkan. Lagi pula, semua bukti sudah didapatkan. Itu artinya, kamu tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sopir pribadi Winona," ujar Ajisaka tenang. Dia tak tahu seperti apa pergolakan batin yang sedang dialami oleh seorang Dwiki, akibat kejadian tadi.
"Ini bukan tentang bukti-bukti ataupun pekerjaanku sebagai sopir," bantah Dwiki datar.
"Lalu?" Ajisaka. tertawa pelan dengan nada mencibir. "Jangan katakan jika kamu jatuh cinta dengan wanita sombong, angkuh, dan sok menjadi penguasa itu," ujarnya tanpa memikirkan dampak dari ucapannya barusan.
Dwiki yang saat itu sedang merasa kalut, segera berbalik kepada sang sepupu yang telah sekian lama tidak dirinya temui. Namun, tak ada raut bersahabat seperti yang biasa terlihat dan menjadi ciri khas ajudan kepercayaan Arsenio tersebut. "Jaga bicaramu, Ji!" sentak Dwiki dengan tiba-tiba. Telunjuk pria itu lurus di depan wajah maskulin Ajisaka yang hanya bergeming. "Kamu tidak mengenal sisi lain dari Winona! Karena itu, kamu tidak berhak berbicara buruk tentangnya!" Dwiki mendorong pelan bahu sepupunya.
"Jatuh cinta ternyata membuatmu menjadi buta dan bodoh, Ki!" balas Ajisaka tak mau kalah. Ucapannya telah membuat Dwiki yang hendak menaiki tangga menuju teras, segera menghentikan langkah. Dwiki kembali menoleh. Sedangkan Ajisaka berjalan mendekat kepada sepupu yang berusia tiga tahun lebih muda darinya.
"Kita semua tahu seperti apa Winona!" tegas Ajisaka. "Kamu tidak perlu memberikan pembelaan apapun untuk wanita iblis seperti dia ...."
Melihat posisi Dwiki yang belum pada sikap siaga, Ajisaka hendak kembali menambah serangan dengan sebuah pukulan. Tangannya yang sudah terkepal sempurna dengan cincin batu akik pada jari tengah, hampir saja mendarat di wajah Dwiki andai tak segera ditahan oleh Arsenio.
"Apa-apaan kalian?" tegur Arsenio dengan tegas, seraya menatap kepada dua sepupu itu secara bergantian. "Apa yang membuat kalian sampai harus berkelahi seperti ini? Kekanak-kanakan!"
"Saya hanya mencoba memperingatkan Dwiki agar tidak bersikap bodoh, Bos," sahut Ajisaka membela diri.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan kata-katamu yang menghina Winona!" tunjuk Dwiki tak mau kalah. Mereka hampir kembali adu jotos, andai Arsenio tak bertindak tegas.
"Kalian berdua! Masuk!" tegas putra sulung Lievin tersebut. Arsenio kemudian berbalik dan menaiki tangga menuju teras. Sementara Dwiki mendengus kesal, begitu juga dengan Ajisaka. Sekilas, pria itu sempat melihat tetangga depan rumah Dwiki yang keluar dan melihat perkelahian mereka. Namun, Ajisaka tak ambil pusing. Dia segera menaiki anak tangga menuju teras, lalu kembali ke dalam rumah.
Di dalam sana, tampak Arsenio yang sudah duduk di kursi bersama Dwiki. Pria itu masih terlihat kacau dengan wajah tak bersahabat sama sekali. Ajisaka pun ikut duduk di sebelah sang sepupu.
"Kalian salah jika berpikir bahwa Winona adalah wanita berhati iblis. Selama ini, dia bersikap baik dan juga manis. Dia bahkan bercerita banyak hal padaku. Salah satunya adalah tentang segala rasa sakit yang ...." Dwiki tak melanjutkan kalimatnya. Bagaimanapun juga, dia masih sangat menghargai seorang Arsenio sebagai bos dan dewa penolong bagi dirinya.
"Winona adalah korban dari keadaan. Sementara Biantara Sasmita bertindak seperti itu, karena dikuasai kemarahan atas apa yang terjadi pada putri semata wayangnya. Bukan maksud hendak membela, atau membenarkan apa yang sudah dia lakukan terhadap perusahan pak Lievin dan milik Anda, Bos. Aku hanya menemukan sisi lain dari Winona yang mungkin tidak Anda ketahui."
"Apa Anda tahu seberapa cantiknya dia saat tertawa lepas tanpa beban? Apa Anda pernah mengusap air matanya saat dia menangis? Apakah Anda pernah bercerita sesuatu yang menyenangkan dengannya, selain tentang bisnis dan kontrak kerja? Jawabannya Anda sendiri yang tahu. Karena itulah, kurasa jalan damai akan jauh lebih baik." Dwiki lalu beranjak dari duduknya. "Satu lagi, Bos. Mungkin sebaiknya Anda meminta maaf secara pribadi kepadanya. Tentu saja, permintaan maaf ala seorang pria sejati."
Seusai berkata demikian, Dwiki lalu beranjak meninggalkan Arsenio dan Ajisaka yang masih sama-sama terdiam. "Jangan lupa tutup kembali pintunya jika kalian akan pulang!" ujar Dwiki dengan cukup nyaring, ketika dia sudah berada di ambang pintu kamar. Setelah itu, pria yang dalam beberapa hari kemarin pernah menjadi sopir pribadi Winona pun menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
Sementara itu, tak ada percakapan apapun lagi di antara Arsenio dan Ajisaka, hingga mereka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, Arsenio tampak memikirkan segala ucapan Dwiki yang dianggap sebagai teguran keras. Niat Arsenio untuk mengambil jalan damai pun kian bulat.
"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Bos?" tanya Ajisaka.
__ADS_1
"Menemui om Biantara."