
Seorang pria tampan dengan rambut gelap dan mata yang tak kalah indah dari Arsenio, berdiri saat Anggraini mengarahkan tangan kepadanya. "Dia adalah Fabien Pieter Rainier. Putra bungsu di keluarga kami. Fabien baru datang dari Jerman. Dia akan di sini selama kurang lebih satu minggu, sebelum melaksanakan tur keliling Eropa bersama bandnya," terang Anggraini dengan bangga, saat memperkenalkan adik dari Arsenio tersebut.
Fabien tersenyum lebar. Pria berusia dua puluh lima tahun itu memang memahami sedikit tentang bahasa Indonesia, meskipun kaku saat mengucapkannya.
"Apakah Fabien mengerti dengan obrolan kita?" celetuk Chand sambil melayangkan senyumannya kepada pria muda itu.
"Tentu saja, Chand," jawab Fabien dengan segera. "Sedikit," ucapnya lagi disambut tawa semuanya kecuali Arsenio. Pria itu sibuk memainkan garpu di atas meja, dengan tatapan yang tak lepas dari paras cantik gadis berbaju biru langit tadi. Apalagi, sesekali si pemilik wajah cantik itu membalas tatapannya dengan sebuah lirikan manis nan malu-malu.
Seperti itulah Arsenio setelah dirinya mengenal sosok Binar. Tak berhadapan secara langsung pun, dia masih tetap memikirkan gadis tersebut. Apalagi jika yang mengisi benaknya tadi benar-benar ada di depan mata, maka sudah pasti tak ada apapun yang mampu untuk mengalihkan perhatiannya.
"Sayang, ini adalah Nirmala. Dia kekasihnya Chand," ucap Anggraini lagi memperkenalkan Binar kepada Fabien. Sebuah kata yang paling Arsenio benci, 'kekasih Chand'. Ingin sekali dirinya membantah hal itu dengan tegas lalu mengatakan bahwa Binar sesungguhnya milik dia seorang, meskipun Arsenio sendiri terikat pertunangan dengan Winona. Namun, dia belum bisa melakukannya untuk saat ini. Pria tampan itu pun hanya mengempaskan napas pelan.
"Oh, Nirmala. Mooi meisje met een hele mooie naam (Gadis cantik dengan nama yang sangat indah)," sanjung Fabien kalem. Sebuah kalimat berbahasa Belanda yang sangat dipahami oleh Arsenio. Pria itu hanya menanggapinya dengan menggaruk kening. Dia berharap semoga Binar bukan merupakan tipe gadis idaman sang adik.
Sementara Binar yang tak tahu arti dari ucapan Fabien tadi, hanya menautkan alisnya serta memasang mimik menggemaskan. Hal itu membuat Arsenio ingin segera membawanya dari sana, dan mengulangi adegan beberapa malam yang lalu saat di apartemen.
"Nirmala tidak mengerti apa yang Fabien ucapkan. Kapan-kapan ajarilah dia bahasa kita, Sayang," ujar Lievin dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak begitu bahagia, karena putra kesayangannya ada di antara mereka. Intinya, acara sarapan bersama tersebut dihiasi dengan senyum dan tawa kebahagiaan. Mereka saling melempar obrolan yang sesekali disisipi gurauan, membuat Lievin yang memang senang bercanda merasa semakin ceria.
Sementara Arsenio dan Binar lagi-lagi saling mencuri pandang. Tatapan nakal si pemilik rambut cokelat tersebut, selalu saja membuat Binar tersipu malu dan lebih memilih mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang lain.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan, Mal?" tanya Anggraini kemudian. Dia kembali menanyakan masalah pekerjaan yang ditawarkan kepada Binar.
"Sudah, Tante," jawab Binar lembut dan selalu disertai senyuman manis, yang ternyata juga berhasil menarik perhatian seorang Fabien. Adik kandung Arsenio tersebut melakukan hal yang sama dengan sang kakak. Mencuri pandang terhadap gadis cantik itu.
"Lalu, apa keputusan kamu?" tanya Anggraini lagi setelah mereka menyudahi sarapan, tapi belum meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Binar tak segera menjawab. Dia menoleh kepada Chand yang sejak tadi terlihat kalem. Setelah itu, Binar lalu melirik Arsenio yang segera memberikan isyarat dengan matanya agar dia mengatakan 'iya'. "Saya setuju, Tante," jawab Binar masih dengan nada bicaranya yang lembut tapi terdengar begitu yakin.
"Oh syukurlah," ucap Anggraini lega. "Kalau begitu, kamu bisa 'kan mulai bekerja membantu Tante mulai dari hari Senin besok?" tanya wanita itu dengan sorot yang sedikit berharap.
"Bisa, Tante," jawab Binar lagi.
"Oh baiklah. Nanti akan kita bicarakan lagi segala sesuatunya dengan lebih detail sambil merangkai bunga. Bagaimana?" tawar Anggraini. Raut serta tutur kata yang hangat dan juga ramah, membuat Binar tak kuasa untuk menolaknya. Lagi-lagi, gadis itu pun mengangguk setuju.
"Oh ya, Nirmala. Apa kamu masih menempati apartemen bekas Prajna?" Lievin yang sejak tadi berbincang dengan para pria di meja makan itu, tiba-tiba bertanya kepada Binar.
"Masih, Om. Saya belum sempat mencari tempat tinggal baru," sahut Binar mengalihkan pandangan kepada pria asal Belanda tadi.
"Saya tidak mengizinkan Nirmala untuk tinggal di tempat lain yang belum teruji keamanannya," timpal Chand. "Nirmala masih baru di Jakarta. Dia belum terlalu mengenal kota ini dengan baik," ucapnya lagi menunjukkan rasa perhatian yang besar kepada Binar.
"Ya, itu benar sekali. Akan tetapi, jarak dari sana kemari lumayan memakan waktu, terlebih dengan lalu lintas di kota ini yang ... yeah ... you know what i mean," ujar Lievin lagi.
"Aku rasa itu ide yang sangat bagus. Waktu adalah uang. Sayang sekali jika harus dibuang percuma dalam kemacetan jalanan," ujarnya yang sangat setuju dengan ucapan Anggraini.
"Arsen benar. Aku setuju dengannya," timpal Lievin, "lagi pula, di rumah kita ada banyak kamar tamu yang kosong. Dengan tinggal di sini, itu jelas akan memudahkan mobilitas kalian berdua. Lagi pula, Chand juga belum tentu bisa selalu mengantarmu setiap waktu."
Sementara Binar tak segera menanggapi. Dia menoleh kepada Chand dan seakan hendak meminta pendapat dari duda tampan tersebut. Chand pun paham dengan makna dari sorot mata Binar. Pria itu berpikir untuk sejenak. "Aku memberi kebebasan sepenuhnya kepada Nirmala untuk mengambil keputusan. Dia yang akan menjalani, jadi pilihlah apapun yang dirasa nyaman," ujar Chand yang kembali membalas tatapan Binar, setelah sempat mengalihkan pandangan kepada Lievin dan Anggraini.
"Itu artinya Chand setuju," putus Arsenio tanpa basa-basi lagi, "lagi pula, apa yang papa katakan memang benar. Kita semua tahu seberapa sibuk tuan Chand Fawwaz Gunadya." Sebuah senyuman puas terlukis di sudut bibirnya. Sangat berlainan dengan Chand yang menanggapi dengan senyum penuh keterpaksaan.
Seusai sarapan, Anggraini kemudian mengajak Binar ke bagian lain taman. Sedangkan para pria sibuk dengan perbincangan mereka, dan tak juga meninggalkan meja makan. Ketiganya masih terlihat asyik di sana.
Binar memperhatikan ibunda Arsenio yang tengah memotong tangkai mawar serta beberapa jenis bunga lainnya yang dia tanam di sana. Wanita itu tampak begitu cekatan.
__ADS_1
"Tante sering melakukan itu sendiri?" tanya Binar berbasa-basi.
"Ya. Tante senang berkebun sejak lama, dan bunga merupakan pilihan yang paling tepat untuk menghilangkan rasa penat," jawabnya tanpa menoleh kepada gadis itu. Dia meletakkan tangkai-tangkai bunga yang telah dipotong tadi, ke dalam keranjang yang dipegang oleh Binar hingga terkumpul banyak dan memenuhi wadah dari anyaman rotan tersebut.
"Permisi, Nyonya. Ada tamu untuk Anda," lapor seorang pelayan yang menghampiri kedua wanita beda generasi itu.
"Siapa?" tanya Anggraini seraya melepas sarung tangan karet yang dia kenakan, lalu meletakkannya bersama gunting.
"Bu Hapsari," jawab si pelayan tadi.
"Hapsari?" ulang Anggraini. "Kenapa mendadak sekali?" pikirnya. Sesaat kemudian, wanita dengan penampilan elegant itu menoleh kepada Binar. "Tante tinggal dulu sebentar ya. Kamu tunggu saja di sana," tunjuknya pada satu set kursi rotan berwarna putih yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah berkata demikian, Anggraini pun berlalu dengan diiringi sang pelayan.
Sementara Lievin dan Fabien tampaknya sudah masuk. Mereka meninggalkan Arsenio berdua saja dengan Chand. Namun, pikiran nakal Arsenio seketika muncul saat melihat Binar yang duduk sendiri dengan bunga-bunga cantik di hadapannya. "Aku tinggal sebentar," pamitnya seraya beranjak dari duduk. Dia tak peduli meskipun Chand terus memperhatikan langkahnya yang tengah menuju ke arah Binar berada.
"Hai, Cantik," sapa Arsenio yang seketika membuat Binar tersentak. "Aku ingin menyapamu sejak tadi, untuk mengatakan bahwa diriku menyukai warna biru langit," rayu pria tampan itu lagi dengan senyuman penuh godaan yang memesona. Namun, Binar tak berani menanggapi sikap nakal Arsenio. Gadis cantik tersebut lebih memilih untuk kembali merapikan tangkai-tangkai bunga yang telah dipetik tadi.
Arsenio tersenyum kalem sambil terus berdiri di sebelah kursi tempat Binar berada. "Mulai hari Senin besok, kita akan lebih sering bertemu. Aku pasti sangat menikmati hal itu," ucapnya lagi. Dia mengambil setangkai mawar yang telah dibuang durinya dan dirapikan oleh Binar. Tanpa ragu, pria tampan dengan kemeja hitam tersebut menyelipkan mawar tadi di dekat telinga gadis itu. "Bunga mawar ini tak jauh lebih cantik dan wangi darimu," rayunya setengah berbisik, membuat Binar semakin tak sanggup untuk berkata-kata.
Binar setengah mendongak padanya. Dia ingin membalas perlakuan manis Arsenio tadi, tapi yang dapat dilakukannya saat itu hanya tersenyum. Apalagi, dia melihat Chand yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sedangkan Arsenio hendak kembali mengeluarkan rayuan mautnya. Namun, suara dering ponsel menghentikan dia untuk melakukan hal itu. Terlebih, karena nama Dwiki yang muncul sebagai pemanggil.
.
.
.
Santai dulu, teman2.. Mampirlah sejenak di karya keren yg satu ini 😍
__ADS_1