
Setelah insiden pembunuhan yang menimpa Anggraini, sosok Haris tiba-tiba menghilang. Dia bahkan tak datang lagi ke kantor, tanpa ada alasan yang jelas. Pria itu seperti hilang di telan bumi secara tiba-tiba.
Hal tersebut semakin menguatkan dugaan, bahwa Haris merupakan dalang di balik insiden berdarah beberapa waktu yang lalu. Namun, Asenio masih terus mencari tahu apakah Bayu juga terlibat dalam hal itu atau tidak. Untuk meyakinkan semua dugaan, putra sulung Lievin tersebut mengajak Dwiki berunding.
Sementara Ajisaka masih melakukan penjagaan ketat terhadap Binar, yang belum diizinkan keluar.
“Saya akan menyelidiki Bayu. Berhubung dia merupakan pegawai Pak Lievin, seharusnya data-data pribadinya ada di bagian HRD.” Dwiki menyodorkan kotak rokok pada Arsenio.
Suami Binar itu pun mengambil sebatang. Tanpa diminta, Dwiki segera membantu menyulut gulungan tembakau berfilter yang telah berada di bibir sang bos. Asap tipis mengepul. Kedua pria beda negara itu berdiri sejajar, sambil menyandarkan sebagian tubuh pada kap depan mobil.
“Ajisaka sudah melakukan hal itu. Dia menyelidiki sambil menjaga Binar di rumah,” ucap Arsenio yang kini menjepit rokoknya di antara jari tengah dan telunjuk. Putra sulung Lievin tersebut masih tampak sangat berduka. Raut wajahnya yang tampan menjadi begitu kacau. “Astaga,” desah Arsenio pelan. “Sulit dipercaya bahwa aku baru saja menghadiri pemakaman mama. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, Ki.”
“Kita akan segera menyeret para pelakunya, Bos. Jangan khawatir. Bu Anggraini pasti akan mendapatkan keadilan atas nyawanya yang melayang sia-sia.” Dwiki melirik sejenak kepada Arsenio yang masih melihat ke depan dengan tatapan menerawang.
Setelah acara pemakaman Anggraini selesai, Arsenio dan Dwiki tak langsung pulang. Mereka memilih untuk berbincang di luar area pemakaman, hingga langit senja menaungi ibukota.
“Terus terang saja bahwa saat ini aku belum bisa berpikir dengan jernih. Akan tetapi, makin cepat kita menyelesaikan kasus pembunuhan mama, maka akan semakin baik. Aku ingin semuanya segera usai. Terlebih karena tak lama lagi Binar akan melahirkan.” Arsenio kembali mengisap rokoknya.
“Bayu. Kita akan memulai semuanya dari dia. Jika Haris menghilang, maka pria itu harapan kita satu-satunya untuk saat ini. Namun, sebisa mungkin kita harus membuat asisten Pak Lievin tersebut agar tetap nyaman dan tidak merasa terancam.” Dwiki menjatuhkan sisa rokoknya yang tinggal sedikit.
Dia mematikan rokok yang masih mengepulkan asap tadi dengan kaki hingga benar-benar padam. “Saya akan segera bergerak, Bos.” Dwiki menegakkan tubuh. Dia memandang Arsenio untuk sejenak. “Sebaiknya Anda segera pulang. Bu bos pasti sangat khawatir saat ini,” saran pria yang sudah resmi menjadi kekasih Winona.
Arsenio mengangguk pelan. Dia juga ikut menegakkan tubuh. Dirogohnya ke dalam saku celana. Arsenio mengambil kunci mobil dari sana. “Lakukan semuanya dengan baik,” pesan pria bermata cokelat terang itu seraya menepuk pelan lengan Dwiki. Sesaat kemudian, putra sulung Lievin tersebut segera masuk ke mobil, dengan diiringi tatapan sang ajudan kepercayaan yang masih berdiri si tempatnya.
Dwiki sendiri akan pulang dengan mengendarai motor klasik kesayangan.
__ADS_1
Sepeninggal Arsenio, Dwiki segera mengirimkan pesan kepada Ajisaka. Dia meminta alamat tempat tinggal Bayu.
Setelah mendapat balasan dari sepupunya tersebut, Dwiki pun bergegas menaiki Honda CB Gelatik yang terparkir tak jauh dari tempat dia berada. Kendaraan roda dua itu pun melaju meninggalkan area pemakaman keluarga besar Anggraini.
Tak sulit bagi Dwiki untuk menemukan alamat yang diberikan oleh Ajisaka. Tanpa melepas helm, pria itu mengawasi rumah yang merupakan tempat tinggal Bayu, asisten pribadi Lievin.
Dwiki lalu melihat rumah di dekat tempat tinggal Bayu. Di sana tertempel plang dengan tulisan ‘Dikontrakkan’. Sesaat kemudian, Dwiki pun mencari tempat yang lebih aman, agar tak menimbulkan kecurigaan dari warga. Dia membeli rokok di warung yang terhalang beberapa rumah dari kediaman Bayu.
“Saya sedang mencari rumah yang dikontrakan per bulan. Kira-kira di sini ada tidak ya, Bu?” tanya Dwiki setelah menyulut rokoknya.
“Oh, untuk rumah biasanya per tahun, Mas. Jarang yang dibayar per bulan. Kalau mau per bulan paling cari kontrakan petak saja,” sahut ibu-ibu pemilik warung. Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dengan daster bercorak batik.
“Wah, kalau kontrakan petak rasanya terlalu kecil. Saya bawa keluarga soalnya,” ujar Dwiki terlihat meyakinkan.
“Di sini ada beberapa rumah kosong yang dikontrakkan, Mas.” Pria yang merupakan suami si ibu pemilik warung, ikut menimpali, “tapi rata-rata dibayar per tahun,” lanjutnya.
“Itu punya Pak Iskandar berapa per tahunnya ya, Bang?” Wanita pemilik warung bertanya pada suaminya.
“Dengar-dengar, Pak Iskandar meminta sekitar dua belas juta per tahun. Namun, masih bisa nego. Coba saja, Mas. Itu kondisi rumahnya juga bagus, karena baru direnovasi beberapa bulan yang lalu.” Si pria dengan celana kolor sebatas lutut itu menyarankan kepada Dwiki.
“Rumahnya yang mana, Pak?” tanya Dwiki terlihat serius menanggapi.
“Itu yang terhalang dua rumah dari sini. Sebelah rumah yang bercat putih. Nah ….” Suami pemilik warung tadi menunjuk seorang remaja wanita yang baru muncul di sana. Gadis itu membeli sebungkus rokok. “Yun, itu rumah Pak Iskandar belum ada yang nyewa?” tanyanya.
“Belum, Bang,” jawab gadis dengan penampilan yang terlihat sangat sederhana itu. “Rokoknya, Tan. Pak Bayu bilang jangan lama-lama.”
__ADS_1
Dwiki yang tengah asyik mengisap rokok sambil duduk di atas bangku kayu, segera mengarahkan perhatian saat mendengar nama Bayu disebut oleh gadis tadi. Dia memperhatikan si gadis yang sepertinya merupakan seorang asisten rumah tangga.
Sesaat kemudian, Dwiki pun menyunggingkan sebuah senyuman samar. “Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu,” ucapnya sambil beranjak dari tempat dia berada.
Dwiki kembali menaiki motor, tapi tak segera menyalakannya. Pria itu terdiam sejenak sambil mengawasi rumah yang berada tepat di sebelah kediaman tempat tinggal Bayu.
Sebuah ide gila muncul di benaknya. Setelah puas mengamati rumah itu, barulah Dwiki menyalakan mesin motor kemudian melajukannya melewati depan rumah yang Bayu tempati. Sekilas, dia melihat dua orang pria baru saja masuk ke sana. Dwiki pun berhenti sejenak. Dia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu.
Bos, apa anda punya uang dua belas juta tunai? tanya Dwiki melalui pesan singkat yang dia kirimkan kepada Arsenio.
Memangnya untuk apa? balas Arsenio tak lama kemudian.
Saya hendak menyewa rumah yang berada tepat di samping tempat tinggal Bayu. Saya bisa mengawasi pria itu dengan lebih intens dari rumah itu. Nanti, tinggal Ajisaka yang mengeksekusi langkah selanjutnya. Bagaimana? tawar Dwiki, masih melalui aplikasi pesan.
Oke! Lima belas juta aku kirim ke rekeningmu. Arsenio kembali membalas dengan cepat.
Dwiki langsung membelalakkan mata setelah membaca pesan balasan tadi. Tanpa berpikir panjang, Dwiki buru-buru menghubungi sang bos yang masih dalam suasana berduka. “Halo, bos. Harga kontrakannya hanya dua belas juta,” ujar Dwiki sesaat setelah Arsenio menerima panggilannya.
“Tidak apa-apa, Ki. Tiga juta bisa kamu gunakan untuk keperluan yang lain. Kabari aku lagi jika masih kurang,” sahut Arsenio yang langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari Dwiki.
Sementara Dwiki tak dapat membantah lagi. Dia kembali menyalakan mesin motor, setelah melihat ada pergerakan dari dalam rumah Bayu. Kedua pria tadi tampak keluar dari sana. Namun, Dwiki berpura-pura tak menghiraukan mereka. Dia menyibukkan diri dengan ponselnya, hingga kedua pria yang berboncengan dengan sepeda motor itu melintas ke dekat di mana dirinya berada.
Setelah memberi sedikit jeda waktu, Dwiki segera melajukan kendaraan roda duanya. Sepasang mata kekasih Winona tersebut terus tertuju pada dua orang itu, dengan motor berjenis RX King yang berada beberapa meter di depan.
Dwiki mengikuti laju motor yang dikendarai pria dari kediaman Bayu tadi. Namun, sepupu Ajisaka tersebut segera mengurungkan niat untuk terus menguntit, karena pria-pria yang dia ikuti ternyata memasuki kawasan lokalisasi.
__ADS_1