Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tak Mampu Berpaling


__ADS_3

Arsenio menepati kata-katanya. Dia mengantarkan Binar ke apartemen Prajna. Pria itu juga membawakan koper Binar sampai di depan pintu. “Chand mengatakan kalau kamu menyimpan kunci cadangannya,” ucap Arsenio.


Binar mengangguk, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya. Adalah sebuah kunci dengan gantungan berbentuk boneka panda. Arsenio tersenyum sambil terus memperhatikan gadis itu. Di balik sikapnya yang terlihat dewasa, Binar tetaplah gadis belia yang masih rapuh.


“Terima kasih,” ucap Binar sesaat setelah membuka pintu apartemen. Dia tak mempersilakan Arsenio untuk masuk. Binar malah menutup pintunya begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.


Arsenio sendiri lebih memilih untuk diam dan menerima segala perlakuan Binar. Tak ada lagi Arsenio yang semaunya sendiri dan berbuat apapun yang diinginkan dengan tanpa peduli apapun. Dia sadar bahwa dirinya tak ingin lagi menjadi sosok seperti itu. Arsenio rela berubah menjadi orang yang berbeda demi Binar.


Pria dengan mata cokelat terang itu merenung untuk beberapa lama. Awalnya dia bersandar pada dinding dekat pintu apartemen yang sudah tertutup rapat. Lama- kelamaan, tubuhnya merosot. Pria rupawan itu terduduk di atas lantai yang dingin dengan kaki tertekuk. Wajah tampannya menengadah menatap langit-langit. Dia memutuskan untuk tidak akan beranjak dari sana.


Sementara Binar juga terus bergerak tak karuan. Dia tampak gelisah di atas ranjang. Malam itu Binar tak berganti pakaian, tak juga membersihkan diri sebelum berbaring. Gadis muda itu terlalu lelah untuk melakukan apapun. Dia hanya terus menangis.


Masih terngiang di telinganya kata-kata ‘penipu’ yang telah dilontarkan oleh Fabien.


“Bapak,” bisik Binar lirih. “Kenapa saat bapak pergi, bapak tidak membawa serta Binar?” racaunya pelan seraya memutar kenangan tentang sosok sang ayah yang penyabar dan pekerja keras. Tanpa dia sadari, Binar tertidur dalam perasaan rindu yang menggunung pada ayahnya.


Lelah jiwa dan raga, Binar tertidur cukup lama sampai alarm dari ponselnya berdering nyaring. Gadis itu terpaksa membuka mata. Dia masih memiliki tanggungan untuk mengerjakan tugas-tugas dari Anggraini. Kemarin, dirinya tak sempat membawa berkas-berkas pekerjaan karena pergi dengan terburu-buru.


Binar memutuskan untuk turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, gadis itu bersiap untuk memesan taksi online menuju ke kediaman Rainier. Rencananya, setelah dia menyelesaikan semua tugas yang diberikan, Binar akan langsung mengundurkan diri.


Jemari gadis itu sudah siap memencet aplikasi pemesanan secara online, ketika ada panggilan masuk yang berasal dari Chand. Ragu-ragu Binar menjawab panggilan tersebut. “Halo,” sapanya pelan.


"Halo, Mal. Maaf karena semalam aku pulang duluan. Kupikir kamu harus mendengarkan penjelasan Arsenio terlebih dulu sebelum memutuskan untuk keluar dari sana,” jelas Chand.


“Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti,” sahut Binar. Dia memaksakan senyum meskipun Chand tak akan bisa melihatnya.


“Apa kamu ada rencana hari ini?” tanya duda itu lagi.


“Iya, Kak. Aku akan ke rumah tante Anggraini untuk mengambil berkas-berkas,” jawab Binar.


“Jam berapa kamu ke sana? Biar kuantar." Chand menawarkan diri.

__ADS_1


“Tidak usah, Kak. Aku memesan taksi online saja. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun lagi,” jawab Binar dengan yakin.


“Jangan begitu, Mal. Aku tidak pernah merasa direpotkan,” bantah Chand. “Kamu sudah sarapan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Nanti saja, Kak. Aku ….” Binar tak melanjutkan kata-katanya, sebab ada satu panggilan lainnya yang berasal dari nomor tak dikenal. “Sebentar ya, Kak. Ada telepon lain yang masuk. Nanti kak Chand kuhubungi lagi.” Binar mengakhiri panggilannya bersama Chand, lalu menjawab panggilan dari nomor tak dikenal tersebut.


“Halo,” ucap Binar.


“Hai, Nirmala. Ini tante Anggraini,” jawab suara di seberang sana.


“Ta-tante.” Binar tergagap.


“Bagaimana pagi ini? Apakah ada kendala?” tanya Anggraini ramah.


“Ah ya, tante. Itu ….” Binar terbata. “Sa-saya ingin meminta izin,” ujarnya sedikit ragu.


“Untuk apa?” tanya Anggraini.


“Mengundurkan diri?” ulang Anggraini. “Kenapa mendadak sekali, Nirmala? Apa yang terjadi?”


“Saya .…” Binar kembali menangis. Isakannya terdengar sampai ke telinga Anggraini.


“Kamu menangis, Nak? Ada apa? Katakan saja. Siapa tahu tante bisa membantu.” Kata-kata Anggraini begitu lembut.


“Saya ingin pulang, tante. Saya ingin mengunjungi makam ayah.” Binar tak memiliki alasan lain. Hanya itu yang ada di kepalanya sejak tadi malam.


“Nak,” panggil Anggraini. “Apa tidak bisa ditunda? Maaf kalau tante terkesan egois. Setidaknya tunggulah sampai tante kembali ke Indonesia. Tante mohon, bertahanlah sebentar,” bujuk wanita paruh baya itu.


“Tante juga ingin meminta tolong padamu. Arsen … dia … dia sering tidak memperhatikan waktu makan. Kalau tidak ada yang memperhatikan atau mengingatkan, bisa-bisa dia tidak makan seharian. Sering sekali dia begitu,” tutur Anggraini.


“Bukankah ada kak Winona, tante?”

__ADS_1


“Wini sama saja. Dia terlalu gila kerja, sampai-sampai tak begitu memedulikan hal-hal semacam itu,” jawab Anggraini. Sementara Binar hanya terdiam.


“Nirmala,” panggil Anggraini lagi ketika dia tak mendengar suara Binar.


“Ya, Tante?” jawab Binar.


“Kamu mau, ya? Tante mohon. Bertahanlah sebulan saja,” pinta Anggraini.


Binar terdiam. Dia tak segera menjawab, sebelum akhirnya mengambil keputusan. “Baiklah, tante. Akan saya usahakan. Sekalian saya menyelesaikan tugas-tugas dari tante,” putus Binar pada akhirnya.


“Ah, terima kasih banyak ya, nak. Jangan lupa, ingatkan Arsen untuk makan, ya.” terdengar jelas nada lega dari kata-kata Anggraini.


“Terima kasih kembali, tante.” Binar memejamkan mata rapat-rapat. Lagi-lagi dia tak bisa mengelak dan menolak keinginan ibunda Arsenio tersebut. Sikapnya yang lembut dan hangat, membuat Binar tak kuasa mengecewakan Anggraini.


“Hanya sebulan. Hanya sebulan,” ujar Binar berulang-ulang. Dia harus menguatkan diri sendiri sampai waktunya tiba untuk pergi. “Baiklah.” Binar mengela napas, lalu berjalan keluar kamar. Dia berniat untuk mencari sarapan di sekitar apartemen sebelum berangkat ke rumah Rainier.


Akan tetapi, apa yang dia lihat di luar pintu apartemennya membuat Binar terkejut dan tak percaya. Adalah Arsenio yang tertidur sambil meringkuk di sebelah pintu. Kepala dan punggungnya bersandar pada dinding, sedangkan kakinya terjulur lurus.


“Rain.” Binar menepuk-nepuk pundah Arsenio pelan. Namun, pria itu tak kunjung terbangun. “Rain?” kali ini Binar menggoyang-goyangkan tubuh jangkung itu sedikit lebih kencang.


Arsenio terbangun. Dia membuka matanya setengah terkejut. “Binar? Apa ini sudah pagi?” pria rupawan itu buru-buru berdiri sambil mengusap mukanya dengan kasar.


“Kamu tidur di sini? Semalaman?” tanya Binar tak percaya.


“Maafkan aku. Aku ketiduran,” dalih Arsenio salah tingkah. Dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa gugup.


Semarah-marahnya Binar, dirinya tetap tak tega melihat cinta pertamanya itu tidur di lorong apartemen semalam suntuk. “Masuklah, cuci dulu mukamu. Aku akan membelikan sarapan untuk kita,” ujar Binar.


“A-aku tidak terbiasa sarapan,” sahut Arsenio sambil meringis.


“Mulai sekarang, biasakan. Masuklah dan cuci muka.” Binar mengulang perintahnya kembali. Dia membuka pintu apartemen yang hampir dikunci, lalu menutup kembali saat Arsenio sudah masuk ke dalam. Gadis itu menggeleng pelan seraya melangkahkan kaki menuju lift.

__ADS_1


“Rain,” de•sahnya lirih. Ternyata sungguh tak mudah untuk mengusir dan melupakan pria itu dari dalam hati serta pikirannya.


__ADS_2