Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Gereja Putih


__ADS_3

“Kalau kamu mau ambil saja. Sekalian apa lagi yang kamu suka, untuk Wisnu dan Praya juga,” ujar Arsenio.


“Aku ingin mengajak mereka jalan-jalan setiap hari selama kita di sini, sehingga mereka bisa memilih sendiri,” sahut Binar ragu-ragu.


“Itu ide yang bagus, Sayang.” Ternyata Arsenio sama sekali tak keberatan. Dia malah mengecup kening Binar berkali-kali. “Ayo, pilih lagi. Cinderamata mana yang kamu suka,” suruhnya.


“Ini saja. Satu cincin lumba-lumba untukmu, satu lagi untukku. Lagi pula, harganya tidak mahal.” Binar tersenyum lebar setelah mengucapkan kata itu.


“Astaga, baiklah. Tunggu di sini sambil melihat-lihat.” Arsenio mengambil dua buah cincin itu dari genggaman Binar, lalu membawanya ke meja kasir. Semangat pria tampan tersebut semakin besar untuk mewujudkan ide yang beberapa saat lalu terlintas dalam benaknya.


Selesai membayar, Arsenio buru-buru mengajak Binar keluar dari toko suvenir ke tempat parkir motor. Sesaat kemudian, dia mengendarai motor sambil mengingat-ingat rute yang biasa dirinya lalui bersama Anggraini. Ketika dirasa yakin bahwa dia sudah melalui jalur yang tepat, Arsenio sedikit mempercepat laju kendaraan roda duanya mengikuti jalan besar, lalu berbelok ke jalan yang lebih kecil. Akhirnya, mereka pun tiba di kawasan rindang. Di sana ada lebih banyak pepohonan dengan sedikit bangunan.


Motor yang Arsenio kendarai berhenti di sebuah gereja besar nan indah bercat putih. Terakhir dirinya ke sana adalah saat berusia remaja. Saat itu, dia merasa terpaksa masuk ke dalam tempat tersebut untuk menemani kedua orang tuanya beribadah. Kebetulan pendeta pengelola gereja tersebut merupakan salah seorang teman Lievin.


“Santorini. Suatu saat aku akan mengajakmu ke sana. Itu pasti," ucapnya sambil tersenyum kalem. "Tunggu di sini sebentar ya, Sayang.” Arsenio menuntun motornya sambil mengarahkan Binar untuk duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di pelataran gereja, sedangkan dirinya bergegas masuk.


Tak ada yang berubah dari tempat itu, sejauh yang dirinya ingat. Lantai gereja dan altar yang terbuat dari keramik putih, bangku-bangku kayu memanjang dan lampu kristal antik yang menggantung di tengah-tengah ruangan.


“Selamat siang. Apa ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari pintu di sisi altar. Arsenio menoleh dan tersenyum melihat si pemilik suara. Seorang pria yang berusia seumuran dengan Lievin. Namun, sepertinya pria itu tak dapat mengingat siapa Arsenio.


“Selamat siang, Om Hans. Apa kabar?” balas Arsenio. Pria tampan itu berjalan mendekat, kemudian mengulurkan tangan.


“Anda siapa?” tanya pria paruh baya bernama Hans tadi seraya mengernyitkan kening.


“Astaga. Ini aku Arsenio, Om. Putra Lievin Rainier,” jawab pria bermata cokelat terang itu.


“Oh, Tuhanku. Kau Arsen kecil?” Hans terbelalak tak percaya. “Kamu sudah sebesar dan setampan ini? Lihatlah, kau sangat tinggi, Nak. Ibumu pasti memaksa kamu untuk makan banyak. Dulu dia sering mengeluhkan tingkahmu yang susah makan,” tanpa ragu, Hans memeluk Arsenio erat-erat.


"Sekarang juga mama masih mengeluhkan hal yang sama," balas Arsenio seraya tersenyum. Ada kegetiran yang tiba-tiba muncul dalam hati pria tampan itu. Selama ini, dia memang sudah terbiasa tinggal jauh dan hanya bertemu sebentar saja dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi, untuk kali ini sangat berbeda. Entah kapan dirinya akan dapat merasakan kembali pelukan hangat, ketika dia bermanja-manja kepada sang mama. Apakah Arsenio masih bisa mendengar serta menyaksikan tawa riang sang papa, setelah semua yang terjadi dalam waktu yang terasa singkat itu.


Ya, semua berubah dengan sangat cepat, layaknya membalikkan telapak tangan. Namun, kembali pada filosofi hidupnya. Arsenio tak akan pernah menyesal atau menarik kembali segala keputusan yang telah dia ambil.


“Berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Hans membuyarkan lamunan Arsenio.

__ADS_1


“Lama sekali, Om,” sahut Arsenio setengah berkelakar. Dia kembali bersikap wajar.


“Ya ampun.” Hans menepuk-nepuk punggung Arsenio, seolah masih tak percaya. “Kenapa tiba-tiba datang kemari? Orang tua dan adikmu sehat-sehat semua ‘kan?” tanyanya lagi.


“Semuanya sehat, Om. Bagaimana dengan tante Hilda. Apa beliau juga sehat?” Arsenio balik bertanya.


“Oh, dia sangat sehat. Ayo, ikutlah ke rumah. Tadi dia sedang memasak waktu Om tinggal kemari,” ajak Hans.


“Um boleh, tapi ….” Arsenio memandang ragu ke arah Hans, teringat Binar pasti sudah terlalu lama menunggu di pelataran.


“Kenapa?” Hans mulai merasakan sesuatu yang aneh.


“Um, apakah Om masih menjadi pendeta di sini?” tanya Arsenio ragu-ragu.


“Yah, seperti yang kamu lihat. Aku masih sanggup mengelola tempat ini dengan baik. Jemaatku juga semakin banyak. Memangnya ada apa, Sen?” Hans terlihat sedikit curiga.


“Begini, aku ingin meminta bantuan pada Om.” Tanpa sungkan, Arsenio menarik tangan Hans dan mengajaknya berdiri di dekat jendela depan. “Om melihat gadis yang sedang duduk di sana?” tunjuknya.


“Dia calon istriku, Om. Rencananya aku ingin menikahi gadis itu sekarang juga,” jelas Arsenio.


“Sekarang juga?” ulang Hans keheranan.


“Bisakah Om menikahkanku dengannya? Secara agama saja, sebab kami belum sempat mengurus surat-surat untuk ke catatan sipil,” terang Arsenio.


“Sekarang juga?” Hans masih mengucapkan kata-kata yang sama.


“Bisa ‘kan, Om?” tanya Arsenio penuh harap.


“Apakah dia tahu rencanamu ini? Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu?” cecar Hans.


“Orang tuaku … mereka ... mereka menentang keras hubungan kami. Papa bahkan sampai mengusirku dari rumah. Sekarang aku sudah tak punya apa-apa lagi selain dia, Om.” Sorot mata Arsenio tampak sendu, mengarah kepada Binar yang masih asyik dengan ponselnya.


“Arsen.” Hans mende•sah pelan. Raut mukanya memandang iba kepada putra dari Lievin tersebut. “Baiklah. Aku akan membantu mengesahkan hubungan kalian di depan Tuhan. Namun, apakah kekasihmu tahu kalau kalian akan menikah sekarang?

__ADS_1


“Tidak, Om. Aku ingin membuat kejutan untuknya.” Wajah sedih tadi sudah berubah ceria kembali. “Sebentar. Akan kupanggilkan dia kemari.” Tanpa menunggu jawaban dari Hans, Arsenio segera berlari keluar lalu menghampiri Binar. Dia menuntun tangan sang kekasih, lalu mengajaknya masuk ke dalam gereja. “Kenalkan, Om. Namanya Binar,” ucap Arsenio.


“Binar? Nama yang cantik, secantik orangnya,” puji Hans seraya menjabat Binar dan menepuk-nepuk punggung tangannya.


“Namaku Hans. Aku adalah sahabat Lievin, ayah dari Arsenio.” Pria itu memperkenalkan diri.


“Bolehkah aku menitipkan Binar sebentar di sini? Aku akan menyiapkan keperluan, sebentar saja,” pinta Arsenio tiba-tiba, membuat Binar terbelalak.


“Rain? Kamu mau meninggalkan aku sendirian di sini? Aku tidak mau! Memangnya kamu mau ke mana?” resah, gadis itu setengah berbisik. Dia tak dapat menyembunyikan raut paniknya.


“Percayalah padaku, Binar. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mau menjemput adik-adikmu sebentar saja. Bukankah kita akan mengajak mereka jalan-jalan sepulang sekolah?” bujuk Arsenio lirih.


“Um, baiklah.” Binar mengangguk ragu lalu memaksakan tersenyum pada Hans yang sedari tadi memperhatikan wajah cantik dirinya.


“Baiklah.” Hans menirukan ucapan Binar seraya tersenyum lebar. “Ayo, ikut ke rumah. Akan kukenalkan pada istriku. Rumah kami tepat berada di belakang bangunan ini,” ajaknya ramah seraya mengarahkan Binar untuk berjalan ke bagian belakang gereja.


Sebelum berbelok, Hans menoleh ke arah Arsenio, kemudian mengangguk.


Arsenio balas mengangguk, lalu berbalik meninggalkan tempat tersebut. Dia segera menaiki motornya lalu berkendara mencari butik ataupun toko baju yang berada di sekitar sana. Arsenio pun menemukan satu butik kecil yang terlihat elegan.


Arsenio masuk ke sana, lalu memilih sebuah gaun berwarna putih dengan model sederhana, bersama empat buah kemeja dengan ukuran yang berbeda. Dia juga mengambil satu blazer berwarna abu-abu. Buru-buru Arsenio membawa pakaian yang telah dipilihnya ke kasir.


Setelah membayar, pegawai butik memasukkan baju-baju itu ke dalam paper bag besar dan menyerahkannya pada Arsenio yang tak henti-henti tersenyum. Dia kembali lagi ke motornya, lalu memacu kencang menuju rumah Widya.


Sesuai perkiraan, kedua adik Binar sudah berada di rumah. Mereka terlihat baru saja melepas sepatunya di teras. “Wisnu! Praya! Ayo, ikut aku!” seru Arsenio.


“Kemana, Mister?” Wisnu dan Praya tampak kebingungan.


“Nanti kuberitahu. Pakailah sepatu terbaik kalian,” jawab Arsenio.


Wisnu dan Praya saling berpandangan sebelum kembali menatap ke arah pria blasteran Belanda itu. “Kami cuma punya sepatu sekolah, Mister. Ada juga sandal baru yang dibelikan ibu beberapa hari yang lalu,” terang Praya.


“Ya, sudah. Kalian pakai sepatu sekolah saja sementara.” Putus Arsenio. Tidak ada waktu lagi untuk memilihkan sepatu, pikirnya. “Besok kubelikan yang baru,” ujar Arsenio yang segera disambut sorak-sorai kedua bocah tadi.

__ADS_1


__ADS_2