Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Antrian Cinta


__ADS_3

“Halo, apa kabar, Herr?” sapa Arsenio sambil mengambil tempat duduk di kursi teras.


“Apakah kau sudah berada di Indonesia, Arsenio?” tanya Normand.


“Ya, Herr. Apakah ada yang bisa kubantu untukmu?” Arsenio malah balik bertanya. Sementara Binar yang menyimak percakapan sang suami, segera ikut duduk di sebelahnya.


“Ya. Aku sudah mempercepat proses perizinan untuk mendirikan usaha di Indonesia. Kuharap kau mau membantuku agar segala sesuatunya bisa lekas selesai,” jawab Normand.


“Oh, tentu saja, Herr. Aku akan membantumu semampu yang kubisa,” sahut Arsenio menyanggupi.


“Baguslah, kalau begitu. Beberapa hari ke depan, aku akan mendatangkan seseorang dari Berlin. Dia juga merupakan salah seorang anak buah kepercayaanku. Nantinya, dia akan membantu seluruh pekerjaanmu dalam memperlancar pendirian perusahaan. Kuharap hal itu tidak akan memberatkan, apalagi jika mengingat tujuanmu datang ke Indonesia,” jelas Normand meski sedikit ragu.


“Oh, tentu tidak masalah, Herr. Aku pandai dalam mengelola waktu. Serahkan saja semuanya kepadaku,” ujar Arsenio.


“Kau memang selalu dapat diandalkan. Itulah kenapa aku memilihmu,” sanjung Normand sebelum mengakhiri panggilannya. Sementara Arsenio hanya tersenyum seraya bernapas lega.


“Apa katanya, Rain?” Binar yang sedari tadi terdiam mendengarkan, kini mulai bertanya dengan raut penasaran.


“Kenapa kamu selalu bersikap menggemaskan?” Arsenio segera mendekatkan wajah dan berniat mencium istrinya, ketika Dwiki keluar dari dalam rumah dengan wajah segar.


“Bos, mau makan malam apa?” tanyanya tanpa rasa bersalah.


“Ya ampun.” Arsenio menggaruk kepala yang tak gatal. Sudah dua kali dia gagal mencium istrinya sendiri. “Makan apa sajalah,” sahut Arsenio asal.


“Ada nasi goreng enak di depan gang, Bos. Apa Bu Bos suka nasi goreng?” tanyanya. Sedangkan Binar menanggapi dengan mengangguk sambil tertawa geli.


“Mumpung saya di sini, Bos. Besok pagi, setelah mengintai nona Winona, saya harus segera kembali ke penginapan,” jelas Dwiki sambil berjalan keluar pagar. “Empat nasi goreng pedas, ya!” serunya saat sudah berada di depan jalan rumah.


“Kenapa empat? Bukankah kita cuma bertiga?” sahut Arsenio.


“Yang satu bungkus nanti kita bagi dua, Bos! Aku yakin Bos tidak akan cukup hanya dengan satu bungkus,” jawab Dwiki sembari terkekeh, kemudian berlalu begitu saja.


Cukup lama dua sejoli itu menunggu Dwiki datang. Untuk mengisi waktu, Arsenio mengajak Binar masuk ke dalam rumah dan bermesraan sampai Dwiki datang.

__ADS_1


Mereka lalu makan malam bersama diiringi dengan obrolan hangat dan kipas angin yang terus menyala. Sepertinya Binar sudah terbiasa dengan cuaca dingin di Jerman, sehingga dia kepanasan ketika berada di Jakarta.


Keesokan malamnya, sesuai dengan yang Dwiki katakan bahwa dia akan kembali ke penginapan. Kebetulan, pria itu hanya izin cuti selama satu hari. Namun, mantan ajudan kepercayaan Arsenio tersebut berjanji akan melanjutkan pekerjaan yang tertunda, di sela-sela kesibukannya mengurus penginapan milik sang tante.


"Saya hanya memegang penginapan selama tante saya pergi ke luar negeri. Setelah beliau kembali, penginapan kembali lagi diurus langsung olehnya," jelas Dwiki sebelum berangkat pada malam itu. "Akan tetapi, masalahnya tante saya itu sering sekali pergi ke luar negeri." Dwiki menggeleng seraya menggaruk kening.


"Sebenarnya aku tidak ingin membebanimu, Ki. Namun, kuharap misi penyelidikan ini bisa selesai jauh lebih cepat. Aku juga harus mulai konsentrasi untuk urusan yang lain dan tak kalah penting. Apalagi, bosku yang di Jerman sudah menghubungi kemarin malam," ujar Arsenio serius.


"Tidak apa-apa, Bos. Anda tak perlu khawatir. Dwiki akan selalu bisa diandalkan," sahutnya sambil tersenyum lebar. Setelah itu, dia lalu berpamitan dan segera masuk ke mobil. Dwiki pun melajukannya dengan perlahan, meninggalkan Arsenio yang masih berdiri di depan rumah.


Beberapa saat kemudian, Arsenio kembali ke dalam. Dia langsung saja ke kamar. Tampaklah Binar yang sedang berdiri menodong kipas angin. Tingkahnya sangat mirip dengan anak kecil. "Kamu kenapa, Sayang? Aneh sekali," tanya Arsenio heran. Namun, pada akhirnya dia justru mengikuti apa yang Binar lakukan. Postur tegap Arsenio bahkan sedikit menggeser tubuh mungil Binar.


"Aku ingin makan es krim, Rain. Coba kamu cari di dalam kulkas. Siapa tahu ada di sana," pinta Binar yang terus menggeser tubuh Arsenio, berebut mendapat angin dari benda dengan baling-baling yang masih berputar itu.


"Baiklah," sahut Arsenio seraya mengempaskan napas pelan. Dia pun beranjak ke dalam dapur. Akan tetapi, setibanya di sana Arsenio hanya dapat menggaruk kening, kemudian mengacak-acak rambut cokelatnya. Dia berdiri terpaku memandang ke dalam lemari es satu pintu dengan ukuran kecil milik Dwiki.


Di dalam sana tak ada apapun selain minuman kaleng, minuman berenergi, sebotol kecap dan saus tomat. Arsenio lalu membuka penutup freezer. Di sana juga tak ada apapun. "Astaga," decaknya pelan. "Bagaimana ini?" Terpaksa dia harus kembali ke dalam kamar dengan tangan hampa.


"Bagaimana, Rain?" tanya Binar yang sudah memasang wajah penuh harap.


"Aku ingin ikut," pinta Binar. Wanita muda itu bergegas menatikan kipas angin, lalu berdiri di depan cermin untuk merapikan diri.


"Astaga. Katanya lelah." Arsenio kemudian ikut merapikan rambutnya sambil menghadap cermin. Dia berdiri tepat di belakang Binar.


Wanita muda itu pun terdiam, saat menatap sang suami yang sudah siap dengan penampilan alakadarnya tapi masih saja terlihat tampan. Dia segera berbalik kemudian berjinjit. Dengan sengaja, tangannya bergerak iseng mengacak-acak lagi rambut cokelat Arsenio.


"Hey!" protes kakak kandung Fabien tersebut. Dia segera merengkuh pinggang ramping sang istri kemudian mendekapnya. "Katakan apa maksud semua ini?" Pria tampan bermata cokelat terang tersebut memainkan kedua alisnya, kemudian memasang wajah aneh.


Sementara Binar hanya tertawa geli. Dia paling muak jika sudah melihat Arsenio bertingkah konyol seperti tadi. "Lepaskan aku, Rain!" Wanita muda itu mencoba berontak. "Wajahmu terlihat menjijikan." Binar menjauhkan paras tampan Arsenio yang mencoba untuk menciumnya. Sedangkan tenaganya seakan hilang karena terus tertawa melihat kekonyolan sang suami.


"Siapa suruh iseng," ujar Arsenio sambil menepuk pinggul Binar, yang sudah berhasil melepaskan diri darinya. Dia bermaksud untuk kembali merapikan rambut. Namun, dengan segera Binar mencegahnya. "Kenapa, Sayang?" tanya Arsenio heran seraya berdecak pelan.


"Rambut acak-acakan begini saja kamu masih terlihat tampan, apalagi jika rapi. Sudah-sudah, kita pergi saja sekarang. Ya ampun, Indonesia panas sekali." Binar menarik tangan sang suami agar mengikutinya keluar dari kamar.

__ADS_1


"Hmm yang sudah jadi orang Jerman," goda Arsenio, membuat Binar seketika cemberut sambil mencubit lengannya. Mereka pun keluar rumah bersama, lalu berjalan menuju mini market di dekat gerbang masuk perumahan.


Jalanan di perumahan tempat tinggal Dwiki ternyata jauh lebih ramai saat di malam hari. Para pedagang memenuhi satu area yang disebut sebagai alun-alun mini. Di sana ada beragam makanan yang dijajakan, mulai dari sate, nasi goreng, bakso, hingga bubur kacang ijo pun ada.


"Aku rindu semua makanan ini, Rain," ucap Binar tanpa melepaskan tangannya dari lengan Arsenio.


"Kamu mau? Beli saja satu-satu. Itu juga jika kamu sanggup memakannya," sahut Arsenio enteng. Tujuan mereka yang tadinya akan ke mini market untuk membeli es krim, ternyata berakhir di penjual bakso, cakwe, lumpia basah, dan juga kios smoothies.


"Yakin tidak jadi membeli es krim?" tanya Arsenio ketika Binar mengajaknya untuk pulang.


"Simpan saja untuk besok malam," sahut Binar manja. "Lagi pula, kita sudah mendapat smoothies," ucapnya kemudian. "Terkadang aku heran, kenapa banyak orang yang sulit membedakan antara jus dengan smoothies," pikir Binar sambil terus berpikir.


Sementara Arsenio tidak terlalu menanggapinya. Pria itu tengah sibuk membaca pesan yang berasal dari Dwiki. Arsenio pun tersenyum kecil. Dia bahkan sampai tak tahu dan tak memedulikan Binar yang terus mengoceh, hingga sang istri akhirnya tertegun. "Kenapa, Sayang?" Arsenio menoleh dengan raut keheranan.


"Aku bicara sejak tadi, tapi kamu malah sibuk dengan ponsel. Jangan katakan jika itu merupakan pesan dari Agatha mantan pacarmu," tukas Binar kembali pada kecemburuannya.


Tanpa memberikan sebuah jawaban, Arsenio langsung saja memperlihatkan nama Dwiki kepada wanita muda itu. "Aku sedang membaca pesan dari Dwiki," ujar Arsenio. "Apa kamu akan cemburu juga padanya?"


Binar pun tidak menjawab. Dia tak ingin menanggapi pertanyaan bernada menyindir dari Arsenio. Binar juga sepertinya berpura-pura tidak mendengar. Wanita muda itu terus saja berjalan. Namun, sesaat kemudian Binar kembali menghentikan langkah. Dia melihat ada banyak orang yang mengantri di sebuah kios penjual mie ayam. "Lihat antriannya," tunjuk Binar pada sebuah kios yang hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.


"Jika antriannya sampai begitu, maka makanan yang dijual pasti sangat enak," pikir Arsenio.


"Apakah itu berarti kita juga harus ikut mengantri?" tanya Binar penuh dengan isyarat.


"Jika kamu mau boleh saja," sahut Arsenio, "tapi harus sabar. Ayo!” ajaknya seraya menggandeng tangan Binar.


Mereka berdua kemudian berdiri di belakang seorang wanita yang telah antri lebih dulu.


Antrian yang mengular, membuat Arsenio mulai tak sabar. Saran yang dia berikan kepada Binar tadi ternyata tak berlaku untuk diri sendiri. Berkali-kali Arsenio menghitung barisan orang-orang yang berada di depannya sambil berdecak kesal.


“Sabar, Rain,” bujuk Binar sambil tertawa geli.


“Jangan sampai nanti aku kecewa dengan rasa mie ayamnya. Mengingat perjuangan kita yang cukup keras demi dua bungkus mie ayam,” gerutu Arsenio tanpa henti.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Mas. Mie ayam depan gang ini terkenal paling enak,” celetuk wanita yang sedari tadi berdiri membelakangi di depan pasangan suami istri tersebut. Dia ikut menimpali omelan Arsenio. Namun, seketika mata wanita tadi terbelalak, ketika memandang wajah tampan pria blasteran Belanda itu yang tengah keheranan. “Arsen? Apa kabar?” seru si wanita dengan ceria seraya merentangkan kedua tangannya.


__ADS_2