Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Cinta Tulus


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika pasangan suami istri itu selesai membersihkan diri dan berbaring dengan saling berpelukan di atas ranjang. Selimut yang hangat dan nyaman, membuat dua orang itu hampir terbuai ke dalam alam mimpi. Kalau saja Binar tidak teringat pada ajakan temannya untuk kursus bahasa Jerman bersama, mungkin saat itu dia sudah terlelap. Begitu pula Arsenio yang hendak menceritakan tawaran dari Agatha.


“Rain."


“Sayang.”


Arsenio dan Binar saling memanggil secara bersamaan. “Kamu dulu,” ujar mereka secara bersamaan pula, hingga akhirnya mereka juga tertawa bersama-sama.


“Astaga.” Arsenio masih terkekeh. “Kamu dulu saja. Bicaralah,” suruhnya.


Namun, Binar tak langsung bicara. Dia membetulkan letak kepalanya hingga nyaman bersandar di dada bidang Arsenio. Sedangkan suaminya merengkuh tubuh ramping Binar. Sesekali tangannya nakal meraba pinggul sang istri.


“Begini, Shelby salah seorang teman baruku di restoran, dia menawari untuk kursus bahasa Jerman gratis di apartemennya,” tutur Binar setelah memukul pelan tangan Arsenio yang tak bisa diam.


“Kenapa harus di apartemennya?” tanya pria rupawan itu.


“Karena yang mengadakan kursus adalah wanita pengelola gedung apartemen tempat dirinya tinggal. Wanita itu tidak menarik biaya, alias gratis untuk semua. Dia khusus mengajari orang-orang pendatang dan imigran yang merantau di Berlin,” jelas Binar. Mata indahnya menatap wajah tampan sang suami dengan penuh harap.


“Apakah kamu tahu di mana alamat temanmu?” tanya Arsenio lagi.


“Tidak, tapi besok kami akan pulang bersama-sama ke apartemennya. Itu juga jika kamu mengizinkan,” jawab Binar.


“Lalu, bagaimana caramu pulang?” Arsenio mengangkat satu alisnya seraya memandang Binar dengan raut lucu.


“Itu sangat mudah. Aku tinggal meneleponmu,” ucap Binar enteng.


“Nah, itulah masalahnya, Sayang. Besok aku … aku … um ....” Arsenio ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Kamu kenapa?” Binar mendongak dan mengangkat kepalanya. Terheran-heran dia memperhatikan Arsenio yang terlihat gelisah.

__ADS_1


“Besok Agatha mengajakku bertemu sepulang kerja,” ujar Arsenio ragu.


Wajah cantik Binar yang tadinya berseri-seri, seketika merengut. Dia langsung menjauhkan badannya dari Arsenio dan mengambil bantal sendiri, lalu berbaring sambil membelakangi sang suami.


“Sayang, jangan begitu. Dengarkan aku dulu.” Arsenio menggeser tubuhnya hingga mendekat kembali kepada sang istri. Pelan, satu tangan pria itu menyentuh pundak Binar dan mengusapnya lembut. “Dia menawarkan pekerjaan sampingan untukku,” lanjut Arsenio.


“Alasan saja,” sahut Binar. Nada bicaranya pun terdengar ketus dan dingin.


“Dia hendak menyewaku menjadi seorang model untuk brand ambasador. Akan tetapi, jadwal kerja sampingan itu harus di luar pekerjaan utamaku. Oleh karena itu, aku …. ”


“Kamu akan jauh lebih sibuk. Kamu pulang malam dan membiarkan aku pulang sendirian.” Binar memotong kalimat Arsenio begitu saja. Dia kembali menoleh kepada sang suami.


“Aku belum memberikan jawaban, karena ingin bertanya dulu padamu,” jelas Arsenio.


“Tidak usah bertanya pun seharusnya kamu sudah tahu jawabannya, Rain,” sahut Binar ketus. Wanita muda itu kembali berbalik membelakangi suaminya.


“Rain!” Binar menoleh sembari melotot.


“Tujuanku hanyalah ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu mendirikan usaha kecil-kecilan. Dengan begitu akan lebih mudah untuk kita mengajukan izin tinggal,” jelas Arsenio. “Tidak ada pikiran yang lain lagi, Sayang. Apalagi bermain mata dengan wanita lain yang jelas-jelas tak pernah membuatku tertarik,” imbuhnya.


“Tidak pernah membuatmu tertarik, tapi kalian pernah berpacaran,” cibir Binar.


“Ya, itu karena … kami melakukan hubungan yang saling menguntungkan.” Arsenio menggaruk kepalanya sembari memejamkan mata rapat-rapat. Sepertinya dia telah salah bicara.


“Saling menguntungkan?” Rasa kantuk yang sempat mendera, kini menguap entah ke mana. Wanita muda itu terduduk dan melipat tangan di dada. Sorot matanya tajam menguliti paras rupawan yang kini tampak salah tingkah.


“Ya, itu … ehm ….” Arsenio tergagap. Namun, pada akhirnya dia sadar bahwa dirinya tak dapat menyembunyikan apapun dari sang istri. “Aku dulu terkenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Jadi, aku mengajarinya mata kuliah yang tidak dia mengerti serta membimbingnya sampai mendapatkan nilai yang bagus. Sebagai gantinya, dia ….”


“Dia tidur denganmu,” terka Binar sebelum Arsenio menyelesaikan penjelasannya.

__ADS_1


“Nah, begitu!” Arsenio meringis sambil mengusap tengkuk kepalanya. Akan tetapi, secepat mungkin dia menghapus senyuman itu karena melihat Binar telah berkaca-kaca.


“Satu-satunya yang pernah menyentuh tubuhku hanya kamu, Rain. Tidak ada yang lain,” ucap Binar lirih.


“Ya, ampun, Sayangku.” Rasa bersalah mulai mendera Arsenio. Dengan segera didekapnya tubuh ramping Binar seraya mengecup pundak halus sang istri berkali-kali. “Aku minta maaf. Masa laluku memang sangatlah buruk. Namun, aku bersungguh-sungguh ingin memperbaikinya. Aku harus menjadi orang yang jauh lebih baik demi kamu. Alleen (hanya) Binar. Aku tidak mau yang lain,” tegasnya.


“Kumohon jangan membayangkan diriku sebagai sosok di masa lalu, Sayang. Karena semua itu benar-benar ingin kutinggalkan,” pintanya.


“Rain.” Binar berbalik menghadap Arsenio. Dipandanginya wajah tampan itu lekat-lekat. Tangannya terulur, mengusap pipi sang suami. “Aku hanya takut. Kamu tahu sendiri, ‘kan? Aku tidak pandai berdandan. Aku juga tidak memiliki pakaian yang bagus dan modis seperti kak Winona, kak Ghea, dan Indah. Aku merasa sangat jelek dibandingkan mereka. Aku ….”


Arsenio segera melu•mat bibir Binar sebelum dia sempat melanjutkan kata-katanya. “Kamu hanya perlu mengingat-ingat kalimat om Hans. Kita harus saling percaya dan menjaga kepercayaan,” tegas Arsenio dengan raut serius.


“Wanita cantik bisa berada di mana saja, Sayang. Kalaupun mau, aku juga dapat menyembunyikan semuanya darimu. Akan tetapi, aku tak ingin melakukan hal itu. Aku mau kamu tahu segalanya tentangku. Dengarlah, hanya denganmu aku menjalani cinta tanpa adanya timbal balik. Semuanya terasa tulus."


Keresahan Binar menghilang tatkala melihat senyuman lembut Arsenio. Sudah banyak yang mereka lalui sampai detik ini. Mungkin sekarang saatnya bagi Binar untuk lebih memercayai suaminya. “Sebanyak apa gaji seorang model, Rain?” tanya Binar beberapa saat kemudian.


“Cukup untuk menyewa satu unit apartemen sederhana,” jawab Arsenio yang tak jua melepaskan dekapannya.


“Maksudmu, kita bisa mempunyai tempat tinggal sendiri? Tanpa menumpang?” Binar mulai antusias.


Arsenio mengangguk yakin seraya tersenyum lebar. “Bagaimana? Apa kamu tertarik?” Dia menaikturunkan alisnya sambil memasang mimik lucu.


“Apa aku boleh ikut saat kamu pemotretan?” cecar Binar.


“Sepertinya boleh. Itu semua bisa diatur, Sayangku. Sekarang tidurlah. Besok kita harus berangkat lebih awal.” Arsenio mengecup kening Binar berkali-kali, lalu memaksa sang istri untuk memejamkan mata.


Sementara itu, jauh di belahan benua yang berbeda, enam jam lebih cepat dari waktu di Berlin. Seorang wanita cantik masih sibuk berkutat dengan laptop, padahal jam di atas meja kerjanya masih menunjukkan pukul empat pagi.


Tak berapa lama, dia menutup laptop, kemudian berpindah pada ponsel yang tergeletak tak jauh dari tangan kanannya. Jemari lentik wanita itu sibuk memencet sesuatu di layar ponsel, sebelum dia menempelkannya di telinga. “Halo, Haris? Bisa ‘kan kamu atur semuanya secepat mungkin? Yang penting Rainier Airlines harus jatuh ke tangan kita. Aku tidak peduli caranya!” tegas wanita itu dengan intonasi penuh penekanan. “Jangan sebut namaku Winona jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang kumau.” Wanita itu pun tersenyum sinis, kemudian mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2