
“Maaf karena aku sungguh-sungguh tidak bisa. Kasihan istriku, dia pasti sudah menunggu lama di depan tempat kerjanya. Binar masih belum hapal jalan. Aku takut dia tersesat. Lagi pula, aku sudah berjanji untuk mengajaknya makan malam,” tolak Arsenio sesopan mungkin. Bagaimanapun juga, Agatha adalah klien penting di perusahaannya.
“Oh, jadi namanya Binar? Apakah dia juga orang Indonesia?” tanya Agatha. Wanita itu tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.
“Ya, kami bertemu saat … ah, sudahlah. Aku benar-benar terlambat. Sampai jumpa lagi Agie.” Arsenio segera melambaikan tangan dan hendak berbalik. Namun, lagi-lagi Agatha memanggil namanya.
“Penawaran dariku masih tetap berlaku, Arsen. Tenang saja, ini bukanlah tentang hal pribadi. Yang akan kutawarkan padamu adalah masalah pekerjaan.” Agatha berjalan dengan terburu-buru. Dia kembali mendekat, sebelum mantan kekasihnya itu keluar dari dalam gedung restoran.
“Pekerjaan?” ulang Arsenio yang mulai tertarik. Sekarang dia berdiri menghadap wanita cantik asli Jerman tersebut.
“Mungkin kau tertarik dengan pekerjaan sampingan? Gajinya juga lumayan untuk membelikan istrimu perhiasan,” jelas Agatha mencoba untuk menarik perhatian Arsenio.
“Kalau begitu, coba jelaskan padaku pekerjaan seperti apa," pinta Arsenio. Perhatian pria tampan itu tertuju langsung kepada wanita cantik di hadapannya.
“Aku ingin menawarimu untuk menjadi brand ambassador, dari gedung opera house yang akan segera dibangun,” jelas Agatha.
“Brand Ambassador?” Arsenio berdecak tak percaya.
“Ya, aku akan menggajimu sesuai dengan standar gaji model profesional. Wajahmu sangat mendukung untuk itu,” jelas Agatha lagi. “Kau tahu bukan bahwa opera house ini akan menjadi yang terbesar di Frankfurt. Kami membutuhkan model iklan dan promosi besar-besaran, sehingga ketika opera house telah dibuka secara resmi, masyarakat sudah lebih dulu mengetahuinya," terang wanita itu lagi penuh semangat.
“Ayolah, Arsen. Kau sangat menarik. Aku yakin, pekerjaan ini akan cocok untukmu,” desak Agatha lagi.
“Kau tadi mengatakan bahwa aku akan digaji sesuai standar model profesional. Benarkah itu?” tanya Arsenio untuk meyakinkan.
“Tentu saja! Sudah kukatakan bahwa hasil dari pekerjaan sampinganmu ini bisa untuk membelikan istrimu perhiasan,” jawab Agatha dengan yakin.
“Hm, baiklah. Akan kupikirkan,” sahut Arsenio pada akhirnya sambil membuka pintu keluar. Dia melangkah cepat ke arah trotoar.
“Kalau kau bersedia, datanglah besok ke alamat yang akan kukirimkan melalui pesan ke nomormu. Kita bertemu sepulang kerja,” ujar Agatha lagi dengan setengah berseru, sebab saat itu Arsenio sudah berjarak cukup jauh darinya.
__ADS_1
Arsenio kembali berbalik menghadap wanita semampai itu. “Ke nomorku? Memangnya kamu mengetahui nomor ponselku?”
“Aku mendapat nomor teleponmu dari Janson,” Agatha tersenyum lebar selesai dirinya berucap demikian.
“Astaga!” Arsenio menepuk keningnya cukup kencang. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia kembali berjalan meninggalkan Agatha yang masih berdiri di tempatnya. Saat itu, tak ada yang Arsenio pikirkan selain Binar yang pasti sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya.
Arsenio memutuskan untuk meraih ponsel dari dalam tas kerja berselempang dengan corak warna hitam. Sambil terus melangkah, dia berusaha menghubungi Binar. Namun, hingga beberapa kali panggilan ternyata sang istri tak jua menjawab panggilan telepon darinya. Pria tampan bermata coklat terang itu mulai khawatir. Segala macam pikiran buruk hadir dan memenuhi benaknya. Salah satu yang paling dia takutkan adalah Binar tersesat atau hilang diculik.
Akan tetapi, semua hal buruk yang dia bayangkan tidaklah terjadi. Dari kejauhan, Arsenio melihat Binar tengah mengoperasikan telepon genggam. Sesaat kemudian, ponselnya berdering, menampilkan nama sang istri di sana.
Arsenio menjawab panggilan tadi dengan wajah penuh senyuman. “Halo, Sayang,” sapanya lembut dengan intonasi yang sedikit menggoda.
“Rain? Kamu di mana? Apa kamu pulang lebih dulu meninggalkan aku? Maaf ya, Sayang. Aku tidak sempat mengabari kalau aku pulang terlambat. Hari ini aku mendapat hukuman karena tidak mendengarkan materi yang sedang disampaikan oleh mentor. Sekarang aku baru saja keluar,” cerocos Binar tanpa jeda.
“Mana mungkin aku meninggalkan wanita secantik ini sendirian?” jawab Arsenio ketika dirinya sudah berdiri tepat di belakang Binar sambil masih menempelkan ponsel di telinga.
“Sebenarnya aku juga pulang terlambat, Sayang. Ada meeting mendadak di kantor,” sahut Arsenio seraya menyimpan ponselnya kembali.
“Meeting? Dengan wanita yang kemarin kah? Mantanmu?” Suara Binar terdengar ragu.
“Hei, kamu tentu masih ingat dengan nasihat om Hans, bukan? Sebagai suami istri, kita hendaknya saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Jadi, tak peduli siapa pun yang kutemui, kamu harus ingat satu hal. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan apalagi menyakiti hatimu,” jelas Arsenio dengan nada penuh penekanan.
“Kalau menduakanku? Berselingkuh dariku?” sahut Binar dengan raut tak percaya.
“Astaga." Arsenio terkekeh pelan.
“Berselingkuh itu tingkatannya jauh sekali di atas menyakiti hati. Apa kamu percaya jika aku akan setega itu? Setelah semua yang kita lalui? Hm?” Dia mendekatkan wajahnya hingga bibir tipis itu hampir menyentuh bibir ranum Binar.
“Aku takut, Rain,” ucap wanita muda itu lirih.
__ADS_1
“Kamu pikir aku juga tidak takut meninggalkanmu sendirian tanpa pengawasan dariku. Sementara aku harus bekerja di tempat lain yang cukup jauh jaraknya dari tempatmu.” Semua akan Arsenio lakukan untuk menenangkan hati dan pikiran sang istri.
“Rasa takut kehilangan yang ada padaku, mungkin jauh lebih besar dari yang kamu rasakan, Binar. Aku bisa saja kehilangan seluruh materi yang kukumpulkan dengan susah payah. Bagiku hal itu tak akan jadi masalah. Aku bisa mengumpulkannya lagi. Namun, aku tidak akan sanggup jika kehilangan seorang Binar. Seberharga itulah kamu untukku, Sayang.” Arsenio menyentuh pangkal hidung Binar dengan telunjuknya. Dia kembali berniat mencium bibir sang istri.
Akan tetapi, niatnya harus dia urungkan ketika seseorang tiba-tiba berdiri di antara mereka. “Kau belum pulang, Binar? Kenapa sampai malam begini?” tanya sosok yang tak lain adalah Lucas Wilder.
“Apa kau tidak melihat jika kami sedang bermesraan?” sahut Arsenio sebelum Binar sempat menjawab.
“Ah, maafkan aku.” Lucas tidak dapat menahan tawa. “Hari ini aku tidak datang ke restoran, karena aku tidak ada jadwal memberikan materi. Namun, ada satu dan lain hal yang harus membuatku mengecek keadaan dapur. Lalu, aku melihat istrimu masih berada di sini,” jelasnya.
“Kami akan pulang sekarang. Permisi,” Arsenio melingkarkan tangan di pundak Binar, kemudian merengkuhnya erat-erat.
“Baiklah, hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok, Binar,” ucap Lucas sembari melambaikan tangan.
“Sampai jumpa,” balas Binar yang juga ikut melambaikan tangan.
“Haruskah itu?” dengus Arsenio setelah beberapa menit berjalan.
“Apanya?” Binar menautkan alis tanda tak mengerti.
“Haruskah kamu membalas lambaian tangannya?” protes pria rupawan tersebut.
“Ya, ampun.” Binar tertawa geli. “Ingat kata om Hans. Sebagai suami istri harus saling percaya dan menjaga kepercayaan.” Dia mengulang kalimat Arsenio sebelumnya.
“Memang, siapa pun tak akan menang melawan perempuan,” gerutu Arsenio yang kembali membuat Binar terbahak. “Sudahlah. Ayo.” Pria itu menarik pelan tangan sang istri dan membawanya ke jalur berbeda dari yang biasa mereka lalui saat pulang ke apartemen Fabien.
“Kita mau ke mana, Rain?” tanya Binar keheranan.
“Bukankah tadi aku sudah berjanji untuk makan malam bersama?” Gemas, Arsenio memegangi dagu Binar dan melu•mat bibir istrinya habis-habisan.
__ADS_1