
Kilatan lampu dari kamera para pemburu berita, menyambut kehadiran pasangan Arsenio dan Winona di sana. Mereka berdua berdiri dengan posisi berdampingan, di mana tangan Winona yang tak lepas dari lengan kokoh berselimut kemeja putih Arsenio. Keduanya tersenyum ke arah kamera dan pada semua wartawan yang hadir dalam acara konferensi pers tersebut.
Walaupun bukan pasangan selebritis yang kerap wara-wiri di televisi, tapi nama Arsenio dan Winona sudah sangat dikenal. Tak jarang mereka diundang dalam beberapa acara talk show, atau sekadar diwawancara dan menjadi narasumber dalam sebuah bincang bisnis.
Winona melambaikan tangannya dengan gemulai. Sementara Arsenio hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, sebagai tanda sapaan bagi mereka yang sudah tak sabar untuk menantikan penjelasan yang akan diberikan oleh Arsenio.
Setelah dipersilakan untuk duduk, Arsenio pun mulai berbicara. Dia dituntut agar dapat tampil maksimal serta mengesampingkan segala urusan pribadi yang tengah membuatnya merasa galau. "Selamat siang, apa kabar semuanya?" sapa Arsenio membuka acara konferensi pers tersebut dengan penuh kehangatan.
"Saya merasa senang karena akhirnya bisa kembali lagi ke pelukan keluarga, setelah beberapa hari menjalani masa perawatan yang cukup berat seorang diri. Jika teman-teman bertanya ke mana saja saya selama ini, maka akan saya jelaskan sekarang seperti apa kronologisnya," ucap pria bermata cokelat terang itu lagi.
"Jadi, ketika melakukan perjalanan ke Bali untuk urusan bisnis, saya mengalami kecelakaan. Mobil yang saya tumpangi tergelincir, kemudian saya terlempar ke luar sejauh beberapa meter ke dalam jurang. Sopir yang mengantar pun tidak bisa berbuat banyak, karena dia sendiri dalam kondisi terluka parah. Namun, beruntungnya karena kami masih bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit," jelas Arsenio pada awal penuturannya.
"Saya memang sengaja tidak memberitahu keluarga atau siapa pun tentang kejadian nahas tersebut, apalagi kedua orang tua saya waktu itu sedang berada di Amsterdam. Jadi, saya pikir saya akan kembali ke Jakarta dalam kondisi yang telah cukup pulih dan tidak merepotkan siapa pun. Namun, ternyata perkiraan itu salah." Arsenio terdiam sejenak, kemudian melirik Winona yang sejak awal memasang senyuman manis di wajahnya. Pria tampan itu pun tersenyum lembut kepadanya.
"Saya beruntung karena memiliki pasangan seperti Winona. Dia begitu peduli dan jauh lebih cerewet dari mama saya sendiri. Tak salah jika selama ini saya memilihnya untuk menjadi partner dalam segala hal," ucap Arsenio melawan kegetiran dalam hati. Dia meraih jemari lentik Winona, kemudian mengecupnya dengan mesra.
Winona menoleh padanya sambil menyunggingkan senyuman hangat. Dia membalas perlakuan manis Arsenio lewat sebuah sentuhan lembut di pipi pria tampan tersebut. Setelah itu, perhatian wanita cantik berambut indah tadi kembali tertuju kepada para wartawan. "Kami juga akan melangsungkan acara pesta pertunangan dalam waktu dekat. Ini sebagai pengukuhan dari hubungan yang telah kami berdua jalani selama ini," ucapnya dengan penuh percaya diri. Tak terlihat ada beban apapun yang dirasakan oleh Winona saat mengatakan hal demikian.
__ADS_1
Tak ubahnya dengan Arsenio. Dia mengangguk tanda menyetujui apa yang diucapkan oleh sang kekasih. Sesaat kemudian, Arsenio kembali melanjutkan sesi konferensi pers tersebut. "Baiklah, saya rasa cukup untuk hari ini. Jadi, seperti itulah kronolgis yang sebenarnya dari kejadian menghilangnya saya selama beberapa hari kemarin. Terima kasih. Selamat siang," tutup Arsenio. Dia berdiri bersamaan dengan Winona. Setelah memberikan salam perpisahan kepada para pemburu berita di hadapan mereka, keduanya pun berlalu dari sana. Arsenio menuntun Winona dengan mesra.
Setelah tak lagi terlihat dari kamera, Arsenio segera melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendahului Winona. Rasa dalam dirinya begitu berkecamuk dan tak mampu untuk dia lawan lagi. Sementara Winona seakan tak ingin melakukan protes atas sikap pria yang sangat dicintainya tersebut, meskipun pada kenyataannya dia merasa sangat kecewa. Tak ada lagi Arsenio yang nakal dan kerap mengajaknya untuk bermesraan. Jangankan untuk melakukan hal demikian, Arsenio bahkan kini seakan tak ingin berdekatan dengan dirinya.
"Bagus, Arsen. Sesuai dengan rencana," puji Chand seraya menyejajari langkah tegap Arsenio yang hendak menuju mobilnya terparkir. Rencananya, Arsenio ingin langsung pulang saat itu.
"Bagaimana jika kita minum kopi dulu? Sudah lama kita tidak bersantai bersama," tawar Chand.
"Aku lelah. Ajak saja Winona," tolak Arsenio tanpa menghentikan langkahnya. Dia baru berhenti ketika ada sebuah suara halus yang memanggil namanya. Arsenio dan Chand menoleh secara bersamaan.
Seorang wanita cantik dengan tubuh padat berisi tampak melambaikan tangan kepada mereka berdua. Wanita itu berpenampilan rapi dengan pakaiannya yang terlihat mahal. Dia juga memiliki rambut panjang yang indah. Rambut yang diikat sebagian pada bagian atas, dan sebagian lagi dibiarkan tergerai begitu saja.
"Hai," balas Chand singkat. "Arsen, aku duluan," pamitnya. Dia lalu pergi begitu saja dari sana, meninggalkan Arsenio dengan wanita cantik tadi.
Sementara Arsenio sendiri masih terpaku memperhatikan si wanita. Dia menatap lekat dan seakan tengah mengingat-ingat tentang siapa sebenarnya sosok cantik tersebut. Sekilas bayangan hadir dalam ingatannya. Arsenio pernah melihat wanita itu dalam mimpinya kemarin saat hendak menuju ke rumah Binar. Namun, Arsenio memilih untuk tak banyak bicara. Dia hanya berdiri mematung, hingga Winona datang menghampiri mereka.
"Hai, Ghea," sapa Winona hangat. Dia tampak saling merangkul dan menempelkan pipi dengan wanita yang ternyata bernama Ghea tersebut. "Dari mana saja?" tanya Winona berbasa-basi.
__ADS_1
"Aku baru kembali dari Singapura dan menghabiskan satu minggu di sana. Aku dengar berita tentang Arsenio yang sudah kembali, karena itu aku bergegas pulang ke Indonesia," terang Ghea dengan pandangan yang sesekali tertuju pada Arsenio.
"Ya, kami sangat bersyukur karena Arsen baik-baik saja. Aku yang merasa paling bahagia saat dia kembali," ujar Winona seraya menggandeng lengan Arsenio.
"Oh, tentu saja. Kalian pasangan yang sangat serasi," sanjung Ghea. Sebuah kerlingan nakal dia tujukan kepada Arsenio yang masih menatapnya dengan intens. "Kenapa kamu diam saja, Arsen? Kamu tidak ingin menyapaku?" tanya Ghea yang kemudian menyadarkan Arsenio.
Pria tampan itu seketika tersentak saat Winona menepuk lengannya dengan lembut. "Kamu kenapa, Arsen?" tanyanya yang merasa tak nyaman, saat melihat Arsenio yang terus memperhatikan Ghea. Rasa cemburu itu kembali hadir dalam hati Winona. Namun, sebisa mungkin dia tutupi dengan sikapnya yang elegant.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ... hai, Ghea. Apa kabar?" sapa Arsenio menyembunyikan perasaan aneh dalam dirinya, ketika dia terbayang atas apa yang dilakukannya bersama Ghea dalam kilasan mimpi yang hadir.
"Baik. Kabarku sangat baik. Aku senang karena kamu sudah kembali dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan satu apapun, dan yang pasti masih terlihat tampan," ujar Ghea diakhiri tawa renyah. "Maaf, Wini. Aku hanya bercanda," ralatnya kemudian.
"Sudahlah, aku tahu itu," balas Winona menanggapi candaan yang sebenarnya dirasa lain oleh dirinya.
"Baiklah. Sebenarnya aku ingin berbincang sedikit lebih lama dengan kalian, tapi sayangnya aku masih ada acara lain." Ghea kemudian mendekat kepada Winona. Mereka saling menempelkan pipi. Setelah itu, dia beralih pada Arsenio, lalu mencium pipi pria tampan tersebut. Sementara tangannya diam-diam menyentuh paha Arsenio dengan nakal, membuat si pria bereaksi. Ghea hanya tertawa pelan. Setelah selesai berpamitan, dia pun berlalu dari hadapan dua sejoli tadi.
Sepeninggal Ghea, Winona mengajak Arsenio melanjutkan langkah menuju tempat parkir. Sementara Arsenio masih diam memikirkan wanita yang baru saja dia temui. Siapa lagi wanita itu? Apa artinya dia dalam hidup Arsenio? Mengapa dia dan Ghea memiliki kedekatan yang begitu intim? Semua pertanyaan itu terus berputar dalam kepala Arsenio, hingga mereka tiba di dekat Range Rovers putih yang terparkir gagah.
__ADS_1
"Oh ya. Siapa Ghea?" tanya Arsenio sebelum masuk ke mobilnya.
"Ghea?" ulang Winona. "Dia adalah istri Chand."