Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dinner Out


__ADS_3

Siang mulai berlalu meninggalkan keceriaan di wajah Winona. Entah kapan terakhir kali wanita muda itu bisa tertawa lepas seperti tadi. Winona terlihat begitu menikmati apa yang dia lakukan bersama Dwiki. "Aku sangat menyukainya. Ini benar-benar menyenangkan," ucap wanita dengan kemeja putih tersebut. Dia lalu melemparkan kunci mobil kepada Dwiki. "Jangan dikembalikan," cegahnya sebelum sang sopir pribadi melempar balik kunci tadi.


"Aku sedang cuti. Apa kamu lupa itu?" protes Dwiki dengan tenang.


"Aku tahu, tapi tubuhku sangat lelah," balas Winona. Dengan segera, dia membuka pintu samping untuk penumpang. Dia tak ingin lagi menerima penolakan dari Dwiki, yang dengan terpaksa harus duduk di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara lagi, pria itu segera melajukan kendaraan dengan tidak terlalu kencang.


Sesekali, Dwiki menoleh kepada Winona. Wanita cantik berambut panjang tersebut tampak duduk sambil menopang kening. Sementara kakinya tak lagi dibalut stiletto, dan dia biarkan begitu saja. "Apa kamu jarang melakukan aktivitas fisik?" tanya Dwiki memecah kebisuan di antara mereka berdua.


Winona yang tadinya terlihat sedang melamun, seketika menoleh. "Tidak juga. Aku rajin berolahraga," jawab wanita muda itu. "Memangnya kenapa?" Dia balik bertanya.


"Tidak apa-apa," balas Dwiki dengan santai, "kamu terlihat sangat kelelahan soalnya."


"Ini pertama kalinya aku ke tempat seperti tadi," ujar Winona. "Aku merasa beberapa tahun lebih muda," ucap wanita itu lagi. "Seberapa sering kamu ke sana, Ki?" Dia menoleh sepenuhnya kepada Dwiki.


"Aku baru datang lagi ke sana dalam dua bulan ini. Kemarin-kemarin terlalu sibuk di penginapan." Dwiki menghentikan laju kendaraan di perempatan lampu merah. Setelah beberapa saat, dia pun kembali menjalankannya. Pria itu terlihat begitu lihai dalam mengemudi, sehingga hanya membutuhkan waktu yang sebentar saja untuk tiba di kediaman keluarga Biantara Sasmita.


"Besok kan kamu sudah mulai kerja, Ki. Sekalian saja menginap di sini. Lagi pula, papa dan mamaku baru akan kembali lusa," ujar Winona setelah keluar dari dalam mobil.


"Pintar sekali," ujar Dwiki dengan nada setengah menyindir.


"Pintar apanya?" Winona mengernyitkan kening.


"Jadi, sekarang tugasku merangkap sebagai pengawal pribadi juga?" Dwiki yang baru selesai memarkirkan mobil, melemparkan kuncinya kepada Winona dengan tanpa aba-aba. Untunglah wanita muda itu masih dapat berkonsentrasi, sehingga dapat menangkap benda itu dengan baik. Mereka berdua pun berjalan bersama memasuki rumah megah berlantai tiga. Setelah tiba di dalam, keduanya pun berlalu menuju kamar masing-masing.


Tanpa terasa sang malam pun akhirnya tiba. Dwiki yang baru selesai mandi, segera berganti pakaian. Dia lalu naik ke tempat tidur, kemudian memerikasa beberapa notif yang masuk ke ponselnya. Ada sekitar empat buah pesan dan dua panggilan tak terjawab di sana. Nama Ajisaka pun tertera sebagai si pengirim notifikasi tersebut. "Mau apa dia?" gumam Dwiki.


Dwiki dan Ajisaka adalah sepupu dekat. Ayah mereka merupakan kakak-beradik. Ajisaka berusia sekitar tiga tahun lebih tua jika dibandingkan Dwiki, sehingga pria itu terlihat sudah cukup matang.


Hubungan di antara mereka berdua pun terbilang unik. Dwiki dan Ajisaka kerap memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, layaknya Arsenio dengan Fabien. Namun, di balik itu semua tentu saja keduanya memiliki ikatan perasaan, yang tak bisa dipahami oleh orang lain selain mereka sendiri.


"Ada apa, Ji?" tanya Dwiki ketika panggilannya telah tersambung.


"Mas," protes Ajisaka seraya tergelak.


"Mas itu kalo di hadapan orang tua kita. Kamu tahu sendiri bahwa sekarang orang tuaku dan orang tuamu sudah sama-sama tiada," sahut Dwiki enteng.


"Tidak punya akhlak," cibir Ajisaka dari seberang sana.


"Aku masih punya kejantanan yang tidak dapat diragukan lagi," celetuk Dwiki dengan tak acuh.


"Hmm ... yang paling laku," sindir Ajisaka. "Omong-omong, aku sudah tiba di Jakarta. Sekarang menginap di kediaman bos Arsen. Kapan kita ada jadwal kumpul?" tanya Ajisaka kemudian.


Dwiki tak segera menjawab. Dia berpikir untuk sejenak. "Aku sudah masuk kerja lagi besok," ucapnya.


"Apa iya kamu jadi sopir pribadinya putri Biantara Sasmita?" tanya Ajisaka lagi.

__ADS_1


"Begitulah," jawab Dwiki, "ah! Aku jadi ingat tentang sesuatu," ujarnya kemudian.


"Apa?" tanya Ajisaka lagi.


"Aku harus menghubungi pak bos dulu," sahut Dwiki yang segera menutup sambungan teleponnya begitu saja. Dwiki lalu mengirimkan sebuah pesan terlebih dahulu, untuk menanyakan apakah Arsenio bisa menerima panggilan telepon darinya atau tidak. Tak berselang lama, sebuah balasan pun masuk. Arsenio bisa menerima panggilan saat itu. Dengan segera, Dwiki menghubunginya.


"Bagaimana, Ki?" Terdengar suara Arsenio dari seberang sana.


"Bos, apa anda sudah menyusun rencana untuk yang kita bahas kemarin malam?" tanya Dwiki.


"Aku sudah membahasnya dengan sepupumu, Ki. Dia sudah siap," jawab Arsenio yakin.


"Aku rasa ini kesempatan yang sangat baik, berhubung Biantara Sasmita baru akan kembali lusa dari Singapura," lapor Dwiki.


"Singapura? Untuk apa dia ke sana? Apa dia ada urusan bisnis ...."


"Tidak, bos," bantah Dwiki dengan segera. "Dia ke sana untuk mengantar istrinya chek up kesehatan." Setitik rasa bersalah muncul dalam hati kecil Dwiki. Ada rasa bimbang dalam dirinya, setelah mendengar segala curahan isi hati Winona tentang hubungan percintaan sang nona yang buruk bersama bos tempatnya mengabdi.


"Memangnya tante Yohana sakit apa sampai harus periksa ke Singapura?" tanya Arsenio lagi terdengar heran dan juga penasaran.


"Entahlah, bos. Mantan tunangan anda tidak mengatakan dengan detail. Dia hanya bercerita bahwa ibunya menjadi sakit-sakitan, setelah anda memutuskan pertunangan dengan Winona," jelas Dwiki dengan raut penuh sesal.


Sementara Arsenio tidak segera menanggapi. Pria itu terdiam beberapa saat, sehingga menghdirkan keheningan di antara mereka berdua.


"Ya, aku akan merundingkannya lagi dengan sepupumu. Kebetulan dia sudah ada di sini," sahut Arsenio. Ada keresahan yang mulai menyeruak dalam batinnya, setelah mendengar penuturan dari Dwiki.


"Baiklah, bos," balas Dwiki. Pria itu terdiam sejenak, seakan tengah memikirkan sesuatu. Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan kepada Arsenio, tapi Dwiki merasa bingung dan juga sungkan untuk mengungkapkannya. Perasaan bersalah tiba-tiba hadir, apalagi setelah dia melihat sebuah pesan masuk dari Winona yang mengajak dirinya untuk bergabung di meja makan, berhubung malam itu dia hanya sendirian di sana.


"Saya rasa itu saja dulu, bos. Jika ada informasi lain ... pasti saya kabari lagi." Dwiki pun berbasa-basi sejenak sebelum menutup sambungan teleponnya. Setelah itu, dia lalu membalas pesan dari Winona, sebelum memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.


Di meja makan, wanita cantik itu sudah menunggunya. Winona tampak jauh lebih segar. Dia juga telah berganti pakaian dan menggulung rambutnya menggunakan jedai berukuran cukup besar. "Hai, Ki," sapa Winona hangat. "Duduklah," ucap putri tunggal Biantara Sasmita tersebut.


Akan tetapi, Dwiki tak segera menuruti ucapan sang nona. Pria itu hanya berdiri di dekat meja makan, sambil memandang paras cantik Winona yang tetap terlihat memesona meskipun tanpa riasan sama sekali.


"Kenapa?" tanya Winona heran, saat melihat Dwiki hanya mematung di tempatnya berdiri.


"Aku makan di dapur saja," ujar Dwiki menolak ajakan Winona dengan halus.


"Memangnya kenapa?" tanya Winona lagi menatap lekat Dwiki yang juga masih memandang ke arahnya.


"Jika sudah berada di rumah ini, maka aku adalah sopir pribadimu. Tidak etis dilihat yang lain kalau aku sampai makan di meja yang sama denganmu, Non," jawab Dwiki sambil tersenyum kalem..


"Aku adalah nona rumah di sini. Jika aku sudah memerintahkan sesuatu, maka kamu harus menurutinya atau ...." Winona menjeda kata-katanya.


"Atau apa?" tanya Dwiki seraya menaikkan sebelah alis.

__ADS_1


Akan tetapi, Winona tak menjawab. Dia mengambil dua buah piring, lalu mengisinya dengan makanan yang sama. Setelah itu, dia menghampiri Dwiki dan memberikan satu dari dua piring tadi kepada sang sopir.


"Apa ini?" tanya Dwiki tak mengerti.


"Ayo, kita makan di teras belakang dekat kolam renang saja," ajak Winona seraya berlalu mendahului Dwiki yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Namun, sesaat kemudian pria itu tersenyum lalu bergegas menyusul Winona.


Di teras dekat kolam renang, terdapat satu set kursi taman. Winona tampak sudah duduk di sana. "Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar," protes wanita cantik itu sedikit merengut.


"Kamu lupa membawa minuman. Kalau tiba-tiba tersedak, apa mau minum air kolam?" celetuk Dwiki seraya duduk di hadapan Winona. Dia lalu meletakkan piring dan sebotol air putih yang dirinya ambil dari dalam lemari es.


"Gelasnya mana?" tanya Winona.


"Astaga!" Dwiki menepuk keningnya. "Lagi pula, tanganku cuma dua, mana bisa ...."


"Alasan," sela Winona.


"Baiklah. Tunggu sebentar akan kuambilkan." Dwiki sudah bermaksud untuk beranjak dari tempat duduknya.


Akan tetapi, dengan segera Winona menahan pria itu. "Sudahlah. Aku sudah lapar," cegahnya membuat Dwiki mengurungkan niat.


"Lalu, jika tiba-tiba kita tersedak bagaimana?" Pria itu memainkan sepasang bola matanya.


"Aku minum dari botol, kamu minum dari kolam," canda Winona seraya tergelak. Dia tak lagi menjaga imagenya di hadapan Dwiki. Kini, Winona sudah mulai menunjukkan diri apa adanya.


"Astaga. Baiklah. Apapun demi nona," ujar Dwiki membuat Winona tak juga menghentikan tawanya. "Katanya lapar, kenapa malah tertawa terus?" Kali ini giliran Dwiki yang melakukan protes.


Sesaat kemudian, Winona pun menghentikan tawanya. Dia memandang sejenak kepada pria yang memang tidak setampan Arsenio, tapi tentu jauh lebih menyenangkan dari sang mantan tunangan. Bagi Winona, berada di dekat Dwiki telah membuatnya merasa kembali pada kehidupan yang sudah lama dirinya tinggalkan.


Perasaan cinta dan kecewa yang terlalu besar terhadap Arsenio, melahirkan rasa sakit mendalam. Biantara pun sampai harus melupakan hubungan baiknya dengan Lievin karena hal itu. Ya, tentu saja. Ayah mana yang tak akan marah jika melihat anak gadisnya tersakiti.


Sesaat kemudian, makan malam telah usai. Keduanya lalu duduk di tepian kolam. Tak ada percakapan apa-apa di antara mereka berdua, karena Winona sendiri asyik memainkan kaki di dalam air yang berkilauan terkena cahaya lampu taman.


"Berapa kali kamu pacaran, Ki?" tanya Winona kemudian, memecah kebisuan di antara mereka berdua.


"Um ... entahlah," jawab Dwiki santai.


"Mantan pacarmu pasti sangat banyak, sampai-sampai kamu lupa," ujar Winona tersenyum simpul.


"Hubungan unfaedah saja," balas Dwiki tak acuh. "Aku rasa, kamu juga tidak jauh beda."


"Kata siapa?" Winona melayangkan tatapan protes kepada pria di sebelahnya.


"Feelingku mengatakan demikian," sahut Dwiki yakin.


"Enak saja." Winona memperhatikan riakan air kolam dekat kakinya. "Dia adalah pria pertama. Dalam segala hal," ucap wanita itu pelan dan terdengar penuh sesal.

__ADS_1


__ADS_2