Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Setetes Air Mata


__ADS_3

“Jadi, kamu menikahi perempuan itu?” tanya Biantara setelah terdiam beberapa saat. Dia begitu tertegun atas sikap Arsenio yang tak biasa. Pria yang pernah menjadi calon menantunya itu tidak pernah sekalipun merendahkan diri di hadapan siapa pun. Namun, hal berbeda yang telah dilakukan oleh Arsenio kini. Putra sulung keluarga Rainier itu bahkan masih tetap pada posisi bersimpuh dan seakan tak merasa terbebani sama sekali karena telah melakukan hal seperti itu.


“Ya, Om. Saat ini, istri saya bahkan tengah hamil. Saya hanya berharap kemurahan hati Om untuk mengakhiri semua ini. Saya akan mencabut semua laporan di kepolisian dan menganggap tidak pernah terjadi apapun,” pinta Arsenio dengan sorot mata memohon.


“Apakah dia yang bisa mengubahmu menjadi seperti ini, Sen?” tanya Winona tiba-tiba dengan tatap mata yang begitu sendu.


“Ya, Win. Binar telah mengubahku menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dan tak pernah kubayangkan sebelumnya,” jawab Arsenio. Seutas senyuman tersungging di bibirnya.


“Kamu dengan mudah jatuh cinta padanya, tapi tak pernah sedikit pun memberikan kesempatan padaku untuk menunjukkan betapa cinta yang jauh lebih lebih besar dari siapa pun padamu.” Winona terisak pelan. Tak sedikit pun dia mengalihkan pandangannya dari sosok Arsenio yang masih bersimpuh.


“Sekali lagi maafkan aku. Kadang kita tak bisa memaksakan akan ke mana hati ini berlabuh,” ucap Arsenio. “Aku memang bajingan, Win. Kamu jauh lebih pantas mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus. Seseorang yang bisa mengetahui sisi indahmu, di saat tak ada orang lain yang mampu untuk melihatnya dengan jelas,” imbuh Arsenio.


Mendengar kalimat dari mantan kekasihnya tadi, seketika angan Winona melayang pada Dwiki. Pria yang kini telah dia hindari dan tak ingin lagi dirinya temui. Dengan segera Winona pun menepiskan segala bayangan indah bersama pria itu. Wanita muda tersebut segera menggeleng pelan, lalu keluar dari ruang kerja dengan begitu saja.


“Win!” panggil Biantara. Akan tetapi, putri semata wayangnya tadi tak menggubris panggilan sang ayah. Winona bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun sebelum meninggalkan Arsenio bersama kedua orang tuanya.


“Pa.” Yohana menyentuh pergelangan tangan suaminya dengan sangat lemah. “Sudah. Biarkan saja. Jangan paksa dia,” ujarnya lirih.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan pada anak ini?” sahut Biantara sama lirihnya.


Yohana tak segera menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan pada Arsenio dan menatapnya lekat-lekat. “Apa kamu benar-benar mencintai istrimu?” tanya Yohana beberapa saat kemudian.


“Saya sangat mencintainya, Tante. Dialah yang berhasil mengubah saya menjadi seperti ini,” jawab Arsenio yakin.


“Jangan pernah sia-siakan dia, seperti kamu menyia-nyiakan Winona dulu. Apa yang telah kamu lakukan terhadap kami, terlebih pada putriku sangatlah keterlaluan. Aku hanya berharap kamu selalu baik-baik saja menjalani hidup dengan wanita yang telah membuatmu mencampakkan putriku,” tutur Yohana dengan nada datar. Setelah itu, dia memberikan isyarat pada suaminya untuk diantarkan keluar dari ruang kerja itu.


Arsenio tertegun. Tubuh pria itu membeku sesaat, sebelum akhirnya berdiri ketika Biantara berjalan mendorong Yohana di atas kursi roda hingga melewati dirinya.


“Aku akan mengatur semuanya. Dalam waktu kurang dari sebulan, aku akan mengembalikan kondisi maskapai dan perusahaan investasi milikmu seperti semula. Selama rentang waktu itu, jangan lagi menemui apalagi menghubungiku,” ujar Biantara sambil terus berjalan tanpa menoleh lagi.


Arsenio langsung bernapas lega dengan wajah sedikit mendongak. Satu masalah besar akhirnya teratasi. Tak sabar rasanya untuk menelepon sang ayah, bahwa dia telah berhasil mengembalikan aset kebanggaan Lievin tersebut.

__ADS_1


Namun, Arsenio tak buru-buru melakukan hal itu. Dia akan menunggu sampai Biantara benar-benar membuktikan kata-katanya, barulah Arsenio akan menceritakan berita baik itu kepada sang ayah.


Dengan hati lapang, pria jangkung itu berjalan gagah meninggalkan kediaman Biantara. Sebelum memasuki mobil, dia memperhatikan Ajisaka yang memasang raut penasaran. “Bagaimana, Bos?” tanya orang kepercayaan Arsenio tersebut.


“Om Bian menyetujui untuk mengembalikan kondisi perusahaan papa seperti semula. Dia menerima penawaranku, Ji. Tak kusangka, akhirnya dia bersedia berdamai,” jawab Arsenio puas.


“Syukurlah, Bos.” Sama halnya dengan Arsenio, Ajisaka tampak begitu lega mendengarkan kabar baik tersebut. “Jadi, ke mana kita sekarang?” tanya pria itu lagi.


“Pulang. Aku tidak ingin membuat Binar khawatir,” sahut Arsenio seraya menutup pintu mobil setelah dia duduk dengan nyaman. Kendaraan Lievin itu melaju dalam kecepatan sedang hingga tiba di kediaman Rainier.


Tak menunggu lama, Arsenio segera turun begitu mobil mewah tadi berhenti di depan halaman rumah. Setengah berlari, dia menaiki tangga menuju kamar. Namun, dirinya tak menemukan siapa pun di sana. “Binar?” serunya sambil mencari keberadaan sang istri. “Binar?” ulangnya sambil membuka pintu kaca yang menghubungkan antara kamar dengan kamar mandi. Di sana, tampak Binar dalam keadaan terlilit handuk menutupi dada. Dia baru saja selesai mandi.


“Kamu baru bangun?” Arsenio terkekeh pelan melihat istrinya yang tengah asyik mengeringkan rambut.


“Iya, sudah dua hari ini aku merasa mengantuk terus, Rain. Rasanya aku ingin tidur terus,” jawab Binar tanpa mengalihkan perhatian dari pantulan dirinya di cermin.


“Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin itu juga karena pengaruh hormon.” Arsenio berjalan mendekat, lalu merengkuh Binar dari belakang. Dia melingkarkan tangan pada pinggang yang masih terlihat ramping itu. Tak henti-hentinya Arsenio menciumi leher jenjang sang istri.


“Bisa dikatakan sangat lancar.” Arsenio tersenyum lebar. “Jadi, sekarang aku bisa mengajakmu jalan-jalan ke restoran Jepang yang baru."


“Iya. Terima kasih, Rain.” Binar mengecup pipi Arsenio sebelum kembali berkutat pada hair dryer. Hal sederhana tersebut membuat perasaan pria dua puluh sembilan tahun itu menghangat.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Arsenio pelan sambil menatap bayangan Binar di cermin.


“Terima kasih untuk semuanya. Kamu sudah berjuang habis-habisan demi aku,” jawab Binar. Untuk beberapa saat, mereka terdiam dan saling pandang melalui pantulan cermin besar di depan wastafel.


“Sudah seharusnya, Binar.” Arsenio kembali merengkuh dan memeluk sang istri dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di antara lekukan leher dengan bahu. Tanpa sadar, setitik air mata menetes dan membasahi permukaan kulit istrinya.


“Kenapa menangis, Rain?” Binar yang kebingungan, mengusap-usap kepala suaminya dengan lembut.


“Aku hanya terlalu bahagia, karena mendapatkan perempuan sebaik kamu. Alleen (hanya) Binar,” ucap Arsenio.

__ADS_1


“Kamu suka sekali mengucapkan kata-kata itu.” Binar terkikik geli.


“Memang itu kenyataannya,” balas Arsenio. “Sudahlah. Cepat berganti pakaian. Nanti masuk angin. Apa perlu kubantu?” tawarnya sembari tersenyum nakal.


“Tidak boleh. Kata dokter, kita tidak boleh dekat-dekat,” tolak Binar.


“Siapa bilang? Dokter hanya menyarankan untuk tidak bercinta sementara. Bukan dilarang berdekatan,” sanggah pria tampan itu.


“Iya, aku tahu. Akan tetapi, tiap kali kita berdekatan, kamu selalu berusaha memancing. Aku sudah hafal tipu muslihatmu, Rain. Sekarang keluarlah dulu.” Binar mendorong tubuh tegap itu dengan paksa agar keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintunya.


“Ck!” Arsenio hanya mampu berdecak kesal tanpa mampu melawan kehendak istrinya. Dia akhirnya memilih untuk duduk-duduk di tepian ranjang sambil memainkan telepon genggam. Baru saja Arsenio akan membuka aplikasi media sosial, sebuah panggilan sudah lebih dulu masuk.


Arsenio tersenyum lebar saat mengetahui bahwa Normand lah yang ternyata meneleponnya. Dia pun segera menjawab panggilan tersebut. “Hallo, Herr,” sapanya.


“Arsenio, bagaimana kabarmu hari ini?” balas Normand dari seberang sana.


“Luar biasa, Herr. Bagaimana? Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya Arsenio.


“Ya. Ini tentang wakilku yang akan datang ke Indonesia dalam waktu dekat. Bisakah kau mencarikan tempat tinggal sementara untuknya yang tidak terlalu jauh dari tempatmu, sehingga kalian bisa lebih mudah berkoordinasi,” pinta Normand.


“Mudah saja, Herr. Biarlah dia tinggal di rumahku. Ada banyak kamar kosong yang tak ditempati di sini,” cetus Arsenio.


“Apakah tidak merepotkanmu?” Normand terdengar ragu.


“Sama sekali tidak, Herr. Aku malah merasa senang dapat membantu,” jawab Arsenio dengan sangat yakin.


“Baiklah, kalau begitu. Danke, Arsenio. Aku sangat menghargai kebaikanmu,” ucap Normand tulus.


“Aku senang bisa membantu, Herr,” balas Arsenio. Setelah berbincang ringan untuk beberapa saat, Normand pun mengakhiri panggilannya. Sementara Arsenio kembali asyik menggeser layar ponsel sampai sosok Binar yang sudah rapi telah berdiri tepat di hadapannya.


Arsenio mendongak. Dia begitu terpana saat melihat sang istri yang terlihat cantik dalam balutan dress biru langit, yang dulu pernah dipakainya saat datang pertama kali ke sana.

__ADS_1


__ADS_2