Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Teman Bicara


__ADS_3

“Ajisaka?” mata Dwiki kembali melotot. “Bos juga meminta bantuannya?” orang kepercayaan Arsenio itu terlihat tidak nyaman.


“Aku membutuhkan dua orang untuk menjatuhkan ayah dan anak itu. Satu untuk mengatasi om Bian, satunya lagi untuk menghadapi Wini,” jelas Arsenio. “Kuharap kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik, Ki,” ujarnya seraya menatap Dwiki dengan sorot penuh arti.


“Tenang saja, Bos. Apapun yang kurasakan di luar pekerjaan, tak akan berpengaruh terhadap tugasku,” ucap Dwiki yang seolah memahami arah pembicaraan majikannya tersebut.


“Lalu, bagaimana caranya aku memberikan akses pada orang asing untuk masuk ke dalam kantor pak Bian?” tanya Anika ragu.


“Akan kupikirkan caranya. Sementara, habiskan dulu mie ayammu,” jawab Arsenio dengan santainya. “Apa kamu mau menambah porsi lagi, Sayang?” pria rupawan blasteran Belanda itu kini beralih pada sang istri yang sudah menghabiskan semangkuk mie ayamnya.


“Tidak,” tolak Binar dengan segera. “Sudah cukup. Sekarang aku mau pulang dan beristirahat, sebab besok kita harus memeriksakan kandungan,” tegas wanita muda itu seraya berdiri.


“Sebentar lagi, Sayang, Aku harus membicarakan sesuatu dengan Dwiki dulu,” sergah Arsenio. Diraihnya tangan Binar, lalu dikecupnya mesra.


Dwiki sudah terbiasa melihat adegan itu, sehingga dirinya tak terpengaruh. Lain halnya dengan Anika yang masih tak percaya jika playboy tampan yang dikenalnya dulu, sudah tobat dan memilih untuk hidup bersama dengan hanya satu wanita saja.


Masih teringat jelas dalam angan seorang Anika, Arsenio yang selalu bersenang-senang dengan banyak wanita dan menganggap remeh segala bentuk komitmen. Lalu sekarang, pria tampan itu malah memiliki seorang istri.


“Istirahatlah di kamar, Bu Bos. Tenang saja, ada aku di sini yang akan menjaga Bos supaya tidak berbuat macam-macam,” kelakar Dwiki sembari terbahak, membuat lamunan Anika seketika buyar.


“Tolong jangan mulai, Ki,” Arsenio mendengus kesal sambil menggelengkan kepala.


“Kalau memang aku membantumu, apa imbalannya untukku? Paling tidak, aku harus mendapatkan sesuatu,” celetuk Anika tiba-tiba. Sampai-sampai Binar yang hendak melangkahkan kaki menuju kamar, harus berbalik dan kembali duduk di tempatnya.


“Jangan katakan kalau dia memintamu sebagai imbalan, Rain,” bisik Binar seraya meraih krah kaus suaminya begitu saja.


“Ya, ampun, Binar. Please, istirahat saja di kamar. Jangan berpikiran macam-macam, oke!” Arsenio balas berbisik. Namun kata-katanya terdengar penuh penekanan. Jika sudah demikian, Binar tak akan bisa membantah. Dengan berat hati, wanita muda itu beranjak dari sana.


Setelah sang istri tak tampak dari pandangan, Arsenio kembali memusatkan perhatiannya pada Anika. “Apa yang kamu inginkan, Anika? Uang? Jabatan baru di kantor baru?” tanyanya.


“Bagaimana kalau semuanya?” gertak Anika.


“Boleh, apapun itu. Akan kuusahakan untukmu,” jawab Arsenio yakin.


“Kalau kencan semalam?” goda Anika sambil tersenyum menggoda, membuat Dwiki yang tengah meneguk air, langsung tersedak.


“Lebih baik aku tidak meminta bantuanmu, kalau kamu meminta imbalan yang tidak masuk akal seperti itu,” jawab Arsenio ketus.


Anika sempat tertegun melihat reaksi pria tampan di depannya. Hal itu sangatlah jauh dari yang dia bayangkan sebelumnya. Wanita bertubuh molek itu segera menguasai diri dan kembali memamerkan senyuman menawan. “Tenang saja, Sen. Aku hanya bercanda,” dalihnya.

__ADS_1


“Aku hanya bisa menawarkanmu uang dan tempat kerja baru yang jauh lebih baik dibandingkan posisimu di kantor om Bian,” ujar Arsenio.


“Di mana?” Anika tampaknya tertarik akan penawaran pria rupawan itu.


“Seandainya kamu mengundurkan diri dari perusahaan om Bian, kamu tidak perlu khawatir mencari pekerjaan lain yang layak. Aku mempunyai banyak akses dan kemudahan untuk menempatkanmu di manapun. Asalkan, masalahku beres dan aku berhasil mengalahkan om Bian dan Wini. Bagaimana?” Arsenio mengangkat satu alisnya.


“Oke, setuju. Aku akan membantumu,” putus Anika beberapa saat kemudian. “Namun aku juga meminta perlindungan seandainya tindakanku ketahuan oleh pak Bian,” imbuhnya.


“Tentu saja! Kamu akan mendapatkan perlindungan penuh dariku,” tegas Arsenio.


“Jadi, kapan kita akan mengeksekusi rencana anda, Bos?” tanya Dwiki yang sedari tadi hanya diam dan memerhatikan.


“Secepatnya. Besok, aku akan menghubungi kalian untuk tugas lebih lanjut. Ingat, Ki. Carilah bukti apapun yang ada di kediaman Biantara. Ditambah tugasmu untuk memata-matai setiap gerak Winona. Sementara aku akan menyusupkan Ajisaka di kantor om Bian,” tutur Arsenio.


Penjelasannya berhenti saat terdengar dering ponsel yang nyaring dan bersahutan. Ternyata, ponsel Anika dan Dwiki berbunyi secara bersamaan.


“Gawat, Winona menelepon!” Dwiki yang panik, segera berdiri dari duduknya, lalu berlari masuk ke dalam kamar. Begitu pula Anika yang buru-buru bangkit sambil mengulurkan tangan pada Arsenio.


“Aku pulang dulu. Jangan lupa beritahu tugasku untuk besok. Mudah-mudahan pak Bian tidak datang ke kantor,” ucapnya setelah berpamitan dan bergegas meninggalkan rumah Dwiki.


Sementara Arsenio tersenyum lebar. Dia merasa cukup puas dengan hasil pertemuannya saat ini. Tinggal menunggu kedatangan Ajisaka dan dia akan siap bertarung dengan dua orang yang sudah mengusik keluarganya tersebut.


Keesokan harinya, Arsenio mondar-mandir di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Dirinya merasa sangat gugup menunggu hasil dari alat pengetes kehamilan yang dicoba oleh Binar.


Rasa gugupnya berakhir ketika, Binar keluar dari kamar mandi sembari membawa tiga buah stik kecil yang berbeda bentuk. Akan tetapi, tiga-tiganya menunjukkan hasil yang sama, yaitu dua garis merah.


“Apa kubilang, aku hamil,” ucap Binar dengan wajah berseri.


“Sesuai perjanjian seperti yang kukatakan sepulang kita dari rumah Dwiki tadi malam, kita akan mengunjungi dokter kandungan sekarang juga,” sahut Arsenio. Wajahnya terlihat begitu sumringah.


“Apa kamu bahagia, Rain?” Binar berjalan mendekat, lalu memeluk tubuh tegap sang suami.


“Apa perlu kamu bertanya tentang hal yang sudah sangat jelas seperti itu, Binar? Sebentar lagi, aku akan menjadi ayah,” Arsenio membalas pelukan istrinya dengan jauh lebih erat. “Sekarang, bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu ke dokter Dipta. Dia dokter kandungan yang direkomendasikan oleh mama,” terangnya.


Binar pun menuruti perkataan suaminya. Setelah merapikan diri, pasangan suami istri itu keluar dari kediaman Rainier menuju ke sebuah klinik. Setengah jam perjalanan mereka lalui sampai tiba di depan bangunan tiga lantai dan bercat putih yang terletak di pusat kota.


Arsenio menuntun Binar masuk ke dalam gedung dan mengajaknya duduk di kursi tunggu yang berjajar di depan ruang praktek. Mereka menunggu dengan tenang sampai datanglah sesosok wanita yang selalu berusaha dihindari oleh pria itu.


“Kalian?” desis wanita yang tak lain adalah Winona itu dengan mata terbelalak.

__ADS_1


Binar begitu terkejut, sampai tak mampu berkata apa-apa. Hanya Arsenio yang tampak paling tenang di antara kedua wanita yang saling melemparkan tatapan tajam tersebut.


“Sedang apa kalian di sini?” dengan gayanya yang angkuh, Winona berjalan dan berdiri di hadapan Binar sambil melipat dada.


“Memeriksakan kehamilanku,” jawab Binar sebelum Arsenio sempat melontarkan kata-kata.


Sontak Winona terdiam dengan raut penuh emosi. Untuk beberapa menit, hanya ada keheningan di antara mereka bertiga dengan Winona yang masih berada pada posisinya. “Kuucapkan selamat,” ujar wanita karir itu sambil tersenyum mengejek. “Kalian pasangan pengkhianat yang paling serasi di muka bumi ini,” imbuhnya.


Tak hanya mengucapkan kalimat yang menyakitkan, Winona juga mengeluarkan ponsel dan mengambil foto Binar tanpa izin. “Hei! Apa yang kamu lakukan, Win!” sentak Arsenio. Dia berusaha merebut ponsel dari genggaman Winona, tetapi gagal.


“Aku akan menyebarkan foto ini ke aku sosial mediaku. Supaya followerku yang berjumlah jutaan itu bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang telah menghancurkan pertunanganku denganmu dulu,” jelas Winona dengan raut puas.


“Hentikan, Win!” suara Arsenio cukup kencang, sampai-sampai beberapa orang yang berada di ruangan tersebut, memandang heran ke arah Arsenio.


“Tidak apa-apa, Rain. Tenang saja. Biarlah Winona melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Biar dia puas,” sahut Binar. Sikapnya terlihat begitu tenang.


"Sok suci," cibir Winona yang kemudian berlalu begitu saja. Wanita itu bergegas masuk ke mobil, kemudian melajukannya dengan cukup kencang. Pada kenyataannya, rasa sakit dari kejadian yang telah berlalu sekian lama itu tetap saja ada. Winona seakan belum sepenuhnya merelakan semua hal yang telah terjadi kepada dirinya.


Beberapa saat berkendara tak tentu arah, akhirnya Winona menepikan kendaraan. Dia lalu merogoh ponsel dari dalam tasnya. "Apa kamu ada di rumah? Aku butuh teman bicara." Seusai berkata demikian, wanita cantik bertubuh sintal tersebut menutup sambungan teleponnya. Dia kembali melajukan mobil hingga tiba di depan rumah milik Dwiki. Saat Winona tiba, pria itu sudah berdiri di ambang pintu. "Maaf mengganggumu," ucap Winona pelan.


"Untung saja aku belum berangkat. Tadinya aku mau pergi," balas Dwiki seraya tersenyum kalem.


"Kamu pergi dengan siapa?" tanya Winona. Sebuah pertanyaan aneh yang dilontarkannya untuk sang sopir pribadi.


Sementara Dwiki tidak menjawab. Dia hanya menatap lekat wanita cantik dengan kemeja dan celana kulot di hadapannya. "Masuklah," ajak pria yang saat itu hanya mengenakan celana cargo pendek dan t-shirt lengan pendek.


Winona pun mengangguk. Dia mengikuti Dwiki masuk, kemudian duduk. Namun, wanita muda tadi tak banyak bicara. Winona hanya terdiam membisu dengan wajah tertunduk.


"Kamu kenapa?" tanya Dwiki memperhatikan sikap aneh sang nona.


Akan tetapi, Winona tak menjawab. Saat itu, yang terdengar oleh Dwiki adalah suara isakan pelan tertahan mantan tunangan Arsenio tersebut. Hal itu membuat Dwiki merasa penasaran. "Ada apa? Bicaralah. Bukankah kamu butuh teman untuk ...." Belum sempat Dwiki menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Winona menghambur sembari menyembunyikan wajah di dekat pundak pria itu.


Mendapati sikap Winona yang demikian, Dwiki pun merasa kebingungan. Dia tak tahu harus melakukan apa. Namun, nalurinya sebagai seorang pria seketika bekerja. Tak ada hal lain yang menurutnya paling tepat untuk dilakukan, selain merengkuh pundak Winona lalu mendekapnya erat. "Katakan ada apa?" pinta Dwiki lagi dengan dalam.


"Aku membenci mereka berdua, Ki. Aku sangat membencinya," Isak Winona teramat pilu.


"Siapa?"


"Mantan tunanganku beserta istrinya."

__ADS_1


__ADS_2