
Binar terisak dalam pelukan Wisnu dan Praya cukup lama. Setelah menyalurkan seluruh emosi sampai puas, barulah gadis malang itu mengurai pelukannya. Binar memandangi paras Wisnu dan Praya lekat-lekat secara bergantian, kemudian diusapnya wajah-wajah polos yang turut menitikkan air mata ketika Binar menangis tersedu-sedu.
“Kalian harus jadi laki-laki kuat dan baik hati, ya. Jangan menyakiti siapa pun. Tuhan memberikan kalian tubuh dan jiwa yang sehat untuk berbuat baik pada semua orang, bukan untuk melakukan kejahatan,” tuturnya pelan.
“Belajarlah yang rajin, agar menjadi pintar dan sukses,” imbuhnya. “Setelah ini, Mbok akan memberikan catatan untuk kalian. Kalian harus menghafal semua yang Mbok tulis. Jangan sampai lupa, ya,” saat itu Binar berbisik lirih, seolah tak ingin Widya mendengarnya. Binar kemudian mengelus puncak kepala kedua adiknya sebelum memasuki kamar dan menguncinya dari dalam.
Di kamar, Binar langsung duduk di kursi yang menghadap laci susun kecil yang terletak di sisi dipan sederhananya. Laci itu juga berfungsi sebagai meja dalam keadaan darurat seperti saat itu. Dengan penuh perasaan, Binar menuliskan surat pengunduran diri, lalu memasukkannya ke dalam amplop kecil yang biasa dia simpan di dalam laci.
Setelah itu, Binar merobek dua lembar kertas dari buku catatannya dan menuliskan deretan angka pada kedua kertas tersebut, lalu melipat kertas-kertas itu dan meletakkannya begitu saja. Dia berpindah ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Terbayang adegan mengerikan yang baru saja dia alami. Binar kembali menangis kala mengingatnya. Tangisan itu terus berlanjut, sampai dirinya tak sadar dan tertidur lelap.
Gadis malang itu terbangun ketika mendengar alarm ponselnya yang berdering nyaring. Dia sudah terbiasa menyetel alarmnya pada pukul empat pagi. Binar pun bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian, kemudian kembali ke kamar.
Setelah merapikan rambut dan menaburkan bedak tipis di wajah cantiknya, Binar membuka lemari plastik yang sedikit rusak pada bagian pintu akibat ulah Widya. Di bawah kertas koran pelapis dasar lemari, Binar mengambil selembar foto mendiang sang ayah. Dia lalu mengusapnya sambil meneteskan air mata. “Maafkan Binar, Pak. Binar sudah tidak sanggup, tapi Binar tidak akan melepaskan tanggung jawab pada adik-adik. Binar akan tetap menjaga dan merawat mereka meskipun sudah tidak tinggal di sini lagi,” isaknya.
Dia lalu memasukkan foto itu ke dalam dompetnya. Sesaat kemudian, Binar meraih tas ransel besar yang dia taruh di atas lemari. Gadis itu pun memasukkan pakaian-pakaiannya yang paling bagus ke dalam ransel tadi. Dia berpindah ke dipan dan membalik kasurnya.
Selama ini, Binar selalu menyisihkan uang hasil kerja kerasnya di antara papan kayu penahan kasur busa. Dia sudah berhasil mengumpulkan puluhan lembar uang ratusan ribu. Binar kemudian memasukkan semuanya ke dalam dompet, menjadi satu dengan foto sang ayah.
Dia juga memasukkan dompet itu ke dalam tas ransel hitamnya.
Setelah itu, Binar meraih surat pengunduran diri dan dua kertas kecil di atas laci. Gadis itu kemudian berjalan pelan keluar kamar. Dia membuka pintu kamar adik-adiknya. Dengan lembut, Binar membangunkan Wisnu dan Praya. “Mbok?” sapa Praya yang terbangun lebih dulu, disusul dengan Wisnu.
“Sst,” Binar menempelkan telunjuknya di bibir, lalu menyerahkan dua kertas kecil berisi deretan angka pada masing-masing adiknya. “Hafalkan nomor ini. Ini nomor telepon Mbok. Kalau kalian kangen, kalian bisa menelpon nomor ini, tapi jangan pakai hp ibu, ya. Pinjam saja hp dari Mek Made,” pesannya.
“Memangnya Mbok mau ke mana?” tanya Wisnu setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.
__ADS_1
“Mbok mau pergi mencari kerja yang jauh. Kalian baik-baik di sini, ya,” jawab Binar. Air mata gadis itu menetes lagi. Isakan pelan yang kemudian berubah menjadi sebuah tangis pilu. “Ingat kata-kata Mbok, belajar yang rajin dan jadi anak baik,” pesannya sebelum mengecup pipi kedua adik berkali-kali.
“Mbok, aku ikut,” rengek Praya memegangi tangan Binar.
“Aku juga,” pinta Wisnu lirih.
“Jangan. Kalian harus di sini, lanjutkan sekolah dengan benar. Nanti kalau sudah waktunya, Mbok akan kembali dan menjemput kalian,” bujuk Binar. Jemarinya gemetar ketika membelai lembut rambut Praya dan juga Wisnu. Sungguh dia benar-benar tak tega. Namun, bayangan keji malam kemarin kembali mengganggu pikirannya, sehingga Binar memantapkan hati untuk meninggalkan rumah itu. Rumah yang telah ditinggalinya selama bertahun-tahun.
“Mbok sayang kalian berdua, Wisnu, Praya." Itu adalah kalimat terakhir yang Binar ucapkan sebelum benar-benar pergi, dari tempat tinggal yang pernah memberinya kenangan indah sesaat bersama mendiang sang ayah.
Pagi masih gelap ketika Binar setengah berlari menyusuri gang hingga tiba di jalan raya. Dia masih terus berlari hingga tiba di depan toko suvenir tempatnya bekerja. Namun, saat itu masih terlalu pagi sampai-sampai satpam pun belum ada yang datang. Satu-satunya yang sudah ada sepagi itu adalah ibu-ibu pemilik warung nasi.
Binar menghampiri dan menyapa wanita tersebut. “Apa ada yang bisa saya bantu, Me?” tanya Binar.
“Iya, mau lembur,” dalih Binar beralasan. Seutas senyuman manis dia sunggingkan untuk wanita pemilik warung. “Mari saya bantu, Me. Sekalian saya ingin sarapan di sini,” ujar Binar lagi.
“Boleh. Ayo.” Wanita itu tersenyum ramah. Dia mempersilakan Binar untuk membantunya. Gadis itu juga membantu si ibu menyiapkan dagangan dan memasak beberapa bahan. Setelahnya, barulah Binar mendapat jatah sarapan.
Binar menghabiskan nasinya dengan cepat, mengingat malam tadi, dirinya tak sempat makan sama sekali. Dia berdiri dan menaruh piring kotor bekasnya ke dalam bak cucian. Setelah itu, dia lalu menyodorkan uang kepada ibu tersebut.
“Ini Me. Ambil saja kembaliannya,” ucap Binar sambil meletakkan uangnya ke atas meja.
“Eh, jangan! Tidak usah! Itu tadi sarapan gratis, karena Jegeg sudah membantu saya,” tolak Ibu itu.
“Tidak apa-apa, Me.” Binar ragu antara memaksa atau menerima kemurahan hati wanita pemilik warung tersebut.
__ADS_1
“Sudah, bawa saja. Men tidak menolak kebaikan Jegeg. Itu artinya Jegeg juga tidak boleh menolak kebaikan,” paksa wanita itu.
“Baiklah, Me. Terima kasih banyak,” ucap Binar penuh haru. Dia memilih untuk mengalah, sebab pada saat itu dia melihat manajer tokonya sudah datang. Pria itu tengah memarkirkan motornya. Sambil membawa tas ransel di punggung, Binar menghampiri pria yang selalu tampil klimis itu. “Pak Muchtar!” panggilnya.
“Binar? Kok pagi sekali datangnya?” tanya pria itu sambil melepas helm yang dia kenakan.
“Iya, Pak. Saya memang ada perlu dengan bapak,” jawabnya.
“Oh, kita bicara di dalam saja. Ayo,” ajak pria itu. Muchtar kemudian mengarahkan Binar menuju ke ruang kerjanya. Dia juga mempersilakan gadis itu untuk duduk. “Ada perlu apa, ya?” Muchtar memutari meja kerja lalu duduk menghadap kepada Binar.
“Ini. Pak.” Binar merogoh ke dalam ranselnya, lalu menyodorkan amplop putih ke hadapan pria tadi.
“Apa ini?” tanya Muchtar. Dia menautkan alis kemudian membuka amplop itu. Muchtar juga tampak membaca isinya dengan saksama. Beberapa saat kemudian, pria itu lalu menggeleng pelan.
“Kenapa mendadak sekali, Nar?” tanya Muchtar seraya meletakkan kertas itu kembali. “Kamu tahu sendiri, sekarang peak season. Bisa kewalahan toko kalau ada satu saja pegawainya yang tidak masuk,” keluhnya penuh nada sesal.
“Saya minta maaf, Pak. Akan tetapi, saya harus mengejar jadwal feri dan kereta api,” sahut Binar beralasan.
“Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Muchtar lagi dengan tatap mata yang penuh selidik.
“Rencananya saya akan pergi ke Jakarta, Pak. Saya hendak mencari peruntungan lain di ibu kota,” jawab Binar tegas.
"Apa kamu sudah yakin?" tanya Muchtar. Dia hanya ingin memastikan, berhubung Binar merupakan salah satu karyawan teladan di sana.
"Iya, Pak. Saya sudah memikirkan keputusan ini matang-matang," jawab Binar dengan tanpa ragu.
__ADS_1