Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Si Pemikat Hati


__ADS_3

Binar keluar dari kamarnya, kemudian menuruni undakan anak tangga dengan langkah tergesa-gesa. Saking panik dan takutnya terlambat, sampai-sampai Binar tak memperhatikan sekeliling. Di anak tangga terakhir, Binar berlari menuju pintu depan, tak sadar jika Fabien juga melangkah ke arah yang sama, sehingga mereka akhirnya bertabrakan.


Tubuh Fabien yang lebih besar dan tinggi dari Binar, tentu saja hanya bergeming. Sedangkan Binar terhuyung. Map berisi lembaran kertas-kertas penting milik Anggraini berhamburan ke lantai. Begitu pula dengan ipad yang juga ikut terjatuh. Beruntung benda elektronik itu tak sampai rusak. “Kamu tidak apa-apa?” Fabien langsung membantu Binar untuk berdiri. Dia juga ikut memunguti kertas-kertas yang berceceran.


“Aduh, tidak. Aku sudah terlambat,” ucap Binar semakin panik.


“Biar kubantu.” Fabien telaten memasukkan kertas-kertas tadi ke dalam map dan menyerahkan ipad milik Anggraini kepada Binar.


“Terima kasih,” ucap Binar lalu mendekap barang-barangnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia bergegas ke halaman depan di mana mobil yang ditumpangi oleh Anggraini sudah menunggu. Akan tetapi, ternyata mobil tersebut masih kosong.


“Syukurlah, aku belum terlambat,” ujar Binar seraya mengempaskan napas lega.


“Memangnya kalian mau ke mana?” tanya Fabien keheranan. Saat itulah, Binar baru sadar jika Fabien hanya mengenakan celana pendek bermotif kepiting, persis seperti yang pria itu pakai kemarin. “Apa? Tidak usah protes. Di sini panas sekali,” ujar Fabien sebelum Binar sempat mengatakan apapun.


Binar hendak menanggapi, tapi suara Anggraini sudah terdengar di belakangnya. Gadis cantik itu menoleh dan melihat wanita paruh baya yang tampak masih sangat cantik sedang berjalan berdampingan bersama Lievin. “Selamat pagi, Tante,” Binar menyapa lebih dulu.


“Selamat pagi,” balas Anggraini seraya tersenyum simpul. Wanita itu sepertinya memperhatikan kebersamaan Binar dan Fabien sepagi itu. “Sedang apa kalian pagi-pagi berduaan di teras begini?” godanya.


“Tidak ada, Tante. Saya hanya tidak sengaja menabraknya,” sahut Binar seraya menggelengkan kepala pelan. Dia sama sekali tak ingin kedua orang itu salah paham padanya. Apalagi saat itu Arsenio sudah berpenampilan rapi dan sedang berjalan ke arahnya.


“Sengaja menabrak juga tidak apa-apa,” sahut Lievin sambil tertawa. Dia lalu menoleh ketika Arsenio berdiri di sampingnya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Arsenio sambil memerhatikan Fabien yang berdiri terlalu dekat dengan Binar. “Sedang apa kau di sini? Mana hanya memakai celana kepiting." Nada bicara Arsenio selalu saja ketus terhadap Fabien, meskipun itu tak berarti bahwa dirinya membenci sang adik.


“Tidak ada. Aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan nanti malam, berhubung tiga hari lagi aku sudah harus kembali ke Jerman,” Fabien tersenyum lebar saat memperhatikan muka Arsenio yang merah padam.


“Ah, itu ide yang sangat bagus. Kalian berdua bisa saling mengenal lebih jauh,” timpal Lievin penuh semangat.

__ADS_1


“Tidak bisa," tolak Arsenio. "Hari ini jadwal Nirmala sangat padat. Dia tidak akan sempat,” lanjut pria itu lagi. Dia tak bisa menyembunyikan rasa keberatannya.


“Kalau begitu, kita percepat saja acara kunjungan ini,” cetus Lievin. “Ayo, Sayang,” ajak pria paruh baya itu seraya menarik pelan lengan Anggraini. Dia lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil.


“Kau juga cepat masuklah, Nirmala. Aku yang akan menyetir.” Arsenio turut menarik Binar agar cepat-cepat berlalu dari hadapan adiknya. Akan tetapi, Fabien lebih dulu mencekal tangan Arsenio.


“Kalau kau melarangnya pergi denganku nanti malam, akan kuungkapkan pada mama dan papa tentang siapa dia yang sebenarnya,” ancam Fabien, membuat wajah cantik Binar memucat seketika.


“Sialan kau, Fabien! Sebenarnya apa maumu?” geram Arsenio. Sayangnya, dia tak mendapatkan jawaban dari sang adik, karena Lievin telah lebih dulu meneriakinya dari dalam mobil.


“Ayo, cepatlah, Arsen!” seru pria asal Belanda itu masih dengan aksennya yang cukup kental.


“Kau ….” Arsenio mengarahkan telunjuknya pada Fabien yang terlihat santai. Kali ini, dia tak bisa melampiaskan rasa kesalnya terhadap pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu.


“Sampai jumpa nanti malam, Nirmala.” Fabien melambaikan tangannya, kemudian berlalu begitu saja dari teras rumah.


“Ayo. Duduklah di sini, Nirmala.” Anggraini menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, ketika Arsenio membukakan pintu untuk Binar.


Gadis itu hanya mengangguk kikuk dan duduk di samping Anggraini, sedangkan Arsenio sudah siap di belakang kemudi. Tanpa berlama-lama, dia mulai menyalakan mesin kendaraan.


Sekitar dua jam perjalanan mereka lalui hingga tiba di tempat tujuan. Sebuah lokasi pembangunan beberapa gedung bertingkat yang berada di atas tanah lapang. Proyek itu sudah memasuki tahap akhir. Lievin lebih dulu turun dari kendaraan, barulah diikuti oleh Arsenio.


Binar sempat memperhatikan raut wajah cinta pertamanya itu yang terlihat begitu antusias. Gadis itu diam-diam tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Anggraini yang tampak aneh. Binar mengernyitkan kening, ketika memperhatikan Anggraini yang memijit tengkuk sembari menggoyangkan kepalanya pelan. “Tante? Apa tante baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.


“Ah, Nirmala. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Tante merasa pusing,” keluh Anggraini.


“Mungkin tante salah posisi tidur?” terka Binar.

__ADS_1


“Tidak, sepertinya bukan itu. Beberapa hari terakhir ini Tante sering merasa sakit di kepala bagian belakang,” jelas Anggraini sambil terus memijit tengkuknya.


“Boleh saya bantu, Tante? Siapa tahu bisa meringankan sakitnya,” tawar Binar.


“Tentu saja,” sahut Anggraini segera mengubah posisi duduk jadi membelakangi gadis itu.


Meski ragu, jemari lentik Binar menyentuh permukaan kulit Anggraini. Dengan gerakan perlahan, dia sedikit menekan ibu jarinya ke belakang kepala ibunda Arsenio tersebut. Gerakan itu lembut dan terarah, dari atas ke bawah. Semakin lama pijatannya semakin kencang, lalu melemah secara perlahan. Setelah itu, Binar membuat gerakan memutar ke samping, lalu berpindah ke pundak.


Beberapa saat lamanya Binar memijat, sampai Arsenio datang dan membuka pintu. “Sedang apa kalian? Kenapa lama sekali?” tanyanya sambil membungkukkan badan. Dia sedikit terkejut kala mendengar ibunya tengah bersendawa.


“Mama masuk angin sepertinya. Untunglah Nirmala pintar memijat. Terima kasih, ya,” Anggraini menoleh ke arah Binar dan tersenyum lembut. “Dari mana kamu memiliki keahlian seperti ini?” tanya wanita itu.


“Dulu setiap ayah saya sakit kepala, saya selalu melakukan ini, Tante. Ayah sangat menyukai pijatan saya,” jawab Binar.


“Tidak hanya ayahmu, aku juga menyukainya,” balas Anggraini sambil tertawa. “Terima kasih ya, Nirmala. Tante merasa lebih baik,” ucapnya seraya turun dari kendaraan dan melangkah ke tempat suaminya berdiri.


Tinggal Arsenio yang masih berdiri sambil memegangi pintu mobil yang terbuka, menunggu Binar untuk turun. Setelah gadis itu berjalan menghampiri Anggraini, barulah Arsenio menutup pintu mobilnya. Dengan segera, dia menyusul Binar sambil berbisik, “Langkah yang bagus untuk mengambil hati mamaku.” Arsenio mengedipkan mata pada Binar, kemudian menyalip gadis itu.


Binar lagi-lagi membeku saat Arsenio berbicara dalam jarak yang begitu dekat dengannya. Bulu kuduk gadis itu meremang setiap kali de•sah napas pria tampan tersebut menyapu permukaan kulitnya. Akan tetapi, Binar segera dapat menguasai diri. Dia harus mendampingi Anggraini untuk membuat catatan dari hasil kunjungan mereka.


.


.


.


Yok, mampir, yok. Ada satu karya yang ga kalah seru 😍

__ADS_1



__ADS_2