
“Arsen,” sapa perempuan tadi seraya tersenyum ceria. Dia berusaha untuk memeluk Arsenio.
“Hei!” Pria jangkung itu buru-buru menghindar dengan mundur beberapa langkah ke belakang. Dia melirik Binar yang sudah memasang raut muka tidak bersahabat. “Anika?” Arsenio meringis kecil saat menyebutkan nama perempuan tadi, kemudian menggaruk tengkuk kepalanya.
“Ya ampun. Kamu jahat sekali, Sen. Tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Padahal aku sudah senang waktu kak Winona memutuskan pertunangan kalian,” celoteh wanita bernama Anika itu seakan tanpa beban sama sekali. Dia juga tak berhenti berusaha untuk bisa menyentuh Arsenio.
Binar yang melihat sikap Anika, tentu saja tak tinggal diam. Dia segera menggandeng lengan sang suami, kemudian menyeretnya dengan kasar meninggalkan antrian. “Hei, Sayang! Mau ke mana? Kenapa keluar dari antrian? Nanti tempat kita diserobot orang." Arsenio menoleh kepada Binar dengan sorot keheranan.
“Aku jadi tidak bernafsu membeli mie ayam,” sungut Binar sambil terus membawa suaminya menjauh dari wanita yang ternyata mengikuti mereka berdua. Arsenio sendiri hanya bisa pasrah ketika Binar berbuat demikian.
“Sen, tunggu!” Anika ternyata tak menyerah. Dia berlari sampai berhasil menyejajari langkah sepasang suami istri tersebut. “Apa kabarmu? Kamu belum menjawab pertanyaanku,” desaknya. Sekilas, dia melirik ke arah Binar sebelum kembali memperhatikan Arsenio dengan tatapan memuja.
“Untuk sekarang aku baik-baik saja, Anika,” jawab Arsenio seraya menghentikan langkah, lalu menghadap ke arah wanita di sampingnya. “Akan tetapi, entah apa yang terjadi lima menit ke depan kalau kamu masih berusaha mengajakku berbicara,” ujarnya seraya meringis lucu.
“Maksudmu?” Anika mengernyit tak mengerti.
“Nyonya cantik di sebelahku ini tidak suka jika aku terlalu akrab dengan wanita lain selain dirinya.” Arsenio buru-buru merengkuh tubuh ramping Binar dan mendekapnya dengan erat. Walaupun dia bersikap demikian, tapi tetap tak bisa menghilangkan raut cemberut sang istri.
“Oh, dia pasti teman wanitamu yang baru,” tebak Anika penuh percaya diri.
“Aku istrinya!” sela Binar dengan intonasi tinggi. “Rain, tunjukkan cincin kawin serta foto-foto pernikahan kita di Bali!” suruhnya dengan wajah bersungut-sungut.
“Ya ampun.” Arsenio menggeleng pelan. Suasana malam yang panas dan lembap menjadi semakin terasa menyengat. “Nah, ‘kan? Apa kubilang tadi,” ucapnya pelan pada Anika.
“Jadi, kamu benar-benar sudah menikah? Berarti gosip yang kudengar selama ini benar adanya,” sahut Anika yang tak bisa menyembunyikan rasa tak percaya.
__ADS_1
“Memang gosip apa yang kamu dengar?” tanya Arsenio sembari menautkan alis.
“Kita mengobrol di rumahku, yuk! Tidak enak rasanya kalau bercakap-cakap di pinggir jalan seperti ini,” ajak Anika.
“Modus!” dengus Binar sembari melipat kedua tangan di dada.
“Binar, please,” bujuk Arsenio seraya berdecak pelan. “Aku ingin tahu semua perkembangan selama kita meninggalkan di Indonesia.”
“Terserah!” Binar menghentakkan kaki, lalu meninggalkan suaminya begitu saja. “Aku mau pulang!” serunya.
“Binar!” cegah Arsenio. Satu tangannya sudah berhasil meraih lengan sang istri. “Kita ke rumahku saja,” ajak pria tampan berambut coklat itu sambil mengarahkan Anika agar terus mengikuti langkahnya.
“Memangnya kamu pindah ke perumahan sini, Sen?” tanya Anika lagi.
Akhirnya, sampailah mereka di depan rumah Dwiki. Arsenio pun mengajak Anika masuk dan duduk di ruang tamu. Demikian pula Binar yang tak bisa ke mana-mana, sebab sang suami tak sedetik pun melepaskan pegangannya.
“Sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Anika yang tak melepaskan perhatian dari Arsenio. Pria itu sedang mengeluarkan semua jajanan dan meletakkannya di atas meja ruang tamu.
“Satu tahun lebih sedikit,” jawab Arsenio. “Makanlah,” ujarnya mempersilakan Anika untuk mencicipi salah satu dari sekian macam makanan yang berada di hadapannya itu. Dia lalu menoleh kepada Binar yang malah memalingkan muka ke arah jendela. Wajah cantiknya yang sedang sebal tampak begitu menggemaskan di mata Arsenio.
“Ya ampun.” Anika menggelengkan kepala seolah tak percaya. “Awalnya tadi kukira kamu bercanda. Ternyata kamu benar-benar sudah menikah.” Wanita itu mencuri pandang ke arah cincin lumba-lumba yang melingkar di jari manis Arsenio dan juga Binar.
“Untuk apa aku bercanda.” Arsenio tersenyum lebar sambil merengkuh bahu Binar yang duduk tepat di sebelahnya. “Aku sudah menemukan yang kucari,” tanpa sungkan, Arsenio mengecup bibir sang istri walau sekilas, membuat wanita muda yang tengah merajuk itu semakin melotot.
“Aku sama sekali tak mengira bahwa petualang cinta sepertimu menikah dan mengucapkan sumpah setia pada satu wanita,” celetuk Anika. “Apakah istrimu ini adalah sosok yang disebut di akun sosial media kak Winona?” sorot matanya kini serius memperhatikan Binar.
__ADS_1
“Memangnya apa yang Wini katakan di akun sosial medianya?” Arsenio malah balik bertanya.
“Kak Winona mengatakan bahwa kamu sekarang menikah dengan seorang perempuan yang terlihat biasa, tapi ternyata licik luar biasa. Dia juga menyebutkan nama wanita itu. Kalau tidak salah, kak Winona menyebutnya dengan nama Nirmala Binar. Apa itu nama istrimu?” tebak Anika.
“Iya, benar. Nyonya cantik di sampingku ini adalah Binar. Dia istriku dan biar kutegaskan, Binar sama sekali tidak licik. Dia malah cenderung polos serta menggemaskan,” terang Arsenio setengah berkelakar.
“Wow.” Mata indah Anika membulat. Dia kembali menggeleng seraya berdecak kagum.
“Jadi, kamu benar-benar sudah menikah, Arsen. Pasti banyak perempuan yang patah hati saat mengetahui kebenaran berita ini,” desis Anika. “Termasuk aku,” imbuhnya sambil tertawa.
Hati Binar semakin panas saat itu. Dia buru-buru berdiri, lalu meraih smoothies dalam kemasan berupa gelas plastik berukuran besar. Binar lalu mengambil sedotan dan menancapkannya pada permukaan gelas yang juga tertutup oleh plastik berwarna-warni.
Arsenio sampai terkejut sebab Binar melakukannya dengan keras, sampai-sampai ada sedikit isi smoothies yang muncrat keluar.
“Lalu, bagaimana pekerjaanmu? Apa kamu masih menjadi sekretaris om Bian?” Arsenio mencoba mengalihkan perhatiannya pada Anika.
“Ya, aku masih tetap bekerja di sana. Aku masih membutuhkan uang, Arsen. Apalagi zaman sekarang sangat sulit mencari pekerjaan,” desah Anika lirih sambil menyandarkan punggung pada sandaran sofa. “Aku berusaha mengabaikan saja tingkah pria tua itu, walaupun dia semakin aneh dan sikapnya sama sekali tak masuk akal,” paparnya.
“Aneh bagaimana?” Merasa tertarik, Arsenio lalu mencondongkan tubuhnya ke depan supaya dapat mendengarkan penjelasan Anika dengan lebih baik. Sengaja dia melepaskan rangkulannya dari Binar. Untung saja istri Arsenio tersebut juga tertarik dengan pembicaraan Anika, sehingga dia juga ikut mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Setiap hari, kantornya selalu didatangi oleh beberapa orang pria tinggi besar yang terlihat seperti preman. Ketika orang-orang misterius itu masuk ke ruangan pak Biantara, maka bisa dipastikan aku akan bekerja lembur, sebab dia tak akan keluar dari ruangannya sampai malam hari menjelang,” jelas Anika.
“Bukannya om Bian selalu berhati-hati memilih kenalan, apalagi memasukkan orang-orang ke dalam ruang kerjanya?” desis Arsenio dengan alis berkerut. Tampaknya dia tengah berpikir akan sesuatu.
“Sekarang tidak lagi, Sen. Dia malah lebih sering keluar bersama teman-teman misteriusnya. Dia bahkan menyerahkan pekerjaan kantor padaku atau Haris, asisten baru pak Biantara,” jawab Anika dengan yakin.
__ADS_1