Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Antara Croissant Dan Steak Wagyu


__ADS_3

Winona duduk termenung di balik kemudi. Benaknya memutar kejadian di kantor Lievin tadi, saat dia menyerahkan berkas-berkas kepada Bayu. Senyuman Arsenio dan tatap mata tulus yang ditujukan padanya, seakan tak mau hilang dari angan wanita cantik itu.


Entah mengapa, dari semenjak Arsenio meminta maaf kepada dia dan orang tuanya kemarin-kemarin, perasaan dendam menggunung terhadap sang mantan yang selama ini memenuhi segala akal sehat, seakan sirna dan menghilang tanpa sisa.


“Hh.” Winona mende•sah pelan sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi mobil. Namun, tak lama kemudian bayangan Arsenio berganti menjadi sosok Dwiki. Tak dapat dipungkiri, senyuman dan sikap manis pria itu telah meninggalkan kesan khusus di hatinya. Apalagi setelah insiden berbagi buah apel di dalam mulut. Entah mengapa, wanita cantik bertubuh sintal itu menganggapnya sangat manis dan istimewa.


“Ya ampun.” Winona menggeleng pelan. Dia memutuskan untuk menjalankan kendaraannya menuju sebuah café langganan, yang terletak di salah satu mall elite ibukota. Cafè itu menjadi tempat pertemuan pertama antara dirinya dengan Dwiki.


Perut lapar dan mood yang buruk di siang bolong, mungkin dapat terobati dengan segelas latte hangat dan satu porsi daging steak. Wanita cantik itu memarkir kendaraannya dengan lihai. Dia turun sambil menaikkan kacamata hitam. Winona melangkah anggun saat melintasi area parkir.


Tanpa wanita itu sadari, sesosok pria jangkung mengikutinya dari belakang. Pria tadi menepuk bahunya dengan pelan. Winona yang terkejut, segera menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. Dia melotot tajam ketika Dwiki lah pelakunya. “Kamu mengikutiku, ya? Apa bosmu yang menyuruh?” tuding wanita yang kini genap berusia dua puluh tujuh tahun tersebut.


“Tidak. Bosku tak tahu-menahu tentang hal ini. Lagi pula, aku tidak selalu menjalankan misi darinya. Ini murni inisiatifku sendiri,” jawab Dwiki dengan nada yang selalu terdengar santai. Pria dengan rambutnya yang terlihat jauh lebih gondrong itu, menyunggingkan sebuah senyuman manis yang terlihat sangat menawan.


“Untuk apa?” tanya Winona seraya membalikkan badan. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini wanita cantik tersebut sengaja berjalan lebih cepat, agar memberi jarak antara dirinya dengan Dwiki.


Namun, Dwiki tak pantang menyerah. Anak buah kepercayaan Arsenio itu bergegas menyusul, bahkan menyejajarkan langkahnya dengan Winona.


“Ini tentang Haris. Pegawai kepercayaan papamu,” ucap Dwiki. Satu tangannya mengarah ke depan dengan lurus. Dia mempersilakan Winona agar masuk terlebih dulu. Setelah itu, keduanya mulai menaiki eskalator untuk naik ke lantai berikutnya, berhubung Winona mengambil parkir di area basement.


"Hati-hati," ucap Dwiki mengingatkan langkah Winona saat pertama menginjakkan kaki di atas tangga berjalan itu.


"Aku bisa berdiri dengan tegap di atas eskalator, sambil menggunakan Stiletto sepuluh senti. Kamu belum tentu bisa," ujar Winona penuh percaya diri. Sikap ketus kembali dia tunjukkan di hadapan Dwiki.


"Ah ya. Tentu saja. Itu tak akan pernah diragukan lagi. Sebenarnya aku juga bisa, tapi kamu akan merasa aneh jika melihatku memakai stiletto," celoteh Dwiki diiringi sebuah tawa pelan yang tidak terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Tidak lucu sama sekali!" cibir Winona semakin ketus.


"Tak apa. Lagi pula, aku sedang serius kali ini," ujar Dwiki masih terlihat santai. Setelah melewati dua eskalator, mereka pun tiba di lantai kedua mall tadi yang merupakan area food court.


Tanpa memedulikan Dwiki yang terus berjalan di sampingnya, Winona melangkah anggun di antara deretan gerai yang menyajikan berbagai menu. Tak jarang, putri dari Biantara Sasmita itu menjadi sasaran dari tatapan pria nakal penikmat kecantikan fisik kaum hawa. Bagaimana tidak. Postur Winona yang tinggi ditambah dengan Stiletto sepuluh senti, telah membuat wanita cantik berambut panjang itu tampak semakin menjulang.


Untunglah karena Dwiki pun memiliki tinggi di atas rata-rata pria Indonesia. Dia tetap percaya diri berjalan berdampingan dengan Winona, meskipun saat itu Dwiki hanya mengenakan celana cargo pendek dengan sepasang sandal gunung. "Senangnya menjadi pusat perhatian," sindir pria itu pelan.


"Apa?" Winona menghentikan langkah, kemudian menoleh sesaat kepada pria di sebelahnya. Namun, dia tak menunggu hingga Dwiki menjawab pertanyaan tadi. Winona kembali melangkah masuk ke cafe yang dia tuju. Setelah memilih meja, Winona pun segera duduk.


"Biar aku yang pesankan minuman untukmu," ujar Dwiki seraya mengedipkan sebelah mata.


"Memangnya kamu tahu minuman kesukaanku?" tanya Winona yang memasang wajah ragu.


"Aku pernah menemanimu meski hanya beberapa hari," sahut Dwiki sambil berlalu begitu saja. Dia melangkah dengan tenang menuju meja pemesanan. Sementara Winona hanya mengeluh pelan sambil menopang kening.


Winona sempat merasa grogi. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan sikap salah tingkahnya di hadapan Dwiki. “Oh ya. Ada apa dengan Haris?” tanya Winona sebagai pengalih dari perasaan kikuk yang terus menderanya.


“Apakah kamu tahu bahwa Haris ternyata berteman akrab dengan Bayu? Bayu asisten kepercayaan pak Lievin,” ungkap Dwiki tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari paras cantik Winona.


Akan tetapi, wanita muda berambut panjang itu menanggapinya dengan sebuah tawa mencibir.


“Ini pasti cuma alasan kamu untuk menarik perhatianku. Iya kan, Ki?” tukas Winona sambil memalingkan wajah. Sesaat kemudian, Winona hendak melontarkan kata-kata yang jauh lebih panjang, tapi bersamaan dengan datangnya seorang pelayan café yang membawakan mereka dua cangkir kopi pesanan Dwiki tadi. Setelah pelayan itu pergi, barulah Winona kembali bicara. “Katakan sejak kapan kamu mengikutiku?” tanyanya ketus.


“Sejak kamu keluar dari gedung perkantoran milik maskapai Rainier,” jawab Dwiki. Dia bersandar dan menggantungkan satu lengannya pada sandaran kursi.

__ADS_1


“Oh, jadi kamu berangkat bersama Arsen." Tersungging sebuah senyuman sinis dari bibir indah Winona.


“Tidak. Sudah kukatakan bahwa bos Arsen tidak tahu-menahu tentang ini. Kebetulan pagi-pagi tadi aku ke rumahmu dan menanyakan keberadaanmu pada pak Jamal, satpam rumah. Dia mengatakan bahwa kamu sudah pergi ke kantor pak Biantara. Waktu kudatangi ke kantor pak Biantara, sekretaris di kantor mengatakan bahwa kamu sedang berada di kantor pusat Maskapai Rainier Jadi, aku langsung menyusul ke sana,” jelas Dwiki panjang lebar.


"Kenapa harus repot-repot mencariku? Memangnya kamu tidak punya pekerjaan lain? Bukankah ada segudang tugas yang seharusnya diberikan oleh Arsen padamu?" Winona kembali berbicara dengan nada mencibir di hadapan Dwiki. Dia lalu mengangkat tangan, untuk memanggil kembali seorang pelayan agar menghampiri mereka


"Justru karena aku sedang tidak ada pekerjaan. Karena itu aku mencari kesibukan. Buktinya, aku sibuk mencarimu ke sana kemari," sahut Dwiki dengan enteng. Dia bahkan sempat tertawa renyah.


"Daripada membuang waktu untuk menggangguku, akan lebih baik jika kamu pergi ke barbershop dan merapikan rambutmu. Kamu terlihat seperti gembel," ledek Winona dengan tak acuh. Dia seakan tak peduli meskipun kata-katanya terkesan merendahkan.


Namun, Dwiki lagi-lagi menanggapinya dengan santai. Pria itu bahkan kembali tertawa renyah. "Astaga, Wini. Kamu sangat perhatian."


“Maaf, Mas dan Mbak. Ada apa ya?” sela pelayan café yang sedari tadi berdiri di dekat meja. Si pelayang merasa bingung, karena seakan menjadi wasit dari perselisihan manis antara Winona dengan Dwiki.


“Oh ya ampun. Maaf, aku sampai lupa. Tadinya aku ingin pesan ingin steak, tapi ganti saja dengan croissant.” Raut wajah Winona langsung berubah ramah saat berbicara dengan pelayan tadi.


“Ah tidak usah. Dua Steak Wagyu saja,” ralat Dwiki yang berbalas pelototan tajam dari Winona. “Tenang saja, Non. Aku yang traktir."


“Bukan itu! Aku … ah, sudahlah,” Winona membuang muka sambil melipat tangan di dada. "Kenapa tidak memesan sekalian saja tadi?"


“Tolonglah, Wini. Percaya padaku. Kamu dan papamu wajib mewaspadai Haris Maulana,” ujar Dwiki sesaat setelah pelayan itu berlalu. “Seperti yang kukatakan tadi, dia berteman akrab dengan Bayu. Padahal, mereka bekerja pada dua orang yang tengah berseteru. Aku tidak yakin bahwa hal itu merupakan suatu kebetulan.”


“Aku tidak punya waktu untuk menyelidiki hal semacam itu. Fokusku adalah mengembalikan kondisi perusahaan om Lievin dan Arsenio secepat mungkin sebelum akhir bulan,” tegas Winona.


“Baiklah.” Dwiki mengempaskan napas pelan. “Aku sudah memperingatkanmu, Wini. Berhati-hatilah. Hubungi aku kapanpun kamu butuh,” pesannya serius.

__ADS_1


“Kamu percaya diri sekali. Sudah kukatakan bahwa aku sudah menghapus nomormu."


“Aku tetap tidak percaya,” balas Dwiki sambil menyeringai lebar. “Coba berikan ponselmu.” Dia mengarahkan tangannya ke hadapan Winona, sebagai isyarat untuk meminta telepon genggam wanita itu.


__ADS_2