
"Arsen ... kalian ...." Winona tak mampu berkata apa-apa, ketika menyaksikan pemandangan mengejutkan di hadapannya. Suara wanita cantik itu telah berhasil membuat Arsenio segera melepaskan tautan bibir yang dia lakukan bersama Binar. Mereka berdua pun menoleh ke arah di mana Winona berada.
"Wini ...." Arsenio terkejut bukan main. Dia berusaha mencegah, ketika Winona bermaksud untuk kembali ke lantai bawah. Segera ditariknya tangan wanita cantik tersebut hingga keluar dari lift.
"Lepaskan aku, Arsen!" tolak Winona dengan tegas. Dia tak sudi untuk berada di antara Arsenio dan juga Binar. Wanita yang telah resmi menjadi tunangan Arsenio tersebut terus berusaha untuk kembali ke dalam lift yang telah tertutup. Dia ingin pergi saja dari tempat itu.
"Dengarkan dulu apa yang akan kukatakan," ucap Arsenio tak melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Winona. Sedangkan wanita cantik tersebut masih saja berontak dan terus menolak.
"Kamu tidak perlu mengatakan apapun!" sergah Winona dengan penuh emosi. Untuk kesekian kalinya dirinya harus kembali menerima pengkhianatan dari seorang Arsenio, pria yang teramat dia cintai.
Perhatian Winona kemudian beralih kepada Binar. "Dasar gadis tidak tahu malu! Tak tahu diri! Kamu sama murahannya dengan Ghea dan juga Indah! Wajahmu saja yang terlihat lugu, tapi kenyataannya kamu sama dengan seorang pela•cur murahan!" makinya diiringi amarah yang tak dapat dia kendalikan lagi.
"Jaga bicaramu, Wini!" sentak Arsenio. "Jangan pernah menyamakan Nirmala dengan Indah, Ghea, atau wanita manapun di dunia ini! Bagiku, Nirmala adalah satu-satunya dan dia sangat berbeda. Nirmala teramat istimewa bagiku!" tegas pria tampan itu penuh penekanan.
"Apanya yang berbeda? Sudah jelas jika dia tak ubahnya dengan mereka! Kalian berdua adalah pengkhianat yang sangat menyedihkan! Apa yang terjadi andai Chand mengetahui hal ini? Kamu sangat keterlaluan, Arsen! Kamu sudah merebut Ghea, lalu sekarang mengencani gadis bodoh ini!" Tatapan Winona tajam tertuju kepada Arsenio. Sementara telunjuknya lurus dia arahkan terhadap Binar.
"Chand sudah mengetahui hubunganku denganku. Dia tak ada masalah sedikit pun, karena ...."
__ADS_1
"Tidak mungkin jika dia akan baik-baik saja saat mengetahui perselingkuhan kalian!" sela Winona tegas.
"Chand memang tak ada masalah sama sekali, karena dia tak pernah memiliki hubungan apapun dengan Binar!" Nada bicara Arsenio tak kalah tegas. Namun, sesaat kemudian pria itu terdiam dan menyadari kata-katanya sendiri.
"Binar?" Winona tampak menautkan alis. Dia segera mengalihkan pandangan kepada gadis yang sejak tadi hanya terpaku menyaksikan pertengkaran di hadapannya. "Jadi, dialah Binar? Gadis yang selama ini kamu cari?" Raut wajah Winona menyiratkan rasa tak percaya yang sungguh luar biasa.
Namun, tak lama kemudian sepasang mata putri dari Biantara tersebut tampak berkaca-kaca. "Binar?" ulangnya lagi menyebutkan nama itu dengan rona yang tak dapat diartikan.
"Ya, dia adalah Binar. Gadis yang sudah menghabiskan uang gaji serta rela menerima kemarahan ibu tirinya, demi menyelamatkan serta merawatku saat di Bali," sahut Arsenio menegaskan.
"Tidak mungkin. Siapa yang sudah membawa dia kemari?" Winona berkata dengan suara yang terdengar bergetar. Dia sepertinya tengah menahan rasa yang teramat berkecamuk dalam dada.
"Aku tidak janji," balas Winona seakan menantang pria yang telah menjadi tunangannya.
Arsenio segera meraih lengan Winona, kemudian mencengkeramnya dengan cukup kencang setelah mendengar tanggapan dari wanita cantik pengejar karier tersebut. "Jika kamu berani melakukan hal itu, maka aku akan melupakan bahwa kita pernah saling mengenal dekat. Kamu pasti sudah dapat menebak yang bisa kulakukan. Arsenio tak pernah main-main dengan apa yang diucapkannya." Dingin dan sedikit bernada ancaman kata-kata yang pria itu tujukan kepada tunangannya sendiri.
Sementara Binar merasa semakin tak nyaman dengan situasi yang tengah dia hadapi. Segalanya telah berubah kacau saat ini. Kata-kata pedas dan menyakitkan kembali dilemparkan kepadanya. Kali ini tak hanya sekedar kata ‘penipu’, melainkan juga ‘pela•cur’. Dada gadis itu kembali sesak ketika dilihatnya Arsenio dan Winona tak juga berhenti berdebat.
__ADS_1
Arsenio pasti menghadapi masalah besar jika masih mempertahankan dirinya. Anggraini akan memandangnya dengan penuh kecewa. Membayangkan saja rasanya begitu berat bagi Binar. Wanita itu terlalu baik dan lembut untuk menjadi seorang pembenci. Dia tak akan sanggup. Hingga pada akhirnya, Binar memutuskan untuk pergi diam-diam dari sana saat Arsenio masih beradu mulut dengan Winona. Wanita cantik itu bahkan hampir menampar pipi tunangannya. Beruntung, Arsenio sigap mengelak dan mencengkeram tangan Winona.
Pria itu sama sekali tak menyadari sampai pintu lift tertutup tiba-tiba dengan membawa Binar di dalamnya. “Hei!” teriaknya seraya melepaskan tangan Winona. Dia bergegas memencet tombol agar pintu lift terbuka. Namun, tentu saja itu tak mungkin. Merasa putus asa, Arsenio sampai harus menggedor-gedor pintu lift.
Pada akhirnya, Arsenio hanya terdiam. Tak ada gunanya dia bersikap menggila. Dia hanya perlu menunggu sampai Binar tiba di lantai terbawah, lalu Arsenio akan memencet tombol lift tadi.
“Sungguh sulit untuk dipercaya. Selama ini kami semua ternyata dibodohi.” Winona mulai terisak. “Kami semua sudah menerima gadis itu dengan baik. Akan tetapi, lihatlah apa yang dilakukannya. Dia benar-benar telah mempecundangi om Lievin, tante Anggraini, dan juga aku,” ujarnya seraya menggelengkan kepala perlahan.
Sementara Arsenio sama sekali tak menanggapi. Dia terlalu fokus pada lampu yang terletak di atas pintu lift hingga menyala di angka satu. Begitu angka satu menyala, Arsenio segera memencet tombol di samping pintu lift, lalu masuk ke dalamnya begitu saja. Dia meninggalkan Winona yang masih menangis tersedu.
Arsenio menunggu dengan gelisah, sampai ruang kecil yang tengah bergerak turun itu selesai mengantarkannya ke lantai satu. Di sana, pria tampan tersebut segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun, sama sekali tak terlihat sosok Binar di manapun. “Di mana kamu, Sayang?” gumamnya lirih seraya mengacak-acak rambutnya kasar.
Tak ingin membuang waktu, Arsenio kemudian memutuskan untuk berlari keluar dari kompleks apartemen mewahnya. Dia berjalan menyusuri trotoar. “Binar!” serunya ketika melihat sosok gadis yang dia cintai tersebut tengah duduk terdiam di atas sebuah bangku panjang. Gadis itu mendekap erat tas selempangnya sambil menunduk dalam-dalam.
“Binar! Kenapa lari?” Arsenio segera memposisikan dirinya di hadapan gadis cantik tadi. Dia berlutut sehingga wajahnya sejajar dengan wajah murung sang kekasih.
“Aku tidak bisa, Rain. Maafkan aku.” Binar menggeleng kuat-kuat. “Tante Anggraini pasti kecewa padaku. Padahal … padahal aku menyukainya. Beliau seperti sosok seorang ibu yang selama ini kubayangkan. Ibu yang tak pernah kurasakan kehangatannya,” isak gadis itu lirih.
__ADS_1
“Binar, please. Bertahanlah. Kuatkan dirimu. Kita hadapi semuanya bersama, atau … atau biar aku saja yang menghadapi semuanya. Kamu cukup berdiri di belakangku. Kumohon.” Arsenio sudah tak memikirkan lagi harga diri, ego, atau apapun juga. Jika perlu, maka dia akan bersimpuh dan bersujud di depan kaki Binar agar gadis itu tak pergi meninggalkannya.
“Kamu menyukai mamaku, bukan? Kalau begitu, mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan restunya,” ucap Arsenio begitu yakin. Dia meraih serta menggenggam jemari Binar. Arsenio juga mencium tangan itu dengan dalam.