Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dimulainya Sebuah Permainan


__ADS_3

Winona menautkan alisnya saat melihat sekretaris sang ayah datang ke rumah milik Dwiki. Dia melayangkan tatapan aneh penuh selidik kepada gadis dengan wajah khas asli Indonesia tersebut. Sesaat kemudian, putri Biantara Sasmita itu mengalihkan pandangannya kepada sang sopir pribadi yang justru tengah menatap kepada Anika.


Sementara Anika sendiri tak kalah terkejut. Dia tak menyangka bahwa Winona ada di sana. Selain itu, pria yang dilihatnya juga bukanlah Arsenio. "Bu Wini? Anda ada di sini?" sapanya dengan sopan. Akan tetapi, Anika tak pandai menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Winona yang mulai tampak heran dan juga terlihat aneh.


"Saya ... um ... saya ingin menemui seseorang, tapi ... tapi sepertinya saya salah masuk rumah," jawab Anika terbata. Melihat sorot mata dan raut wajah Winona yang tak bersahabat, membuat gadis itu tiba-tiba menjadi gugup.


Sementara Dwiki tak bicara sama sekali. Dia menengok ke belakang, pada ruang makan dekat dapur di mana Winona mencium aroma mie ayam. Ingatan pria dua puluh tujuh tahun tersebut langsung tertuju kepada Arsenio. Namun, dia tak tahu apa hubungan gadis di hadapannya dengan sang bos. Dwiki pun segera dapat menguasai keadaan. "Mbak ingin bertemu siapa? Ini rumah saya. Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya."


"Iya, Mas. Sepertinya saya salah masuk rumah. Maaf mengganggu." Anika menggangguk sopan. "Bu Wini, saya permisi dulu," pamitnya seraya membalikkan badan.


Akan tetapi, baru saja Anika hendak menuruni anak tangga yang menuju teras, suara Winona telah kembali terdengar memanggilnya. Anika pun tertegun dan segera menoleh. Dia berdiri tepat di dekat tangga menuju halaman depan. Rasa hatinya ingin segera melarikan diri dari sana, daripada harus berhadapan dengan seorang Winona yang tengah melangkah ke arahnya.


"Di mana rumahmu?" tanya Winona lagi. Meskipun pertanyaan tadi terkesan sangat sederhana, tapi rasanya seperti sebuah intimidasi yang sangat besar bagi Anika.


"Um ... rumah saya ... rumah saya ada di AM, Bu Wini. Letaknya sekitar satu blok dari sini ... kenapa memangnya, Bu? Apa Ibu hendak mampir ke rumah saya?" tanya Anika berbasa-basi. Namun, meskipun gadis itu telah berusaha untuk terlihat tenang, tetap saja ekspresi gugupnya tak dapat dia tutupi dengan baik.


"Tidak juga. Aku hanya bertanya," sahut Winona dingin. Dia mempersilakan gadis yang merupakan sekretaris sang ayah untuk kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Dengan segera, Anika pun berpamitan. Tak nyaman bagi dirinya, berhadapan terlalu lama dengan sosok Winona yang saat itu segera masuk dan menghampiri Dwiki.


"Kamu mengenalnya?" tanya Winona serius.


"Tidak sama sekali," jawab Dwiki dengan yakin.


"Rumah gadis itu hanya berada satu blok dari sini," ujar Winona dengan nada bicara serta bahasa tubuh yang tampak berbeda. Dia juga terlihat melayangkan tatapan penuh curiga.


"Apa masalahnya jika rumah dia hanya satu blok? Aku bahkan tidak mengenal pemilik rumah yang berada di depan rumahku," ujar Dwiki dengan enteng. "Justru kalian yang saling mengenal."


"Dia sekretaris papaku di kantor, tapi ... tapi kupikir tak akan melihatnya datang ke rumahmu." Winona segera membalikkan badan. Dia bermaksud untuk berlalu dari hadapan Dwiki.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dwiki seraya mengikuti langkah mantan tunangan Arsenio tersebut.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku hendak pulang?" Nada bicara Winona terdengar ketus.


"Ya, aku tahu. Akan tetapi, maksudku ...." Dwiki merasa bingung dengan apa yang harus dirinya katakan. Dia juga tak mengerti akan perubahan sikap Winona yang tiba-tiba menjadi ketus padanya. "Aku sama sekali tidak mengenalnya," ucap Dwiki lagi. Entah mengapa dia merasa harus meyakinkan hal itu terhadap Winona. Akan tetapi, wanita muda tadi sepertinya tak peduli. Winona langsung saja masuk ke dalam mobil, kemudian melajukannya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Sementara Dwiki hanya dapat berdiri mematung. Tak lama kemudian, pria itu mendengus kesal. Tepat saat dirinya membalikkan badan, seketika dia terkejut melihat sosok Arsenio yang sudah berdiri tenang di ambang pintu. Sang bos berparas tampan tersebut menyandarkan lengan kirinya sambil melipat tangan di dada. "Bos?" sapa Dwiki. Apa yang dia duga tadi memang benar adanya. Dwiki pun bergegas menghampiri pria berdarah Belanda yang tampak menyunggingkan senyuman padanya.


"Dwiki ... Dwiki ...." Arsenio berdecak sambil menggeleng pelan. "Apa yang kamu lakukan sehingga bisa membuat Winona jadi seperti itu?" tanya Arsenio.


"Maksud Anda, Bos?" tanya Dwiki pura-pura tak mengerti.


"Ayolah, Ki. Jangan berpura-pura bodoh," ujar Arsenio. "Apa kalian berdua sudah mulai saling jatuh cinta?"


“Astaga, Bos. Jauh sekali pikiran Anda ini,” kilah Dwiki seraya tertawa terbahak untuk beberapa saat. Dia baru berhenti saat melihat Binar berjalan keluar dari ruang makan dan berdiri di samping suaminya. “Wah, ada Bu Bos juga?” ujarnya berlagak biasa saja. Padahal Dwiki tengah menutupi perasaan gelisah yang datang saat melihat sikap Winona terhadap dirinya.


“Mie ayamnya mau dimakan kapan? Kalau dingin tidak enak,” ucap Binar dengan raut polos.


“Ah sampai lupa kalau aku membawakanmu mie ayam. Sebentar, aku telepon Anika dulu.” Kali ini Arsenio tak memedulikan sikap Binar yang keberatan. Dia langsung saja memencet nomor kontak sekretaris Biantara tersebut dan menghubunginya.


Anika yang memang masih berada di sekitar rumah Dwiki, segera datang sambil tersenyum lebar.


“Makan dulu, baru kalian berdiskusi,” ujar Binar ketus. Dia menyodorkan masing-masing mangkok pada sang suami dan Dwiki. Mangkok terakhir dia biarkan di atas meja.


“Buat Anika mana?” tanya Arsenio keheranan.


“Ambil sendiri bisa, ‘kan?” sahut Binar dengan enteng sambil menyeruput kuah mie ayamnya. “Aku hamil, tidak boleh terlalu lelah,” imbuh wanita muda itu.


“Wah, Bu Bos hamil?” Dwiki melotot dengan potongan mie menjuntai dari dalam mulutnya.


“Masih belum pasti, Sayang. Alat pengetes kehamilannya saja masih belum dibuka,” sanggah Arsenio.


“Iya, tapi kemungkinan besarnya aku sedang hamil. Perasaanku mengatakan demikian,” balas Binar dengan yakin sambil melirik Anika yang salah tingkah. “Ayo, dimakan, Anika. Suamiku membelikan mie ayam khusus untukmu,” ujarnya enteng.

__ADS_1


“Turuti saja kemauan ibu hamil, Mbak. Takut bayinya ileran kalau tidak dituruti,” kelakar Dwiki. Anak buah kepercayaan Arsenio itu tengah berusaha untuk mencairkan suasana.


“Ya sudah. Aku makan, ya.” Ragu-ragu tangan Anika terulur untuk meraih mangkok yang berada di atas meja ruang tamu. Dia mulai memasukkan suapan pertamanya. “Enak, ‘kan? Dijamin tidak akan menyesal antri panjang demi semangkok mie ayam ini.”


“Lumayan,” jawab Arsenio yang serius menggulung mienya pada garpu.


“Jadi bagaimana, Bos? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah? Untung saja aku mengajukan cuti. Coba kalau tidak, Bos tidak akan bisa bertemu denganku di sini,” ujar Dwiki sambil mengunyah makanannya.


“Kenapa begitu?” Arsenio mengernyitkan kening.


“Winona menyediakan satu kamar untukku, Bos. Jadi, aku tinggal di kediaman Biantara selama bekerja menjadi sopir pribadinya,” jelas Dwiki.


“Wah ini suatu keuntungan besar untuk kita, Ki,” ujar Arsenio seraya tersenyum lebar. Sedikit lagi, dia akan bisa menjalankan semua rencana yang telah disusun dengan sempurna. Semua prosesnya pun seakan dipermudah untuk dirinya.


“Oh ya. Omong-omong tentang pak Bian, beberapa hari ini beliau tidak masuk kantor.” Anika turut menimpali pembicaraan dua orang pria tadi.


“Selama tinggal di rumah Biantara, aku juga belum pernah melihat sosok ayah Winona, Bos,” lapor Dwiki lagi.


Arsenio segera menghentikan kegiatan makannya, lalu memandang ke arah Dwiki dan Anika secara bergantian. “Ke mana dia?” tanyanya.


“Tidak ada yang tahu, Sen. Di kantor, Haris yang mengambil alih semuanya,” jawab Anika menjelaskan.


“Mungkin Biantara ada di satu ruangan di dalam rumahnya, Bos. Anda tahu sendiri, rumah Winona besar sekali,” sahut Dwiki.


“Aku jadi ada ide,” gumam Arsenio sembari tersenyum samar. Untuk sesaat, dia melirik pada Binar yang masih asyik dengan mie ayamnya.


“Aku membutuhkan rekaman CCTV dari kantor Biantara, Anika. Apakah kamu bisa membantuku?” Arsenio langsung menodong wanita itu tanpa basa-basi lagi.


“Waduh, bagaimana, ya? Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruang keamanan. Lagi pula, aku masih belum memahami ini semua. Kenapa dia menjadi sopir pribadi Bu Wini dan ....” Anika menunjuk kepada Dwiki


“Nanti kujelaskan. Aku juga tidak memintamu untuk langsung masuk ke dalam. Aku cuma membutuhkan bantuanmu agar memberi akses pada orang kepercayaanku supaya bisa masuk ke sana,” sahut Arsenio kalem.

__ADS_1


“Siapa, Bos?” tanya Dwiki.


“Ajisaka,” jawab Arsenio.


__ADS_2