Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Kunci Baru


__ADS_3

Arsenio sama sekali tak peduli meskipun saaat itu malam telah semakin larut. Dia bersemangat untuk melihat komplek apartemen yang ditawarkan oleh Normand, walaupun jaraknya cukup jauh dari kawasan perumahan tempat tinggal sang bos. Namun, seperti yang telah dikatakan oleh Normand, jarak dari apartemen menuju kantor sangatlah dekat.


“Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanya Arsenio meminta pendapat Binar.


“Aku ikut kamu saja, Rain,” jawab Binar pelan.


“Menurutku baik di sini maupun di apartemen Fabien, semua sama bagusnya.” Wanita muda itu mendongak memperhatikan puncak bangunan puluhan lantai yang tinggi menjulang.


Gedung apartemen tersebut berada di tengah-tengah taman hijau luas yang lengkap dengan sarana bermain untuk anak-anak, tempat olahraga di ruang terbuka, serta kolam renang yang berada di belakang gedung.


“Apartemen Fabien jauh lebih mahal daripada di sini, Sayang. Luas tiap ruangannya saja pasti berbeda. Sepertinya di tempat ini, apartemennya sedikit lebih sempit dibandingkan milik Fabien,” jelas Arsenio.


“Tidak masalah, Rain. Ruangan kecil artinya aku tidak akan terlalu repot dan lelah untuk membersihkannya,” canda Binar sembari terbahak, lalu mencubit gemas pipi suaminya.


“Tinggal di kolong jembatan pun tak masalah, asalkan bersama Tuan Arsenio,” rayunya dengan suara menggoda.


“Binar,” desah pria rupawan itu. “Tolong jangan memancingku." Arsenio melirik sang istri dengan tatapan penuh isyarat.


“Aku hanya berkata apa adanya,” sanggah wanita muda nan cantik itu.


“Tuan Normand sudah berpesan pada pengelola gedungnya, jika kita akan melihat-lihat bagian dalam apartemen sekarang. Bagaimana?” tawar Arsenio.


“Ayo, kita masuk,” ajak Binar seraya melingkarkan tangan pada lengan sang suami. Mereka lalu bersama-sama melangkah ke dalam lobi. Di sana telah menunggu seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah pada pasangan suami istri tadi.


“Hai. Anda pasti Tuan dan Nyonya Rainier. Tuan Normand sudah memberitahukannya kepadaku,” sambut wanita itu dalam bahasa Jerman dengan ramah. “Kenalkan, namaku Helen,” ujarnya memperkenalkan diri.


“Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Helen.” Arsenio balas menjabat tangan wanita tersebut, lalu mengarahkan Binar untuk melakukan hal yang sama. “Istriku belum bisa berbahasa Jerman, tapi aku akan mengajarinya pelan-pelan,” imbuh pria itu. Arsenio memang sangat pandai dalam berkomunikasi. Pengalamannya menjadi seorang CEO perusahaan besar, terlihat jelas dalam pembawaan dan juga bahasa tubuhnya ketika berhadapan dengan orang yang bahkan baru dia temui.

__ADS_1


“Ah, kebetulan sekali. Di area apartemen ini sudah tersedia fasilitas belajar bahasa, perpustakaan, sarana olahraga lengkap dan juga arena rekreasi untuk keluarga. Aku pastikan tempat ini adalah yang terbaik untuk keluarga kecil seperti Anda,” papar Helen panjang lebar. Kali ini dia menjelaskan dalam bahasa Inggris, supaya Binar paham dengan apa yang dirinya sampaikan.


“Aku mau, Rain!” ucap Binar tanpa pikir panjang. “Kita pindah ke sini saja,” rengeknya.


“Apa kamu yakin?” Arsenio mengangkat satu alisnya.


“Sangat yakin!” jawab Binar tanpa ragu.


“Anda berdua tidak perlu khawatir dengan apapun. Perabot di dalam setiap ruangan apartemen juga telah lengkap. Anda cukup membawa baju-baju saja kemari,” jelas Helen lagi dengan antusias dan wajah yang berseri. Padahal saat itu, jam di ponsel sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Binar mengangguk-angguk penuh semangat sambil menatap penuh harap pada Arsenio.


“Ya, ampun.” Pria itu terkekeh melihat sikap istrinya yang lucu. “Baiklah, kita pindah ke sini. Malam ini juga?” tawar Arsenio.


“Kamu tidak lelah, ‘kan?” tanya Binar.


“Yes!” Binar mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi ke udara. “Bisakah kami meminta salah satu kuncinya, Nyonya?” pintanya kemudian.


“Tentu.” Helen mengajak pasangan suami istri itu mendekat ke kantor pengelola gedung. Dia lalu mempersilakan kedua sejoli tadi untuk duduk. “Kalian beruntung sebab aku tengah lembur malam ini. Biasanya kantor tutup jam enam sore,” jelasnya.


Helen berjalan memutari meja kerja, kemudian membuka salah satu laci lemari besi. Dia mengeluarkan setumpukan berkas, lalu membawanya ke atas meja. “Ini adalah surat perjanjian jual beli, beserta keterangan dan lampiran yang diperlukan. Bacalah dulu.” Wanita itu menyodorkan tumpukan kertas tersebut pada Arsenio dan Binar.


“Tuan Normand sudah berjanji untuk melunasi satu unit. Aku diperbolehkan membayar setiap bulannya,” ujar Arsenio.


“Oh, baiklah.” Helen mengambil kembali tumpukan kertas tadi, lalu menggantinya dengan berkas-berkas baru yang jauh lebih tebal. “Anda boleh membacanya pelan-pelan. Setelah itu, Anda bisa menandatanganinya dan kembalikan lagi padaku.”


“Istrku ingin agar kami segera pindah kemari ... sekarang juga. Um, karena satu dan lain hal, aku juga berpikir seandainya kami bisa pindah secepat mungkin ke tempat ini.” Arsenio berdehem pelan. Tak mungkin pria itu menceritakan pada wanita asing di hadapannya, jika dia dan sang istri hendak menghindari ayahnya yang akan datang ke Jerman.

__ADS_1


“Itu adalah hal yang sangat mudah. Anda ingin memilih lantai berapa?” tanya Helen sembari menyalakan komputer sambil membenarkan letak kacamata yang dia kenakan.


“Lantai berapa saja. Jangan terlalu tinggi,” jawab Arsenio.


“Kalau begitu, lantai lima. Bagaimana?” tawar Helen menoleh pada pria tampan di hadapannya.


“Sepertinya itu cocok.” Arsenio pun menyetujui.


“Baiklah ” Helen mengetikkan sesuatu di layar komputer tadi, kemudian bangkit dari kursinya. Dia memasuki satu ruangan lain yang bersebelahan dengan ruangan kantor, lalu keluar dari sana sambil membawa satu kotak kecil berwarna abu-abu.


“Ini adalah kunci rumah manual, dan ini adalah kartu kunci untuk alarm rumah. Di balik kartu, terdapat angka yang menunjukkan kode bagi Anda untuk membuka maupun mengunci alarm,” terang Helen perlahan agar Arsenio dan Binar dapat memahaminya dengan baik.


“Angka yang tertera di kunci manual adalah nomor apartemen Anda berdua.” Helen tersenyum lebar. Satu jarinya menunjuk ke arah berkas-berkas di atas meja. “Anda bisa membawa ini dan membacanya perlahan. Besok sore, kembalikanlah padaku dalam keadaan sudah ditandatangani,” sambungnya.


“Baik. Terima kasih.” Tak hanya Binar, Arsenio pun ikut tersenyum lebar. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Semenjak Arsenio memutuskan memilih Binar, dia selalu hidup berpindah-pindah. Mulai dari menempati apartemen milik Prajna hingga ke apartemen Fabien. “Aku akan mengambil barang-barang kami,” ujar Arsenio setelah berpamitan pada Helen.


Seakan tak sabar, pria rupawan itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemen Fabien.


Beruntung, saat memasuki ruangan mewah tersebut, sang adik belum tertidur. Musisi tampan itu masih asyik menonton televisi sambil mengunyah kudapan. “Hei, Broer! Apa kau yang menghabiskan kacang panggangku?” tanyanya ketika Arsenio dan Binar melintasi ruangan.


“Ah, kebetulan. Bantu aku berkemas.” Arsenio tak menghiraukan pertanyaan Fabien. Dia malah memaksa sang adik untuk membantu dirinya.


“Tidak usah, Rain. Aku masih sanggup untuk membereskan semuanya,” cegah Binar.


“Nah, kau dengar sendiri, bukan? Lagi pula aku masih lelah,” tolak Fabien yang kembali fokus pada layar televisi.


“Kalau kau tak mau membantu, maka aku akan tetap berada di sini sampai papa datang. Biarlah kami berkelahi. Siapa tahu ada barang-barang mahalmu yang pecah,” ancam Arsenio.

__ADS_1


“Astaga!” Fabien mengacak-acak rambut gelapnya, lalu berdiri sambil menghentakkan kaki. Sedari dulu, dia tak pernah bisa menang dari Arsenio.


__ADS_2