
Mobil mewah Winona melaju pelan memasuki halaman depan hunian megah Arsenio. “Terima kasih banyak karena sudah mengantar kami pulang, Kak,” ucap Binar seraya turun dengan hati-hati. Dia begitu antusias saat melihat suaminya tengah berbincang santai bersama Dwiki.
Begitu pula Winona yang segera menghampiri sang kekasih. Tinggal Anika yang masih terlihat ragu. Dia berdiri dengan raut tak nyaman. Sikapnya pun menjadi salah tingkah di samping mobil Winona, sampai Binar melambaikan tangan dan memanggilnya agar mendekat. Malu-malu, Anika menaiki anak tangga, lalu duduk di salah satu kursi teras yang kosong. “Ehm, Ajisaka di mana, ya?” tanyanya lirih pada Arsenio yang berada tepat di hadapannya.
“Sebentar lagi dia akan datang. Tunggu saja,” jawab Arsenio ramah.
Binar sendiri segera mengambil posisi di samping kanan sang suami. Lembut dia membelai lengan Arsenio. Namun, pria rupawan itu langsung berjingkat sambil meringis kesakitan. “Eh, kenapa? Apa ini?” Wajah Binar berubah cemas,ketika dirinya merasakan ada sesuatu di balik lengan T-shirt sang suami. Dengan segera, wanita yang tengah hamil muda itu menaikkan lengan T-Shirt yang menutupi lengan kekar Arsenio. “Kenapa diperban, Rain?” Nada bicara Binar tiba-tiba meninggi. Sikapnya menjadi seperti itu karena rasa khawatir yang berlebihan.
“Ini hanya kecelakaan kecil, Sayang. Jangan cemas,” jawab Arsenio kalem.
“Kecelakaan apa? Kenapa kamu tidak menceritakan apapun padaku?” protes Binar tak suka dengan sikap sang suami yang seakan meremehkan kekhawatirannya.
“Aku tidak mau mengganggu acara relaksasimu,” kilah Arsenio terkekeh pelan. “Jadi, bagaimana rasanya memanjakan diri di spa?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Rasanya pasti bahagia sekali, sampai-sampai lupa akan tanggung jawab. Benar ‘kan, Anika?” sahut Winona yang tengah menyindir kekasih Ajisaka.
“Eh, iya … saya ….” Anika kembali salah tingkah. Perasaan takut dan bersalah semakin mengganggu perasaannya. Beruntung, Ajisaka datang dan menyelamatkan suasana. Anika pun seperti mendapat sebuah tameng untuk berlindung.
“Selamat sore, Bos!” sapa pria tampan berkulit eksotis tersebut. Ajisaka langsung mengulurkan tangan. Akan tetapi, dia menariknya kembali, ketika Arsenio tampak kesulitan untuk membalas jabat tangan yang Ajisaka sodorkan. “Oh, iya. Saya lupa. Dwiki tadi sudah menceritakan semuanya. Hebat sekali Anda. Bisa selamat dari tembakan Bayu,” celoteh Ajisaka yang segera membuat Binar terkejut setengah mati.
“Ditembak?” ulang Binar dengan mata terbelalak.
“Suami Anda keren sekali, Bu Bos. Dia melumpuhkan Bayu dengan tangan kosong. Kalau Bu Bos mau, saya ada videonya.” Ajisaka begitu bersemangat merogoh ponsel di saku celana. Dia hendak menunjukkan rekaman video dari salah seorang teman barunya yang berprofesi sebagai seorang polisi. Polisi tersebut mendapatkan video itu dari tetangga Bayu yang sempat merekam kejadian pagi tadi. Ajisaka sama sekali tak memedulikan isyarat yang diberikan oleh Dwiki. Dia malah menyodorkan ponselnya kepada Binar.
__ADS_1
“Aku juga mau lihat!” Winona ikut mendekat, lalu berdiri di samping Binar. Dua wanita itu tampak asyik melihat layar ponsel Ajisaka. Lain halnya dengan Anika yang mengedipkan mata pada Ajisaka. Bagi Anika, tak ada yang lebih menarik dari pria jangkung berwajah rupawan yang kini tersenyum manis padanya.
“Pakai saja hp saya, Bu Bos. Saya tinggal dulu sebentar,” pamitnya sembari memberi kode pada Anika agar mengikutinya ke halaman samping kediaman Arsenio.
Sementara Binar sama sekali tak peduli. Dia terlalu serius memperhatikan adegan demi adegan yang terekam dalam video. Begitu pula Arsenio yang tak menyahut. Dia terlalu tegang menunggu tanggapan Binar nantinya. Hanya Dwiki saja yang terlihat senang sambil senyum-senyum sendiri. Kekasih Winona tersebut menantikan adanya Perang Dunia ke-3.
“Tega ya kamu, Rain! Hal sepenting ini tidak kamu ceritakan padaku!” protes Binar yang tampak begitu kecewa.
“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, Sayang,” bujuk Arsenio. “Lagi pula, ini hanya luka kecil. Kulitku sobek dan sudah dijahit,” jelasnya.
“Terserah kamu saja!” Binar merajuk lagi, meskipun tak separah beberapa hari lalu saat dirinya melihat video vulgar suaminya bersama Winona. Akan tetapi, hal itu tetap saja membuat Arsenio was-was, sehingga dia merasa harus mengikuti langkah Binar yang segera masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa lagi.
Kini, tinggallah Dwiki dan Winona berdua di teras. Dua sejoli yang sudah sejak tadi menahan tawa, kini dapat melepaskannya dengan leluasa. “Sepertinya menikah itu menyenangkan,” celetuk sepupu Ajisaka tersebut.
“Sangat tertarik. Asalkan pasanganku adalah dirimu. Sayangnya ….” Dwiki terdiam sejenak, membuat Winona penasaran.
“Sayangnya kenapa?” tanya wanita cantik itu penasaran.
“Sayangnya, aku tak bisa mengimbangi kemapanan keluarga Biantara Sasmita,” sahut Dwiki seraya tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya.
“Oh, kamu pikir aku peduli akan hal-hal remeh semacam itu?” sahut Winona dengan nada kecewa.
“Itu bukan hal remeh, Win. Aku takut kamu merasa kecewa. Kehidupan berumah tangga itu tidaklah seindah yang terlihat. Andai saja keadaanku sudah mapan dan layak untukmu, maka hari ini juga aku akan melamarmu di hadapan Pak Biantara Sasmita,” ujar Dwiki. Dia melirik Winona yang tampak merengut. Wanita muda itu tak menanggapi ucapan sang kekasih.
__ADS_1
Winona memang tak menyukai ucapan Dwiki. Itu seperti mengempaskan harapan indahnya tentang hubungan yang jauh lebih serius. “Apakah kamu tidak berniat untuk menikahiku?” tanya Winona pelan. Ada rasa malu dalam dirinya, saat harus mengutarakan pertanyaan tersebut. Tanpa menunggu jawaban dari Dwiki, dia pun beranjak dari tempat duduknya. Winona berjalan menuju mobil.
Menyadari jika kekasihnya mulai merajuk, Dwiki segera menyusul wanita cantik tersebut. Dia menahan gerak Winona yang sudah duduk di belakang kemudi. Akibat sabuk pengaman yang sudah dipasang, Winona tak bisa ke mana-mana. Dia juga tak mampu menghindari perlakuan manis yang Dwiki lakukan sebagai permintaan maaf.
….
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Arsenio menjemput perwakilan Normand Heinze yang datang langsung dari Jerman ke bandara. Bersama Dwiki, dia menyambut kedatangan pria bule itu di terminal kedatangan.
“Tuan Arsenio Rainier?” sapa pria berambut pirang yang sedang Arsenio tunggu. Dia mengulurkan tangan sambil menyunggingkan senyuman ramah.
“Anda bisa berbahasa Indonesia?” Arsenio begitu terpukau.
“Sedikit,” jawab pria yang belum Arsenio ketahui namanya tersebut. “Saya sempat menjalani kursus kilat Bahasa Indonesia sebelum berangkat kemari,” lanjutnya.
“Oh, begitu. Tenang saja. Di sini, akan ada banyak yang mengajari Anda Bahasa Indonesia. Pria di sebelahku ini contohnya,” tunjuk Arsenio sembari menoleh pada Dwiki.
“Oh, beres. Serahkan semuanya kepada saya,” ujar Dwiki tersenyum lebar sambil menepuk dada.
“Baru lima menit aku menginjakkan kaki di Indonesia. Aku sudah merasa kerasan,” ucap pria tampan berambut pirang tadi.
“Syukurlah, tapi ini belum apa-apa. Aku yakin jika kau akan lebih kerasan di rumahku, karena istriku sudah mempersiapkan segala macam untuk menyambutmu,” ujar Arsenio seraya mengarahkan pria yang terlihat masih sangat muda itu ke area parkir.
Di sana, Dwiki langsung membantu memasukkan barang-barang bawaan milik perwakilan Normand tersebut ke dalam bagasi mobil. Ekor matanya sempat menangkap nama yang tertera di label bagasi yang tertempel di gagang koper. “Meier, Carlen,” gumamnya lirih.
__ADS_1
“Ah, aku sampai lupa memperkenalkan namaku!” seru si pria Jerman seraya menepuk keningnya. “Tuan-tuan, perkenalkan namaku Carlen Meier. Senang bertemu dan berkenalan dengan Anda berdua,” ucapnya hangat.