
Arsenio berjalan mondar-mandir sambil menggenggam erat ponselnya di dalam ballroom hotel, yang akan menjadi tempat pesta pertunangan antara dirinya dengan Winona besok. Mata coklat terang pria itu awas mengamati setiap orang yang berlalu lalang di sana. Kebanyakan dari mereka merupakan anak buah Chand, yang bertanggungjawab jawab dalam pelaksanaan acara. Sementara Chand sendiri belum terlihat di sana.
“Ck! Di mana Chand? Apa dia tidak jadi kembali ke Jakarta hari ini?” gumam Arsenio pada diri sendiri. Pria itu semakin gelisah, ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Padahal, Chand mengatakan hendak berangkat dari Yogyakarta jam delapan pagi tadi. Itu berarti, seharusnya dia sudah tiba di Jakarta sejak beberapa jam yang lalu.
Namun, segala kegelisahan yang dirasakan Arsenio pada akhirnya sirna, ketika seseorang menepuk bahunya dengan pelan. Arsenio segera menoleh dan mendapati Chand telah berdiri tenang di belakangnya. “Apa kamu menungguku?” tanyanya santai.
“Astaga! Ke mana saja kamu? Kukira kamu lupa!” gerutu Arsenio kesal.
“Aku harus mengurusi expo-ku lebih dulu,” jawab Chand seraya mengulurkan tangan, pada deretan kursi yang telah disusun rapi di sudut ruangan super luas itu. Arsenio pun mengikuti Chand yang berjalan lebih dulu, lalu duduk di salah satu kursi tadi. Dia memilih tempat duduk tepat di sebelah sahabatnya tersebut. “Bagaimana? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Chand kemudian.
“Tentang pesta ini,” jawab Arsenio. Raut wajah serta nada bicaranya menunjukkan bahwa dia sedang merasa gusar saat itu. “Jujur saja, sebenarnya aku ingin mengadakan pesta ini secara tertutup,” ujarnya kemudian.
“Kenapa demikian?” Chand menautkan alisnya yang sedikit tebal dan berwarna gelap.
“Aku ....” Arsenio tak segera menyahut. Dia malah mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang sedari tadi berada dalam genggaman, kemudian memainkannya. “Aku tak ingin ada banyak orang yang tahu jika ....”
“Itu tidak mungkin, Sen. Sejak awal, kedua orang tuamu dan orang tua Wini sudah merencanakan acara besar-besaran. Kamu tahu sendiri bahwa pertunangan kalian berdua juga sebagai pengukuhan kerja sama mereka selama beberapa tahun ini,” tutur Chand.
“Ya, tapi ....” Arsenio meraup wajahnya kasar. “Seandainya aku bisa menghindari semua ini!” gumamnya begitu kesal. Suaranya terdengar pelan, tapi Chand dapat mendengarnya dengan jelas.
“Kenapa kamu harus menghindar?” tanya Chand lagi semakin tak mengerti.
“Beberapa hari yang lalu, kedua adik Binar kembali menghubungiku dengan menggunakan nomor lain. Mereka mengatakan bahwa itu merupakan nomor telepon milik tetangga, lalu memberikan alamat mereka yang baru. Katanya, jika suatu saat aku bertemu dengan Binar, maka aku harus memberikan alamat baru itu agar Binar bisa menemukan adik-adiknya saat pulang ke Bali,” jelas Arsenio panjang lebar.
“Lalu? Apa hubungannya dengan pesta pertunanganmu?” tanya Chand semakin tak mengerti.
“Alasannya karena aku ... aku tidak ingin Binar tahu. Dia pasti sedih jika melihatku bersama ....” Arsenio tak melanjutkan kata-katanya. Dia setengah membungkukkan badan, lalu menempelkan tangan yang ditangkupkan dekat bibir. “Aku sadar jika pertunangan ini harus tetap dilanjutkan. Karena ini semua bukan hanya tentang diriku, tapi juga tentang nama baik dan tanggung jawab terhadap kelangsungan bisnis keluarga,” sambung Arsenio pada akhirnya.
“Setiap memikirkan tentang Binar, aku merasa seperti jika itu bukanlah diriku,” imbuhnya sebelum terdiam untuk beberapa saat. “Baiklah.” Arsenio kemudian berdiri dan berkacak pinggang menghadap Chand yang masih tetap duduk. “Jadikan pesta ini pesta privat! Jangan ada wartawan satu pun. Itu keputusanku, Chand,” tegasnya.
“Lalu, bagaimana dengan konsep awal yang sudah kuajukan pada orang tuamu dan orang tua Wini? Apalagi undangan sebanyak seribu lima ratus sudah disebar,” protes Chand yang akhirnya ikut berdiri.
“Masalah tamu undangan, biarlah. Namun, kamu harus membuat aturan untuk semua orang agar tidak menyalakan ponsel, apalagi merekam selama prosesi pertunangan berlangsung. Sebar anak buahmu di tiap titik agar lebih mudah mengawasi,” titah Arsenio tanpa ada beban sama sekali.
“Aku rasa om dan tante tidak akan menyukai hal ini, Sen,” protes Chand mengingatkan.
__ADS_1
“Aku tidak peduli mereka suka atau tidak. Ini adalah pestaku, acaraku! Toh, aku sudah menuruti semua kemauan mereka. Sekarang saatnya mereka menyetujui keinginanku!” sahut Arsenio dengan nada yang sedikit tinggi. Dia bermaksud untuk berbalik meninggalkan Chand, sebelum tiba-tiba teringat akan sesuatu. Arsenio pun kembali membalikkan badan dan mendekat pada Chand. Ditatapnya pria rupawan yang memiliki tinggi badan sama dengannya. “Maaf,” ucap Arsenio tiba-tiba.
“Maaf?” ulang Chand seraya menautkan alisnya.
“Maaf untuk semua hal tidak menyenangkan yang pernah kulakukan padamu,” sambung Arsenio dengan raut kaku dan datar. Ada rasa tak enak dalam hatinya.
“Kamu mabuk, ya?” Chand terkekeh, tak menanggapi serius ucapan sahabatnya tadi.
“Ah, sudahlah.” Arsenio mengibaskan tangannya dengan wajah memerah. Dia memutuskan benar-benar berlalu dari hadapan Chand.
“Apa Wini masih tetap mengundang Ghea dan keluarganya?” seru Chand di saat jaraknya dengan Arsenio sudah agak jauh.
“Ya! Mama Ghea dan mama Wini berteman akrab,” jawab Arsenio sembari melambaikan tangan. Dia tetap melangkah tanpa berbalik lagi. Sedangkan Chand hanya terdiam setelah mendengar jawaban Arsenio. Dia tercenung mendengarkan jawaban sahabatnya tersebut.
Sementara Arsenio telah berada di luar. Pria blasteran Belanda-Indonesia itu berdiri untuk beberapa saat sambil memperhatikan lingkungan sekitar dia berada. Sesaat kemudian, Arsenio merasakan ponsel yang masih dia genggam bergetar. Pria yang telah mendapatkan kembali ingatannya itu, kemudian mengalihkan perhatian pada deretan angka yang muncul di layar ponselnya. Arsenio buru-buru menjawab panggilan tersebut.
“Halo," sapanya. "Bagaimana, Ki?” tanya Arsenio langsung tanpa basa-basi. Dia lalu mencari tempat di luar area ballroom. Sebelum melanjutkan perbincangan, Arsenio terus melangkah menuju taman hotel.
“Aku sudah berhasil menemukan titik terang, Bos,” jawab suara di seberang sana, yang tak lain adalah Dwiki. “Ciri-ciri dari yang anda sebutkan kemarin, sangat cocok dengan salah satu sopir bernama Burhan. Kebetulan aku juga sudah menemukan alamat rumahnya. Namun, sayang sekali karena istrinya mengatakan bahwa dia sudah tidak pulang dalam beberapa hari terakhir,” lanjut sang ajudan rahasia itu lagi.
“Sudah, Bos. Entah benar atau tidak karena istrinya pun mengatakan bahwa dia tidak tahu. Menurutnya, ponsel milik Burhan tidak bisa dihubungi sama sekali. Pria itu menghilang begitu saja,” jelas Dwiki.
“Ck!" gerutu Arsenio. Wajah tampannya saat itu terlihat bersungut-sungut. “Lalu, apa tidak ada informasi lainnya lagi yang berhasil kamu dapatkan?" tanyanya dengan gemas.
“Nah ... ini bagian yang paling seru, bos,” jawab Dwiki tergelak. “Aku sudah berhasil meretas rekening pribadinya. Di sana aku menemukan adanya aliran dana tak wajar dalam jumlah yang sangat besar.”
“Apa maksudmu?” tanya Arsenio membetulkan sikap duduknya.
“Ada seseorang yang telah menransfer uang dalam jumlah besar ke rekening Burhan. Tak tanggung-tanggung, bos. Jumlahnya tiga ratus juta!” terang Dwiki berapi-api.
“Dari siapa?” cecar Arsenio yang semakin penasaran.
“Aku masih belum bisa melacak nomor rekening pemiliknya, bos. Beri aku waktu tiga hari lagi. Bagaimana?” tawar Dwiki.
“Oke! Hanya tiga hari. Nanti kuhubungi lagi,” tanpa menunggu jawaban Dwiki, Arsenio mengakhiri panggilannya begitu saja. Dia berniat kembali masuk ke dalam gedung, ketika langkahnya dihadang oleh Indah.
__ADS_1
“Telepon dari siapa, Sen?” tanya Indah dengan nada menggoda.
“Ya, ampun. Kamu lagi? Aku heran kenapa Wini masih belum juga memecatmu,” dengus Arsenio kesal. Dia tak memedulikan kehadiran gadis seksi itu dan memilih untuk masuk ke ballroom.
“Dia tidak akan berani memecatku. Orang tuanya pasti akan bertanya-tanya dan bahkan menyelidiki. Jika mereka sudah sampai turun tangan, maka perselingkuhan kita yang telah lalu pasti akan terbongkar. Wini tidak mau itu terjadi,” jelas Indah dengan yakin seraya mengikuti langkah kaki Arsenio.
“Seharusnya biarkan semua orang tahu betapa busuknya aku. Dengan begitu, orang tua Wini tidak akan memiliki keinginan lagi untuk menjadikanku sebagai menantu.” Arsenio terkekeh.
“Uang adalah segalanya, Sen. Kehilangan dirimu, sama halnya dengan kehilangan ratusan juta dollar dan kerja sama yang terjalin sekian lama,” sahut Indah. Kini, gadis itu berjalan sejajar dengan Arsenio.
“Lagi-lagi tentang hal itu. Aku bosan mendengarnya. Sudah, jangan aku ganggu aku lagi.” Tanpa ragu, Arsenio mengusir Indah yang terus mengikutinya.
“Tenang saja, Sen. Wini masih ada di rumahnya. Dia tak akan melihat kita berduaan seperti ini,” ujar Indah dengan nada merayu.
Seketika, Arsenio menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam kepada Indah. “Dengar, ya! Ada atau tidak ada Wini, aku ingin kamu berhenti menggangguku! Jangan lagi mengungkit apapun yang telah terjadi di masa lalu, karena aku akan memastikan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi ke depannya!” tegas kalimat Arsenio dengan kedua tangan mencengkeram lengan Indah kuat-kuat, membuat wanita itu meringis.
“Sen, sakit,” rintih Indah pelan.
“Aku bisa berbuat jauh lebih menyakitkan daripada ini jika kamu tidak menuruti apa kataku!" ancam Arsenio, kemudian melepaskan cengkeramannya.
“Kamu akan menyesal telah berbuat begini, Sen!” Indah balik mengancam.
“Arsenio tidak bisa diancam, Indah sayang. Apa kamu lupa kedudukanku dan kedudukanmu sendiri? Aku bisa menghancurkan hidupmu hanya dengan satu kali jentikan jari,” Pria rupawan bermata coklat terang itu menyeringai lebar, “tapi itu nanti, setelah aku menyelesaikan semua urusanku. Untuk sementara, semua orang yang berada di sekitarku akan kuanggap sebagai tersangka,” ujar Arsenio datar.
“Tersangka? Tersangka apa?” Indah melipat kedua tangannya di dada. Setitik rasa takut dan khawatir mulai menyelinap di sudut hatinya.
“Yang kualami sampai aku kehilangan memori beberapa waktu lalu bukanlah kecelakaan. Aku yakin, seseorang di luar sana tengah berusaha mencelakai atau bahkan membunuhku. Aku yakin, siapapun pelakunya, dia tahu banyak tentangku. Sebelum aku menemukan dalangnya, maka kuanggap kau atau siapapun itu, adalah musuhku,” telunjuk Arsenio mengarah ke wajah Indah yang memerah.
.
.
.
Hai, otor datang membawakan satu karya keren dari teman otor. Buruan kepoin, dijamin seru abiis
__ADS_1