
Arsenio menepati janjinya. Dengan menggunakan mobil milik Lievin, malam itu dia mengajak sang istri pergi ke warung mie ayam yang terletak di depan kompleks perumahan tempat tinggal Dwiki. Arsenio sekaligus membuat janji dengan anak buah kepercayaannya tersebut untuk bertemu. Banyak hal yang akan dia diskusikan bersama Dwiki.
Sebelum tiba di kompleks perumahan tersebut, Arsenio lebih dulu memarkirkan kendaraannya di depan sebuah apotik. Sama halnya dengan Binar, pria tampan berdarah Belanda itu pun ingin memastikan apakah dirinya benar-benar akan menjadi seorang ayah atau tidak.
Arsenio berjalan cepat memasuki apotik, sementara Binar menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian, pria itu keluar sambil membawa sebuah kantong plastik besar. Dia membuka pintu mobil sembari tersenyum lebar. Arsenio pun meletakkan kantong plastik yang tadi dia bawa ke atas pangkuan sang istri.
“Apa ini, Rain?” tanya Binar seraya membuka kantong plastik tersebut dengan terheran-heran. Mata indahnya membulat sempurna saat melihat puluhan kotak alat pengetes kehamilan. “Untuk apa kamu membeli sebanyak ini?” protesnya, “memang siapa saja yang akan memakainya?”
“Untuk berjaga-jaga seandainya ada yang tidak berfungsi dengan baik. Tidak semua alat pengetes kehamilan menunjukkan hasil yang akurat. Jadi, aku membeli dari harga termurah sampai yang paling mahal dan bagus,” sahut Arsenio dengan enteng seraya melajukan mobil.
“Ya ampun.” Binar berdecak pelan. Ada saja kelakuan sang suami yang membuatnya merasa pening. Seperti saat itu, ketika dengan tanpa beban apapun Arsenio merogoh ponsel, kemudian menelepon seseorang. “Halo, Anika,” sapa Arsenio yang sontak membuat Binar melotot. “Bisakah kita bertemu satu jam lagi di rumah yang pernah kamu datangi malam itu?”
“Jangan macam-macam ya, Rain,” desis Binar seraya mengarahkan telunjuk ke wajah sang suami.
“Ya. Rumah yang sempat kamu datangi setelah membeli mie ayam waktu itu,” ujar Arsenio. Kata-kata itu dia tujukan kepada Anika di telepon, tanpa memedulikan sikap keberatan yang Binar layangkan padanya. “Oke. Baiklah.” Arsenio mengakhiri panggilan, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang istri yang mulai merajuk.
“Astaga, masih juga cemburu dan curiga.” Arsenio buru-buru menepikan kendaraan, padahal mereka belum sampai di tempat tujuan. “Dengar ya, Nyonya Arsenio.” Putra sulung keluarga Rainier itu menangkupkan kedua tangan di wajah cantik Binar. “Kamu baru boleh cemburu jika aku menghubungi wanita lain secara sembunyi-sembunyi atau tanpa sepengetahuanmu. Di mana-mana, orang selingkuh itu tidak mungkin terang-terangan di depan pasangannya.”
“Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu tidak menghubungi siapa pun di belakangku?” sanggah Binar tak mau kalah.
“Bukankah kamu yang paling sering memeriksa ponselku dibandingkan aku sendiri?” Arsenio mengangkat satu alisnya sambil memasang mimik lucu.
“Terus … kenapa kamu ingin bertemu dengan Anika?” tanya Binar ketus.
__ADS_1
“Karena aku hendak memastikan sesuatu,” jawab Arsenio seraya menyalakan kembali mesin mobil, kemudian melajukannya dengan kecepatan pelan.
“Sesuatu apa?” tanya Binar lagi semakin penasaran.
“Sesuatu yang berhubungan dengan preman-preman kemarin, yang telah menghancurkan rumah papa,” jelas Arsenio kalem.
“Beruntung kamu memiliki banyak asisten rumah tangga. Tidak sampai satu hari, mereka sudah berhasil membereskan kekacauan yang ada. Rumahmu kembali tampak bersih dan rapi, seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya,” ucap Binar.
“Suatu saat kita akan memiliki rumah sendiri, Sayang. Ingatlah janjiku ini. Aku akan membelikanmu hunian yang jauh lebih mewah dari rumah milik papa,” ucap Arsenio penuh keyakinan.
“Aku tidak ingin rumah yang terlalu besar dan mewah, Rain,” sahut Binar dengan sorot sendu.
“Kenapa memangnya?” Arsenio mengernyitkan kening. “Baru kali ini aku bertemu perempuan yang tak suka dijanjikan rumah mewah,” celetuknya sambil terkekeh geli.
“Aku taku jika semakin luas dan banyak ruangan, maka akan semakin menjauhkan jarak di antara kita,” sahut Binar pelan.
“Jangan tertawa, Rain!” Wajah cantik Binar mulai bersungut-sungut. “Berapa banyak kasus perceraian yang berasal dari suami karena terlalu sibuk bekerja. Mereka membangun rumah mewah dan melimpahi istrinya dengan harta. Namun, di sisi lain jarak antara suami istri menjadi semakin terbentang. Mereka jarang bertemu, jarang mengobrol, lalu berakhir dengan memiliki simpanan masing-masing,” tutur Binar panjang lebar.
“Ya, ampun. Kamu terlalu banyak menonton acara gosip artis.” Arsenio berdecak pelan. Dia tak terlalu memperhatikan sang istri, ketika mereka sudah memasuki gerbang depan kompleks perumahan. Pria berambut coklat yang sekarang sudah sedikit panjang itu tampak menyapu pandangan ke segala sisi untuk mencari tempat parkir yang aman.
Pada akhirnya, Arsenio memarkirkan mobil di lapangan kecil, tepat di dekat sebelah bangunan minimarket. Setelah melepas sabuk pengaman, dirinya menghadap ke arah Binar yang masih cemberut. Tanpa permisi, dia menangkup wajah Binar dan membuat sang istri menoleh kepadanya. Setelah itu, Arsenio mencium lembut bibir Binar dan mengakhirinya dengan sebuah gigitan kecil.
“Apa yang terjadi pada setiap orang tidaklah sama, Sayang. Begitu pula dengan cara tiap individu dalam menyikapi suatu keadaan. Boleh jadi mereka berselingkuh dan menjauh dari pasangan karena ingin merasakan sesuatu yang berbeda, atau mungkin karena bosan. Ada banyak sekali alasan, salah satunya karena sudah tak ada lagi perasaan cinta. Sebagian orang juga memiliki alasan karena ingin melakukan sesuatu yang menantang, sama sepertiku dulu. Aku sudah merasakannya dulu, meskipun bukan dalam konteks sebuah pernikahan.” Arsenio menarik napas pelan sebelum melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Percayalah, Binar. Setelah bertemu denganmu, aku memandang segala hal dengan cara yang berbeda. Sejak bersamamu, setiap kali mengingat semua yang kulakukan di masa lalu, maka aku selalu tersiksa. Seandainya waktu bisa diputar. Aku tak harus melukai siapa pun.” Pria tampan itu mende•sah pelan.
“Kamu boleh tidak percaya, tapi tak ada setitik pun dalam pikiran dan hatiku untuk menjauh, apalagi membuat jarak denganmu. Lagi pula, kenapa kamu tidak melihat kedua orang tuaku? Sebesar apa rumah mereka? Nyatanya pernikahan keduanya baik-baik saja.” Arsenio kembali mendekatkan wajah dan mencium bibir sang istri dengan penuh perasaan.
“Apalagi jika kita akan benar-benar memiliki bayi. Kurangilah cemburu berlebihanmu itu,” Arsenio tersenyum, lalu meringis kesakitan kala tangan Binar mencubit pinggangnya.
“Justru aku akan lebih cemburuan selama hamil,” sahut Binar dengan nada tinggi.
“Bagaimana bisa?” Arsenio menepuk dahinya pelan.
“Nanti kalau aku hamil, badanku akan semakin gemuk, pinggangku tidak akan ramping lagi dan perutku tak rata. Wajahku membulat dan aku pasti akan terlihat jelek, Rain. Sementara kamu ….” Binar menunjuk sang suami dengan menggerakkan kedua tangan ke atas kepala Arsenio sampai ke ujung kakinya. “Kamu selalu terlihat tampan dan sempurna,” dengus Binar kesal, membuat Arsenio terbahak.
“Percayalah padaku, Sayang. Penampilan fisik itu bisa diperbaiki, apalagi kalau suamimu ini memiliki harta yang banyak. Akan tetapi, yang di dalam sini ....” Arsenio menempelkan telapak tangan di tengah dada sang istri. “Tidak ada yang bisa menyamai kecantikan, kelucuan, kebaikan, serta cemburuannya seorang Binar. Di dunia ini hanya ada satu Binar.”
“Ah, dasar. Perayu ulung.” Sambil memasang wajah bersungut-sungut, Binar melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil begitu saja tanpa menunggu sang suami. Dia bahkan berlari cepat menuju antrian warung mie ayam yang kebetulan tak terlalu panjang.
Sementara Arsenio menyusul istrinya sambil tak berhenti tertawa. Dia melingkarkan tangan di pundak Binar dengan begitu saja. Pasangan suami istri itu patut bersyukur sebab mereka kini sudah berada di urutan ketiga.
“Kali ini jangan membuat ulah lagi ya, Sayang. Aku tidak ingin kita mengantri dengan sia-sia,” bisik Arsenio.
"Tergantung. Kalau tidak ada yang membuatku kesal ya ...." Binar tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena kini mereka sudah mendapat giliran memesan. Rasa penasaran kembali hadir dengan mie ayan yang terlihat biasa saja itu, tapi bisa menarik banyak pembeli. Setelah sang penjual menyerahkan pesanan berupa empat bungkus mie ayam, pria jangkung itu mengajak Binar kembali ke mobil dan menjalankannya pelan ke arah rumah Dwiki.
"Begini ya rasanya kalau menikahi bocah," celetuk Arsenio. "Belajarlah untuk sedikit lebih dewasa, meskipun aku kerap memanjakanmu," tegur Arsenio sambil terus melajukan kendaraan dengan cukup pelan, karena di jalanan itu terdapat banyak polisi tidur. Akan tetapi, ketika mereka telah memasuki blok tempat tinggal Dwiki, Arsenio tiba-tiba menginjak rem. Dilihatnya ada sebuah mobil yang tak asing lagi.
__ADS_1
“Kenapa lagi, Rain?” tanya Binar yang penasaran karena sikap sang suami.
“Ada mobil Winona.” Telunjuk Arsenio tertuju pada sebuah sedan mewah yang parkir tepat di depan halaman rumah Dwiki.