
Sejak prosesi pemakaman Anggraini, Binar tampak jauh lebih murung dan pendiam dari biasanya. Dia sering sekali berdiri di balkon, dengan mata yang menerawang ke langit.
Seperti dini hari itu, di saat Arsenio masih tertidur pulas. Binar sudah membuka pintu balkon lebar-lebar, lalu menatap ke angkasa luas yang masih berselimut gelap. Wanita muda yang semakin terlihat cantik dan berseri itu mende.sah pelan, lalu termenung beberapa saat.
Dia terus begitu, sampai-sampai dirinya tak menyadari bahwa Arsenio sudah berdiri di belakangnya.
“Sedang apa kamu pagi-pagi begini, Sayang?” tanya Arsenio lembut seraya mengecup pundak Binar yang tidak tertutupi pakaian. “Apa kamu tidak kedinginan hanya memakai kaus berukuran besar begini?” Pria bermata coklat terang itu membetulkan letak kerah kaus yang miring dan melorot melewati pundak sang istri. Arsenio tersenyum. Namun, senyuman itu tak dapat menyembunyikan duka yang mendalam. Semua terpancar dari sorot matanya yang sendu.
“Sampai kapan kamu akan mengurungku di kamar seperti ini, Rain?”tanya Binar terdengar lirih. Namun, meskipun demikian Arsenio dapat mendengarnya dengan jelas.
“Sampai penjahat-penjahat itu tertangkap, Sayang. Bersabarlah sebentar lagi. Kupastikan semua akan segera selesai,”jawab Arsenio. Dia mengecup pundak mulus Binar lagi dan lagi.
“Hari ini adalah jadwal kontrol ke dokter kandungan. Kamu pasti masih ingat, ‘kan?” Binar berbalik, kemudian menghadapkan seluruh tubuhnya pada Arsenio.
Putra sulung keluarga Rainier itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Bagaimana jika kita panggil saja dokternya agar datang kemari?” tawar Arsenio.
Kali ini, giliran Binar yang menarik napas panjang. “Coba saja,” jawabnya seraya berjalan masuk, lalu berbaring miring di atas ranjang. “Kalau aku tidak boleh keluar dari rumah, setidaknya izinkan aku keluar kamar sebentar saja. Aku juga ingin melihat keadaan papa.”
“Terakhir kali kuizinkan kamu keluar, kamu malah hampir pingsan di depan papa,” keluh Arsenio. Dia juga ikut berbaring sambil menghadap kepada Binar.
“Itu adalah hal yang wajar, Rain. Aku benar-benar shock melihat kenyataan bahwa mama … mama ….” Binar tak sanggup melanjutkan kata-katanya, saat melihat Arsenio meneteskan air mata.
“Selama ini aku selalu mengecewakan mama. Sikap-sikapku yang tak pantas di masa lalu pasti telah menjadi pukulan yang menyakitkan baginya. Namun, mama selalu sabar. Aku menyesal karena tak memiliki banyak waktu untuk kami habiskan bersama,” ucap Arsenio dengan suara bergetar.
“Mama pasti sudah memaafkanmu, Rain. Walaupun aku belum melahirkan, tapi tak lama lagi aku akan menjadi seorang ibu. Kasih sayang itu sudah terbentuk bahkan dari sebelum aku dapat melihat wujud bayi yang akan kulahirkan nanti. Sama halnya dengan satu kata maaf dari seorang ibu. Itu seperti sebuah penghapus dari seluruh kesalahan yang telah kamu lakukan. Sebanyak dan sebesar apapun.” Binar menyeka air mata yang di pipi Arsenio. Baru kali ini dia melihat sang suami benar-benar terpuruk.
“Jangan menangis lagi, Rain. Kamu harus ingat dengan papa. Dia juga membutuhkan perhatian dan dukungan darimu. Kita semua bersedih karena kejadian ini,” lanjut wanita muda itu.
“Dulu aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama mama. Selain karena dia sibuk, aku juga terlalu asyik dengan urusan sendiri, sehingga belum sempat mengatakan jika aku sangat menyayanginya,” sesal Arsenio. Dia lalu beringsut. Mendekat dan memeluk tubuh ramping Binar.
__ADS_1
Arsenio mencoba mencari kehangatan dan kekuatan di sana. “Jika nanti anak kita sudah lahir. Aku ingin agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kalian.”
“Menurutku, tanpa kamu mengucapkan kata-kata sayang pun, mama pasti sudah mengetahuinya. Ya, Tuhan, Rain. Aku juga tidak percaya hal seburuk ini terjadi pada kita. Rasanya seperti kiamat.” Binar membalas pelukan Arsenio. Sesekali dia mengusap punggung suaminya.
“Kupastikan siapa pun pelakunya, dia akan mendapat balasan lebih menyakitkan apa yang kita rasakan sekarang,” geram Arsenio di sela-sela tangisnya. Sementara Binar menanggapi dengan semakin mempererat pelukan.
“Istirahatlah, Rain. Tidur akan membuat pikiranmu sedikit lebih ringan. Aku tahu bahwa kamu baru bisa tidur lewat tengah malam tadi,” saran Binar lembut.
“Temani aku,” pinta Arsenio. “Nanti kita sama-sama melihat keadaan papa. Sejak pemakaman usai, papa sama sekali tidak keluar dari kamarnya.”
“Tentu,” balas Binar, sebelum kembali memejamkan mata. Dua sejoli itu tidur dalam posisi saling berpelukan sampai terdengar dering yang nyaring dari ponsel Arsenio.
Dengan malas, pria rupawan itu membuka mata, lalu memindahkan tangan Binar yang melingkar di perut secara perlahan dan hati-hati. Diraihnya telepon genggam yang tergeletak di atas nakas. Arsenio cukup kesulitan membaca nama yang tertera di layar, karena pandangannya yang masih buram. Dia belum sepenuhnya sadar.
Arsenio kemudian mengucek-ucek mata, sebelum mencoba membaca ulang nama kontak yang menghubunginya. “Tuan Normand?” gumam pria itu pelan seraya buru-buru menerima panggilan tersebut. “Hallo, Herr,” sapanya.
“Hallo, Arsenio. Aku mendengar kabar dari Rudolf. Katanya dia diberitahu oleh kedua adikmu tentang apa yang terjadi pada Nyonya Rainier. Aku turut berduka atas hal itu,” ucap Normand dari seberang sana.
“Apa yang terjadi di sana, Arsen? Apakah keadaannya serumit itu?” tanya Normand hati-hati.
“Begitulah, Herr. Keadaanku sangat buruk. Segalanya menjadi kacau,” jawab Arsenio pilu. Berat bagi dirinya untuk kembali membahas hal ingin dia lupakan.
“Ya, ampun. Katakan padaku apa yang kau butuhkan. Aku akan membantumu dengan senang hati,” ucap Normand bersungguh-sungguh. Pria itu terdengar sangat tulus.
“Terima kasih banyak, Herr. Jika suatu saat nanti aku merepotkanmu, apakah itu tidak masalah?” tanya Arsenio dengan agak ragu.
“Tentu saja tidak, Arsenio. Kau boleh meminta apa saja padaku,” jawab Normand dengan yakin.
“Sekali lagi kuucapkan terima kasih, Herr. Oh, ya. Kapan utusanmu akan datang ke Indonesia?” tanya Arsenio lagi.
__ADS_1
“Rencananya perwakilanku akan datang dua hari lagi. Aku sudah memesankan hotel yang nyaman untuk dia,” jelas Normand.
“Kenapa anda harus memesankan hotel? Bukankah sudah kubilang jika utusanmu kuterima dengan tangan terbuka di rumahku?” protes Arsenio pelan.
“Waktunya sangat tidak tepat, Arsen. Kau sedang berduka,” tolak Normand halus.
“Sama sekali tidak masalah, Herr. Utusanmu boleh tinggal di sini selama yang dia mau. Aku juga akan membantunya mengurus semua perizinan. Aku membutuhkan kesibukan untuk pengalihan perhatian, Herr. Supaya tidak terus larut dalam kesedihan,” ungkap Arsenio setengah memaksa.
“Baiklah, jika itu membuatmu merasa lebih baik,” putus Normand beberapa saat kemudian. “Aku akan menghubungimu lagi nanti.”
“Tentu,” ucap Arsenio sebelum mengakhiri panggilan. Ya, semakin banyak kesibukan, semakin bagus baginya. Mungkin dengan begitu, Arsenio tak terlalu tersiksa dengan bayangan kehilangan sang ibu.
“Telepon dari siapa, Rain?” Tiba-tiba, terdengar suara parau Binar yang ikut terbangun.
“Tuan Normand,” jawab Arsenio sambil membelai lembut pipi sang istri. “Entah bagaimana jadinya aku jika tak ada kamu di sini, Binar.”
“Kita akan melewati cobaan ini bersama-sama, Rain.” Binar mengecup lembut bibir tipis kemerahan suaminya, lalu turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi. “Jangan lupa untuk membuat janji dengan Dokter Dipta,” pesan Binar lagi ketika sudah berada di ambang pintu yang menuju ke kamar mandi.
“Oke,” sahut Arsenio singkat. Dia bergegas menghubungi dokter kandungan yang sudah menjadi langganannya. Tak berselang lama, Arsenio berdecak pelan sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tergesa-gesa bangkit dari duduk untuk menghampiri Binar yang tengah asyik membersihkan diri di bawah shower.
“Dokter Dipta tidak melayani panggilan dari rumah ke rumah,” ucap Arsenio begitu saja, membuat Binar sedikit terkejut. Dia lalu berbalik menghadap suaminya dengan tubuh polos.
“Tidak apa-apa, Rain. Selama ada kamu yang menemaniku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” hibur Binar menenangkan perasaan sang suami yang mulai terlihat khawatir.
“Kalau begitu akan kudaftarkan untuk jadwal nanti sore,” putus Arsenio kemudian. Tatap matanya tak lepas sama sekali dari lekuk indah di hadapannya.
“Apa kamu tidak ingin ikut mandi bersamaku sebelum kita menemui papa di kamarnya?” ajak Binar dengan suara menggoda. Bayangan tubuhnya terlihat dari kaca penyekat. “Kemarilah, Rain. Aku akan menghiburmu sebisaku,” ucapnya lagi tersenyum lembut.
Binar mengulurkan tangannya ke arah sang suami. Tanpa banyak bicara, Arsenio segera meletakkan ponsel yang masih dia genggam ke atas meja wastafel. Dia lalu melepas T-shirt dan celana tidurnya dengan sedikit terburu-buru. Setelah dalam keadaan polos, pria itu berjalan mendekat kepada Binar yang tadi mengulurkan tangannya dari dalam shower box.
__ADS_1
Arsenio kemudian menyambut uluran tangan Binar dengan diiringi sebuah senyuman. Dia lalu masuk dan meraih tubuh indah sang istri hingga menempel erat kepadanya. Untuk sejenak, Arsenio melepaskan segala duka dalam dada, melalui hangatnya pelayanan istimewa wanita pujaan hatinya.