Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Penampakan Yang Lain


__ADS_3

Arsenio berdiri gagah di depan cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Pria bermata cokelat terang itu sudah terlihat rapi, dengan mengenakan kemeja putih yang dilipat bagian lengannya. Perban yang melilit kepala pun dilepas, dan diganti dengan perban kecil yang menutupi sisa luka di kening sebelah kanan. Dengan tatapan aneh, Arsenio merapikan rambut cokelat yang sudah tersisir rapi ke samping.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Anggraini. Suara lembut wanita dengan tampilan elegan itu seketika membuyarkan keheningan yang menggelayuti suasana kamar Arsenio.


"Sudah, Ma," jawab Arsenio seraya menoleh dan tersenyum. Meskipun ingatan pria itu belum sepenuhnya pulih, tapi dia mulai membiasakan diri dengan orang-orang yang merupakan anggota keluarganya.


"Kamu tampan sekali. Mengingatkan Mama pada masa muda papamu dulu. Dia sangat gagah, persis seperti dirimu," puji Anggraini seraya membelai wajah putra sulungnya dengan penuh kasih.


"Benarkah?" tanya Arsenio sekadar menanggapi ucapan sang ibu. Hingga saat itu, dia masih merasa aneh. Namun, Arsenio mencoba untuk terus beradaptasi dengan keluarganya.


Anggraini tersenyum lembut. Dia lalu mengecup kening sang putra yang teramat disayanginya. "Ingat ya, setelah dari kediaman Binar kita akan langsung kembali ke Jakarta. Mama ingin kamu melanjutkan perawatan di sana. Seperti yang dokter Hendrawan katakan kemarin. Ingatanmu akan dapat jauh lebih cepat pulih, karena di Jakarta ada banyak hal yang bisa membantu mengembalikan memorimu yang telah hilang," jelas Anggraini masih dengan tutur katanya yang teramat lembut.


"Aku setuju saja, selama kita membawa serta Binar ke Jakarta," sahut Arsenio tersenyum penuh harap.


"Apapun yang bisa membuatmu bahagia, Nak. Mama tidak akan merasa keberatan sama sekali," balas Anggraini.


Baru saja Arsenio akan menanggapi ucapan sang ibu, terdengar suara ketukan di pintu kamar yang membuat pria tampan itu mengurungkan niatnya. Wajah cantik Winona muncul di balik pintu. "Apa kalian jadi pergi?" tanyanya. Winona memaksakan untuk terlihat senang, meskipun dia tak mendukung sama sekali niat Arsenio untuk memboyong Binar ke Jakarta. Padahal, Winona sendiri belum mengetahui seperti apa sosok Binar sesungguhnya.


"Kami akan segera pergi. Kami tak ingin membuang-buang waktu, terlebih kita harus kembali ke Jakarta sore ini," sahut Anggraini. Sementara Arsenio hanya menatap ke arah Winona tanpa mengatakan apapun.


"Chan dan Indah akan berangkat duluan. Chan sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan dia, sementara Indah ... nyawa temanku itu ada di Jakarta," tutur Winona diakhiri sebuah candaan yang tak Arsenio pahami.


"Iya, tidak apa-apa," balas Anggraini. "Kami juga tidak akan lama di sana. Begitu 'kan, Sayang?" Wanita paruh baya tersebut mengalihkan perhatiannya kepada Arsenio yang lebih banyak diam.


"Ya. Kita ke sana hanya untuk menjemput Binar, tapi entah Binar kerja atau tidak hari ini." Arsenio tampak berpikir.


"Nanti saja kita pastikan," ujar Anggraini. "Mama tunggu di luar," pamitnya. Dia mengerti bahwa Winona pasti ingin bicara berdua dengan putranya. Anggraini pun berlalu dari kamar Arsenio, meninggalkan kedua sejoli itu berdua saja.


Sepeninggal Anggraini, Winona segera mendekati Arsenio. Gadis cantik bertubuh sintal itu berdiri tepat di hadapan sang kekasih yang sangat dia rindukan. "Aku harap kamu tidak lupa bahwa akulah pacarmu yang sebenarnya, Arsen," ucap gadis itu. Dia merasa tak aman atas niat Arsenio yang hendak menemui serta membawa Binar ke Jakarta.


"Apa kamu takut?" tanya Arsenio datar.

__ADS_1


"Aku pantas merasa takut jika mengingat seperti apa karaktermu. Setiap kali kamu berada jauh dariku, sebenarnya aku selalu merasa cemas. Aku selalu membayangkan kamu berbuat macam-macam dengan gadis lain, dan itu membuatku menjadi paranoid," ungkap Winona memaksakan diri untuk tersenyum.


Mendengar pengakuan dari gadis cantik itu, Arsenio hanya terdiam. Entah seperti apa sikapnya, sehingga bisa membuat Winona bisa merasa begitu ketakutan. Namun, Arsenio pun seakan dapat memperkirakan hal itu, jika dia teringat akan kilasan-kilasannya bersama gadis bernama Indah yang tak lain adalah sahabat Winona sendiri.


Malam itu, Arsenio duduk di belakang kemudi. Dia menyetir dengan tenang, sebelum sebuah tangan berjemari lentik membuyarkan konsentrasinya. Arsenio pun menoleh pada seraut wajah cantik yang menatapnya dengan senyuman menggoda penuh isyarat nakal.


Awalnya Arsenio tak terlalu ambil pusing. Dia kembali mengarahkan tatapannya ke depan. Namun, sesaat kemudian pria itu tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya pada sebuah jalanan yang sepi, berhubung saat itu sudah lewat tengah malam. Arsenio kemudian melepas sabuk pengaman, membuat wanita cantik yang duduk di sebelahnya terlihat senang. "Ayo, Dik," ajak wanita itu memberi kode untuk keluar dari mobil.


Arsenio menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Dia pun keluar dari kendaraannya dan membukakan pintu untuk wanita itu. Setelah membantu si wanita dengan pakaian ketat dan sangat minim tadi turun, mereka pun berdiri berhadapan. Keduanya berciuman untuk beberapa saat, sebelum adegan itu beralih pada sesuatu yang jauh lebih panas.


Arsenio membalikkan tubuh padat berisi di hadapannya. Pria tersebut lalu menurunkan resleting celana jeans yang dikenakan, kemudian memasang pengaman pada sesuatu yang baru dia keluarkan. Setelah itu, Arsenio menaikkan bagian bawah mini dress si wanita dan menggeser tali kecil yang melintang. "Ayo, puaskan aku," pinta si wanita pelan sambil memundurkan pinggul besarnya, membuat Arsenio tersenyum lebar.


Di balik mobil Range Rovers putih itu, Arsenio menuntaskan segala kenakalannya sebagai penikmat kehidupan bebas. Beberapa saat kemudian, Arsenio pun mengakhiri adegan tadi. Dia melepas dan membuang pengaman yang tadi dikenakannya ke rerumputan di pinggir jalan.


"Terima kasih, Ghea," bisik Arsenio, seraya mencium pipi wanita yang tengah menurunkan bagian bawah mini dressnya.


Arsenio tersentak, ketika dia merasakan sebuah tepukan pelan di pipinya. Dia agak gelagapan saat menoleh kepada sang ibu yang tersenyum lembut padanya. Pria itu terdiam sejenak, atas kilasan yang baru saja muncul. Ghea? Entah siapa lagi wanita itu. Dia juga memanggil dirinya dengan sebutan 'Dik'. Arsenio mengela napas dalam-dalam. Dia pun berpikir beberapa saat. Seperti itukah ketakutan-ketakutan yang tadi dikatakan oleh kekasihnya Winona?


"Kenapa, Nak? Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Anggraini khawatir saat melihat putranya hanya terdiam.


"Tidak, Ma. Aku tidak apa-apa," bantah Arsenio seraya memaksakan tersenyum.


"Sopir bilang, ini alamat yang kamu sebutkan. Apa benar?" tanya Anggraini menunjuk ke luar kendaraan.


Arsenio membetulkan sikap duduknya. Dia melihat ke luar. Ya, itu adalah jalan yang beberapa hari yang lalu kerap dia lewati bersama Binar. Arsenio pun tersenyum lebar. "Binar," gumamnya antusias. "Ayo, Ma. Aku akan memperkenalkan Mama kepada Binar. Dia pasti akan membuat Mama terkesan," ajak pria itu penuh semangat. Dia bergegas turun dari mobil yang ditumpanginya. Sementara Anggaini segera mengikuti.


Dengan wajah yang terlihat jauh lebih berseri, Arsenio berjalan menuntun sang ibu melewati gang menuju rumah yang menjadi tempatnya bernaung selama beberapa hari ke belakang. Dia sempat tertegun ketika berdiri di depan rumah sederhana yang terlihat sepi. Arsenio setengah berlari menuju teras. Dia lalu mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali.


Tak berselang lama, seseorang membuka pintu tadi dari dalam. Tampaklah wajah ketus Widya menyambut kehadiran Arsenio di sana. "Kamu!" sentak Widya dengan tidak sopan.


"Di mana Binar?" tanya Arsenio tanpa memedulikan sikap kasar Widya.

__ADS_1


"Gadis tolol itu sudah pergi dari rumah ini. Dia minggat dengan diam-diam meninggalkan tanggung jawab dan beban besar di pundakku!" jawab Widya dengan ketus. Namun, wanita itu tiba-tiba terdiam ketika Anggraini mendekat dan menatapnya dengan lekat. Widya bisa melihat penampilan yang berbeda dari wanita sebayanya itu.


"Apa maksud Anda Binar pergi? Anda tidak mengusirnya, kan?" Wajah penuh semangat Arsenio seketika berubah khawatir.


"Tentu saja tidak. Gadis itu pergi atas niatnya sendiri. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Lagi pula, aku tak peduli lagi," jelas Widya ketus.


"Arsen, apa maksudnya?" tanya Anggraini yang belum memahami makna dari ucapan dan sikap ketus Widya.


"Binar tidak ada, Ma. Sudah kukatakan agar kita menjemputnya dari kemarin," sesal Arsenio. Dia lalu melongo ke dalam. "Binar!" panggilnya cukup nyaring.


"Sudah kukatakan bahwa gadis tolol itu tidak ada!" sergah Widya seraya mendorong pundak Arsenio.


Melihat sikap wanita itu, tentu saja membuat Anggraini menjadi naik pitam. "Hey, jaga sikap Anda! Saya bisa melaporkan Anda pada pihak yang berwajib atas tuduhan perlakuan tidak menyenangkan!" ancam Anggraini dengan telunjuk lurus tertuju kepada Widya. Seketika, ibu tiri Binar tersebut diam seribu bahasa. Urusannya dengan Surya pun belumlah selesai, kini dirinya mendapat ancaman lain.


"Keluarga macam apa yang kamu datangi selama ini, Arsen?" tanya Anggraini tak habis pikir.


"Binar tidak ada, Ma," ucap Arsenio setelah kembali dari dalam. Dia tak menanggapi pertanyaan sang ibu. "Katakan ke mana Binar?" Arsenio membentak Widya dengan penuh emosi.


"Sudah kukatakan bahwa gadis tolol itu sudah pergi," jawab Widya jengkel.


"Binar bukan gadis tolol!" Emosi Arsenio tak tertahan lagi, andai dia tak mendengar suara Praya yang menyapanya.


"Mister. Mister kapan datang?" Praya yang baru pulang sekolah, segera berlari mendekat kepada Arsenio. Dia juga memeluk pria itu tanpa rasa segan sama sekali.


"Praya, ke mana mbok Binar?" tanya Arsenio. Sedikit harapan muncul saat bertemu dengan anak itu.


"Mbok pergi, Mister. Dia berpamitan padaku dan juga bli Wisnu. Kami sudah melarangnya, tapi mbok tetap pergi," tutur Praya dengan wajah sendu.


"Kenapa mbok Binar memutuskan pergi dengan tiba-tiba?" tanya Arsenio lagi penuh selidik. Akan tetapi, Praya tak segera menjawab. Anak itu menoleh sejenak kepada Widya, tampak jelas jika dia merasa takut untuk bercerita. "Tak apa, jangan takut. Ibumu tidak akan berani berbuat macam-macam. Jika dia sampai nekat, maka aku juga bisa melakukan hal yang jauh lebih gila dari semua perlakuannya kepada Binar," ancam Arsenio seraya menoleh kepada Widya yang hanya terpaku. Wanita itu baru menyadari bahwa bule hilang ingatan yang selama ini berada di rumahnya, bukanlah orang sembarangan.


"Kemarin, aku dan bli Wisnu melihat mbok Binar marah kepada ibu sambil membawa pisau. Di rumah juga kami melihat ada Surya. Namun, kami tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya, karena mbok Binar tidak mau bercerita. Keesokannya, dia berpamitan untuk pergi mencari kerja ke tempat yang jauh. Mbok bilang bahwa nanti dia juga akan menjemput kami berdua," tutur Praya sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2