Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tawa Kepalsuan


__ADS_3

Dwiki memerkirkan motor Honda CB Gelatik miliknya di depan sebuah apotik. Dia lalu masuk dan duduk sejenak untuk menunggu antrian. Mantan ajudan kepercayaan Arsenio tersebut menunggu sambil menggerak-gerakkan kaki kanan berbalut sandal jepit, yang dia letakkan di atas paha sebelah kiri. Sesekali, dirinya memperhatikan orang-orang yang sedang berdiri di dekat etalase berisi bermacam obat dan barang lainnya.


Sambil menunggu, Dwiki pun iseng membuka ponsel, lalu bermain game. Dia terlalu asyik dengan permainan di ponsel, sehingga antriannya diserobot oleh seseorang yang baru saja masuk. Dwiki pun baru menyadari hal itu. Dia segera berdiri, kemudian maju ke dekat etalse. "Maaf, Mbak. Saya datang lebih du ... lu." Dwiki terdiam, ketika wanita yang dia tegur menoleh padanya. Wajah cantik wanita muda itu pun terlihat begitu jelas dari jarak yang cukup dekat.


"Kamu?" Si pemilik paras cantik tadi terlihat tak percaya, karena bertemu dengan Dwiki di sana.


"Iya, aku ... yang kemarin ...." Dwiki mengusap-usap tengkuk kepalanya sambil tersenyum. "Silakan duluan," ucapnya kemudian berlagak sok keren.


Wanita yang tiada lain adalah Winona, tersenyum geli menanggapi sikap Dwiki. Dia pun melanjutkan pemesanan obatnya. Sekitar tiga strip paracetamol disodorkan oleh petugas apotek kepada Winona. Hal itu menjadi perhatian bagi Dwiki. Namun, pria tersebut memilih untuk tak banyak bertanya.


Setelah membayar obat tadi, Winona pun menoleh sejenak kepada Dwiki, lalu keluar dari dalam apotek tadi. Sementara Dwiki menyebutkan obat yang hendak dibelinya. Tak berselang lama, pria itu pun keluar. Namun, dia begitu terkejut saat melihat Winona masih berada di sana. Wanita muda tersebut berdiri sambil bersandar pada body mobilnya.


"Apa ban mobilmu kempes lagi?" tanya Dwiki sambil berjalan menghampiri wanita muda itu.


"Tidak juga," sahut Winona. Dia lalu menegakkan tubuhnya. "Apa kamu tinggal di sekitaran sini?" tanya mantan tunangan Arsenio tersebut.


"Tidak juga," jawab Dwiki sambil tersenyum lebar. "Kebetulan aku sedang bertugas mengurus penginapan milik tanteku selagi dia pergi. Namun, tanteku sudah kembali tadi siang, jadi malam ini aku akan pulang ke rumah," jelas Dwiki apa adanya.


"Oh begitu," balas Winona seraya mengangguk pelan. "Aku tinggal di perumahan dekat sini. Ya sudah. Aku pulang dulu." Winona membalikkan badan. Dia bermaksud hendak membuka pintu mobil.


"Apa harus kukawal sampai ke gerbang perumahanmu?" tawar Dwiki membuat Winona tertegun dan mengurungkan niat. Wanita muda itu pun menoleh dengan raut keheranan. Sementara Dwiki lagi-lagi hanya tersenyum lebar. "Kulihat tadi kamu membeli paracetamol. Takutnya kondisi badanmu sedang tidak fit dan ...."


"Oh astaga." Winona tertawa renyah. Sudah lama dia tidak seperti itu lagi, dari semenjak Arsenio mencampakkannya dengan begitu saja. "Jangan khawatir. Aku membeli paracetamol untuk hal lain," ujarnya tenang.


"Oh ...." Dwiki kemudian menggerakkan kedua bola matanya ke kiri dan kanan, karena masih belum memahami jawaban dari Winona. "Jadi, yakin tidak perlu kukawal sampai tiba di depan gerbang?" tanya pria itu kembali meyakinkan.

__ADS_1


"Aku wanita yang mandiri. Aku terbiasa pergi ke manapun seorang diri," sahut Winona dengan enteng.


"Hebat! R. A. Kartini pasti akan bangga jika mengetahui hal itu," kelakar Dwiki yang lagi-lagi membuat Winona tertawa pelan.


"Astaga, kamu lucu sekali," ujar Winona seraya menggeleng tak percaya. "Baiklah, aku harus segera pulang ... um ... siapa namamu kemarin?" Winona mengernyitkan kening.


"Ini baru tidak lucu," sahut Dwiki. Bukannya menjawab pertanyaan Winona, pria itu malah menunjukkan raut yang menandakan protes.


Akan tetapi, mimik yang diperlihatkan oleh Dwiki terlihat lucu di mata Winona. Wanita muda itu pun kembali tertawa geli.


"Kenapa kamu tertawa terus? Apa ada sesuatu yang aneh?" Dwiki menautkan alisnya.


"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya ... ya, Tuhan ...." Winona tak kuasa melanjutkan kata-katanya. "Aku pasti akan dianggap gila jika terus berada di sini," ucapnya sambil terus tertawa.


Melihat sikap yang ditunjukkan oleh Winona, Dwiki pun menjadi terdiam. Dia berdiri memperhatikan wanita muda tersebut yang sedang membuka kunci pintu mobilnya. Sebelum masuk, Winona kembali menoleh. Dia lalu menyunggingkan sebuah senyuman.


Wanita itu pun menoleh. "Baiklah, akan kucatat," sahut Winona.


"Memangnya kita akan bertemu lagi?" pancing Dwiki.


"Entahlah. Aku selalu sibuk dengan pekerjaan. Aku hanya punya waktu yang sedikit sekali untuk ...."


"Jangan sia-siakan hari muda, karena itu tak akan terulang," sela Dwiki sok bijak.


"Aku hanya mencari kesibukan untuk menghilangkan suntuk" sahut Winona yang tak juga melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Jika kamu mau, aku bisa meminjamkan koleksi buku-buku seri detektif milikku ... ah, tapi kamu pasti punya jauh lebih banyak dariku," ralat Dwiki atas ucapannya sendiri.


"Sebenarnya tidak juga. Aku hanya kebetulan saja menemukan buku itu di dalam glove box. Buku milik seseorang yang ... ah sudahah." Winona tersenyum kelu. "Aku duluan, Dwiki. Selamat malam." Winona pun menutup kaca jendela mobilnya. Sedangkan Dwiki masih berdiri memperhatikan.


Namun, tak lama kemudian kaca itu kembali diturunkan oleh si pemilik kendaraan mewah tadi. "Apa besok kamu ada acara? Jika tidak, aku ingin melihat koleksi buku-bukumu," ujarnya. Winona tampak kembali tersenyum.


"Tidak ada. Besok aku ada di rumah. Jika kamu mau, maka mampir saja," sahut Dwiki. Dia kembali mendekat, saat Winona menyodorkan sebuah kartu nama padanya.


"Kirimkan alamatmu padaku," ucap Winona lagi, sebelum benar-benar melajukan mobilnya dan meninggalkan area parkir apotek tadi.


Sementara Dwiki masih terpaku sambil memandangi kartu nama yang Winona berikan. Dia membaca nama lengkap mantan tunangan Arsenio tersebut. Namun, ada satu hal yang Dwiki lihat dari wanita yang dirinya dengar memiliki sifat angkuh dan kaku. Dia menemukan hal yang mungkin tidak Arsenio ketahui dari Winona.


Sesaat kemudian, pria itu berjalan menuju motornya terparkir. Dwiki duduk sejenak, lalu mengeluarkan ponsel. Dia memasukkan nomor telepon yang tertera di kartu nama tadi. Setelah itu, dirinya mengirim pesan berupa alamat tempat tinggal yang kemarin sempat Arsenio datangi.


Setelah pesan terkirim, Dwiki pun bermaksud untuk pulang. Namun, ketika dia hendak mengenakan helm, ada sebuah panggilan masuk ke nomornya. Nama Arsenio tertera di layar. Pria itu pun mengurungkan niat dan menjawab terlebih dahulu panggilan telepon masuk tadi. "Siap, bos," sapanya hangat.


"Ki, apa kamu sibuk?" tanya Arsenio.


"Tidak, bos. Tante saya sudah pulang dari Australia. Jadi, besok dan beberapa hari ke depan saya libur dan jadi pengangguran lagi," sahut Dwiki sembari tertawa renyah. Dia seakan tak memiliki beban sama sekali.


"Kalau begitu, besok aku ke rumahmu," ujar Arsenio.


"Wah, ada apa? Kenapa mendadak, bos?" Dwiki teringat akan rencana Winona yang juga akan datang berkunjung, tapi entah jam berapa tepatnya.


"Kenapa, Ki? Apa kamu ada acara? Kalau begitu, aku datang malam hari saja. Sekalian mengajak Binar. Dia masih penasaran dengan mie ayam yang antriannya panjang itu," ujar Arsenio lagi.

__ADS_1


"Oh boleh, bos. Saya tunggu." Dwiki hampir saja akan menutup sambungan teleponnya, ketika tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Bos, barusan saya bertemu dengan mantan tunangan anda di apotek. Dia membeli paracetamol cukup banyak, tapi katanya bukan untuk obat sakit kepala."


"Wini biasanya meminum itu untuk meredakan nyeri datang bulan."


__ADS_2