Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Bangkitnya Arsenio


__ADS_3

Arsenio menatap lekat wanita dengan penampilan serta bahasa tubuh yang sangat sensual di hadapannya. Sorot mata cokelat terang pria itu tak teralihkan sama sekali, dari seseorang yang merupakan sahabat serta asisten pribadi sang kekasih. "Kenapa Wini masih memakaimu sebagai asisten pribadinya?" pikir Arsenio heran.


"Karena aku adalah sahabatnya," jawab Indah dengan penuh percaya diri.


"Kamu adalah pengkhianat, Indah," sanggah Arsenio datar.


"Apa bedanya denganmu, Arsen? Kamu juga telah mengkhianati Chand," balas Indah tak mau kalah.


"Ya. Kita berdua sama-sama seorang pengkhianat," balas Arsenio.


"Bukankah itu artinya kita pasangan yang serasi?" Indah kembali memamerkan senyumannya yang nakal.


"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika seorang pengkhianat bertemu dengan pengkhianat juga. Mungkin salah satu di antara kita akan kembali berkhianat," balas Arsenio.


Indah tertawa renyah. Dia semakin maju dan mendekat kepada pria berparas rupawan itu. Sahabat Winona tersebut kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di perut Arsenio, lalu mendorong tubuh pria itu perlahan hingga mundur ke dalam kamar.


Arsenio tersenyum simpul. Dia menyingkirkan tangan Indah yang telah berpindah ke dadanya. Perlahan, pria itu melakukan hal yang sama terhadap wanita penggoda berambut panjang tadi. Tanpa menyentuh tubuh Indah, Arsenio menggiring wanita cantik bertubuh sintal dengan pakaian ketat tersebut untuk mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Indah pun tak bisa ke mana-mana lagi.


Saat itulah, Arsenio semakin mendekat padanya. Tatapan pria bermata cokelat terang tersebut sungguh luar biasa, terlihat menawan tapi juga membunuh. Namun, justru itulah yang paling Indah sukai. Bagi dia, cara Arsenio menatapnya adalah sesuatu yang sangat seksi dan sensual.


"Sudah kukatakan bahwa kamu pasti akan kembali padaku, Arsen," ucap Indah dengan penuh percaya diri. Dia menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat nakal, ketika Arsenio mendekatkan wajahnya. Indah pun memejamkan mata. "Kapan terakhir kali kita berciuman? Aku sangat merindukannya."


"Katakan apa yang membuatmu begitu menginginkanku?" tanya Arsenio setengah berbisik. Helaan napas beratnya menghangat di wajah Indah yang sudah tak sabar menunggu sentuhan penuh gairah dari pria rupawan blasteran Belanda itu.

__ADS_1


Indah membuka mata karena Arsenio ternyata tak juga mencium dirinya. Dia menggerakkan ujung telunjuk yang lentik dengan cat kuku berwarna biru langit. Sentuhan itu berawal dari pipi, kemudian menuju dagu, dan turun ke leher. Tak puas hanya dengan itu saja, Indah kembali meneruskan penjelajahannya pada dada, perut, dan terus turun menuju ke bawah pusar. Namun, sebelum Indah sempat menyentuh sesuatu yang menjadi incarannya, Arsenio segera mencekal pergelangan wanita cantik berkulit eksotis itu. "Bersabarlah," cegahnya.


"Aku tidak bisa," sahut Indah pelan. Dia melepaskan cengkeraman Arsenio dari pergelangannya, kemudian menggenggam balik tangan kekar itu. Indah menempelkan telapak tangan pria tampan berambut cokelat tersebut di dadanya, membuat Arsenio tersenyum nakal. "Ayo, Arsen. Nikmatilah," pinta Indah dengan desa•han pelan yang teramat seksi dan menggoda.


Tanpa ragu, Arsenio menyentuh apa yang Indah sodorkan padanya. Telapak tangan pria berdarah Belanda itu terus bergerak ke atas, pada bagian dada yang menyembul dan tak tertutupi pakaian.


Indah pun tampak sangat menyukainya. Wanita itu memejamkan mata demi meresapi sentuhan tangan Arsenio pada beberapa bagian tubuhnya, termasuk ketika telapak tangan itu bergerak hingga ke pundak lalu turun pada lengan. Namun, seketika wanita cantik berambut lurus tadi membuka mata, ketika dia merasakan cengkeraman yang cukup kencang pada lengan bagian atas. "Arsen, sakit!" protesnya saat tangan Arsenio mere•mas semakin kuat di sana.


Arsenio menyeringai. Dia lalu menarik lengan Indah dan menyeretnya ke dekat pintu. "Sudah kukatakan agar jangan menggangguku lagi! Pergi kamu dari sini!" usir Arsenio seraya mengempaskan lengan Indah begitu saja.


"Kamu sungguh keterlaluan, Arsen!" sentak Indah kesal. Dia merasa malu dan dipermainkan oleh pria tampan tersebut.


"Kamu sama keterlaluannya denganku, Indah!" balas Arsenio tegas. "Dengarkan aku," ucap pria itu lagi, "jangan pernah mengharapkan apapun lagi dariku. Semuanya telah berubah!" tegas Arsenio.


Indah terlihat tak terima dengan perlakuan tak menyenangkan dari Arsenio. Wanita itu hendak melakukan protes, tapi dia urungkan karena suara dering ponsel di dalam tasnya. Nada dering tadi dia gunakan untuk kontak si pelayan nakal yang dia suap. Indah yakin jika itu sebagai pertanda bahwa Lievin dan Anggraini telah kembali.


Dengan segera, Indah duduk di atas sofa dengan sikap yang terlihat sangat sopan, bersamaan dengan masuknya kedua orang tua Arsenio.


"Hei, ada tamu rupanya," sapa Anggraini yang segera disambut oleh Indah. "Sudah lama, In?" tanyanya.


"Aku baru tiba,Tante. Aku pikir Wini ada di sini," ucapnya mencari alasan.


"Sepulang dari rumah sakit, kami langsung pergi. Tadi Wini masih ada di sini, tapi mungkin sudah pulang. Memangnya Arsen ke mana?" tanya Anggraini lagi yang sudah duduk di dekat Indah. Sementara Lievin langsung ke kamar setelah menyapa sahabat dari calon menantunya itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Tante. Aku belum melihat Arsen sejak tadi," jawab Indah kembali berbohong. Sesaat kemudian, perhatiannya seketika teralihkan pada sosok tampan dengan jaket kulit hitam yang dipadukan celana jeans. Indah kembali terpesona dengan kerupawanan pria itu. "Hai, Sen. Mau pergi?" sapanya berbasa-basi.


Arsenio menoleh sesaat. Dia tak menanggapi sapaan Indah dengan sebuah jawaban. Pria tampan bermata cokelat terang tersebut hanya menggangguk pelan. Dia lebih memilih untuk menghampiri sang ibu yang juga terlihat penasaran. "Aku akan keluar sebentar, Ma. Mungkin pulangnya langsung ke apartemen," pamit Arsenio seraya mencium pipi Anggraini.


"Arsen, kamu baru pulang dari rumah sakit. Apa tidak sebaiknya istirahat dulu?" saran Anggraini.


"Putra Tante ini memang luar biasa staminanya," celetuk Indah, membuat Arsenio seketika menoleh dan menatap wanita itu sejenak. Namun, lagi-lagi Arsenio tak menanggapi ucapannya.


"Indah bisa saja," sahut Anggraini yang menanggapi celetukan Indah sebagai sebuah candaan, "tapi Arsenio memang memiliki ketahanan fisik yang luar biasa," timpalnya diselingi tawa pelan.


"Sudahlah, Ma. Aku harus pergi," pungkas Arsenio lagi. Dia melangkah ke arah pintu keluar.


"Memangnya kamu mau ke mana, Sayang?" seru Anggraini sedikit nyaring, karena jarak Arsenio sudah menjauh darinya. Namun, putra sulungnya tersebut tak menjawab. Arsenio terus melangkah sambil mengangkat tangan dan melambai tanpa menoleh sedikit pun.


Arsenio mengendarai Range Rovers putihnya dengan tenang. Kaca mata hitam pun menemani perjalanan pria dua puluh tujuh tersebut, menyusuri lalu lintas ibukota yang ramai. Beberapa saat kemudian, Arsenio membelokkan kendaraan mewahnya untuk memasuki gerbang perumahan. Entah siapa yang akan Arsenio temui saat itu. Namun, mobil yang dia kendarai telah berhenti di depan sebuah rumah tipe 36. Arsenio bergegas turun dari kendaraannya.


Dengan langkah gagah dan penuh percaya diri, Arsenio memasuki halaman rumah tanpa pagar. Setelah menaiki undakan anak tangga, Arsenio lalu berdiri di teras. Diketuknya pintu yang dalam keadaan tertutup rapat. Dia menunggu sejenak, hingga pintu terbuka. Dari balik pintu tadi, muncul seorang pria berusia hampir sama dengan dirinya. "Dwiki," sapa Arsenio akrab.


.


.


.

__ADS_1


Hai, hai, mampir yuk di novel keren karya Mama Reni. Dijamin bakal ketagihan bacanya 😍



__ADS_2