Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tragedi Kamar Kecil


__ADS_3

"Astaga. Maaf, Pak," ucap Binar merasa tak enak saat melihat ponsel milik pria yang tiada lain adalah Chand. Pria keturunan India-Jawa itu segera memungut kembali telepon selulernya yang jatuh. Dia memeriksa benda itu, memastikan bahwa tak ada kerusakan di sana. Sementara Binar sudah terlihat tidak nyaman. Gadis itu terus menggerakkan badannya, karena menahan rasa ingin buang air kecil.


"Jangan ke mana-mana, sampai kupastikan


bahwa ponsel ini tidak mengalami masalah apapun," pesan Chand dengan tegas.


"Maksud Anda? Aku harus ke ... ." Ucapan Binar terjeda, karena Chand berlalu dari hadapannya. Dia menghampiri pria yang tadi memanggil dirinya. "Pak, saya ...." Binar hendak melakukan protes, tapi dengan segera Chand mengangkat tangan, memberi isyarat


agar gadis itu tetap berada di tempatnya berdiri. "Pak, saya ... ." Protes Binar lagi yang kembali tak dipedulikan oleh Chand. Dia sibuk berbincang sebentar dengan pria itu.


Setelah kurang lebih lima menit lamanya, Chand pun kembali ke hadapan Binar. "Saya baru membeli ponsel ini dua hari yang lalu, dan dengan seenaknya kamu menabrak serta ...." Chand tidak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat raut wajah Binar yang tampak sangat gelisah. Gadis cantik itu menggerakkan bola matanya yang indah dengan tidak beraturan.


Untuk sejenak Chand hanya tertegun memperhatikan keanehan sikap Binar. Namun, tak lama kemudian pria tampan


bertubuh tegap tadi mengalihkan pandangannya pada celana jeans yang dikenakan oleh gadis itu. Celana dengan warna biru belel tersebut terlihat basah pada


bagian tertentu. "Astaga!" seru Chand terkejut. Pria berjanggut tipis itu memalingkan wajah serta mengulum senyumnya. Antara rasa geli dan tak tega atas apa yang terjadi pada diri Binar. "Masuklah dan bersihkan dirimu," suruhnya.


"Bagaimana ini? Aku tidak membawa celana ganti," balas Binar terlihat resah. "Aku sudah ingin minta izin dari tadi, tapi Anda ...." Binar merengut. Tak ada gunanya dia mengeluh,


terlebih pada seseorang yang dia ketahui sebagai pemilik WO sekaligus penyelenggara pesta yang sedang dipersiapkan.


Chand mengempaskan napas panjang. Tangan kirinya dia letakkan di pinggang, sedangkan tangan kanan sibuk menggaruk-garuk kening yang tak gatal. Pria tampan itu sepertinya tengah memikirkan sesuatu. "Sudahlah. Kamu masuk saja dulu, lalu bersihkan kekacauan itu. Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali," pesannya.


"Maksud Anda?" tanya Binar.


"Diam saja di dalam toilet dan kunci pintunya  sampai aku kembali," tegas Chand sekali lagi.


"Baiklah, tapi ... ."


"Jangan membantah, kecuali kamu ingin


tetap memakai celana basah dan juga bau pesing tentunya," ujar pria itu seraya kembali mengulum senyuman. Chand kemudian berlalu dari hadapan Binar yang mau tak mau mengikuti instruksi darinya.


Di dalam kamar kecil itu, Binar melepas jeans


serta pakaian dalamnya yang basah. Entah kesialan apa yang akan menimpa gadis


itu hari ini. Setelah dia kehilangan ponsel, kini dirinya harus menahan malu karena mengompol di celana. Ditambah lagi hal tersebut berlangsung di depan seorang pria asing yang rupanya bukan orang sembarangan.


Binar kemudian duduk di atas closet dan terdiam. Pikirannya terbang ke Bali, pada kedua adiknya. Entah mereka sudah makan siang atau belum. Kepada siapa mereka mengadu jika Widya memarahi keduanya. Setitik rasa bersalah muncul dalam hati gadis itu, karena dia merasa bahwa dirinya teramat egois. Namun, jika Binar tak pergi dari rumah dan mencari peruntungan lain, maka dia juga tak mungkin bisa membawa kedua adiknya pada kehidupan yang jauh lebih baik. Selain itu, Widya pun akan selalu bertindak semena-mena terhadap dirinya.


Beberapa saat berlalu, semua lamunan Binar


seketika sirna saat dia mendengar suara ketukan di pintu toilet. "Bukalah, sebelum ada orang yang melihatku masuk ke toilet wanita," pinta Chand.


Binar menjadi gugup. Bayangan perlakuan tak

__ADS_1


sopan yang pernah dia terima dari Surya kembali hadir. "Anda mau apa?" tanya Binar dari dalam kamar kecil.


"Aku membawakanmu sesuatu," jawab Chand.


"Apa?" tanya Binar lagi.


"Buka saja dulu," pinta Chand.


"Tidak mau, aku tidak memakai celana, ups ... ." Sontak Binar menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Karena itulah aku membawakanmu celana


ganti," sahut Chand lagi dari balik pintu. "Sudahlah, ini ambil. Lagi pula, bukannya kamu masih ada pekerjaan yang belum selesai? Jangan beralasan untuk lari dari tugas," ujar pria berambut hitam tersebut.


Binar terdiam sejenak. Dia lalu melirik celana


jeansnya yang entah kapan akan bisa kering. Dia lalu melihat dirinya yang hanya mengenakan atasan t-shirt sebatas perut. Binar berpikir bahwa dia tak mungkin terus mengurung diri dan bersembunyi di dalam toilet. Dirinya hanya akan membuat Nastiti dan Rena merasa cemas. Ini adalah hari pertamanya bekerja di toko bunga. Sebisa mungkin dia tak boleh meninggalkan kesan negatif di mata Rena sang pemilik toko tersebut, yang telah percaya dan mengajaknya dalam pengalaman baru mendekor sebuah ruangan untuk pesta bagi kalangan atas.


Dengan tangan yang gemetaran, Binar membuka selot dan membukanya sedikit. Dia bersembunyi di balik pintu dan hanya memperlihatkan kepala saja kepada Chand. Diterimanya sebuah bungkusan plastik


dari pria itu, kemudian segera dia tutup kembali pintunya. Namun, Binar harus terkejut dan kembali membuka pintu, ketika menyadari bahwa tangan Chand terjepit di sana. "Ya ampun. Maaf, Pak," sesal Binar.


"Astaga." Chand menggeleng seraya


berdecak kesal. Tanpa banyak bicara, dia segera membalikkan badan. Pria itu bermaksud untuk keluar dari sana. Namun, seketika langkahnya terhenti saat melihat Nastiti yang sudah berdiri di sana. Gadis itu memandangnya dengan tatapan aneh, terlebih ketika dia melihat kepala Binar yang menyembul dari dalam kamar kecil.


"Nas?" Binar meringis kecil.


Sepeninggal Chand, Nastiti segera masuk ke


salah satu kamar kecil yang kosong, tepat di sebelah yang digunakan oleh Binar. Gadis itu duduk di atas closet, kemudian mengetuk-ngetuk dinding penyekat antar


kamar kecil tadi. "Mbak, apa aku boleh curiga?" tanyanya.


"Tentang apa, Nas?" Binar balik bertanya. Dia tengah sibuk membetulkan celana yang baru saja dipakainya. Celana dengan ukuran terlalu besar untuk pinggangnya yang ramping, meskipun ada tali pinggang yang bisa diatur kencang dan longgarnya. Namun, tetap saja itu tak berarti apa-apa. Binar pun mengeluh pelan.


"Kenapa pak Chand ada di dalam toilet wanita sama kamu, Mbak?" tanya Nastiti lagi dari bilik sebelah.


"Oh, itu. Itu karena ...." Belum sempat Binar menjawab, terdengar suara Nastiti yang menyiram closet secara otomatis.


"Mbak, ayo. Kita harus melanjutkan pekerjaan. Mbak Rena sudah menunggu," ajak Nastiti sambil mengetuk pintu kamar kecil tempat Binar berada. Sementara gadis itu masih berkutat dengan celana milik Chand yang terlalu besar untuknya.


"Tunggu sebentar, Nas," seru Binar dari dalam. Sesaat kemudian, gadis cantik itu pun membuka pintu. Tampaklah dirinya dengan celana tidur berwarna cokelat tua, yang membuat kaki gadis itu tenggelam di dalamnya. Binar juga terus memegangi bagian pinggangnya, karena takut jika celana yang dia pakai akan melorot.


"Ya ampun, Mbak. Celana siapa itu?" tunjuk Nastiti tak kuasa menahan tawa.


"Celanaku basah, Nas. Karena itu pria tadi meminjamkan celananya untukku," jelas Binar malu-malu.

__ADS_1


"Kenapa celana kamu bisa basah, Mbak?


Lalu kenapa mesti pak Chand yang meminjamkan ...."


"Sudahlah. Nanti kuceritakan," potong Binar seraya mengajak Nastiti keluar dari sana. Tak lupa, dia membawa serta celana jeans dan pakaian dalamnya yang sudah dia bilas dan juga peras di dalam tas plastik. Saat berjalan menuju ruang pesta yang sedang didekor, Binar pun menceritakan semuanya kepada Nastiti. Gadis itu hanya cekikikan saat mendengarkan semua cerita dari Binar.


Tak berselang lama, keduanya telah kembali ke ruangan tadi. "Kenapa kalian lama sekali?" tegur Rena.


"Maaf, Mbak. Saya tadi ada sedikit masalah," jawab Binar mencoba menjelaskan. Sementara kedua tangannya sibuk memegangi bagian pinggang dari celana yang dia kenakan. Celana yang terus saja


melorot.


"Kamu kenapa? Celana siapa itu?" tanya Rena seraya mengernyitkan kening.


Namun, belum sempat Binar menjawab pertanyaan tadi, Chand datang menghampiri mereka. "Tadi dia terpeleset di toilet. Kebetulan aku sedang di sana," jelas pria itu membuat Binar segera mengalihkan perhatian kepadanya.


"Ya ampun, Mal. Kenapa kamu tidak


hati-hati? Kamu tidak terluka, 'kan?" tanya Rena yang seketika terlihat cemas.


"Tidak apa-apa, Mbak. Cuma celana saya saja yang basah," jawab Binar malu-malu. Sesekali dia melirik kepada Chand yang hanya mengulum senyumannya.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Rena lega. "Ya, sudah. Sekarang kalian lanjutkan lagi pekerjaan yang belum selesai. Ingat, lakukan dengan teliti. Jika tidak, tuan Chand Fawaaz bisa menerkam kita dengan buas," pesan Rena dengan diakhiri sebuah candaan.


"Ayolah, Rena. Aku sudah lama tidak menerkam wanita," balas Chand sembari tertawa pelan. Namun, sesaat kemudian perhatiannya kembali lagi pada sosok Binar. Chand bahkan terus memperhatikan gadis itu selama bekerja. Sesekali, pria tampan blasteran India-Jawa tersebut tersenyum saat melihat Binar yang sibuk membetulkan celana. Di dalam pikirannya tiba-tiba muncul sesuatu yang sangat konyol. Dia yakin bahwa


saat itu Binar pasti tidak mengenakan pakaian dalam. Chand pun tersenyum lebar karenanya.


Hingga pukul lima sore, mereka baru menghentikan semua pekerjaan. Kebetulan, mendekor bunga pun telah berhasil dirampungkan. Pekerjaan yang tersisa akan diselesaikan oleh tim dari WO milik Chand.


"Indah sekali. Adikku pasti menyukainya. Dia akan melihat ini besok," sanjung Chand. Dia terlihat begitu puas dengan hasil pekerjaan Rena dan timnya.


"Baguslah. Kami selalu berusaha menyajikan  yang terbaik dan tentu berkualitas nomor satu. Apalagi untukmu, Chand. Kita adalah rekan. Aku tidak mau jika kamu sampai kecewa dengan kinerja kami," sahut Rena menanggapi. "Baiklah, berhubung ini sudah sore. Sudah waktunya kami pulang," pamit wanita itu. Setelah berbincang sejenak dengan Chand, Rena pun berlalu dari sana diikuti oleh Nastiti dan juga Binar. Namun, tak lama gadis itu tertegun ketika teringat bahwa dia meninggalkan celana basahnya di dalam


ruangan tadi. Binar pun kembali ke dalam.


Tanpa banyak bicara, gadis itu mengambil


kantong kresek yang dia pakai untuk membungkus celananya. Akan tetapi, ketika


dia hendak kembali keluar ruangan tadi, terdengar Chand yang berdehem pelan.


Binar pun tertegun dan menoleh kepada pria yang tengah berjalan ke arahnya.


"Apa aku harus mengembalikan celana Anda,


Pak?" tanya Binar polos.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku tidak membawa banyak


baju ganti saat datang kemari," jawab Chand. "Kembali saja ke sini besok sore," lanjutnya lagi.


__ADS_2